Kisah Horor Kuntilanak Suramadu Ganas
Teror Kuntilanak di Jembatan Suramadu
Malam itu Surabaya mulai sunyi. Lampu-lampu kota yang biasanya ramai perlahan meredup di kejauhan ketika Sinta, seorang siswi SMA berusia tujuh belas tahun, mengayuh sepedanya menuju rumah. Ia baru saja selesai belajar kelompok bersama teman-temannya di daerah Kenjeran. Waktu sudah hampir tengah malam, dan ia tahu ini pilihan yang salah, tetapi keadaan memaksanya. Ayahnya tidak bisa menjemput karena sedang bekerja shift malam di pelabuhan, sementara ibunya sedang sakit di rumah. Tidak mungkin ia merepotkan teman-temannya, sehingga dengan keberanian setengah hati ia memutuskan pulang sendiri melintasi Jembatan Suramadu.
Jembatan sepanjang lebih dari lima kilometer itu menjulang gelap di depannya. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma asin yang menusuk hidung. Dari kejauhan, lampu-lampu jalan berjajar lurus seperti deretan lilin, namun bukannya memberi rasa aman, cahaya itu justru menghadirkan kesan menyeramkan. Ombak di bawah jembatan terdengar keras, seperti suara bisikan ribuan orang yang tak kasatmata. Sinta menelan ludah. Ia berusaha menguatkan diri. “Cuma lewat sebentar… sebentar saja,” gumamnya sambil mengayuh pedal.
Baru beberapa menit ia melaju, ponselnya bergetar. Layar menunjukkan nomor asing, hanya deretan angka acak. Dengan ragu, ia mengangkat. Dari seberang terdengar suara perempuan lirih, hampir seperti berbisik. “Dek… bisa berhenti sebentar di tiang jembatan? Aku menunggu…”
Sinta terdiam. “Siapa? Aku tidak kenal kamu,” jawabnya cepat dengan nada bergetar. Namun, jawaban di seberang hanya berupa helaan napas berat. Seolah seseorang sedang berdiri tepat di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru menutup telepon, dadanya terasa sesak. Ia mengayuh lebih cepat, ingin segera keluar dari jembatan.
Namun pandangannya terpaku pada sesuatu. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, ia melihat sosok wanita berdiri di samping tiang besar jembatan. Gaun putihnya panjang, berkibar tertiup angin laut. Rambut hitam panjangnya tergerai menutupi wajah. Tubuhnya tegak kaku, tak bergerak sedikit pun. Sinta hampir jatuh dari sepedanya. “Astaga…” bisiknya. Ia berpura-pura tidak melihat, menunduk, dan mempercepat kayuhan. Tapi semakin jauh ia kayuh, semakin berat roda sepeda, seakan ada yang menahan.
Tiba-tiba suara tawa melengking terdengar di belakangnya. “Hihihihihi…” Suara itu menggema sepanjang jembatan. Sinta menoleh, dan seketika darahnya membeku. Sosok putih tadi sudah berada sangat dekat. Wajahnya kini terlihat. Matanya merah menyala seperti bara, mulutnya koyak penuh gigi tajam, darah menetes dari bibirnya. Rambut panjangnya bergerak sendiri, melayang seperti ular yang hendak melilit mangsanya.
“Ya Allah!” Sinta menjerit. Ia melempar sepedanya dan berlari sekuat tenaga. Namun angin terasa mendorong tubuhnya kembali. Sosok itu muncul di depan, lalu menghilang, kemudian muncul lagi di samping. Seolah mengepung dari segala arah. “Kau tidak bisa kabur, Sinta…” suara itu terdengar jelas di dalam kepalanya. Gadis itu menangis ketakutan, menutup telinga dengan kedua tangannya, tetapi suara itu justru semakin keras. “Ikut aku… ikut aku ke laut…”
Sinta tersungkur. Lututnya berdarah karena terbentur aspal. Ia merangkak sambil menangis, tetapi tiba-tiba tangan pucat dengan kuku panjang muncul dari bawah sepedanya, mencengkeram kuat pergelangan kakinya. Ia menjerit sekeras mungkin. “Tolong! Tolong aku!”
Suara klakson mobil membuyarkan teriakannya. Sebuah mobil boks berhenti mendadak di dekatnya. Seorang pria paruh baya meloncat keluar, membawa seikat daun kelor yang digenggam erat. “Nak! Cepat ke sini!” teriaknya lantang. Sinta berusaha bangkit, menyeret kakinya yang masih dicengkeram tangan pucat itu. “Dia milikku!” suara kuntilanak menggema keras. Pria itu mendekat, lalu berteriak, “Bismillah!” sambil melemparkan daun kelor ke arah makhluk tersebut.
Kuntilanak itu menjerit panjang. Tubuhnya mengepulkan asap hitam, sebelum akhirnya lenyap ke udara. Sinta terkulai lemah, wajahnya penuh air mata. Pria itu segera menolongnya berdiri. “Nak, kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. Sinta hanya bisa menggeleng, tubuhnya gemetar hebat. “Itu… itu apa, Pak?” suaranya parau. Pria itu menatapnya serius. “Itu penghuni jembatan ini. Banyak yang bilang ia dulu seorang perempuan muda yang bunuh diri di sini setelah dikhianati kekasihnya. Sejak itu, arwahnya menjerat siapa pun yang melintas sendirian. Kau beruntung masih hidup.”
Sinta nyaris tidak percaya. Kisah-kisah yang sering ia dengar di sekolah tentang penampakan di Jembatan Suramadu ternyata nyata. Tubuhnya masih gemetar, tangisnya belum reda. Pria itu memperkenalkan diri sebagai Hasyim, seorang sopir boks yang sering melintasi jembatan malam hari. “Aku sudah beberapa kali melihatnya,” ujarnya. “Tapi tidak semua orang bisa selamat. Ada yang ditemukan tewas di tepi laut, ada juga yang hilang tanpa jejak.”
Mereka akhirnya naik ke mobil boks. Sepanjang perjalanan meninggalkan jembatan, Sinta duduk terpaku. Dari kaca spion, ia sempat melihat bayangan putih berdiri di kejauhan, menatap lurus ke arahnya. Ia buru-buru menutup mata, berdoa lirih. Sopir itu menyalakan radio untuk mencairkan suasana, tetapi yang terdengar hanyalah suara statis, seperti bisikan samar. Ia buru-buru mematikannya lagi. “Bukan cuma satu roh yang ada di sana, Nak,” kata Hasyim. “Ada banyak. Korban kecelakaan, bunuh diri, atau orang-orang yang jasadnya dibuang ke laut. Suramadu bukan hanya penghubung dua daratan, tapi juga dua dunia.”
Mobil berhenti di sebuah warung kopi kecil di ujung jembatan. Pemilik warung, seorang lelaki tua, menatap Sinta dengan iba. “Kau habis bertemu dengannya, ya?” tanyanya pelan. Sinta mengangguk dengan wajah pucat. Lelaki tua itu tersenyum getir. “Aku sudah lama berjualan di sini. Banyak yang singgah dengan wajah pucat seperti kamu. Suramadu ini punya cerita kelam. Jangan pernah meremehkan malam di jembatan ini.”
Sinta terisak, mencoba meneguk kopi yang disodorkan. Tangannya gemetar hebat, hampir menumpahkan gelas. Hasyim menepuk bahunya. “Kau harus kuat. Jangan biarkan rasa takutmu terus dipelihara. Itu justru yang mereka cari.”
Malam itu menjadi titik balik dalam hidup Sinta. Ia bersumpah tidak akan pernah lagi pulang larut sendirian. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu kuntilanak ganas itu masih ada, menunggu korban berikutnya. Dan mungkin, bila Anda melintasi jembatan itu larut malam, suara tawa melengking bisa tiba-tiba terdengar di telinga Anda. Pertanyaannya, apakah Anda cukup berani untuk menoleh?
— Tamat —

Posting Komentar