Penampakan Seram di Sungai Brantas

Table of Contents
Penampakan di Sungai Brantas - Cerpen Horor Mania

Kisah Mistis Ojol di Sungai Brantas

Malam itu udara Kota Malang terasa lembab. Angin dari arah Sungai Brantas bertiup perlahan, membawa aroma khas air yang bercampur dengan dedaunan kering. Bagi sebagian orang, sungai itu hanya aliran air biasa, tetapi bagi beberapa warga, Sungai Brantas menyimpan kisah misteri yang tidak pernah benar-benar terungkap. Malam itu, Andi—seorang driver ojol—tanpa sengaja menjadi saksi dari sesuatu yang membuat hidupnya berubah selamanya.

Andi baru saja menyelesaikan order terakhirnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia sempat berpikir untuk langsung pulang, namun notifikasi di ponselnya berbunyi lagi. Sebuah order muncul, titik jemputnya tak jauh dari tepi Sungai Brantas. Ragu-ragu, ia menekan tombol “Terima”.

“Ah, sekali lagi deh. Lumayan buat nambahin ongkos bensin,” gumamnya sambil menyalakan motor.

Ketika ia sampai di lokasi jemput, suasana begitu sepi. Lampu jalanan hanya menerangi sebagian, sementara sisanya tertutup oleh bayangan pepohonan besar di pinggir sungai. Andi menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari sosok penumpang yang memesan.

“Halo? Pesanan ojol, ya?” teriak Andi sambil melirik layar ponselnya.

Tidak ada jawaban. Hanya suara aliran air sungai yang terdengar jelas. Sesaat ia merasa bulu kuduknya berdiri. Namun sebelum ia sempat membatalkan pesanan, seorang perempuan muncul dari arah jalan setapak dekat sungai.

Perempuan itu mengenakan baju putih panjang, rambutnya tergerai menutupi sebagian wajah. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara. Andi menelan ludah, lalu tersenyum canggung.

“Mbak yang pesan ojol, ya?” tanyanya.

Perempuan itu mengangguk pelan tanpa berkata sepatah kata pun. Ia langsung duduk di jok belakang. Aneh, tubuhnya terasa begitu dingin ketika jarak mereka begitu dekat.

“Mbak mau diantar ke mana?” tanya Andi lagi sambil menyalakan motor.

Perempuan itu menyebutkan alamat dengan suara lirih, hampir tak terdengar. Alamat itu mengarah ke sebuah perkampungan tua yang letaknya justru makin mendekat ke arah Sungai Brantas.

Andi mulai merasa ada yang aneh. Biasanya penumpang lebih banyak diam karena kelelahan, tapi yang satu ini benar-benar tanpa ekspresi. Selama perjalanan, Andi mencoba mengajak bicara.

“Mbak kerja di sekitar sini, ya? Soalnya jarang ada order malam-malam di tepi sungai.”

Perempuan itu hanya membalas dengan suara lirih, “Saya… sudah lama menunggu.”

Kata-kata itu membuat Andi merinding. Ia semakin menekan gas agar cepat sampai tujuan. Namun anehnya, ketika ia melewati jembatan kecil yang membelah Sungai Brantas, motor yang ia kendarai tiba-tiba mati mendadak. Lampu jalanan di sekitar jembatan pun berkedip-kedip, seolah ikut memberi isyarat sesuatu.

“Waduh, apaan ini…” keluh Andi sambil mencoba menyalakan motor berulang kali.

Ketika ia menoleh ke belakang untuk meminta maaf kepada penumpangnya, kursi motor itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana.

Andi langsung panik. “Astaghfirullahaladzim! Tadi jelas-jelas ada mbak-mbak duduk di belakang!”

Keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Ia menatap sekeliling, tapi hanya gelap dan bayangan pepohonan yang bergoyang. Suara aliran Sungai Brantas semakin keras, seakan memanggil namanya. Lalu, dari arah bawah jembatan, terdengar suara perempuan tertawa lirih.

“Hihihihi…”

Andi gemetar. Suara itu begitu dekat, padahal tidak ada seorang pun di sana. Ia berusaha memberanikan diri menoleh ke arah sungai. Saat itulah ia melihat sosok perempuan yang tadi ia bonceng. Bedanya, kini wajahnya terlihat jelas: pucat, matanya hitam pekat tanpa bola mata, dan senyumnya merekah lebar hingga pipinya robek.

“Astagaaaa!” teriak Andi, langsung meloncat dari motornya.

Sosok itu berdiri di permukaan air, seakan-akan air sungai menjadi tanah baginya. Rambut panjangnya terurai, menutupi sebagian wajah, tapi matanya yang hitam menatap tajam ke arah Andi.

“Kenapa kau tinggalkan aku…? Padahal aku sudah lama menunggumu…” suara itu bergema, tidak hanya terdengar di telinga, tapi juga di dalam kepalanya.

Andi mundur beberapa langkah, tubuhnya gemetar hebat. “Saya… saya nggak kenal Mbak… tolong jangan ganggu saya!”

Sosok itu semakin mendekat. Air sungai beriak setiap kali kakinya menyentuh permukaan. Dari kejauhan, Andi melihat ada bayangan lain, seperti beberapa sosok manusia yang ikut muncul di permukaan air, wajah mereka penuh luka, sebagian tubuh mereka seperti membusuk.

Andi berteriak sekencang-kencangnya, lalu berlari meninggalkan motor dan jembatan itu. Ia berlari tanpa menoleh ke belakang, hanya mendengar suara tawa menyeramkan yang terus menggema dari arah sungai.

Ketika akhirnya ia sampai di jalan raya yang lebih ramai, suasana kembali normal. Lampu-lampu jalan terang, dan beberapa kendaraan melintas. Nafas Andi terengah-engah, kakinya lemas, tapi ia bersyukur sudah jauh dari jembatan itu.

Keesokan paginya, Andi memberanikan diri kembali ke lokasi bersama temannya, sesama driver ojol. Anehnya, motor yang ia tinggalkan semalam masih ada di pinggir jembatan, utuh tanpa rusak sama sekali. Namun, ada sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri kembali: di jok belakang motornya terdapat bekas basah, seperti seseorang yang baru saja duduk dengan pakaian meneteskan air sungai.

Temannya mencoba bercanda, “Mungkin ada orang iseng semalam, Ndik. Jangan terlalu dipikirin.”

Namun Andi tahu, apa yang ia alami bukanlah hal biasa. Ia kemudian mendengar cerita dari warga sekitar bahwa Sungai Brantas memang sering memakan korban. Banyak orang yang hilang terseret arus, bahkan ada yang tidak pernah ditemukan jasadnya. Konon, arwah-arwah mereka masih bergentayangan, terutama di sekitar jembatan tempat Andi mendapat order misterius itu.

Malam berikutnya, rasa penasaran Andi semakin besar. Ia memutuskan untuk mencoba melewati jalur yang sama, kali ini dengan penuh persiapan. Ia membawa senter besar, membaca doa-doa sebelum berangkat, dan bahkan menyimpan air mineral yang sudah ia doakan di dalam jok motor. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang, tapi ada bagian dalam dirinya yang justru ingin memastikan kebenaran penampakan itu.

Sekitar jam sepuluh malam, ia kembali menuju jembatan Brantas. Suasananya masih sama: sepi, dingin, dan hanya ditemani suara aliran air sungai. Motor berjalan pelan, lampu depan berusaha menembus pekatnya malam. Dan benar saja, di titik yang sama, motor Andi kembali mogok.

Kali ini, ia sudah bersiap. Dengan cepat ia menyalakan senter dan menyorot ke arah sungai. Awalnya tidak ada apa-apa, hanya air hitam yang mengalir. Namun, perlahan-lahan, gelembung-gelembung besar muncul di permukaan. Dari gelembung itu, terlihat sosok kepala manusia muncul, diikuti tubuh yang penuh luka. Satu per satu, lebih banyak sosok serupa bermunculan. Mereka seperti korban tenggelam, dengan wajah pucat dan mata kosong.

Andi terdiam, tubuhnya kaku. Lalu, suara lirih itu kembali terdengar, “Kenapa kau kembali…? Bukankah aku sudah ikut bersamamu?”

Suara itu berasal dari belakang punggungnya. Dengan gemetar, Andi menoleh. Sosok perempuan berbaju putih itu sudah duduk lagi di jok belakang motornya. Rambutnya basah, meneteskan air sungai, sementara wajahnya kini semakin menyeramkan dengan darah menetes dari sudut bibir.

“Saya… saya cuma mau tahu, Mbak. Jangan ikut saya lagi… tolong!” teriak Andi setengah menangis.

Perempuan itu hanya tersenyum. Senyum yang tidak manusiawi. Tiba-tiba, seluruh lampu jalan di sekitar jembatan padam, menyisakan gelap pekat. Suara-suara jeritan dari dalam sungai menggema, seperti puluhan orang berteriak meminta tolong. Andi hampir pingsan karena takut.

Namun tepat sebelum semuanya semakin buruk, suara klakson mobil terdengar dari kejauhan. Seketika semua lenyap. Lampu jalan kembali menyala, motor Andi menyala normal, dan sosok perempuan itu menghilang begitu saja. Seakan tidak pernah ada di sana.

Andi segera tancap gas meninggalkan jembatan itu, kali ini benar-benar dengan niat tidak akan kembali lagi. Pengalamannya malam itu membuatnya yakin, Sungai Brantas menyimpan lebih banyak rahasia gelap daripada yang pernah ia bayangkan.

Beberapa hari kemudian, seorang sesepuh kampung di sekitar sungai bercerita kepadanya. Konon, perempuan yang ia lihat adalah arwah korban kecelakaan puluhan tahun lalu. Kabarnya, ia terjatuh ke sungai bersama beberapa penumpang lain dalam sebuah kecelakaan bus yang masuk ke sungai. Mayat sebagian penumpang tidak pernah ditemukan. Sejak saat itu, sosok perempuan berbaju putih sering terlihat “menumpang” di kendaraan yang melintas, terutama motor.

“Dia suka ikut orang yang lewat. Kadang cuma numpang, kadang bikin celaka. Kalau panjenengan bisa selamat, berarti njenengan memang masih dilindungi Gusti Allah,” ujar sang sesepuh dengan wajah serius.

Andi mendengarkan dengan tubuh gemetar. Semua terasa begitu nyata, bukan hanya mimpi atau halusinasi. Ia tidak pernah lagi menerima order dekat Sungai Brantas. Setiap kali notifikasi berbunyi, ia memastikan titik jemput jauh dari jalur angker itu.

Namun meskipun ia menghindar, bayangan sosok itu masih sering hadir dalam mimpinya. Kadang ia terbangun tengah malam mendengar suara tawa lirih di telinganya. Kadang ia mendengar suara air menetes dari dalam rumah, padahal tidak ada yang bocor. Dan lebih menyeramkan lagi, suatu malam ia menemukan helm cadangan di motornya basah kuyup, seakan baru dipakai seseorang yang keluar dari sungai.

Andi tidak tahu sampai kapan sosok itu akan terus mengikutinya. Yang jelas, ia sadar bahwa Sungai Brantas bukan hanya sekedar aliran air besar di Jawa Timur, melainkan pintu gerbang menuju dunia lain yang penuh rahasia dan kengerian. Penampakan di Sungai Brantas bukanlah cerita kosong untuk menakut-nakuti anak-anak. Itu nyata. Ia mengalaminya sendiri, dan hidupnya tidak pernah lagi sama setelah malam itu.

Posting Komentar