Suara Misterius di RS Juanda Surabaya
Kisah Horor Pasien Hilang di RS Juanda
Malam itu, langit Surabaya diguyur hujan deras. Rumah Sakit Juanda tampak sepi, hanya sesekali terdengar langkah kaki perawat yang tergesa di lorong panjang. Di salah satu kamar rawat inap, seorang pasien wanita bernama Rani sedang terbaring lemah. Tubuhnya masih lemas akibat operasi kecil yang baru dijalaninya. Namun, justru di tengah kesunyian itulah sesuatu yang tak wajar mulai terjadi.
“Kenapa rasanya dingin sekali?” gumam Rani sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Matanya menatap ke langit-langit kamar yang redup. Lampu neon berkedip pelan seakan hampir padam.
Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Suara hujan dan gelegar petir terdengar sayup-sayup. Rani mencoba memejamkan mata, tapi tiba-tiba telinganya menangkap suara aneh. Seperti suara orang berbisik di lorong depan kamarnya.
“Sssst… pulang… pulang…”
Rani terperanjat. Ia menajamkan telinganya, tapi suara itu menghilang begitu saja. “Mungkin cuma perawat,” pikirnya, meski hatinya tak sepenuhnya yakin. Ia mencoba menenangkan diri, namun baru beberapa menit berlalu, suara itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas, seperti tepat di depan pintu kamarnya.
“Pulanglah… jangan di sini…”
Jantung Rani berdegup kencang. Ia meraih tombol bel pemanggil perawat, tapi anehnya, lampu indikator tak menyala. “Apa mati?!” bisiknya panik.
Tiba-tiba terdengar bunyi gesekan di lantai kamar. Seperti ada sesuatu yang diseret. Rani menatap ke arah pojok kamar, matanya membelalak. Ada bayangan hitam tinggi menjulang, bergerak pelan, lalu berhenti seolah menatapnya.
“Si… siapa di sana?!” suara Rani gemetar. Namun, bayangan itu tak menjawab, hanya makin mendekat. Langkahnya seperti berirama dengan detak jantung Rani yang makin cepat.
Tak tahan dengan rasa takutnya, Rani berteriak, “Tolong! Ada orang di kamarku!”
Pintu kamar mendadak terbuka. Seorang perawat masuk dengan wajah heran. “Ibu Rani? Ada apa?”
Rani menunjuk ke pojok kamar dengan tangan gemetar. “Di sana… ada… ada sesuatu.”
Perawat itu menyalakan lampu tambahan dan menatap ke arah yang ditunjuk Rani. “Tidak ada siapa-siapa, Bu. Mungkin Ibu hanya mimpi.”
“Tidak! Aku melihatnya! Bayangan tinggi hitam…” suara Rani meninggi, hampir menangis.
Perawat itu mencoba menenangkannya, lalu berkata, “Ibu istirahat saja dulu. Saya akan berjaga di luar.” Setelah itu, ia menutup pintu dan pergi.
Rani masih terengah-engah. Ia yakin matanya tidak berbohong. Ketika hendak kembali berbaring, suara itu muncul lagi, kali ini dari arah jendela yang tertutup rapat.
“Ikutlah aku…”
Rani merasakan bulu kuduknya berdiri. Dengan gemetar, ia menoleh ke arah jendela. Dari balik tirai putih, terlihat sosok wanita bergaun panjang lusuh, wajahnya tertutup rambut. Sosok itu menempelkan wajahnya ke kaca, lalu perlahan menghilang.
“Astaga…” Rani hampir pingsan, namun tubuhnya kaku tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menangis pelan sambil memeluk selimut.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya diketuk. “Bu Rani, ini dokter jaga. Boleh saya masuk?” terdengar suara tenang dari luar.
Rani sedikit lega. “Iya, masuklah, Dok!”
Pintu terbuka, seorang pria berseragam dokter masuk dengan senyum ramah. “Bagaimana keadaan Ibu? Masih merasa lemas?”
“Dok, tadi ada… ada sesuatu di kamar ini. Saya dengar suara-suara, lihat bayangan, bahkan… ada perempuan di jendela…”
Dokter itu tersenyum tipis. “Tenang saja, Bu. Itu hanya halusinasi akibat obat. Saya beri resep tambahan agar tidur Ibu lebih nyenyak.”
Namun, ketika dokter itu berjalan mendekat, Rani merasakan hawa dingin luar biasa. Ia menatap wajah sang dokter lebih saksama—dan darahnya serasa berhenti mengalir. Wajah itu pucat, matanya hitam legam, senyumnya terlalu lebar hingga tampak tak wajar.
“Tidurlah… selamanya…” suara dokter itu berubah berat dan serak.
Rani berteriak sekuat tenaga, “Tolong! Tolong aku!”
Pintu kamar kembali terbuka. Perawat tadi masuk bersama dua rekannya. Tapi yang aneh, sosok dokter itu sudah tak ada di dalam kamar. Hanya Rani yang terduduk di ranjang dengan tubuh gemetar.
“Bu Rani, tidak apa-apa? Saya dengar Ibu menjerit,” tanya perawat dengan panik.
“Dokternya… dia ada di sini… tapi… dia bukan manusia…” Rani terisak.
Para perawat saling pandang. Salah satu dari mereka berbisik, “Tadi malam memang ada kejadian. Dokter jaga… meninggal mendadak di ruang IGD. Katanya… jantungnya berhenti.”
Rani terpaku. Kata-kata itu menusuk telinganya seperti pisau. Jika dokter jaga sudah meninggal, lalu siapa yang tadi masuk ke kamarnya?
Malam itu, Rani tak bisa tidur lagi. Setiap ia mencoba memejamkan mata, suara bisikan itu kembali terdengar, makin jelas, makin dekat.
“Tidurlah bersamaku…”
Keesokan paginya, kamar Rani ditemukan kosong. Selimutnya masih tersusun rapi, infus terlepas begitu saja, dan jendela terbuka lebar meski semalam hujan deras. Hingga hari ini, tak ada yang tahu kemana Rani pergi. Sebagian perawat percaya ia kabur karena ketakutan, tapi ada juga yang meyakini bahwa Rani telah dibawa oleh suara misterius yang menghantui Rumah Sakit Juanda setiap malam.
Sejak hilangnya Rani, cerita-cerita seram tentang rumah sakit itu semakin berkembang. Perawat-perawat baru sering diperingatkan untuk tidak terlalu lama berada di lorong sayap timur, terutama dekat kamar yang pernah ditempati Rani. Banyak yang mengaku mendengar langkah kaki meski lorong kosong, atau melihat bayangan putih melintas cepat di ujung ruangan.
Suatu malam, seorang perawat magang bernama Lestari nekat berjaga sendirian di lorong itu. Ia ingin membuktikan bahwa semua cerita itu hanya kabar angin. Namun, ketika tengah menulis laporan, ia mendengar suara ketukan pelan di salah satu pintu kamar kosong.
“Tok… tok… tok…”
Lestari bangkit dan berjalan mendekat. “Halo? Ada pasien?” tanyanya sambil membuka pintu perlahan. Kamar itu kosong, hanya ranjang dengan sprei putih yang tampak dingin. Tapi tiba-tiba, lampu kamar mati dan pintu menutup sendiri. Lestari panik, meraba-raba dinding mencari saklar. Saat itu juga, ia mendengar suara perempuan berbisik tepat di telinganya.
“Tidurlah di sini…”
Lestari menjerit keras. Teman-teman perawat lain datang berlari, mendobrak pintu, dan menemukan Lestari tergeletak pingsan di lantai kamar. Sejak itu, ia menolak bertugas di malam hari dan memilih pindah unit.
Cerita seram terus bertambah. Ada satpam yang mengaku melihat sosok wanita bergaun putih berjalan di lorong lalu menghilang di depan kamar Rani. Ada pasien lain yang mendengar tangisan lirih di kamar mandi umum dekat ruang rawat. Bahkan ada dokter yang mengaku melihat rekannya yang sudah meninggal masih duduk di ruang periksa tengah malam.
Semua itu membuat Rumah Sakit Juanda dikenal bukan hanya sebagai tempat penyembuhan, tapi juga sebagai tempat yang menyimpan misteri kelam. Warga sekitar percaya, rumah sakit itu dibangun di atas lahan bekas pemakaman lama. Mungkin itu sebabnya suara-suara dan penampakan sering terjadi, terutama pada pasien yang berada di ambang sadar antara hidup dan mati.
Ada pula rumor yang lebih mengerikan. Konon, sosok wanita bergaun putih yang sering muncul di jendela adalah arwah seorang pasien lama yang dulu bunuh diri di kamar rawat inap. Ia gantung diri karena tak kuat menahan sakit, dan sejak itu rohnya tak pernah tenang. Ia mencari teman, menarik pasien lain agar menemaninya dalam keabadian.
Hilangnya Rani dianggap sebagai bukti bahwa arwah itu benar-benar membawa korban. Meski pihak rumah sakit berusaha menutup rapat semua berita, cerita itu tetap menyebar. Hingga kini, lorong sayap timur Rumah Sakit Juanda masih sunyi mencekam setiap malam. Dan siapa pun yang berani melewati lorong itu sering bersumpah mendengar suara yang sama:
“Ikutlah aku… tidur selamanya…”

Posting Komentar