Bayangan Hitam di Kamar Mandi Hotel Jakarta
Misteri Sosok Hitam di Hotel Jakarta
Malam itu, hujan deras mengguyur Jakarta. Suasana jalanan dipenuhi riuh kendaraan yang terjebak macet, lampu-lampu kota berkilau di balik butiran air. Rina, siswi SMA kelas XI yang baru saja mengikuti kompetisi akademik tingkat nasional, ditugaskan sekolahnya untuk menginap di sebuah hotel ternama di pusat kota. Hotel itu megah, menjulang tinggi dengan desain modern, namun entah mengapa sejak awal ia melangkahkan kaki, hatinya terasa tidak tenang.
Dengan ransel di punggung, Rina melangkah di lorong sunyi lantai 12. Karpet merah menutupi lantai, namun setiap langkah kakinya terasa bergema. "Kamar 1207... ini dia," gumamnya sambil menggesekkan kartu akses ke pintu. Suara klik terdengar, pintu terbuka, menampilkan ruangan luas dengan ranjang empuk, balkon kaca, dan lampu temaram yang hangat. Sejenak Rina tersenyum lega, akhirnya bisa beristirahat setelah seharian beraktivitas.
Namun matanya langsung tertuju ke kamar mandi. Dinding kacanya buram, menyisakan bayangan samar dari dalam. Ia merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kenapa aku malah merinding ya?" bisiknya. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu, meyakinkan diri bahwa semua hanya karena kelelahan.
Rina memutuskan mandi agar lebih segar. Ia menyalakan air panas, membiarkan uap memenuhi ruangan. Baru beberapa menit, matanya menangkap sesuatu: di balik kaca buram, seolah ada bayangan lain yang bergerak pelan. Bayangan itu tidak mirip tubuhnya sendiri. Lebih tinggi, lebih pekat, seperti gumpalan asap hitam. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru mematikan air, membuka pintu kamar mandi, tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya uap yang perlahan menghilang.
"Pasti cuma ilusi... pantulan bayangan sendiri," ia mencoba menenangkan diri. Namun perasaan was-was itu tetap menghantuinya. Malam pertama, saat ia berbaring, suara tetesan air terdengar jelas. "Tok... tok... tok..." Rina duduk, menajamkan telinga. Ia ingat benar sudah menutup keran rapat-rapat. Dengan enggan, ia bangkit dan membuka pintu kamar mandi.
Lantai basah. Cermin besar berkabut. Dan di sana—di sudut cermin—tampak bayangan hitam berdiri tegak. Tidak ada wajah, tidak ada detail, hanya sosok pekat seperti manusia. "Siapa di sana?!" seru Rina dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Ia mengedipkan mata, bayangan itu lenyap begitu saja. Rina tercekat, mundur, menutup pintu kamar mandi rapat-rapat, lalu bersembunyi di balik selimut. Ia hampir tidak tidur semalaman.
Keesokan paginya, ia menceritakan kejadian itu lewat telepon kepada sahabatnya, Dina. "Aku lihat bayangan, Din... sumpah aku gak bohong. Rasanya nyata banget." Dina tertawa kecil. "Ah, kamu pasti kecapekan. Jangan kebanyakan nonton film horor deh." Rina menghela napas panjang. Ia ingin percaya kata-kata itu, tapi bayangan dalam cermin terasa terlalu nyata untuk disebut halusinasi.
Hari kedua, gangguan makin nyata. Saat Rina berdiri mengeringkan rambut dengan hair dryer, lampu kamar mandi tiba-tiba berkedip-kedip. Dari cermin, ia melihat bayangan itu lagi. Kali ini lebih dekat. Dan ada suara lirih, berbisik: "Pergi... dari sini..." Suara itu serak, seperti keluar dari air. Rina terlonjak, hampir menjatuhkan hair dryer. Ia berbalik, namun bayangan itu hilang. Hanya hawa dingin menusuk tulang yang tersisa.
Ketakutannya semakin menjadi. Ia segera menelepon resepsionis. "Halo, maaf... ada sesuatu yang aneh di kamar saya. Bisa kirim petugas?" Beberapa menit kemudian, seorang staf hotel datang. Ia memeriksa kamar mandi, menyalakan dan mematikan keran, lalu tersenyum sopan. "Tidak ada apa-apa, Nona. Mungkin Nona lelah." Rina ingin protes, namun bibirnya kelu. Apalagi ketika ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya beku: bayangan hitam itu berdiri tepat di belakang staf tersebut, seolah menempel pada tubuhnya. Rina hampir berteriak, tapi staf itu sudah pamit pergi.
Malam kedua, mimpi buruk menghampiri. Rina bermimpi berdiri di kamar mandi penuh kabut. Bayangan hitam mendekat, kali ini lebih jelas. Ia mendengar suara lebih keras, "Kau tidak boleh di sini... mereka tidak pernah pulang..." Bayangan itu meraih tangannya, dingin dan berat, seolah menariknya masuk ke kegelapan. Rina berteriak, dan seketika terbangun dengan keringat dingin. Namun jeritannya membeku saat ia melihat kenyataan: lantai kamar mandi benar-benar tergenang air, persis seperti dalam mimpi.
Panik, Rina membuka ponsel, mencari tahu tentang hotel itu. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan artikel lama: "Insiden Pembangunan Hotel di Jakarta, Beberapa Pekerja Tewas Terjebak dalam Sistem Pipa Air." Rupanya bertahun-tahun lalu, kecelakaan tragis menelan korban para pekerja konstruksi. Tubuh mereka tidak pernah ditemukan. Rina teringat kalimat dalam mimpinya: "Mereka tidak pernah pulang."
Hari ketiga, Rina memohon pindah kamar. Namun resepsionis menolak, semua kamar penuh. "Hanya satu malam lagi, Nona. Mohon bersabar," kata mereka dengan senyum kaku. Rina merasa terjebak. Ia mulai menyadari ada yang janggal, seolah staf hotel menyembunyikan sesuatu.
Sore itu, saat kembali dari acara, pintu kamarnya sudah terbuka sedikit. Ia masuk dengan hati-hati. Kamar tampak normal. Tapi kamar mandi terkunci dari dalam. Ia mengetuk. "Halo? Ada orang di dalam?" Hanya suara air. Dengan gugup, ia memaksa membuka pintu. Gelap. Dan di sana—bayangan hitam berdiri di pojok, tubuhnya meneteskan air, tangannya panjang menjulur ke arah Rina.
"Jangan... jangan sentuh aku!" jerit Rina, mencoba mundur. Tapi tangan itu meraih pergelangan tangannya, dingin seperti es. Ia merasa tubuhnya ditarik paksa. Rina berteriak sekuat tenaga, menendang, berusaha melepaskan diri. Pintu kamar mandi tiba-tiba menutup keras, membuat kaca bergetar. Sekejap kemudian, semuanya gelap.
Ketika pintu terbuka kembali, Rina tergeletak di lantai, tubuh gemetar hebat. Ia berlari keluar kamar, menuruni tangga darurat tanpa sempat membawa barang-barangnya. Tiba di lobi, ia menjerit histeris. "Ada... ada sesuatu di kamar mandi! Mereka mencoba menarikku!" Staf hotel bergegas mendekat, beberapa tamu menatapnya dengan tatapan bingung.
Manajer hotel datang, wajahnya serius. "Kamar 1207 lagi..." bisiknya, nyaris tak terdengar. Rina mendengarnya jelas. "Lagi? Maksudnya apa?!" Namun manajer itu hanya menepuk bahunya, tanpa menjawab. Para staf membawanya ke ruang tenang, memberinya air minum, mencoba menenangkannya. Rina tahu, mereka semua menyembunyikan sesuatu tentang kamar itu.
Akhirnya ia dipindahkan ke kamar lain, meski harus menunggu lama. Aneh, di kamar baru ia tidak lagi diganggu. Malam itu berjalan lebih tenang, meski ia tidak bisa tidur, masih dibayang-bayangi ketakutan. Namun ia tahu, bayangan hitam itu belum selesai dengannya.
Beberapa bulan kemudian, setelah kembali ke rumah, Rina mencoba melupakan kejadian itu. Ia fokus pada sekolah, pada kehidupannya seperti biasa. Tapi setiap kali ia mandi, ketika uap menutupi kaca, samar-samar ia masih melihat siluet hitam berdiri di belakangnya. Tidak jelas, hanya sekelebat. Tapi cukup membuatnya yakin: roh-roh itu masih mengikutinya.
Bertahun-tahun berlalu. Rina kuliah di luar kota, mencoba melupakan semuanya. Namun setiap kali ia melewati Jakarta, matanya selalu tertuju pada gedung hotel itu yang berdiri megah. Bagi orang lain, hotel itu adalah lambang kemewahan. Namun bagi Rina, hotel itu adalah kuburan yang menyimpan jeritan jiwa-jiwa yang tidak pernah pulang.
Dan kisahnya berakhir bukan dengan ketenangan, melainkan dengan misteri yang masih menggantung. Karena sesekali, ketika ia menutup matanya, ia mendengar suara itu lagi—serak, dari balik air: "Kau sudah melihat... sekarang kau tidak akan pernah bebas..."
Rina hanya bisa berdoa, berharap suatu hari bayangan hitam itu benar-benar lenyap. Tapi di sudut hatinya yang terdalam, ia tahu roh-roh yang terjebak di kamar mandi hotel itu akan selalu ada, menunggu, mencari korban berikutnya yang berani membuka pintu kamar 1207.

Posting Komentar