Hantu Suster Misterius di Rumah Ibu
Kisah Nyata Horor Suster di Kampung
Namaku Fitri, seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun yang tinggal bersama ayah di kota. Ayah dan ibu sudah lama bercerai sejak aku masih kecil. Aku lebih sering bersama ayah, sementara ibu tinggal di kampung sendirian, ditemani kakek dan nenek. Hubunganku dengan ibu tidak begitu dekat, tetapi bukan berarti aku tidak merindukannya. Ketika kabar kematian ibu datang tiba-tiba, aku merasa duniaku runtuh. Tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki hubungan kami. Hanya rumah tua peninggalannya yang kini menunggu untuk aku kunjungi kembali.
Perjalanan menuju kampung membuat pikiranku kacau. Di dalam mobil, ayah hanya diam, matanya menatap lurus ke jalanan yang panjang. Aku beberapa kali ingin bertanya, ingin mendengar cerita tentang ibu, tetapi ayah hanya menghela napas berat. Suasana menjadi semakin muram ketika kami sampai di rumah ibu. Rumah itu masih sama seperti yang kuingat, rumah kayu besar dengan halaman yang luas. Namun ada sesuatu yang berbeda. Aura di sekelilingnya seolah berat, membuat bulu kudukku berdiri.
Kakek dan nenek menyambut kami di depan pintu. Senyuman mereka terlihat kaku, seolah dipaksakan. "Fitri, kau sudah besar sekali," kata nenek sambil menggenggam tanganku erat. Namun genggamannya dingin, membuatku merinding. Kakek hanya menepuk pundakku pelan tanpa banyak bicara, matanya seperti menyembunyikan sesuatu.
Aku menginap di kamar peninggalan ibu. Malam pertama di rumah itu, aku merasa tidak nyaman. Bau obat-obatan masih tercium di kamar, meski ibu sudah lama meninggal. Aku mencoba tidur, namun suara langkah kaki di lorong membuatku terjaga. Dengan hati-hati aku membuka pintu, dan di ujung lorong aku melihatnya—sesosok wanita berpakaian putih seperti suster rumah sakit, wajahnya pucat, matanya tajam menatapku. Aku terpaku, tidak bisa bergerak. Sosok itu diam saja lalu perlahan menghilang ke dalam kegelapan. Malam itu aku tidak bisa tidur lagi.
Keesokan paginya aku menceritakan kejadian itu pada ayah. Ia mencoba menenangkan dengan berkata aku hanya lelah. Namun aku melihat kakek dan nenek saling bertatapan ketika mendengar ceritaku, seakan mereka tahu lebih banyak dari yang mereka katakan. "Fitri, kalau malam jangan keluar kamar. Rumah ini sudah lama tidak tenang," ucap nenek akhirnya dengan suara lirih. Kata-katanya justru membuatku semakin penasaran.
Malam kedua, gangguan semakin jelas. Ada ketukan di jendela kamarku, pelan namun terus-menerus. Dengan gemetar aku membuka tirai. Di luar jendela, berdiri sosok suster itu lagi. Kali ini aku bisa melihat darah merembes dari lengannya. Wajahnya tertutup masker, namun matanya menatapku penuh dendam. Aku menjerit dan tiba-tiba jendela tertutup dengan keras. Ayah dan kakek masuk tergesa-gesa, tapi ketika kutunjukkan jendela, sosok itu sudah hilang.
Siang harinya, aku menemukan buku catatan ibu di lemari. Halaman demi halaman berisi keluh kesah saat sakit. Di antara tulisannya, nama "Suster Ratna" terus berulang. Aku membawa catatan itu kepada nenek. Wajahnya pucat seketika. "Ratna... dia dulu perawat yang merawat ibumu. Tapi setelah ibumu meninggal, Ratna juga hilang tanpa kabar," kata nenek dengan suara bergetar. Dari situlah aku tahu, sosok yang menggangguku mungkin adalah roh Suster Ratna.
Rasa penasaranku semakin besar. Malam ketiga, aku memberanikan diri menunggu dengan lilin menyala. Tepat tengah malam, lilin padam tiba-tiba. Dari pintu, sosok suster itu masuk. Kali ini lebih jelas: wajahnya pucat dengan darah mengalir di pelipis. Bau amis memenuhi kamar. "Kau harus tahu kebenaran," bisiknya dalam kepalaku. Ia menunjuk ke bawah ranjang ibu, lalu menghilang. Dengan gemetar aku meraba dan menemukan kotak kayu kecil berisi foto ibu bersama seorang suster muda—Ratna. Wajahnya sama dengan hantu yang mengikutiku.
Aku membawa foto itu ke ayah. Wajahnya langsung berubah pucat. Dengan suara serak ia mengaku, "Ratna dulu kekasih gelapku. Dia yang merawat ibumu ketika sakit. Tapi ketika ibumu tahu, semuanya berubah. Ratna hilang setelah ibumu meninggal. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya." Pengakuan ayah membuatku terguncang. Jadi, hantu yang menghantui rumah ini bukan hanya roh penasaran, tapi juga masa lalu kelam keluargaku.
Malam berikutnya, aku bermimpi melihat ibu. Wajahnya pucat, namun matanya penuh kesedihan. "Fitri, jangan takut. Ratna mati di rumah ini. Dia tidak pernah pergi," kata ibu dengan suara bergetar. Saat aku terbangun, sosok ibu masih terlihat samar di sudut kamar, berdiri bersama Ratna yang menatap penuh kebencian. Ratna lalu berbisik, "Aku dibunuh... oleh seseorang di rumah ini." Dan telunjuknya mengarah pada kakekku.
Pagi harinya, aku menanyakan hal itu pada nenek. Wajahnya langsung pucat pasi. "Jangan tanyakan itu, Fitri. Ada rahasia yang tidak boleh dibuka," ucapnya terbata. Namun aku bisa melihat ketakutan di matanya. Malam itu aku tidak bisa tidur, bayangan Ratna terus muncul di pikiranku.
Keesokan malam, gangguan semakin parah. Aku mendengar suara tangisan perempuan di lorong. Aku membuka pintu kamar, dan melihat sosok Ratna berjalan perlahan sambil menyeret kakinya. Di tangannya ada suntikan berlumuran darah. Aku mundur ketakutan. "Kembalikan keadilan untukku," suaranya bergema di dinding. Tiba-tiba bayangan hitam besar muncul di belakangnya, menyerupai kakek. Sosok itu menekan kepala Ratna hingga terjatuh. Ratna menjerit, lalu menghilang. Aku tercekat. Apakah itu simbol dari apa yang terjadi padanya?
Aku mulai menghubungkan semuanya. Jika benar kakek terlibat, mengapa nenek selalu tampak takut? Mengapa ayah tidak pernah berani menyinggung soal Ratna? Malam berikutnya aku sengaja mengunci pintu kamar kakek. Dari balik pintu, aku mendengar gumaman aneh. Seperti doa atau mantra. Aku mendekat, lalu mendengar kakek berkata, "Ratna... jangan ganggu kami lagi... kau sudah mati di sini. Diamlah..." Tubuhku langsung merinding. Kakek benar-benar tahu sesuatu!
Ketika aku konfrontasi, kakek marah besar. "Jangan ikut campur urusan orang tua!" bentaknya. Namun wajahnya terlihat ketakutan. Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan. Malam itu, Ratna kembali muncul di kamarku, kali ini dengan wajah penuh luka. Ia mendekat sambil berbisik, "Aku disiksa... aku dikubur di halaman rumah ini. Temukan aku, Fitri." Aku menangis ketakutan, tapi juga merasa iba. Aku harus menemukan kebenaran.
Keesokan harinya aku menggali halaman belakang bersama ayah. Awalnya ayah menolak, tapi akhirnya ia menyerah setelah melihat kesungguhanku. Kami menggali cukup dalam hingga menemukan sesuatu yang mengejutkan: tulang belulang manusia dengan kain seragam suster yang sudah lapuk. Ayah terjatuh lemas, sementara kakek hanya menunduk diam di teras. Nenek menangis histeris. "Astaghfirullah... Ratna..." bisikku gemetar.
Malam itu roh Ratna kembali muncul. Namun kali ini berbeda. Wajahnya terlihat lebih tenang. "Terima kasih, Fitri. Kau sudah menemukanku," katanya. Aku terisak, sementara ia perlahan menghilang bersama cahaya samar. Namun sebelum lenyap, ia menatap kakek dengan mata penuh amarah. Aku yakin dendamnya belum selesai.
Hari-hari berikutnya menjadi mencekam. Kakek jatuh sakit mendadak. Setiap malam ia berteriak ketakutan, katanya melihat sosok Ratna berdiri di samping ranjangnya. Nenek hanya bisa menangis. Ayah memilih diam, seakan menanggung rasa bersalahnya sendiri. Sementara aku hanya bisa menunggu, apakah roh Ratna akan benar-benar pergi setelah dendamnya terbalaskan atau justru akan terus menghantui keluarga kami selamanya.
Hingga kini, rumah ibuku masih menyimpan rahasia dan teror yang sulit dijelaskan. Kadang aku masih mendengar suara langkah di lorong, atau ketukan samar di jendela kamar. Setiap kali itu terjadi, aku tahu Ratna masih ada, menunggu semua kebenaran terungkap sepenuhnya. Rumah itu tidak pernah benar-benar tenang, dan aku tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.
Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti roh Ratna dan ibu bisa benar-benar beristirahat dengan damai. Tapi setiap kali aku menatap wajah kakek yang semakin melemah, aku sadar: keadilan supranatural kadang lebih mengerikan daripada kebenaran yang bisa dijelaskan manusia.

Posting Komentar