Ternyata Ada Makam Kuntilanak di Rumah
Misteri Makam Kuntilanak di Rumahku
Namaku Rani, seorang perempuan berusia dua puluh lima tahun yang baru saja pindah ke rumah peninggalan keluarga di pinggiran kota kecil Jawa Tengah. Rumah itu terlihat biasa saja dari luar, bergaya kolonial dengan jendela besar dan cat putih yang mulai mengelupas. Namun, sejak hari pertama aku menjejakkan kaki di sana, ada sesuatu yang terasa aneh. Seperti ada mata yang selalu mengawasi setiap langkahku.
Awalnya aku mengira itu hanya perasaan canggung tinggal sendirian di rumah besar. Tetapi semakin lama, semakin sering aku mendengar suara-suara yang sulit dijelaskan. Malam pertama, suara langkah kaki terdengar di loteng, padahal aku tahu benar tidak ada siapa pun di atas. Malam kedua, suara tangisan lirih perempuan terdengar dari arah dapur. Aku mencoba mengabaikannya, tetapi rasa takut itu semakin menekan batinku.
"Mungkin hanya tikus," gumamku sambil mencoba menenangkan diri. Namun hatiku tetap gelisah. Bayangan kelam mulai menghantui pikiranku. Bagaimana jika memang ada sesuatu di rumah ini yang tidak kasat mata?
Suatu sore, tetanggaku yang sudah tua, Bu Lastri, datang berkunjung. Wajahnya penuh keriput, tetapi sorot matanya tajam seperti menyimpan banyak rahasia. Ia memperhatikan rumahku dengan ekspresi serius sebelum akhirnya berkata pelan.
"Nak Rani, kau yakin mau tinggal di rumah ini sendirian?"
Aku mengangguk. "Kenapa, Bu? Memangnya ada apa dengan rumah ini?"
Bu Lastri tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu menatapku penuh iba. "Sudahlah, jaga dirimu baik-baik saja." Ucapannya membuat bulu kudukku berdiri, dan aku semakin curiga ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan dariku.
Sejak itu, aku mulai memperhatikan setiap sudut rumah. Ada bagian halaman belakang yang selalu terasa lembab, bahkan ketika kemarau panjang. Tanah di sana sedikit cekung, seperti bekas galian yang ditutup seadanya. Anehnya, setiap kali aku mendekat, ada bau anyir menyengat yang tiba-tiba muncul. Aku merasa seolah tanah itu bernafas.
Suatu malam, ketika listrik tiba-tiba padam, aku menyalakan lilin dan berjalan ke dapur. Saat melewati ruang tengah, mataku menangkap sosok samar seorang wanita berambut panjang dengan gaun putih lusuh, berdiri membelakangiku. Tubuhku kaku, lilin di tanganku hampir terjatuh.
"Siapa... siapa kamu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Sosok itu tidak bergerak. Namun tiba-tiba terdengar suara berbisik lirih, seakan tepat di telingaku: "Jangan buka tanah itu..."
Lilin padam seketika, dan aku berlari ke kamar sambil menahan tangis. Malam itu aku tidak bisa tidur, hanya bersembunyi di balik selimut sambil menggigil. Aku sadar, ada sesuatu yang lebih dari sekadar suara aneh di rumah ini.
Keesokan harinya, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Bu Lastri lagi. Kali ini aku memaksa. "Bu, tolong katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi dengan rumah ini?"
Bu Lastri menunduk, lalu berkata lirih. "Dulu, sebelum kau lahir, ada seorang perempuan hamil yang tinggal di sini. Dia diperlakukan buruk oleh kekasihnya hingga meninggal tragis. Orang-orang bilang... jasadnya tidak pernah dimakamkan di kuburan umum. Ada yang bilang dikubur di halaman rumah ini."
Hatiku tercekat. "Maksud Ibu...?"
"Maksudku, makamnya masih di sini. Dan... roh itu belum tenang." Jawabannya membuat tenggorokanku kering. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu, tapi semua tanda-tanda mengarah pada kebenaran.
Malam itu, aku sengaja berjaga di ruang tengah dengan membawa senter. Jam menunjukkan pukul dua belas malam ketika suara tangisan perempuan kembali terdengar. Kali ini lebih jelas, datang dari arah halaman belakang. Dengan langkah gemetar, aku membuka pintu dan berjalan ke sana.
Di bawah cahaya bulan, aku melihat tanah lembab itu berguncang pelan. Seolah ada sesuatu yang berusaha keluar dari dalam. Aku hampir berteriak ketika samar terlihat tangan pucat muncul dari tanah, mencakar-cakar permukaan. Aku terpaku, tidak tahu harus lari atau tetap diam.
Tiba-tiba sosok wanita bergaun putih itu berdiri di sampingku. Rambut panjangnya menutupi wajah, dan aroma anyir darah menyelimuti udara. Ia menoleh perlahan padaku, dan suaranya terdengar jelas.
"Aku tidak ingin diganggu... tapi kau yang tinggal di rumahku."
Keringat dingin membasahi tubuhku. "Aku... aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud mengusik."
Wanita itu mendekat, wajahnya kini terlihat. Kulit pucat dengan luka besar di punggungnya, seperti robekan yang menganga. Aku menjerit tertahan, lalu ia menunjuk ke tanah itu.
"Jika kau benar ingin tinggal... jangan sekali-kali kau mencoba menggali. Biarkan aku di sini."
Aku mundur beberapa langkah, lalu berlari masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat. Nafasku tersengal, tubuhku gemetar hebat. Namun sejak malam itu, aku mengerti satu hal: rumah ini bukan hanya milikku, ada penghuni lain yang tidak bisa pergi.
Anehnya, setelah kejadian itu, suara-suara aneh berkurang. Seolah roh itu hanya ingin memberikan peringatan padaku. Meski begitu, aku tetap dihantui rasa takut setiap kali melewati halaman belakang. Aku selalu merasa ada mata merah yang mengintai dari balik tanah lembab itu.
Beberapa minggu kemudian, seorang teman lama, Dika, datang berkunjung. Ia penasaran mendengar gosip tentang rumahku. Aku mencoba menutupi, tapi Dika keras kepala. "Ayo kita gali saja tanah itu, Ran. Biar tahu kebenarannya."
"Jangan, Dik! Aku sudah diperingatkan. Jangan pernah menyentuh tanah itu!"
Dika hanya tertawa. "Kamu terlalu percaya mitos. Paling juga cuma tanah biasa."
Tanpa mendengarkan laranganku, Dika mulai mencangkul tanah lembab itu. Aku berteriak, memohon agar ia berhenti, tetapi ia tidak peduli. Baru beberapa kali cangkul menghantam tanah, udara tiba-tiba menjadi dingin menusuk. Angin kencang bertiup, dan bau busuk darah menyeruak.
Dari dalam tanah, tangan pucat muncul, menarik kaki Dika dengan kekuatan mengerikan. Ia menjerit, berusaha melepaskan diri, tetapi tubuhnya perlahan terseret masuk. Aku panik, mencoba menarik tangannya, namun sia-sia. Mataku membelalak saat wajah kuntilanak itu muncul dari tanah, tersenyum ngeri sambil menarik Dika ke bawah.
"Ampun... ampun!" teriak Dika sebelum akhirnya hilang ditelan bumi.
Tanah kembali rata, seakan tidak terjadi apa-apa. Aku terduduk lemas, menangis tanpa henti. Sejak saat itu, tidak ada yang percaya ceritaku. Orang-orang hanya mengira Dika pergi entah ke mana. Hanya aku yang tahu kebenarannya.
Kini setiap malam, aku mendengar dua suara di halaman belakang. Tangisan perempuan dan jeritan samar seorang laki-laki yang seakan terjebak di dalam tanah. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Yang bisa kulakukan hanya menutup telinga dan berdoa agar aku tidak menjadi korban berikutnya.
Aku mencoba berbagai cara untuk menenangkan roh itu. Aku memanggil seorang ustaz, yang datang membaca doa di rumahku. Namun anehnya, setiap kali doa dipanjatkan, lilin padam dengan sendirinya, dan udara di ruangan semakin dingin. Ustaz itu akhirnya berkata, "Tempat ini sudah menjadi miliknya. Kau harus bijak hidup berdampingan."
Kata-kata itu menghantamku keras. Bagaimana mungkin aku bisa hidup berdampingan dengan arwah penasaran? Namun lambat laun aku sadar, ia tidak benar-benar ingin melukaiku, selama aku tidak melanggar peringatannya. Masalahnya, orang-orang di sekitarku selalu ingin tahu, dan rasa penasaran mereka bisa memicu bencana.
Beberapa bulan setelah kejadian Dika, sepupuku, Sinta, datang untuk menginap. Ia tipe orang yang cerewet dan tidak percaya pada hal mistis. Ketika aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, ia malah menertawakan. "Ran, kamu itu terlalu drama. Aku tidak lihat apa pun di sini. Kalau memang ada hantu, suruh dia muncul sekarang!" katanya sambil tertawa.
Perkataannya membuatku ketakutan. Aku memohon agar ia tidak sembarangan bicara. Namun malam itu, suara tangisan terdengar lebih keras dari biasanya. Sinta, dengan berani, membuka pintu belakang. Aku menahannya, tapi ia tetap melangkah keluar.
Di halaman, angin berhembus kencang. Sinta menyalakan ponselnya untuk merekam, seolah menantang. Tiba-tiba bayangan putih melintas cepat di belakangnya. Aku menjerit, dan Sinta pun berhenti tertawa. Sosok itu muncul, berdiri tepat di depan kami. Rambut panjangnya tergerai, wajahnya rusak dengan darah menetes dari mulut.
Sinta terpaku, ponselnya terjatuh. Kuntilanak itu mendekat perlahan, lalu berbisik tepat di telinga Sinta. "Jangan ganggu rumahku..."
Sinta menjerit histeris, jatuh pingsan di tempat. Sejak saat itu, ia menolak kembali ke rumahku. Bahkan ia berpesan agar aku segera pindah, karena menurutnya roh itu terlalu kuat.
Aku sendiri masih bertahan, meski setiap hari aku hidup dalam ketakutan. Rumah ini adalah peninggalan keluargaku, satu-satunya tempat yang bisa kutinggali. Tetapi aku tahu, cepat atau lambat, roh itu akan menuntut jiwa berikutnya. Entah siapa, entah kapan. Yang jelas, makam kuntilanak itu nyata ada di bawah rumahku, dan aku tidak bisa melarikan diri dari kenyataan tersebut.
Sampai hari ini, setiap malam aku menutup telinga dengan bantal. Tetapi tetap saja, suara tangisan dan jeritan samar itu menembus segalanya. Seolah ingin mengingatkanku: aku hanya tamu di rumah ini. Dan suatu hari nanti, mungkin aku juga akan menjadi bagian dari tanah lembab di halaman belakang itu.

Posting Komentar