Misteri Tangisan Gudang PT Mandom
Kisah Horor SPG di Gudang Kosmetik
Namaku Rani, seorang SPG kosmetik di PT Mandom. Setiap hari tugasku adalah menjaga display produk di berbagai toko besar, tersenyum kepada pelanggan, dan menjelaskan keunggulan produk kami. Namun, sejak beberapa minggu terakhir aku mendapat giliran tambahan di kantor pusat, tepatnya membantu bagian logistik untuk mengecek stok di gudang penyimpanan. Awalnya aku pikir itu hanya rutinitas membosankan, sampai suatu malam aku mendengar sesuatu yang membuat hidupku berubah.
Gudang PT Mandom terletak di bagian belakang gedung utama. Bangunannya besar, penuh rak-rak tinggi berisi kardus produk kosmetik. Bau campuran parfum, hairspray, dan bedak selalu menyengat di udara. Malam itu, aku masih berada di sana karena shift lembur. Hanya ada aku dan dua orang karyawan pria di ruang administrasi. Aku ditugaskan menghitung kembali stok lipstik seri terbaru yang konon jumlahnya tidak sesuai laporan. Bagian paling melelahkan adalah mengecek kotak satu per satu, memastikan kode produksi dan jumlahnya akurat.
Awalnya semua normal. Aku menyalakan lampu neon panjang, menyusuri lorong rak sambil menandai kotak dengan spidol. Suara gesekan sepatu dan kertas catatan menjadi satu-satunya irama. Tiba-tiba, suara samar terdengar dari ujung gudang. Suara tangisan. Pelan, namun jelas. Aku berhenti, menajamkan telinga. "Mungkin cuma suara dari luar," pikirku, meski malam itu pintu gudang sudah ditutup rapat dan udara dingin AC membuat suasana semakin sunyi.
Namun tangisan itu semakin nyata. Suara seorang wanita, tersedu-sedu, seolah menahan sakit. Aku menggenggam buku catatan lebih erat, jantung mulai berdegup tak karuan. Dengan langkah ragu, aku berjalan ke arah suara. Rak-rak tinggi membuat lorong-lorong seakan labirin. Suara itu kian jelas, seakan berasal dari antara tumpukan kotak parfum di rak paling ujung.
"Halo? Ada orang di sini?" tanyaku dengan suara bergetar. Tidak ada jawaban. Hanya isakan lirih yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku mencoba memberanikan diri. "Kalau ada karyawan lain, tolong jawab. Saya Rani, SPG dari divisi pemasaran." Tapi tetap tak ada balasan. Tangisan itu berhenti tiba-tiba, membuat suasana lebih menyeramkan. Hening. Hanya terdengar dengungan lampu neon di atas kepalaku, seperti berdesis.
Ketika aku berbalik hendak pergi, suara langkah kecil terdengar cepat dari arah belakang. Aku refleks menoleh, dan seketika tubuhku kaku. Dari celah rak, aku melihat sekelebat bayangan putih bergerak melayang. Rambut panjang, gaun lusuh berwarna putih kekuningan, wajahnya samar tertutup rambut. Aku menahan napas, merasakan hawa dingin menusuk kulit.
"Siapa... siapa itu?" suaraku nyaris tak terdengar. Bayangan itu berhenti, lalu mengeluarkan suara tangisan lagi, kali ini lebih dekat, seolah tepat di sampingku. Aku menjatuhkan catatan, lalu berlari sekencang-kencangnya ke ruang administrasi.
"Rani, kenapa pucat begitu?" tanya Arif, salah satu staf gudang. Nafasku tersengal. Aku mencoba menjelaskan, tapi kata-kataku terbata. "Di... di gudang... ada perempuan... menangis..."
Arif dan rekannya, Bima, saling pandang. "Kamu juga dengar, Bim?" tanya Arif. Bima menggeleng. "Nggak. Tapi... aku pernah diceritain soal suara itu." Aku menatap mereka dengan panik. "Maksudnya apa?" tanyaku cepat.
Bima menarik kursi dan duduk. "Katanya dulu, ada pekerja kontrak perempuan yang meninggal di gudang ini. Dia jatuh dari rak waktu ngangkat barang. Kepalanya terbentur parah. Katanya, malam-malam sering terdengar suara tangisannya." Aku tercekat, tubuhku merinding.
"Jangan bercanda, Bim," potong Arif. "Itu kan cuma gosip. Kalau serius, udah lama ditutup gudang ini." Tapi ekspresi wajahnya sendiri ragu. Aku mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut itu terus menghantui. Malam itu aku pulang lebih awal dengan alasan sakit kepala, tapi suara tangisan itu masih terngiang di telingaku.
Keesokan harinya, aku mencoba meyakinkan diri kalau semalam hanya halusinasi karena kelelahan. Namun, malam berikutnya aku kembali mendapat jadwal lembur. Kali ini aku membawa headset, berharap bisa fokus dengan musik. Tapi saat sedang menulis angka di catatan, headset-ku mati tiba-tiba, padahal baterai masih penuh. Dan di saat itulah suara tangisan itu kembali terdengar, jauh lebih jelas.
"Kenapa kamu nangis?" tanyaku nekat. Aku sendiri kaget karena berani bicara. Tangisan itu berubah jadi erangan. Tiba-tiba, kardus di rak atas bergeser sendiri, jatuh menghantam lantai tepat di sampingku. Aku menjerit. Dari balik rak, sosok putih itu muncul lagi, tapi kali ini wajahnya terlihat. Separuh kepalanya retak, darah hitam mengalir. Matanya kosong, memandang lurus ke arahku.
"Tolong... aku... masih di sini..." bisiknya. Aku terpaku. "Apa maksudmu?" tanyaku lirih. Tapi tiba-tiba lampu neon di gudang berkedip-kedip lalu padam. Gelap total. Aku hanya mendengar isakannya semakin keras, bercampur dengan suara gesekan kardus yang bergerak sendiri.
Aku berlari ke pintu keluar, tapi pintu besi itu terkunci. Padahal tadi tidak. Dengan panik aku menghantam pintu, berteriak memanggil Arif dan Bima. Dari kegelapan, suara langkah menyeret mendekat. Nafasku tersengal. Ketika aku menoleh, sosok itu sudah hanya beberapa langkah dariku, merangkak dengan tangan berdarah.
Di saat aku merasa ajal menjemput, pintu akhirnya terbuka. Arif menarik tanganku keluar. "Kamu kenapa?! Kamu teriak-teriak!" Aku langsung terduduk di lantai, tubuh gemetar. "Ada... ada dia di dalam!" ucapku sambil menangis. Tapi ketika Arif dan Bima masuk untuk memeriksa, gudang itu kosong. Lampu menyala normal. Kardus yang tadi jatuh pun sudah kembali ke posisi semula.
Sejak kejadian itu aku jadi tidak bisa tidur nyenyak. Setiap malam aku terbangun, mendengar isak tangis samar di telingaku. Padahal aku berada di kamar kos, jauh dari kantor. Aku mencoba berdoa, tapi suara itu selalu kembali. Rasanya seolah arwah itu mengikuti ke mana pun aku pergi.
Beberapa hari kemudian, aku memberanikan diri bertanya pada salah satu karyawan senior bernama Bu Sari. Beliau sudah bekerja di PT Mandom lebih dari dua puluh tahun. Saat aku ceritakan soal tangisan itu, wajahnya langsung pucat. "Kamu jangan sembarangan cerita ke orang lain, Ran. Nanti dianggap aneh. Tapi aku percaya sama kamu. Dulu memang ada insiden di gudang. Perempuan itu masih muda, namanya Rika. Dia SPG kontrak juga, sama seperti kamu. Dia meninggal saat lembur, kejatuhan rak besi. Katanya sempat nangis minta tolong, tapi tidak ada yang mendengar sampai akhirnya nyawanya melayang."
Ucapan Bu Sari membuat bulu kudukku berdiri. Jadi benar, aku tidak berhalusinasi. Suara tangisan itu nyata. Mungkin itu jeritan terakhir Rika yang terus terulang. Malam harinya aku bermimpi. Dalam mimpi itu, aku melihat seorang gadis dengan seragam SPG, wajahnya penuh luka, memintaku untuk membantunya keluar dari gudang. Ketika aku terbangun, aku mendapati pipiku basah, seolah aku benar-benar ikut menangis bersamanya.
Aku mulai merasa ada keterikatan aneh. Setiap kali melewati gudang, aku bisa merasakan hawa dingin yang berbeda. Kadang aku mendengar bisikan memanggil namaku. "Rani..." lirih sekali, tapi jelas. Aku tidak berani masuk lagi ke dalam, tapi entah mengapa selalu ada perasaan bahwa dia menunggu sesuatu dariku.
Suatu malam, Arif dan Bima menantangku untuk membuktikan keberanian. "Kalau kamu yakin pernah lihat hantu itu, ayo kita bertiga masuk ke gudang malam ini," kata Arif setengah bercanda. Awalnya aku menolak, tapi mereka terus mendesak. Akhirnya aku setuju, dengan syarat mereka tidak meninggalkanku sendirian. Kami masuk bertiga, membawa senter tambahan.
Di dalam gudang, suasana jauh lebih menekan. Senter menyorot tumpukan kardus, bayangan panjang bergoyang di dinding. Arif mencoba meyakinkan diri dengan bercanda, sementara Bima terlihat tegang. "Coba panggil, Ran," bisik Bima. Aku menelan ludah, lalu memanggil lirih. "Rika?"
Hening sejenak, lalu terdengar suara tangisan dari atas rak. Kami bertiga sontak menoleh. Dari atas, sebuah kardus jatuh menghantam lantai dengan keras. Sosok putih itu muncul, duduk di atas rak, rambut panjangnya menutupi wajah. Tangisannya menggema di seluruh gudang. Aku menjerit, Arif terpaku, sementara Bima langsung mundur ketakutan.
Tiba-tiba lampu gudang mati serentak. Senter kami berkedip-kedip. Suara langkah menyeret mendekat. Aku memanggil namanya lagi, "Rika... apa yang kamu mau?" Tangisannya berhenti. Perlahan, wajahnya menoleh ke arahku. Matanya hitam pekat, mulutnya berlumuran darah. "Aku... masih di sini... tolong aku..." suaranya membuat darahku membeku.
Arif menarik lenganku. "Ayo keluar, Ran! Jangan diladenin!" Tapi kakiku seakan menancap ke lantai. Rika merangkak turun, mendekat padaku. Tangannya terulur, seolah ingin menggenggam. Aku bisa merasakan hawa dinginnya. "Kenapa... kamu panggil aku?" tanyanya lirih. Aku hanya bisa menangis. "Aku... aku ingin tahu apa yang kamu mau. Aku tidak ingin kamu terus menangis."
Seketika, seluruh gudang bergemuruh. Kardus berjatuhan, rak bergetar. Rika berteriak keras, tangisannya berubah jadi jeritan memilukan. Kami bertiga akhirnya lari keluar dengan panik. Saat pintu gudang ditutup, suara itu masih terdengar, seakan menghantui dari balik pintu besi.
Sejak malam itu, aku yakin Rika bukan hanya sekadar hantu yang menangis. Dia terjebak di sana, menyimpan amarah sekaligus kesedihan. Mungkin ada sesuatu yang belum tersampaikan, sesuatu yang membuatnya tidak bisa pergi. Dan entah mengapa, aku merasa dialah yang memilihku untuk mendengar tangisannya, untuk memahami pesannya.
Sampai hari ini, setiap kali aku lewat dekat gudang PT Mandom, suara tangisan itu masih terdengar samar. Kadang lirih, kadang keras. Seakan memanggil, menuntut perhatian. Gudang itu kini menjadi tempat yang tidak pernah bisa benar-benar tenang, menyimpan rahasia kelam yang tak semua orang berani ungkap. Dan aku, Rani, hanya bisa berdoa semoga suatu hari arwah Rika menemukan jalan menuju ketenangan. Tapi di dalam hatiku yang paling dalam, aku tahu... suara tangisan itu akan selalu ada, menunggu didengar lagi.

Posting Komentar