Hantu Rel Kereta di Stasiun Solo
Misteri Arwah di Stasiun Solo Malam Hari
Malam itu, suasana Stasiun Solo Balapan begitu lengang. Lampu-lampu peron hanya berpendar redup, menambah kesan angker di antara rel-rel tua yang sudah berusia puluhan tahun. Rian, seorang mahasiswa semester akhir yang baru pulang dari Yogya, memilih menunggu kereta terakhir menuju Sragen. Ia duduk sendiri di bangku kayu yang catnya sudah mengelupas, sambil menatap rel yang membentang lurus ke kegelapan malam.
“Kenapa sepi banget, ya? Biasanya ada saja orang,” gumamnya sambil memainkan ponselnya. Namun anehnya, layar ponselnya tiba-tiba berkedip lalu mati, padahal baterainya masih 70%. Ia mencoba menyalakan ulang, tapi tetap tidak berhasil. Rian menghela napas, merasa ada yang janggal, tapi ia mencoba mengabaikannya.
Udara malam terasa lebih dingin dari biasanya, seperti ada angin dari arah rel yang tak pernah berhenti berembus. Dari kejauhan, terdengar suara gesekan besi di rel, seperti roda kereta yang melintas, padahal menurut jadwal, tak ada kereta yang lewat malam itu. Rian berdiri, menajamkan pendengarannya. Samar-samar terlihat sosok perempuan berbaju putih berdiri di tengah rel, rambutnya panjang menutupi wajah.
“Astaga...” Rian mundur beberapa langkah. Hawa dingin mendadak menusuk, membuat bulu kuduknya berdiri. Sosok itu menunduk, lalu perlahan kepalanya bergerak cepat menoleh ke arah Rian. Mata hitam kosong itu menatap tajam, membuat napasnya tercekat.
“Mas... jangan berdiri di situ...” terdengar suara lirih di belakangnya. Rian menoleh, seorang pria tua berseragam petugas stasiun berdiri sambil membawa lampu minyak kuno. “Cepat ikut saya, jangan menatap dia terlalu lama.”
Rian segera mendekat. “Pak, itu... siapa?” tanyanya terbata.
Petugas itu hanya menggeleng. “Jangan banyak tanya. Kalau kau terus di sini, dia akan membawamu.”
Mereka berjalan menyusuri peron yang semakin sepi. Namun suara langkah tambahan terdengar mengikuti. Rian nekat menoleh, dan hampir berteriak. Sosok perempuan berbaju putih itu kini berjalan di rel sejajar dengan mereka, kepalanya terkulai ke samping, tangannya terjulur seperti hendak meraih.
“Pak! Dia ikut kita!” Rian panik.
Petugas itu menghentikan langkahnya. “Aku sudah bilang jangan menoleh! Sekarang jalan cepat!” suaranya berat, seperti marah sekaligus takut. Mereka mempercepat langkah, namun suara gesekan besi semakin keras, seakan kereta raksasa melaju tanpa wujud. Angin dingin menerpa wajah mereka, membuat Rian hampir kehilangan keseimbangan.
Akhirnya mereka sampai di sebuah ruangan kecil dekat ruang administrasi stasiun. Lampu minyak diletakkan di meja kayu tua. Rian duduk sambil mengatur napas. “Pak... sebenarnya apa yang terjadi?”
Pria tua itu menghela napas panjang. “Sudah bertahun-tahun, setiap malam tertentu, sosok itu muncul. Orang bilang, dia korban kecelakaan kereta di sini dulu. Tapi... aku tahu ceritanya lebih menyeramkan dari itu.”
“Maksudnya, Pak?”
Petugas itu menatap lurus ke mata Rian. “Perempuan itu dulu bukan korban, tapi pelaku. Ia sengaja menjebak seorang masinis hingga keretanya anjlok. Ia mati tertabrak, namun rohnya tidak pernah pergi. Sekarang, ia mencari pengganti agar bisa bebas.”
Rian merinding mendengarnya. “Pengganti? Maksudnya saya?”
Petugas itu mengangguk pelan. “Kau sudah melihatnya. Itu artinya dia sudah menandaimu.”
Tiba-tiba, lampu minyak padam, dan ruangan gelap gulita. Dari sudut ruangan, suara perempuan tertawa lirih menggema. Rian meraba saku celananya, mencari ponsel, tapi tetap mati. Suara langkah mendekat, pelan tapi pasti. Lalu terdengar suara bisikan dingin di telinganya. “Ikut aku...”
Rian tersentak, menjerit. Saat ia berusaha lari, pintu ruangan tertutup sendiri dengan keras. Pria tua itu mencoba membuka, namun sia-sia. “Dia sudah masuk ke sini...” katanya gemetar.
Dari kegelapan, sosok putih itu muncul, kali ini lebih jelas. Wajahnya rusak, penuh darah, matanya bolong hitam. Ia mendekat sambil menyeret kaki. Rian terdesak ke dinding, tubuhnya gemetar hebat. “Jangan dekati aku!”
Tiba-tiba, pria tua itu mengangkat lampu minyak yang entah bagaimana menyala kembali. “Kembalilah ke tempatmu! Jangan bawa lagi manusia ke dalam dendammu!” teriaknya lantang. Api dari lampu minyak berkobar lebih besar, menerangi ruangan dengan cahaya merah menyala.
Sosok itu menjerit melengking, tubuhnya berasap, lalu perlahan menghilang. Ruangan kembali sunyi. Rian terduduk lemas, sementara pria tua itu menutup matanya, seperti berdoa. “Kali ini kita selamat... tapi ingat, jangan pernah ceritakan pada orang lain kalau kau ingin hidup tenang.”
Namun ketika Rian keluar dari ruangan itu, ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku. Foto-foto petugas stasiun terpajang di dinding lorong, sebagai penghormatan bagi yang sudah wafat. Dan di sana, salah satunya adalah foto pria tua yang baru saja menolongnya—dengan nama: Suparno, meninggal tahun 1998 dalam kecelakaan kereta di Stasiun Solo Balapan.
Rian tercekat, menoleh ke belakang. Ruangan tempat ia bersembunyi tadi sudah hilang, yang tersisa hanya dinding kosong. Suara tertawa lirih kembali terdengar dari rel. Malam itu, ia sadar, ia bukan hanya berhadapan dengan satu arwah... tapi dua.
Keesokan harinya, Rian mencoba mencari kebenaran. Ia mendatangi seorang pedagang nasi liwet di dekat stasiun, seorang ibu paruh baya yang sudah lama berjualan di sana. “Bu, semalam saya bertemu seorang petugas tua, namanya Pak Suparno. Apa ibu mengenalnya?”
Ibu itu terdiam, wajahnya pucat. “Nak, Suparno sudah meninggal lama. Dia meninggal di kecelakaan kereta besar di sini. Katanya dia masih suka menjaga stasiun... tapi kalau kau bertemu dia, berarti kau sedang tidak sendirian.”
“Tidak sendirian?” Rian bingung.
“Ya. Biasanya kalau dia muncul, hantu perempuan itu juga ada. Mereka berhubungan... entah bagaimana, tapi orang bilang mereka saling terikat. Kadang Suparno menolong orang, kadang justru menjerumuskan. Tidak ada yang tahu pasti.”
Rian merinding mendengar penjelasan itu. Jadi selama ini, ia bisa saja ditolong atau justru dikorbankan. Ia berjalan kembali ke stasiun, mencoba memastikan apakah yang ia alami nyata. Namun semakin lama ia berada di sana, semakin banyak keanehan terjadi.
Kereta yang seharusnya datang, tidak pernah muncul. Suara peluit masinis terdengar di kejauhan, tapi peronnya kosong. Beberapa kali ia melihat penumpang samar, duduk menunduk, lalu hilang begitu saja. Bahkan ia melihat seorang anak kecil berlari di peron, tertawa, lalu lenyap menembus dinding.
Rian akhirnya sadar, Stasiun Solo Balapan bukan hanya sekadar tempat transportasi, melainkan juga gerbang antara dunia nyata dan dunia arwah. Sosok perempuan bergaun putih itu hanya satu dari sekian banyak yang masih berkeliaran. Dan petugas tua bernama Suparno... entah benar-benar penolong atau hanya ilusi yang menjerat manusia agar terjebak selamanya di sana.
Malam-malam berikutnya, Rian sering terbangun dengan mimpi buruk. Ia melihat rel kereta berlumuran darah, mendengar suara jeritan, bahkan merasakan tarikan tangan dingin yang mencoba menariknya masuk ke kegelapan. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi melewati Stasiun Solo, meskipun harus menempuh perjalanan lebih jauh.
Sampai hari ini, ia tidak pernah tahu apakah dirinya benar-benar berhasil lolos, atau sebenarnya ia masih berada di dalam perangkap stasiun itu. Karena setiap kali ia melewati jalur kereta di tempat lain, selalu ada suara gesekan besi yang mengingatkannya pada malam mengerikan itu. Dan kadang, di kaca jendela kereta, ia masih melihat bayangan perempuan berbaju putih berdiri di rel, menunggunya.

Posting Komentar