Raja Tuyul di Hutan Riau
Teror Tuyul di Kampung Pinggir Hutan
Nama Vina sebenarnya tidak asing di kalangan teman-temannya di Pekanbaru. Ia adalah wanita muda berusia dua puluh tujuh tahun, pekerja kantoran di sebuah perusahaan logistik, hidup rapi, teratur, dan rasional. Sejak kuliah, Vina dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah percaya pada mitos atau cerita mistis. Baginya, semua hal harus masuk akal dan bisa dijelaskan secara logika. Ia bahkan sering menertawakan cerita-cerita horor yang dibagikan rekan kerjanya saat lembur, termasuk kisah seperti Hantu Tukang Sapu Rumah Pulo Mas yang menurutnya hanya karangan untuk menakut-nakuti orang.
Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai keyakinan manusia. Ketika perusahaan tempatnya bekerja membuka cabang baru di wilayah pinggiran Kabupaten Kampar, Riau, Vina ditawari posisi tetap dengan syarat harus tinggal dekat lokasi gudang. Tanpa banyak pertimbangan, ia menerima tawaran itu. Ia merasa ini kesempatan bagus untuk kariernya sekaligus menjauh dari hiruk-pikuk kota.
Kampung tujuan Vina terletak tidak jauh dari hutan lebat yang oleh warga sekitar disebut sebagai Hutan Larangan. Kampung itu tampak damai, rumah-rumah kayu berjajar rapi, jalan tanah memanjang di antara sawah, dan suara serangga malam menjadi pengantar tidur. Penduduknya ramah, murah senyum, dan hidup bergotong royong. Ketua RT bernama Pak Sumarno, pria paruh baya dengan wajah keras namun tutur kata lembut, menjadi orang pertama yang menyambut Vina.
“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan, Nak,” kata Pak Sumarno sambil membantu menurunkan koper Vina. “Di sini kami anggap semua warga itu keluarga.”
Rumah yang disewa Vina berada di ujung kampung, hanya dipisahkan jalan setapak dari hutan. Dari jendela belakang, pepohonan tinggi menjulang seperti dinding gelap. Setiap pagi, kabut tipis menggantung di antara batang pohon, membuat suasana terlihat indah sekaligus sunyi. Meski begitu, Vina justru merasa nyaman. Baginya, ketenangan adalah kemewahan.
Hari-hari awal berlalu tanpa masalah. Vina bekerja seperti biasa, berangkat pagi dan pulang menjelang magrib. Ia mulai mengenal beberapa tetangga seperti Bu Yati yang sering membawakan sayur, Pak Rahman yang suka duduk di gardu sambil merokok, dan Pak Darto yang dikenal pendiam. Semua tampak normal, nyaris sempurna.
Keanehan pertama terjadi dua minggu setelah Vina menetap. Suatu malam, saat ia menghitung uang belanja di ruang tamu, ia menyadari beberapa lembar uang pecahan seratus ribu hilang, sebuah kejadian yang mengingatkan pada kisah Teror Tuyul Pencuri Uang Gaib yang sering ia dengar namun tak pernah ia percayai. Awalnya Vina mengira ia salah ingat.
“Mungkin kepakai kemarin,” gumamnya sambil menggaruk kepala.
Ia mengabaikan kejadian itu. Namun dua hari kemudian, uangnya kembali berkurang. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Vina mulai gelisah. Ia memeriksa dompet, tas kerja, bahkan tempat sampah. Tidak ada.
“Ini tidak masuk akal,” katanya sendiri.
Vina mulai mencatat setiap pengeluaran. Ia memastikan tidak ada uang yang keluar tanpa ia ketahui. Tetapi anehnya, setiap dua atau tiga hari, uangnya tetap berkurang. Tidak ada tanda rumah dibobol. Pintu selalu terkunci, jendela tertutup rapat.
Merasa tidak aman, Vina membeli sebuah berangkas kecil dari kota. Berangkas itu ia simpan di dalam lemari dan dikunci dengan kode angka yang hanya ia ketahui. Ia bahkan mengganti kode setiap malam.
“Sekarang kalau masih hilang, aku harus curiga sama diri sendiri,” katanya setengah bercanda.
Tiga hari kemudian, hujan turun deras sejak sore. Vina pulang dengan tubuh lelah. Setelah mandi, ia membuka lemari dan berangkas untuk mengambil uang makan malam. Saat pintu besi terbuka, tubuhnya membeku. Hampir seluruh uangnya lenyap, tersisa beberapa lembar lusuh.
“Tidak… ini tidak mungkin…” suara Vina bergetar.
Ia duduk terdiam cukup lama. Kode berangkas tidak rusak, pintu tidak tercongkel. Semuanya tampak normal. Malam itu, Vina sulit tidur. Ia merasa seperti ada mata yang mengintainya dari sudut gelap rumah.
Keesokan paginya, Vina menemui Pak Sumarno. Dengan wajah pucat, ia menceritakan semua kejadian. Pak Sumarno mendengarkan tanpa menyela, hanya sesekali mengangguk pelan.
“Kalau sudah sampai berangkas, ini bukan perkara biasa,” ujar Pak Sumarno serius. “Saya tidak mau menakut-nakuti, tapi kemungkinan besar ini ulah tuyul.”
Vina tertawa kaku. “Pak, saya tidak percaya hal begituan.”
Pak Sumarno menatapnya dalam-dalam. “Di kota, mungkin jarang. Tapi di dekat hutan seperti ini, tidak semua hal bisa dijelaskan logika.”
Sore itu, Pak Sumarno mengajak beberapa warga berkumpul di rumah Vina. Bu Yati, Pak Rahman, dan Pak Darto hadir. Wajah mereka tampak tegang ketika mendengar cerita Vina.
“Dulu pernah kejadian seperti ini,” kata Pak Rahman lirih. “Uang warga habis, lalu ketahuan ada tuyul kiriman.”
Vina menelan ludah. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut.
Malam itu, sebuah ritual sederhana dilakukan. Sebuah bak plastik besar diisi air bersih. Bunga tujuh rupa ditaburkan di atasnya. Pak Sumarno duduk bersila dan membaca mantra dengan suara berat. Lampu dimatikan, hanya cahaya lilin menerangi ruangan.
Air di dalam bak tiba-tiba beriak. Riaknya semakin kuat, hingga muncul sosok kecil berkulit abu-abu dengan mata hitam membulat. Makhluk itu tersenyum aneh, giginya runcing.
“Itu dia…” bisik Bu Yati gemetar.
Tuyul itu melompat keluar dan berlari ke arah lemari. Pak Darto menyiramkan air garam. Makhluk itu menjerit melengking, lalu menembus dinding dan menghilang.
Sejak malam itu, warga berjaga. Jejak-jejak aneh mengarah ke rumah tua di dekat hutan, milik Surahman, pria pendiam yang jarang bergaul. Saat rumah itu digeledah, ditemukan benda-benda ritual dan tuyul yang terikat.
Surahman ditangkap. Ia menangis, mengaku tergoda kekayaan. Kampung kembali tenang. Uang Vina tidak lagi hilang. Ia mulai merasa semua telah berakhir.
Namun ketenangan itu hanya ilusi.
Beberapa hari kemudian, suara gemuruh terdengar dari arah hutan. Tanah bergetar. Pepohonan bergoyang. Warga menemukan pintu rumah tercabut, jendela pecah. Tidak ada barang hilang, hanya teror.
“Ini bukan tuyul biasa,” kata Pak Sumarno pucat. “Ini Raja Tuyul.”
Malam berikutnya, sosok besar muncul. Tubuhnya seukuran anak kecil, hitam legam, matanya merah menyala. Tawa melengkingnya membuat darah Vina membeku.
Raja Tuyul menuntut balasan. Ia menyerang rumah Vina. Udara menjadi dingin. Ia membisikkan janji kekayaan pada Vina.
“Semua ini bisa jadi milikmu…”
Dengan sisa keberanian, Vina menolak. Ia membaca doa sekuat tenaga. Warga membantu dengan doa dan air suci. Raja Tuyul mengaum marah. Tubuhnya retak, lalu hancur dalam cahaya menyilaukan.
Kampung selamat. Namun Vina berubah. Rambutnya memutih sebagian. Ia sering mimpi buruk. Beberapa bulan kemudian, ia pindah dari kampung itu.
Meski rumahnya kosong, warga sering mendengar suara langkah dan tangisan di malam hari. Ada yang bilang, sebagian jiwa Vina tertinggal di Hutan Riau. Dan di antara pepohonan, tawa kecil sering terdengar, seolah Raja Tuyul belum sepenuhnya pergi.

Posting Komentar