Hantu Tukang Sapu Rumah Pulo Mas
Teror Nenek Penyapu di Rumah Baru
Aku masih ingat betul malam pertama kami pindah ke rumah itu. Rumah dua lantai di sebuah komplek perumahan lama di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur. Catnya putih gading, pagar besinya tinggi, dan halamannya cukup luas untuk ukuran rumah di Jakarta. Di sudut halaman tumbuh pohon mangga tua yang daunnya rimbun dan selalu menjatuhkan daun kering setiap hari. Saat pertama kali aku melangkah melewati gerbangnya, entah kenapa dadaku terasa sesak, seolah ada sesuatu yang mengawasi dari balik tembok-tembok tinggi rumah itu.
“Akhirnya punya rumah juga di Pulo Mas,” kata Ardi, suamiku, dengan wajah penuh kebanggaan. Tangannya sibuk membuka bagasi mobil, mengeluarkan kardus-kardus berisi barang pindahan.
Aku tersenyum tipis. “Iya, Mas. Rumahnya besar.”
Padahal dalam hatiku ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Aku Rina, seorang ibu rumah tangga dengan satu anak laki-laki bernama Dafa yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kami pindah ke rumah ini setelah menjual rumah lama di daerah Cempaka Putih. Menurut Ardi, lokasi Pulo Mas strategis, lingkungannya elit dan tenang. Agen properti juga bilang rumah ini jarang bermasalah, hanya sempat kosong cukup lama.
Kata “kosong cukup lama” itu yang terus terngiang di kepalaku.
Hari pertama kami habiskan dengan membereskan rumah. Menjelang malam, aku menyapu halaman depan. Anehnya, meski baru disapu, halaman terasa seperti masih kotor. Daun-daun kering seperti menempel di tanah, sulit disingkirkan. Aku harus menyapu berkali-kali hingga bersih.
“Capek amat nyapu, Rin?” Ardi tertawa kecil dari teras.
“Entah kenapa, halamannya susah bersih,” jawabku.
“Besok juga kotor lagi,” katanya santai.
Malam itu aku tidur dengan tubuh sangat lelah. Namun sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun oleh suara yang membuat mataku langsung terbuka lebar. Dari dalam kamar, aku merasakan ketakutan yang sama seperti kisah Bayangan Misterius di Kamar Ibu, karena suara gesekan sapu lidi itu terdengar pelan tapi jelas, seolah seseorang sedang menyapu dengan penuh ketelatenan tepat di luar rumah.
Awalnya aku mengira itu petugas kebersihan komplek. Tapi semakin lama aku mendengarkan, suara itu terasa terlalu dekat. Seolah berasal dari halaman rumah kami sendiri.
Dengan jantung berdebar, aku bangun dari tempat tidur dan perlahan mendekati jendela kamar. Tirai kusibakkan sedikit. Lampu teras menyala redup, memantulkan bayangan samar di halaman.
Di sanalah aku melihatnya.
Seorang nenek berdiri membungkuk di halaman rumah kami. Rambutnya panjang, putih kusam, terurai menutupi sebagian wajahnya. Tubuhnya kurus, tulang punggungnya menonjol di balik kebaya cokelat yang terlihat sangat tua dan lusuh. Tangannya memegang sapu lidi, menyapu halaman dengan gerakan lambat dan teratur.
Aku terpaku. Napasku tercekat di tenggorokan.
“Mungkin nenek tetangga,” bisikku mencoba menenangkan diri.
Tapi saat pandanganku turun ke bawah, kakiku langsung terasa lemas. Kaki nenek itu tidak menapak tanah. Ia melayang beberapa senti di atas paving, dan setiap kali sapunya menyentuh tanah, tidak ada suara langkah sama sekali.
Aku menutup tirai dengan cepat dan mundur terhuyung. Dengan tangan gemetar, aku membangunkan Ardi.
“Mas, bangun… di luar ada orang,” bisikku panik.
Ardi mengerang pelan. “Orang? Jam segini?”
“Ada nenek-nenek nyapu halaman kita.”
Dengan setengah mengantuk, Ardi bangkit dan melihat ke luar jendela. Beberapa detik kemudian, ia menghela napas panjang.
“Nggak ada siapa-siapa, Rin. Halaman kosong.”
“Tapi aku lihat jelas!”
“Kamu kecapekan. Ini rumah baru, mungkin kamu belum terbiasa.”
Ardi kembali tidur. Aku hanya bisa memeluk lutut di atas ranjang, menunggu pagi dengan perasaan takut. Anehnya, suara sapu itu berhenti begitu saja.
Pagi harinya, aku keluar rumah dengan perasaan waswas. Halaman rumah terlihat sangat bersih. Tidak ada satu pun daun kering di bawah pohon mangga. Padahal semalam aku ingat betul banyak daun berjatuhan.
Sejak malam itu, kejadian serupa terus terulang.
Setiap pukul dua dini hari, suara sapu selalu datang. Kadang pelan, kadang terdengar jelas hingga membuatku terbangun dari tidur. Sosok nenek itu selalu ada di halaman, menyapu dengan ekspresi kosong. Tidak pernah masuk ke dalam rumah, hanya berdiri di halaman seperti menjaga sesuatu.
Aku mulai sulit tidur. Badanku lemas, mataku cekung. Ardi masih belum percaya.
“Kalau memang ada hantu, kenapa cuma kamu yang lihat?” tanyanya suatu malam.
Pertanyaan itu menusuk. Aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Gangguan itu kemudian semakin menjadi. Suatu malam, bau tanah basah bercampur kemenyan menyusup ke dalam rumah. Bau menyengat itu mengingatkanku pada kisah Aku Melihat Hantu Pesugihan Rumah Makan, membuatku terbangun dengan mual dan pusing. Bau itu jelas berasal dari dapur.
Dengan langkah gemetar, aku berjalan ke dapur. Lampu dapur mati, hanya cahaya dari ruang makan yang menerangi samar.
Di sana, aku melihat nenek itu berdiri di tengah dapur.
Ia menyapu lantai keramik dengan sapu lidi, padahal lantainya bersih mengilap. Setiap sapuan meninggalkan bekas tanah merah yang basah, seperti tanah kuburan.
“Nek…” suaraku bergetar.
Nenek itu berhenti menyapu. Perlahan, kepalanya berputar ke arahku. Wajahnya keriput parah, matanya hitam pekat tanpa putih mata. Senyumnya melebar tidak wajar.
“Rumah ini kotor…” katanya dengan suara serak.
Aku menjerit dan berlari kembali ke kamar. Ardi terbangun dan langsung ke dapur, tapi sosok itu sudah menghilang. Yang tersisa hanya bau tanah basah yang perlahan memudar.
Sejak malam itu, aku sering mimpi buruk. Dalam mimpiku, nenek itu menyapu tanah bercampur darah sambil menangis. Aku mulai jatuh sakit. Nafsu makanku hilang, tubuhku semakin kurus.
Aku akhirnya memberanikan diri bertanya pada tetangga. Bu Sari, tetangga sebelah yang sudah lama tinggal di situ, menatapku lama saat aku menyebut soal nenek tukang sapu.
“Kamu lihat dia juga?” tanyanya pelan.
Jantungku berdegup kencang. “Ibu tahu?”
Bu Sari mengangguk. “Dulu, sebelum rumah itu dijual, ada nenek tua yang tinggal sendirian di situ. Dia tukang sapu komplek. Setiap pagi dan malam, dia menyapu halaman rumah-rumah di sini.”
“Terus…?”
“Dia meninggal di halaman rumah itu. Malam hari. Katanya jatuh dan kepalanya terbentur. Tapi banyak yang bilang dia dibunuh.”
Darahku terasa dingin.
Menurut cerita Bu Sari, nenek itu sering dimarahi penghuni lama rumah tersebut. Ia dituduh membawa sial, dianggap pengganggu. Suatu malam, terdengar keributan. Keesokan paginya, nenek itu ditemukan sudah tidak bernyawa di halaman.
Lebih mengerikan lagi, jasadnya tidak diurus dengan layak. Sebagian tanah tempat ia meninggal ditutup seadanya.
Malam berikutnya, Ardi akhirnya melihatnya.
Ia terbangun karena suara keras di halaman. Saat membuka jendela, ia melihat nenek itu berdiri menatap rumah kami, sapu lidi di tangannya bergerak sendiri.
“Rin…” suara Ardi gemetar. “Aku lihat.”
Sejak itu, Ardi tidak lagi meragukanku. Kami memanggil seorang ustaz yang dikenal memiliki kemampuan menangani gangguan gaib.
Ustaz itu memeriksa rumah kami, terutama halaman. Ia berhenti lama di bawah pohon mangga.
“Ada tanah yang belum disucikan,” katanya. “Roh ini tidak marah. Ia hanya terikat pada tugasnya.”
Atas arahan ustaz, kami menggali sedikit di sudut halaman. Di sana ditemukan sapu lidi tua, kain kafan cokelat, dan tulang belulang kecil.
Proses pemakaman ulang dilakukan. Doa dibacakan semalaman.
Setelah itu, gangguan berhenti.
Namun setiap pagi, halaman rumah kami selalu bersih. Terlalu bersih.
Suatu hari, aku menemukan sapu lidi baru di teras. Di gagangnya terikat kain cokelat lusuh.
Aku menatap halaman yang bersih tanpa daun. Dalam hati aku tahu, nenek tukang sapu itu masih ada.
Bukan untuk mengganggu, tapi menjaga rumah ini… selamanya.

Posting Komentar