Bayangan Dalam Lemari Tua

Table of Contents
Seorang Siswi SMA Ketakutan Melihat Hantu di Dalam Lemari

Teror Lemari Tua di Rumah Baru

Nama aku Dewi. Usia tujuh belas tahun, siswi SMA yang hidupnya berubah total sejak orang tuaku memutuskan pindah dari kota ke sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Alasannya klasik: ingin hidup lebih tenang, dekat alam, jauh dari hiruk-pikuk kota. Aku tak pernah membantah, meski jauh di dalam hati ada perasaan aneh yang tak bisa kujelaskan sejak pertama kali melihat rumah baru itu.

Rumahnya besar, berdinding kayu jati tua dengan cat yang sudah memudar. Halamannya luas, ditumbuhi pohon mangga dan rambutan yang tampak lebih tua dari umur ayahku. Saat mobil kami berhenti di depan rumah, angin desa berembus pelan, membawa bau tanah basah dan dedaunan kering. Sekilas terlihat damai, tapi entah kenapa dadaku terasa sesak.

"Ini rumah kakek buyutmu dulu," kata Ibu sambil tersenyum, seolah bangga. "Sudah lama kosong, tapi strukturnya masih kuat."

Aku mengangguk pelan. Pandanganku tertuju pada jendela-jendela rumah yang gelap, seakan ada mata yang memperhatikan dari dalam. Aku menepis pikiran itu, menganggapnya hanya sugesti karena kelelahan perjalanan.

Kamarku berada di bagian belakang rumah, menghadap kebun. Ukurannya cukup besar, dengan lantai kayu yang berderit setiap kali diinjak. Di sudut kamar itulah aku melihatnya pertama kali: sebuah lemari kayu tua, tinggi hampir menyentuh langit-langit, dengan ukiran bunga dan simbol-simbol yang tak kukenal.

"Lemari itu kenapa nggak dipindahin aja?" tanyaku pada Ayah saat kami membereskan barang.

Ayah menepuk sisi lemari itu. "Sayang kalau dibuang. Kosong kok isinya. Biarin aja buat pajangan."

Pintu lemari itu sedikit terbuka. Aku mengintip ke dalamnya. Benar, kosong. Tidak ada pakaian, tidak ada kotak, hanya bau kayu tua dan debu. Tapi saat aku menutup pintunya, entah kenapa ada perasaan seperti baru saja mengganggu sesuatu yang seharusnya dibiarkan sendiri.

Malam pertama di rumah itu, aku sulit tidur. Suara jangkrik terdengar terlalu dekat, dan angin membuat jendela bergetar pelan. Sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena mendengar suara gesekan kayu, suara yang mengingatkanku pada kisah Suara Tangisan Misterius di RS Medan, sama-sama muncul di jam sunyi ketika logika terasa melemah.

Greeeek.

Mataku langsung terbuka. Suara itu berasal dari arah lemari. Dalam gelap, aku melihat pintu lemari terbuka sedikit lebih lebar dari sebelumnya.

"Mungkin angin," gumamku, mencoba menenangkan diri.

Aku bangkit dari tempat tidur dan menutup pintu lemari itu rapat-rapat. Saat tanganku menyentuh kayunya, dingin. Terlalu dingin untuk sebuah benda kayu di malam tropis.

Keesokan harinya, aku menceritakan kejadian itu pada Ibu.

"Kamu kebanyakan pikiran," kata Ibu sambil menyiapkan sarapan. "Rumah lama memang suka bunyi sendiri."

Aku mengangguk, meski perasaan tak nyaman itu belum juga hilang.

Hari-hari berlalu. Aku mulai bersekolah di SMA desa itu. Teman-temanku ramah, tapi sering kali mereka melontarkan pandangan aneh saat aku menyebutkan alamat rumahku.

"Rumah kayu besar dekat kebun bambu?" tanya Rina, teman sebangkuku.

"Iya, kenapa?"

Rina terdiam sejenak. "Nggak apa-apa. Cuma… dulu ada cerita aneh di situ. Katanya, kisahnya sering dibandingkan dengan legenda seperti Hantu Danau Citra Indah Jonggol, sama-sama melibatkan arwah yang nggak pernah benar-benar pergi."

"Cerita apa?" desakku.

Rina menggeleng cepat. "Ah, cuma cerita orang tua. Kamu jangan dipikirin."

Malam berikutnya, suara itu kembali terdengar. Kali ini lebih keras. Seperti ada sesuatu yang digeser dari dalam lemari. Aku menyalakan lampu kamar. Lemari itu diam, pintunya tertutup rapat.

Tapi aku yakin, aku tak salah dengar.

Sejak malam itu, aku sering merasa diawasi. Saat belajar, saat berganti pakaian, bahkan saat aku berdoa sebelum tidur. Lemari itu selalu ada di sudut pandangku, diam tapi terasa hidup.

Puncaknya terjadi pada malam Jumat Kliwon.

Entah bagaimana aku tahu malam itu Jumat Kliwon. Aku hanya terbangun dengan perasaan gelisah. Jam dinding menunjukkan pukul 02.17. Udara kamar terasa lebih dingin dari biasanya.

Lalu aku melihatnya.

Sebuah bayangan hitam merembes keluar dari celah pintu lemari. Bukan bayangan biasa. Ia bergerak, memanjang, seolah memiliki kehendak sendiri.

"Si-siapa di situ?" suaraku bergetar.

Bayangan itu berhenti. Perlahan, pintu lemari terbuka sendiri. Dari dalamnya, muncul sosok perempuan berambut panjang menutupi wajah. Tubuhnya kurus, pakaiannya seperti kebaya lama yang lusuh.

"Dewi…" bisiknya lirih, tapi jelas menyebut namaku.

Aku mundur sampai punggungku menabrak dinding. "Kamu… kamu siapa?"

Perempuan itu mengangkat kepalanya sedikit. Di balik rambutnya, aku melihat mata hitam kosong, tanpa bola mata.

"Ini kamarku," katanya pelan. "Kamu yang mengambilnya."

"Aku nggak ngambil apa-apa!" teriakku.

Bayangan itu tertawa kecil, suaranya seperti kayu terbakar. "Lemari itu… saksi semuanya."

Seketika aku merasakan kepalaku berdenyut. Gambar-gambar asing bermunculan di pikiranku: seorang gadis muda dikurung dalam lemari, menangis, memukul pintu dari dalam, sementara suara tawa orang-orang dewasa terdengar di luar.

Aku jatuh terduduk. "Berhenti…"

Bayangan itu mendekat. "Namaku Sri," katanya. "Aku mati di sini."

Aku menjerit. Suaraku teredam, seakan kamar itu dilapisi sesuatu yang tak terlihat.

Ketika aku terbangun keesokan paginya, aku berada di tempat tidur. Lemari itu tertutup seperti biasa. Aku sempat berpikir semuanya hanya mimpi.

Sampai aku menemukan goresan kuku di bagian dalam pintu lemari.

Goresan itu baru. Kayunya masih segar.

Aku tak bisa menyimpan ini sendiri. Aku menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibu. Anehnya, wajah mereka berubah pucat.

"Siapa yang cerita ke kamu?" tanya Ayah dengan suara berat.

"Nggak ada. Aku lihat sendiri," jawabku.

Ibu duduk lemas. "Dulu… sebelum rumah ini jadi milik keluarga kita…"

Ayah melanjutkan dengan suara pelan. "Ada anak perempuan, Sri. Dia anak dari pembantu rumah ini. Dia sering dikurung di lemari itu sebagai hukuman."

"Suatu hari… dia nggak pernah keluar lagi," tambah Ibu sambil menangis.

Dadaku terasa sesak. "Terus kenapa lemari itu masih ada?"

Ayah terdiam lama. "Karena… lemari itu nggak bisa dihancurkan. Setiap dicoba, selalu ada yang sakit atau celaka."

Malam itu, kami memanggil seorang sesepuh desa. Ia hanya melihat lemari itu sekilas sebelum menghela napas panjang.

"Penunggunya sudah menyatu," katanya. "Bukan sekadar arwah. Tapi ingatan penderitaan."

"Apa yang harus kami lakukan?" tanyaku.

Sesepuh itu menatapku lama. "Dia tertarik padamu karena kamu seusia dengannya saat mati."

Jantungku berdegup kencang.

"Kalau tidak diselesaikan," lanjutnya, "dia akan menggantikan posisinya. Kamu."

Malam terakhirku di kamar itu, aku duduk menatap lemari dengan tubuh gemetar. Aku tahu dia akan datang.

Dan benar saja, tepat pukul dua dini hari, pintu lemari itu terbuka.

"Dewi," suara itu memanggil lagi.

Aku berdiri. "Aku nggak mau di sini lagi."

Bayangan Sri muncul perlahan. "Aku juga dulu begitu."

Air mataku jatuh. "Apa yang kamu mau?"

"Aku mau dikenang," jawabnya. "Bukan disembunyikan."

Aku mengangguk. "Aku janji."

Bayangan itu tersenyum. Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat jelas. Ia masih sangat muda.

Keesokan harinya, orang tuaku memutuskan pindah. Lemari itu tetap tinggal.

Tapi sejak malam itu, aku tahu… bayangan dalam lemari tua itu akan selalu menungguku mengingat janjiku.

Karena di desa itu, lemari tua bukan sekadar pajangan. Ia adalah penjara kenangan yang tak pernah benar-benar kosong.

Posting Komentar