Suara Tangisan Misterius di RS Medan
Teror Perawat di Rumah Sakit Tua Medan
Namaku Susi. Sudah hampir tujuh tahun aku bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit tua di Medan, rumah sakit yang namanya jarang disebut dengan suara lantang oleh warga sekitar. Bangunannya besar, kokoh, namun menyimpan kesan usang yang sulit dihilangkan, mirip cerita-cerita mistis seperti Penampakan Kuntilanak di Atas Rumah yang sering beredar di kalangan warga sekitar. Cat dindingnya berwarna krem pucat, mengelupas di beberapa sudut, memperlihatkan lapisan lama yang lebih gelap. Setiap kali aku melangkah melewati pintu utama, selalu ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan, seperti sedang memasuki tempat yang menelan terlalu banyak rahasia manusia.
Rumah sakit ini berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Banyak bagian bangunan yang tidak pernah benar-benar direnovasi total. Lorong-lorongnya panjang dan berliku, dengan langit-langit tinggi yang membuat suara langkah kaki menggema berlebihan. Lampu-lampu kuning redup menggantung di langit-langit, beberapa berkedip seolah kelelahan menjaga terang sepanjang malam. Pada siang hari, rumah sakit ini terlihat normal, sibuk, dan penuh aktivitas. Namun saat malam datang, suasananya berubah total, seakan bangunan ini hidup dengan caranya sendiri.
Aku memilih bekerja di shift malam bukan tanpa alasan. Selain gajinya sedikit lebih besar, aku merasa lebih tenang bekerja saat malam. Tidak terlalu banyak keluarga pasien yang mondar-mandir dengan wajah cemas dan emosi tak menentu. Malam memberiku kesunyian, memberiku ruang untuk bekerja tanpa terlalu banyak gangguan. Setidaknya, itulah yang kupikirkan sebelum suara itu mulai terdengar.
Pada malam hari, rumah sakit memiliki suara khas yang sulit ditemukan di tempat lain. Denting pelan alat medis, dengungan mesin monitor jantung, bunyi roda troli obat yang didorong perlahan, dan sesekali suara batuk pasien dari balik tirai. Semua suara itu bercampur menjadi irama monoton yang biasanya membuatku mengantuk. Namun suatu malam, irama itu terganggu oleh suara lain yang tidak seharusnya ada.
Malam pertama aku mendengar suara tangisan itu, aku baru saja menyelesaikan tugas rutin. Jam dinding di nurse station menunjukkan pukul dua dini hari. Udara terasa dingin menusuk meski jaket perawat sudah kukenakan. Saat aku hendak mencatat laporan, telingaku menangkap suara pelan, hampir tak terdengar. Seperti seseorang yang sedang menangis, namun berusaha menahannya sekuat mungkin.
Aku menghentikan gerakan tanganku. Pena yang kugenggam berhenti tepat di atas kertas. Aku menahan napas, mencoba memastikan apakah suara itu nyata atau hanya imajinasiku. Tangisan itu terdengar lagi, kali ini sedikit lebih jelas, memanjang, dan penuh kesedihan. Suara itu datang dari arah tangga menuju lantai tiga.
“Ada pasien yang menangis?” gumamku pelan pada diri sendiri.
Kulihat buku laporan pasien. Semua kamar terisi sesuai data. Tidak ada pasien baru, tidak ada catatan pasien kritis yang seharusnya membutuhkan perhatian khusus. Namun suara itu terus terdengar, pelan tapi konsisten, seolah memanggil tanpa benar-benar menyebut nama.
Lantai tiga adalah area yang jarang kami datangi saat malam. Beberapa kamar di sana sudah lama dikosongkan. Dulu digunakan sebagai bangsal penyakit menular sebelum dipindahkan ke gedung baru. Meski sudah tidak dipakai, lampu lorongnya selalu menyala. Tidak ada yang tahu pasti alasannya. Mungkin karena alasan keamanan, atau mungkin karena kebiasaan lama yang tidak pernah diubah.
Dengan perasaan ragu, aku memutuskan untuk naik. Tangga menuju lantai tiga terasa lebih panjang dari biasanya. Setiap langkah kakiku memantul di dinding, terdengar terlalu keras di telingaku sendiri. Saat sampai di atas, hawa dingin langsung menyambut, jauh lebih dingin dibanding lantai lain.
Lorong lantai tiga tampak sepi dan tidak ramah. Pintu-pintu kamar berjajar rapat, sebagian terkunci, sebagian lagi tampak rusak. Cat di dinding mengelupas, menyisakan noda lembap yang menyerupai bayangan, mengingatkanku pada kisah Bayangan Putih di Gudang Tua Jakarta yang pernah kudengar dari sesama perawat. Tangisan itu terdengar semakin jelas, berasal dari ujung lorong.
Aku berdiri di depan sebuah kamar kosong dengan pintu kayu tua. Papan nama di pintu itu sudah dilepas, hanya menyisakan bekas paku berkarat. Tangisan itu datang dari balik pintu tersebut. Aku mengangkat tangan, ragu untuk mengetuk.
“Halo? Ada orang di dalam?” tanyaku dengan suara berusaha tenang.
Begitu kata-kata itu keluar dari mulutku, tangisan itu langsung berhenti. Sunyi mendadak menyelimuti lorong. Tidak ada suara apa pun, bahkan dengungan lampu pun seolah menghilang. Aku berdiri mematung beberapa detik, jantungku berdegup keras seakan ingin keluar dari dada.
Aku memutuskan untuk tidak membuka pintu malam itu. Dengan langkah tergesa, aku kembali turun ke lantai dua, mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah halusinasi akibat kelelahan. Namun perasaan tidak enak terus mengikutiku hingga pagi.
Keesokan harinya, saat cahaya matahari masuk melalui jendela besar rumah sakit, aku menceritakan kejadian itu kepada Rina, rekan kerjaku yang juga sering mendapat shift malam. Kami duduk di ruang istirahat perawat sambil menunggu waktu pulang.
“Kamu terlalu capek, Sus,” kata Rina sambil tersenyum tipis, meski matanya tampak tidak sepenuhnya yakin. “Lorong lantai tiga memang bikin merinding, tapi ya cuma itu.”
“Kamu pernah dengar suara tangisan dari sana?” tanyaku pelan.
Rina terdiam sejenak. Senyumnya menghilang. “Pernah,” akunya akhirnya. “Tapi aku pikir itu cuma suara pipa atau angin.”
Jawaban itu tidak membuatku merasa lebih baik. Justru sebaliknya, dadaku terasa semakin berat.
Malam-malam berikutnya, suara itu kembali terdengar. Tidak setiap hari, namun cukup sering untuk membuatku mulai mencatat polanya. Tangisan selalu muncul di antara pukul dua hingga tiga pagi. Kadang terdengar dekat, kadang jauh. Kadang seolah berasal dari satu kamar, kadang seperti berpindah-pindah menyusuri lorong.
Suatu malam, rasa penasaran dan ketakutanku mencapai puncaknya. Aku tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang suara itu. Aku mengambil senter kecil dari laci dan kunci cadangan yang biasa digunakan untuk keadaan darurat.
“Aku ikut,” kata Rina ketika melihatku bersiap. Wajahnya pucat, tapi tekadnya terlihat jelas.
Kami naik bersama ke lantai tiga. Tangisan itu sudah terdengar sejak kami menginjak anak tangga terakhir. Lorong terasa lebih gelap dari biasanya, meski lampu menyala. Udara dingin membuat bulu kudukku berdiri.
Di depan kamar ujung, tangisan itu terdengar sangat jelas, seolah seseorang sedang duduk di dalam, menangis tanpa henti. Rina menggenggam lenganku erat.
“Sus, kita panggil satpam saja,” bisiknya gemetar.
“Kalau ada pasien terlantar, kita bisa kena masalah,” jawabku pelan, meski hatiku sendiri dipenuhi rasa takut.
Aku memasukkan kunci dengan tangan gemetar dan memutarnya perlahan. Pintu terbuka dengan bunyi berderit panjang yang membuat jantungku hampir berhenti.
Kamar itu kosong.
Hanya ada satu ranjang besi berkarat, tirai usang yang menggantung setengah, dan bau obat lama yang menusuk hidung. Tidak ada siapa pun. Namun tangisan itu masih terdengar, seolah berasal dari sudut ruangan yang gelap.
“Kamu dengar, kan?” bisikku pada Rina.
Rina mengangguk, air mata menggenang di matanya.
Tiba-tiba tangisan itu berubah menjadi napas berat, tersengal, seperti orang yang menahan sakit luar biasa. Dari balik tirai, terdengar suara lirih berbisik.
“Suster…”
Rina menjerit dan berlari keluar kamar. Aku ikut berlari tanpa sempat menoleh. Kami turun tangga dengan napas terengah, tidak berani berhenti sampai tiba di nurse station.
Sejak malam itu, Rina meminta pindah ke shift pagi. Aku tidak menyalahkannya. Aku sendiri ingin pergi, tapi entah kenapa, sesuatu menahanku untuk tetap bertahan.
Suara itu semakin sering terdengar. Bukan hanya di lantai tiga, tapi juga di lorong lain, bahkan di dekat nurse station. Dan yang paling membuatku ketakutan, suara itu mulai memanggil namaku.
“Susi…”
Suara itu terdengar lirih, penuh kesedihan, seperti orang yang sudah lama menunggu. Setiap kali mendengarnya, tubuhku membeku, dan pikiranku dipenuhi bayangan-bayangan buruk.
Suatu malam, Dokter Arman, dokter senior yang sudah bekerja di rumah sakit ini lebih dari dua puluh tahun, melihat keadaanku yang semakin memburuk.
“Kamu kelihatan sangat lelah,” katanya dengan nada serius. “Ada sesuatu yang mengganggumu?”
Aku ragu sejenak, lalu menceritakan semuanya. Dari suara tangisan, lorong lantai tiga, hingga bisikan yang memanggil namaku.
Dokter Arman terdiam lama. Wajahnya tampak tegang. “Kamu tahu sejarah lantai tiga?” tanyanya akhirnya.
Aku menggeleng pelan.
“Dulu,” katanya perlahan, “ada seorang perawat juga. Namanya Susi.”
Dadaku terasa sesak.
“Dia bekerja di bangsal penyakit menular. Terjadi kesalahan medis besar. Seorang pasien wanita meninggal karena tidak mendapat penanganan tepat waktu. Perawat itu dituduh lalai. Tekanan sangat besar. Beberapa hari kemudian, dia ditemukan gantung diri di kamar ujung lorong lantai tiga.”
Aku tidak mampu berkata apa-apa.
“Sejak itu, bangsal ditutup. Tapi banyak yang bilang masih mendengar tangisan perawat dan pasiennya,” lanjut Dokter Arman.
Malam itu, aku pulang dengan kepala penuh pikiran. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah kebetulan. Namun jauh di dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang lebih gelap menungguku.
Malam berikutnya, saat jam menunjukkan pukul dua lewat sedikit, suara itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat, lebih jelas, dan lebih nyata dari sebelumnya.
“Susi… kenapa kamu tinggalin aku?”
Aku berdiri di lorong, tubuhku gemetar. Perlahan aku menoleh ke belakang.
Di ujung lorong, berdiri seorang wanita berseragam perawat lama. Seragamnya kotor dan sobek, wajahnya pucat, matanya cekung. Di lehernya tampak bekas jeratan hitam kebiruan.
“Aku sudah jaga kamu,” katanya sambil tersenyum sedih. “Sekarang giliran kamu jaga aku.”
Aku berteriak sekuat tenaga dan berlari tanpa menoleh lagi.
Keesokan paginya, aku mengajukan pengunduran diri. Aku tidak sanggup lagi bertahan.
Namun hingga kini, setiap kali aku melewati rumah sakit itu, aku masih mendengar suara tangisan di telingaku. Dan di tengah malam, saat semua sunyi, seseorang sering memanggil namaku dari sudut gelap kamar.
“Susi…”
Aku tidak pernah menjawab. Tapi aku tahu, suara itu tidak akan pernah benar-benar pergi.
Karena di rumah sakit itu, tidak semua perawat bisa pulang dengan tenang. Beberapa di antaranya memilih tinggal, selamanya, menunggu seseorang untuk mendengar tangisan mereka.

Posting Komentar