Penampakan Kuntilanak di Atas Rumah

Table of Contents
Seorang Wanita Ketakutan Setelah Melihat Hantu di Rumah Seberang

Teror Kuntilanak di Rumah Pemberian Bos

Nama saya Mila. Jika hari itu saya memilih menolak tawaran Pak Arman, mungkin hidup saya akan tetap biasa saja. Saya tidak akan mengenal ketakutan yang menempel di tulang, tidak akan mengerti bagaimana rasanya dihantui bukan hanya oleh makhluk tak kasatmata, tetapi juga oleh rasa bersalah manusia. Namun semua sudah terlanjur terjadi, dan kisah ini saya tulis sebagai peringatan bahwa tidak semua rumah mewah adalah tempat berlindung, terutama rumah yang berdiri di atas masa lalu kelam.

Sejak kecil, saya selalu diajarkan untuk berpikir logis. Ayah saya seorang guru matematika, ibu saya perawat. Tidak ada ruang untuk percaya pada hal-hal gaib di rumah kami. Cerita hantu hanya dianggap dongeng pengantar tidur agar anak-anak cepat terlelap. Karena itu, ketika saya dewasa dan bekerja sebagai wanita kantoran di Jakarta, saya tumbuh menjadi pribadi yang rasional, percaya bahwa semua hal bisa dijelaskan dengan akal sehat.

Saya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan properti besar. Pekerjaan saya tidak terlalu menantang, tapi stabil. Setiap hari hidup saya berputar di antara komputer, laporan, dan tenggat waktu. Saya tinggal di sebuah kontrakan kecil yang pengap, tanpa halaman, tanpa jendela besar. Impian saya sederhana, memiliki rumah sendiri, meski kecil, asal bisa saya sebut sebagai tempat pulang.

Suatu sore, saat kantor hampir sepi, Pak Arman memanggil saya ke ruangannya. Ia adalah atasan yang jarang berbicara banyak, wajahnya selalu tenang, bahkan terkesan dingin. Saya sempat berpikir saya melakukan kesalahan kerja.

“Mila, duduk,” katanya singkat.

Saya duduk dengan gugup. “Ada apa, Pak?”

Pak Arman menatap saya cukup lama sebelum berbicara. “Kamu sudah bekerja di sini cukup lama. Saya lihat kamu orang yang bertanggung jawab.”

“Terima kasih, Pak,” jawab saya pelan.

“Saya punya sebuah rumah. Sudah lama kosong. Daripada dibiarkan, lebih baik kamu yang menempatinya.”

Ucapan itu membuat saya terdiam. Rumah? Gratis? Rasanya tidak masuk akal. Saya sempat mengira ia bercanda, tapi wajahnya terlalu serius.

“Rumah itu besar, Mila. Kamu tidak perlu bayar apa-apa. Anggap saja penghargaan atas kerja kerasmu,” lanjutnya.

“Kenapa tidak dijual saja, Pak?” tanya saya hati-hati.

Ia tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Ada alasan tertentu. Kamu tidak perlu tahu.”

Jawaban itu seharusnya membuat saya mundur. Tapi bayangan memiliki rumah sendiri mengalahkan semua kecurigaan. Saya menerimanya.

Rumah itu terletak di pinggiran kota, masih wilayah Indonesia yang tidak terlalu ramai. Saat pertama kali melihatnya, saya terpukau. Bangunannya besar, megah, seperti rumah pejabat. Bentuknya unik, menyerupai huruf U, dengan taman luas di tengah dan jalan menuju gerbang tepat di pusat bangunan. Pepohonan besar mengelilinginya, membuat suasana sejuk sekaligus sunyi.

Kamar yang disiapkan untuk saya berada di lantai atas. Dari jendela kamar, saya bisa melihat sisi bangunan seberang dengan sangat jelas karena bentuk rumah yang melengkung. Genteng di seberang terasa dekat, seolah bisa saya sentuh.

Malam pertama saya habiskan dengan menata barang dan membersihkan rumah. Semuanya terasa normal, sampai menjelang tengah malam. Saat hendak tidur, tanpa alasan jelas, pandangan saya tertuju ke arah genteng bangunan seberang.

Di sanalah saya melihatnya untuk pertama kali.

Sesosok wanita berdiri di atas genteng, bayangan putih yang mengingatkan saya pada kisah Bayangan Putih di Gudang Tua Jakarta. Gaunnya putih panjang, rambutnya hitam terurai menutupi wajah. Ia berdiri diam, tidak bergerak, tapi entah bagaimana saya tahu ia sedang menatap saya.

“Cuma bayangan,” bisik saya berulang kali.

Saya menutup gorden dan mencoba tidur. Namun sejak malam itu, sosok itu selalu muncul. Setiap malam, di jam yang hampir sama. Kadang berdiri, kadang duduk di tepi genteng dengan kaki menggantung. Terkadang rambutnya tertiup angin, memperlihatkan wajah pucat dengan mata hitam kosong.

Gangguan mulai meningkat. Saya mendengar langkah kaki di atap, suara seperti kuku mencakar genteng, suara tangisan lirih yang terdengar dari taman tengah. Udara rumah terasa semakin dingin setiap malam, meski semua jendela tertutup.

“Mila…” suara itu memanggil, lembut tapi mengerikan.

Saya mulai kurang tidur. Di kantor, saya sering melamun. Pak Arman memperhatikan perubahan saya, tapi tidak pernah bertanya.

Suatu malam, keberanian saya habis. Saya membuka jendela dan berteriak, “Apa maumu dariku?!”

Sosok itu menoleh perlahan. Senyumnya sangat lebar, tidak manusiawi. “Ini rumahku,” katanya dengan suara parau.

Ketakutan membuat saya akhirnya mendatangi tetangga terdekat, seorang wanita tua bernama Bu Ranti. Dari dialah saya mengetahui kebenaran.

“Dulu ada wanita muda tinggal di situ,” kata Bu Ranti. “Hamil, ditinggal kekasihnya. Dia sering naik ke atap, menangis setiap malam, sampai akhirnya bunuh diri. Kisahnya mengingatkan pada cerita Hantu Rumah Lama di Banjarmasin, tentang arwah yang tak pernah benar-benar meninggalkan tempat terakhirnya.”

Semua potongan mulai menyatu. Sosok wanita di genteng, tangisan, rasa marah yang tertahan.

Puncaknya terjadi saat suatu malam saya terbangun oleh ketukan di pintu kamar. Ketika pintu saya buka, tidak ada siapa-siapa. Namun tiba-tiba rambut saya ditarik kuat dari belakang.

Sosok itu berdiri tepat di depan saya sekarang. Wajahnya rusak, matanya hitam mengalirkan darah. “Temani aku,” katanya.

Saya berlari keluar rumah tanpa alas kaki. Saya pingsan di depan gerbang.

Saya terbangun di rumah sakit. Pak Arman ada di sana.

“Maafkan saya, Mila,” katanya. “Saya yang menghamilinya. Saya tidak berani bertanggung jawab.”

Saat itu saya sadar, saya bukan dipilih secara acak. Saya dijadikan penunggu pengganti.

Saya pindah keesokan harinya. Tapi sampai sekarang, setiap malam, saya masih bermimpi berdiri di kamar lantai atas itu. Menatap genteng rumah berbentuk huruf U.

Dan di sana, kuntilanak itu selalu berdiri, tersenyum, menunggu saya kembali.

Karena tidak semua rumah kosong benar-benar kosong. Dan tidak semua dosa bisa ditinggalkan begitu saja.

Posting Komentar