Hantu Rumah Lama di Banjarmasin
Teror Wanita Bergaun Putih di Rumah Tua
Namaku Lina. Sejak kecil aku tinggal di pinggiran Kota Banjarmasin, di sebuah kawasan yang perlahan ditinggalkan penghuninya karena banjir pasang yang makin sering datang setiap tahun. Air sungai Martapura kerap meluap hingga ke halaman rumah warga, membuat suasana lingkungan selalu lembap dan dingin, terutama saat malam tiba. Aku adalah siswi SMA kelas dua, hidup sederhana bersama ibu di rumah kontrakan kecil yang dindingnya sudah mulai lapuk dimakan usia. Ayah meninggal saat aku masih SD, dan sejak itu ibu berubah menjadi sosok yang pendiam, seolah memikul beban rahasia yang tak pernah ia ceritakan kepadaku, bahkan ketika kami hanya berdua di rumah.
Di ujung jalan tempatku tinggal, berdiri sebuah rumah lama yang menjadi bahan pembicaraan hampir semua warga sekitar. Rumah itu tampak seperti bangunan yang dilupakan waktu. Cat dindingnya mengelupas, jendelanya sebagian pecah, dan pintunya selalu tertutup rapat meski pagar besinya berkarat dan sering terbuka sendiri. Halaman depannya dipenuhi ilalang liar setinggi dada orang dewasa, membuat siapa pun enggan mendekat. Orang-orang menyebutnya Rumah Nisa. Tak ada yang benar-benar tahu siapa Nisa itu, namun sejak aku kecil, rumah itu sudah kosong dan dikenal sebagai tempat paling menyeramkan di lingkungan kami.
Sejak kecil, aku sering mendengar cerita aneh tentang rumah itu, mirip dengan kisah Sosok Misterius di Pelabuhan Tanjung Priok yang sering dibicarakan orang-orang secara sembunyi-sembunyi. Ada yang bilang pernah melihat bayangan putih berdiri di jendela lantai atas, ada pula yang mengaku mendengar suara tangisan perempuan di malam hari. Semua cerita itu selalu disampaikan dengan nada berbisik, seolah takut jika penghuni rumah lama itu bisa mendengar. Aku tumbuh dengan rasa penasaran yang besar, meski ibu selalu melarangku keras untuk mendekati tempat itu.
“Jangan pernah mendekat ke rumah itu, Lin,” kata ibu suatu malam saat sedang menyiapkan makan malam sederhana berupa nasi dan ikan goreng. Suaranya terdengar lebih tegas dari biasanya. “Apa pun yang kamu dengar, apa pun yang kamu lihat, anggap saja tidak ada. Rumah itu bukan tempat untuk anak muda sepertimu.”
Aku hanya mengangguk, meski dalam hati pertanyaan terus bermunculan. Mengapa ibu begitu takut? Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu? Larangan ibu justru membuat rasa penasaranku semakin besar. Terlebih lagi, sejak beberapa minggu terakhir, aku sering mengalami mimpi yang aneh dan terasa sangat nyata.
Dalam mimpi-mimpi itu, aku selalu melihat seorang wanita bergaun putih. Gaunnya panjang menjuntai hingga menyentuh tanah, tampak kotor dan basah seolah baru keluar dari sungai. Rambutnya hitam panjang terurai menutupi sebagian wajah pucatnya. Namun yang paling membuatku tidak nyaman adalah matanya. Tatapannya kosong, tetapi seolah menyimpan kesedihan mendalam. Wanita itu selalu berdiri di depan rumah lama, menatap lurus ke arahku sambil memanggil namaku dengan suara lirih.
“Lina… pulanglah…” bisiknya berulang kali.
Setiap kali terbangun dari mimpi itu, tubuhku selalu basah oleh keringat dingin. Jantungku berdebar keras, dan perasaan takut bercampur bingung memenuhi dadaku. Dari jendela kamar, aku bisa melihat siluet rumah lama itu berdiri sunyi di ujung jalan, diterangi lampu jalan yang cahayanya redup dan berkedip-kedip.
Di sekolah, pikiranku sulit fokus. Pelajaran terasa berlalu begitu saja tanpa benar-benar masuk ke kepalaku. Saat jam istirahat, aku akhirnya menceritakan semua yang kualami pada sahabatku, Rani, satu-satunya teman yang benar-benar kupercaya. Kami duduk di bangku belakang kelas sambil memperhatikan siswa lain yang lalu-lalang di koridor.
“Kamu serius, Lin? Wanita bergaun putih?” tanya Rani dengan suara pelan, wajahnya terlihat pucat. “Ibuku pernah cerita, di rumah itu memang sering muncul hantu perempuan. Katanya, arwahnya suka manggil anak perempuan seusiamu.”
Aku tertawa kecil, berusaha menutupi kegelisahan. “Ah, itu kan cuma cerita orang tua biar anak-anak takut,” kataku, meski suaraku sendiri terdengar tidak meyakinkan.
Rani menatapku tajam. “Di Banjarmasin, banyak cerita yang bukan cuma cerita, Lin. Banyak yang kejadian beneran, cuma orang-orang memilih diam.”
Ucapan Rani terus terngiang di kepalaku hingga aku pulang ke rumah. Sejak hari itu, kejadian aneh mulai sering terjadi. Saat berjalan pulang sepulang sekolah, aku kerap merasa seperti ada yang mengikutiku. Langkah kaki samar terdengar di belakangku, namun setiap kali aku menoleh, jalanan tampak sepi. Anehnya, hampir setiap kali perasaan itu muncul, bau bunga melati tercium begitu kuat, terutama saat aku melewati depan rumah lama.
Suatu sore, hujan turun deras tanpa peringatan. Langit menggelap lebih cepat dari biasanya. Aku berlari kecil mencari tempat berteduh, dan tanpa sadar berhenti tepat di depan rumah lama. Pagar besinya terbuka sedikit dan mengeluarkan suara berdecit pelan tertiup angin. Padahal selama ini aku yakin pagar itu selalu terkunci.
“Aneh…” gumamku pelan, menatap celah pagar yang terbuka seolah mengundangku masuk.
Entah dorongan apa yang membuat kakiku melangkah melewati pagar itu. Halaman rumah terasa lebih dingin dibandingkan jalan di luar, seolah ada perbedaan suhu yang jelas. Setiap langkahku membuat rumput basah bergesekan dengan kakiku, dan aku merasakan bulu kudukku berdiri. Perasaan seolah diawasi semakin kuat.
“Halo?” panggilku ragu, suaraku hampir tenggelam oleh suara hujan.
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang mulai mereda dan detak jantungku sendiri yang terdengar semakin keras. Saat aku menoleh ke arah jendela rumah, napasku tercekat. Di balik kaca yang buram, tampak bayangan putih berdiri diam, seolah sudah lama menungguku.
Aku mundur selangkah, nyaris terjatuh. Bayangan itu bergerak perlahan mendekat, dan tanpa sentuhan apa pun, pintu rumah terbuka dengan suara berderit panjang yang memekakkan telinga.
Seorang wanita bergaun putih berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat, sama persis seperti yang kulihat di dalam mimpiku selama ini. Matanya menatap lurus ke arahku, penuh kesedihan.
“Kamu akhirnya datang, Lina,” katanya lirih, suaranya terdengar seperti bisikan yang langsung masuk ke kepalaku.
Tubuhku gemetar hebat. “Siapa… siapa kamu?” tanyaku dengan suara nyaris tak terdengar.
Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang justru membuat hatiku semakin dingin. “Aku Nisa,” jawabnya singkat.
Hujan tiba-tiba berhenti. Suasana di sekeliling terasa sunyi tak wajar, seolah dunia di luar halaman rumah itu menghilang. Aku ingin lari, ingin berteriak, namun kakiku terasa berat dan tak mampu bergerak.
“Kenapa kamu memanggilku?” tanyaku akhirnya, air mata mulai mengalir tanpa bisa kutahan.
Nisa melangkah mendekat. Bau melati semakin kuat hingga membuat kepalaku pusing. “Karena kamu satu-satunya yang bisa mendengarku,” katanya lembut.
Tiba-tiba, kilasan gambar muncul di kepalaku. Seorang gadis SMA berdiri di ruang tamu rumah ini saat masih tampak baru. Gadis itu menangis sambil memegang perutnya. Di sampingnya, seorang perempuan muda yang wajahnya sangat mirip denganku berdiri dengan ekspresi ketakutan.
Aku tersentak. “Itu… itu siapa?” tanyaku terisak.
Nisa menatapku dalam-dalam. “Itu ibumu,” jawabnya pelan.
Dunia seakan runtuh seketika. Aku menggeleng keras. “Tidak mungkin. Ibu tidak pernah cerita apa pun padaku.”
“Karena kebenaran terlalu berat untuk diingat,” kata Nisa, suaranya dipenuhi kepedihan yang mendalam.
Malam itu aku pulang dengan tubuh lemas dan pikiran kacau. Ibu terkejut melihat wajahku yang pucat pasi dan pakaianku basah kuyup.
“Kamu ke mana saja, Lina?” tanyanya panik.
Aku menatap ibu lama sebelum akhirnya bertanya, “Bu… siapa Nisa?”
Ibu terdiam. Wajahnya berubah pucat, tangannya gemetar hingga sendok jatuh ke lantai dengan suara nyaring. Untuk pertama kalinya aku melihat ibu ketakutan seperti itu.
“Dari mana kamu tahu nama itu?” suaranya bergetar hebat.
Aku menceritakan semuanya tanpa menyembunyikan apa pun. Tentang mimpi, tentang rumah lama, dan tentang wanita bergaun putih. Mendengar ceritaku, ibu akhirnya menangis tersedu-sedu, seolah bendungan rahasia yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh.
“Nisa itu kakakku,” katanya di sela isak tangis. “Dia meninggal di rumah itu.”
Cerita ibu membuat seluruh tubuhku merinding. Nisa dulu juga seorang siswi SMA, sepertiku. Ia hamil di luar nikah dan menjadi bahan gunjingan warga. Demi menutupi aib keluarga, Nisa disembunyikan di rumah itu, dijauhkan dari dunia luar.
“Suatu malam, rumah itu terbakar,” lanjut ibu dengan suara lirih, mengingatkanku pada kisah Suara Rintihan Rumah Terkubur Kalimantan yang juga berawal dari tragedi rumah dan rahasia kelam yang disembunyikan. “Kami semua panik. Kami pikir Nisa berhasil keluar. Tapi ternyata…”
Ibu tidak sanggup melanjutkan. Tangisnya semakin keras.
Malam berikutnya, Nisa kembali hadir dalam mimpiku. Kali ini wajahnya penuh luka bakar, dan gaun putihnya berlumur darah.
“Aku tidak mati karena api,” katanya dengan suara dingin. “Aku dibunuh oleh ketakutan dan kebohongan.”
Aku terbangun sambil menjerit. Dari luar rumah, terdengar suara langkah kaki pelan menuju arah rumah lama. Tanpa berpikir panjang, aku keluar rumah dan mengikuti suara itu.
Di depan rumah lama, aku melihat ibu berdiri mematung, menatap pintu rumah yang perlahan terbuka sendiri.
“Bu?” panggilku dengan suara gemetar.
Ibu menoleh. Wajahnya penuh rasa bersalah dan ketakutan. “Kamu tidak seharusnya tahu semuanya, Lina,” katanya lirih.
Pintu rumah lama terbuka lebar. Nisa muncul dengan wajah marah dan sedih bercampur menjadi satu. Angin berputar kencang, membuat pepohonan bergoyang liar.
“Kebenaran harus dibuka,” kata Nisa dengan suara menggema.
Kenangan kelam terungkap malam itu. Ibu mengaku bahwa dalam kepanikan dan rasa malu, ia mengunci Nisa di dalam rumah saat api mulai membesar, berharap masalah itu berakhir dengan sendirinya.
“Aku hanya ingin menakut-nakutinya,” isak ibu. “Aku tidak pernah berniat membunuhnya.”
Nisa menjerit. Suara jeritannya menggema ke seluruh penjuru, membuat tanah bergetar. Aku memeluk ibu sambil menangis, tak mampu berkata apa-apa.
“Lina,” kata Nisa kemudian dengan suara yang kembali lembut. “Aku tidak ingin menyakitimu. Aku hanya ingin kisahku didengar dan diingat.”
Cahaya putih menyelimuti rumah lama itu. Bangunan tua tersebut bergetar hebat sebelum akhirnya runtuh menjadi puing-puing di hadapan kami.
Keesokan harinya, kawasan itu dipenuhi warga dan aparat. Rumah lama sudah rata dengan tanah, seolah tak pernah berdiri di sana. Ibu jatuh sakit setelah kejadian itu dan sering mengigau menyebut nama Nisa di dalam tidurnya.
Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bermimpi tentang wanita bergaun putih. Namun setiap kali melewati bekas rumah itu, bau melati selalu tercium samar, seolah mengingatkanku bahwa arwah Nisa belum sepenuhnya pergi.
Kini aku mengerti, tidak semua kisah horor tentang rumah lama hanyalah cerita untuk menakut-nakuti. Beberapa di antaranya adalah jeritan masa lalu yang menunggu untuk didengar. Rumah lama di Banjarmasin itu mungkin telah hilang, tetapi kisahnya akan selalu hidup di dalam ingatanku, dan di dalam kenangan kota ini.

Posting Komentar