Penunggu Rumah Tua di Purwokerto

Table of Contents
Seorang Wanita Ketakutan Melihat Hantu di Dalam Rumah Tua

Teror Misterius Rumah Tua Purwokerto

Nama Maya dikenal di lingkungan barunya sebagai ibu rumah tangga muda yang ramah dan mudah tersenyum. Usianya baru menginjak dua puluh enam tahun, wajahnya masih cantik alami dengan sorot mata yang lembut, dan tutur katanya selalu terdengar sopan. Banyak tetangga yang menilai Maya sebagai sosok perempuan yang tenang, sabar, dan jarang mengeluh. Ia baru saja pindah ke sebuah rumah tua di pinggiran Purwokerto bersama suaminya, Ardi, setelah menikah kurang dari satu tahun.

Rumah itu mereka beli dengan harga yang sangat murah, jauh di bawah harga rumah lain di wilayah tersebut. Awalnya Maya merasa bersyukur, karena di usia pernikahan yang masih seumur jagung, mereka sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Namun di balik rasa syukur itu, ada perasaan ganjil yang tak bisa ia jelaskan sejak pertama kali melihat bangunan tua tersebut berdiri kaku di antara pepohonan rindang.

"Lumayan buat kita mulai hidup," kata Ardi waktu itu sambil tersenyum puas, seolah tidak melihat keanehan apa pun pada rumah tersebut. Maya hanya mengangguk pelan, mencoba ikut tersenyum meski dadanya terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Ada firasat aneh yang terus menggelayut di hatinya, seperti ada sesuatu yang memperhatikan mereka dari balik dinding kusam rumah itu.

Rumah tersebut berdiri agak menjorok ke belakang dari jalan utama. Halamannya luas namun jarang terurus, ditumbuhi rumput liar setinggi betis. Di sisi kanan dan kiri, tumbuh pohon bambu yang selalu mengeluarkan bunyi berderak saat tertiup angin malam. Di depan rumah, sebuah pohon asem tua berdiri menjulang, batangnya besar dan akarnya mencuat keluar tanah seperti urat nadi yang mati. Cat tembok rumah telah mengelupas, memperlihatkan lapisan semen yang menghitam oleh usia.

Bagian dalam rumah tak kalah menyeramkan. Lantai ubinnya dingin dan sedikit lengket, kusen kayunya menghitam, dan aroma lembap selalu tercium meski jendela dibuka lebar setiap pagi. Udara di dalam rumah terasa berat, seolah tidak pernah benar-benar berganti meski angin masuk dari luar. Setiap sudut ruangan seperti menyimpan rahasia yang enggan dibuka, layaknya kisah Bayangan Dalam Lemari Tua yang menyimpan teror dari sesuatu yang tak pernah benar-benar pergi.

Hari pertama menempati rumah itu, Maya sudah merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan dengan logika. Sejak pagi, jantungnya berdebar tanpa alasan. Berkali-kali ia menoleh ke belakang saat berjalan, merasa seperti ada yang mengikuti langkahnya.

Saat Ardi berangkat kerja pagi-pagi sekali, Maya sendirian membereskan barang-barang pindahan. Kardus masih menumpuk di ruang tengah, sebagian perabot lama mereka belum tertata rapi. Ketika ia sedang menyusun piring di dapur, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah ruang tengah.

Langkah itu terdengar jelas, pelan, dan teratur. Bukan suara tikus, bukan pula suara kayu jatuh. Seperti langkah manusia yang berjalan tanpa alas kaki di atas ubin dingin.

"Mas?" panggil Maya dengan suara agak bergetar.

Tidak ada jawaban sama sekali. Yang terdengar hanya bunyi bambu bergesekan tertiup angin dari luar rumah.

Langkah itu berhenti tepat di depan pintu dapur. Maya membeku beberapa detik. Perlahan ia mengintip dari balik pintu dapur, namun ruang tengah tampak kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada tanda kehidupan selain cahaya matahari yang masuk dari jendela depan.

"Mungkin cuma perasaanku," gumamnya mencoba menenangkan diri, meski bulu kuduknya berdiri sejak saat itu.

Namun kejadian tersebut hanyalah awal.

Malam pertama mereka tidur di rumah tua itu menjadi pengalaman yang tak pernah bisa dilupakan Maya. Sekitar pukul dua dini hari, ia terbangun dengan napas tersengal. Ia merasa ada sesuatu yang menekan ujung kasur di dekat kakinya, membuat kasur itu sedikit amblas seperti diduduki seseorang.

"Mas..." bisiknya lirih sambil menyentuh lengan Ardi.

Suaminya tidak menjawab, hanya mendengkur pelan karena kelelahan bekerja seharian.

Maya menahan napas. Dengan sangat perlahan, ia membuka matanya. Tidak ada siapa pun di sana. Namun hawa dingin menyusup hingga ke tulang, dan bau tanah basah tiba-tiba memenuhi kamar tidur mereka. Bau itu sangat jelas, seperti bau liang kubur setelah hujan.

Ia menarik selimut hingga ke dagu dan membaca doa sekuat yang ia bisa dalam hati. Malam itu, Maya tidak berani memejamkan mata lagi sampai azan subuh terdengar dari kejauhan.

Keesokan paginya, Maya mencoba bersikap normal. Ia meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya efek kelelahan dan pikiran yang terlalu sensitif. Ia menyapu halaman rumah tua itu sambil berusaha menghirup udara segar.

Namun saat menyapu dekat pohon asem, ia menemukan sesuatu yang membuat tubuhnya lemas seketika. Di tanah yang sedikit lembap, terlihat bekas tapak kaki kecil. Ukurannya seperti kaki anak-anak. Jarinya jelas, tumitnya jelas, seolah baru saja melintas, mengingatkan Maya pada cerita-cerita mistis seperti Hantu Danau Citra Indah Jonggol yang konon juga meninggalkan jejak aneh di tanah basah.

Padahal semalaman tidak turun hujan.

Yang membuat Maya semakin ketakutan, tapak kaki itu mengarah lurus menuju pintu belakang rumah.

Hari demi hari berlalu, tetapi gangguan tidak pernah berhenti. Justru semakin sering dan terasa nyata. Jam dinding di ruang tengah selalu berhenti tepat pukul dua belas malam. Setelah itu, jarumnya kembali bergerak sendiri menjelang subuh.

Piring dan gelas sering berpindah tempat meski Maya yakin tidak menyentuhnya. Kadang ia menemukan sendok berada di kamar mandi, atau mangkuk berada di depan pintu kamar belakang.

Yang paling membuat jiwanya terguncang adalah suara perempuan menangis lirih yang sering terdengar dari arah kamar belakang. Suara itu muncul hampir setiap sore menjelang magrib, seperti ratapan panjang penuh kesedihan.

Suatu hari, Maya memberanikan diri bertanya pada tetangga sebelah, seorang nenek tua bernama Mbah Sri yang sudah puluhan tahun tinggal di lingkungan tersebut.

"Mbah, rumah yang saya tempati dulu milik siapa ya?" tanya Maya dengan hati-hati.

Wajah Mbah Sri langsung berubah pucat. Tangannya yang keriput berhenti menjemur pakaian.

"Kamu tinggal di rumah itu, Nak?" tanyanya dengan suara bergetar.

Maya mengangguk pelan.

"Rumah itu sudah lama kosong," kata Mbah Sri lirih. "Dulu yang tinggal di sana seorang janda muda dan anak perempuannya."

Maya menelan ludah. "Terus... kenapa ditinggalkan, Mbah?"

Mbah Sri memejamkan mata sejenak. "Mereka tidak pindah. Mereka meninggal."

Jantung Maya serasa berhenti berdetak.

"Jandanya ditemukan tergantung di kamar belakang. Anaknya hilang. Ada yang bilang ikut mati, ada juga yang bilang masih gentayangan mencari ibunya."

Maya pulang dengan langkah gontai, keringat dingin membasahi punggungnya meski matahari masih terik.

Malam itu hujan turun sangat deras. Angin menerpa jendela hingga berderit panjang. Ardi belum pulang karena lembur. Maya sendirian di rumah tua itu.

Tepat pukul sebelas malam, listrik tiba-tiba padam.

Dalam kegelapan total, Maya mendengar suara tawa anak kecil. Pelan. Serak. Sangat dekat.

"Ibu..." suara itu memanggil lirih.

Air mata Maya mengalir tanpa ia sadari. Saat kilat menyambar, sesosok anak perempuan berdiri di ambang pintu kamarnya, rambut panjang menutupi wajah, tubuhnya basah dan penuh tanah.

"Ibu... kamu cantik seperti ibuku..." ucapnya perlahan.

Maya menjerit histeris dan berlari tanpa arah.

Dari kamar belakang terdengar suara perempuan dewasa tertawa pecah. "Jangan bawa anakku pergi lagi..."

Sejak malam itu, kehidupan Maya tidak pernah sama lagi.

Meski akhirnya mereka pindah dari rumah tersebut, Maya sering terbangun tengah malam dengan bau tanah basah dan suara anak kecil tertawa di telinganya.

Suatu malam, Ardi melihat Maya duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong.

"Mas... kalau nanti aku punya anak... jangan biarkan aku sendirian..." ucap Maya dengan suara yang bukan sepenuhnya miliknya.

Di sudut kamar, terdengar tawa anak kecil yang sangat pelan.

Penunggu rumah tua di Purwokerto memang telah ditinggalkan manusia.

Namun tidak dengan makhluk yang pernah tinggal di dalamnya.

Dan Maya... telah membawa sebagian dari mereka ke mana pun ia pergi.

Posting Komentar