Bau Wangi Muncul Setiap Pukul 11 Malam

Table of Contents
Seorang wanita ketakutan memcium bau wangi setiap jam 11 malam

Yuni adalah seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan distribusi yang berlokasi di pinggiran Kota Semarang, Jawa Tengah. Rekan-rekannya mengenalnya sebagai sosok yang rajin, pendiam, dan hampir tidak pernah menolak pekerjaan tambahan. Karena sering menjadi orang terakhir yang meninggalkan kantor, satpam maupun petugas kebersihan sudah terbiasa melihat lampu di ruangannya masih menyala hingga lewat tengah malam.

Gedung kantor itu sebenarnya tidak terlalu tua. Bangunannya baru berdiri sekitar lima belas tahun, namun ada satu lantai yang jarang digunakan karena sebagian ruangan telah dikosongkan. Banyak pegawai mengaku merasa tidak nyaman jika harus melewati lorong di lantai tiga. Anehnya, tidak ada yang bisa menjelaskan alasannya secara pasti. Mereka hanya mengatakan suasananya terasa berat.

Suatu malam, Yuni kembali lembur untuk menyelesaikan laporan bulanan. Jam digital di komputernya menunjukkan pukul 22.57. Kantor sudah sunyi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali bunyi tetesan air dari pipa di lorong belakang.

Yuni menghela napas sambil meregangkan tubuh.

"Sedikit lagi selesai. Setelah itu langsung pulang," gumamnya pelan.

Tepat ketika angka di layar berubah menjadi pukul 23.00, sesuatu yang aneh terjadi.

Ruangan mendadak dipenuhi aroma bunga melati yang sangat harum. Wanginya begitu pekat, seolah ada seseorang baru saja meletakkan puluhan rangkaian bunga segar di dekat mejanya.

Yuni mengernyit.

"Siapa yang membawa parfum sekuat ini?" katanya heran, meski sadar bahwa seluruh pegawai sudah pulang sejak satu jam lalu.

Ia keluar dari ruangannya. Lorong kantor tampak kosong. Lampu-lampu LED tetap menyala terang, tetapi aroma bunga itu justru semakin kuat ketika ia berjalan menuju ujung koridor.

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.

Tok... tok... tok...

Suara itu datang dari arah tangga darurat.

"Pak Budi?" panggil Yuni, mengira satpam sedang berpatroli.

Tidak ada jawaban.

Langkah kaki itu juga berhenti secara bersamaan.

Merasa tidak enak hati, Yuni segera kembali ke ruangannya. Namun sebelum duduk, ia melihat sebuah kertas kecil terlipat di atas keyboard komputer.

Padahal ia yakin meja itu kosong beberapa detik sebelumnya.

Perlahan ia membuka lipatan kertas tersebut.

Di sana hanya tertulis satu kalimat.

"Jangan cari sumber wanginya."

Yuni langsung berdiri. Dadanya berdebar. Ia berlari menuju ruang keamanan di lantai dasar.

Pak Budi yang sedang minum kopi tampak terkejut melihat wajah Yuni yang pucat.

"Lho, Mbak Yuni kenapa?"

"Pak... tadi ada orang di lantai tiga. Ada suara langkah kaki, terus ada kertas ini."

Pak Budi membaca tulisan tersebut. Wajahnya berubah serius.

"Besok saja lemburnya, Mbak. Malam ini pulang saja."

"Memangnya kenapa, Pak?"

Pak Budi menggeleng.

"Saya sudah kerja di sini sebelas tahun. Setiap jam sebelas malam memang selalu muncul bau melati. Tapi saya tidak pernah naik ke lantai tiga saat jam segitu."

"Kenapa?"

"Karena yang pernah mencari asal wanginya... tidak ada yang bertahan lama bekerja di sini."

Jawaban itu membuat Yuni semakin penasaran. Ia bahkan teringat berbagai kisah mistis yang pernah dibacanya di internet, termasuk cerita tentang Sosok hantu yang tidur di bawah kasur, meski ia tidak pernah menyangka akan mengalami sendiri kejadian yang terasa jauh lebih nyata.

Keesokan harinya ia mencoba bertanya kepada pegawai senior bernama Bu Rina.

"Bu, memang ada cerita apa soal bau melati itu?"

Bu Rina menatap sekeliling sebelum berbisik.

"Dulu pernah ada pegawai perempuan yang meninggal karena serangan jantung saat lembur. Sejak itu katanya aroma melati sering muncul."

"Namanya siapa?"

"Tidak ada yang tahu pasti."

Jawaban itu justru terasa aneh. Bagaimana mungkin tidak ada seorang pun mengetahui identitas mantan pegawai tersebut?

Malam berikutnya Yuni sengaja kembali lembur.

Ia memasang alarm di ponselnya tepat pukul 22.59.

Ketika alarm berbunyi, ia berdiri di tengah lorong sambil menunggu.

Detik berikutnya...

Harum bunga melati kembali memenuhi udara.

Kali ini bukan hanya itu.

Dari ujung lorong terlihat seorang wanita mengenakan pakaian kantor berwarna krem sedang berdiri membelakangi Yuni.

Rambutnya panjang hingga pinggang.

"Permisi..." panggil Yuni dengan suara bergetar.

Wanita itu tidak bergerak.

"Mbak?"

Perlahan sosok tersebut berjalan menjauh tanpa mengeluarkan suara langkah sedikit pun.

Yuni memberanikan diri mengikutinya.

Wanita itu masuk ke ruang arsip lama yang sudah bertahun-tahun dikunci.

Anehnya, pintunya terbuka sendiri.

Di dalam ruangan itu tidak ada siapa-siapa.

Hanya ada lemari besi tua dan tumpukan map berdebu.

Lalu terdengar suara perempuan sangat lirih.

"Jangan percaya mereka..."

Yuni menoleh ke segala arah.

"Siapa?"

"Cari laci paling bawah..."

Suara itu menghilang bersamaan dengan aroma melati yang semakin tajam.

Dengan tangan gemetar, Yuni membuka laci besi paling bawah.

Di sana terdapat sebuah buku agenda usang.

Halaman terakhir berisi catatan harian.

"Kalau suatu hari aku menghilang, berarti mereka berhasil menutup semuanya."

Yuni membaca kalimat itu berulang kali.

Tidak ada nama penulisnya.

Namun terdapat foto seorang pegawai perempuan yang wajahnya disobek hingga tidak terlihat.

Keesokan paginya Yuni mencoba mencari data pegawai lama melalui sistem perusahaan.

Hasilnya membuat bulu kuduknya meremang.

Tidak pernah ada catatan pegawai perempuan yang meninggal di kantor.

Seolah-olah cerita itu sengaja diciptakan.

Beberapa hari kemudian aroma melati terus muncul tepat pukul sebelas malam.

Kini Yuni mulai mendengar bisikan yang sama.

"Jangan percaya mereka..."

Rasa takut berubah menjadi rasa ingin tahu.

Ia akhirnya menemui Pak Budi lagi.

"Pak, sebenarnya siapa yang meninggal di sini?"

Pak Budi terdiam cukup lama.

"Saya juga tidak tahu. Cerita itu sudah ada sebelum saya bekerja."

"Kalau begitu siapa yang pertama kali menyebarkannya?"

Pak Budi tiba-tiba terlihat bingung.

"Saya... lupa."

Jawaban itu terasa ganjil.

Seolah ingatannya baru saja dihapus.

Malam Jumat berikutnya Yuni kembali datang.

Pukul 23.00.

Harum melati memenuhi udara.

Kali ini suara perempuan itu terdengar sangat jelas.

"Masuk ke ruang rapat utama."

Yuni mengikuti suara tersebut.

Sesampainya di ruang rapat, seluruh lampu tiba-tiba padam.

Dalam gelap hanya ada aroma bunga yang menusuk hidung.

Tak lama kemudian layar proyektor menyala sendiri.

Video CCTV lama mulai diputar.

Yuni melihat rekaman kantor bertanggal tujuh tahun lalu.

Di layar tampak seorang wanita sedang duduk sendirian di ruangannya.

Jam di pojok rekaman menunjukkan pukul 22.59.

Beberapa detik kemudian...

Aroma melati seolah keluar dari layar.

Wanita itu berdiri dan mengikuti sesuatu yang tidak terlihat kamera.

Ia berjalan menuju lorong.

Lalu menghilang begitu saja.

Bukan keluar dari pintu.

Bukan masuk ke ruangan lain.

Tubuhnya perlahan memudar di tengah koridor.

Rekaman berhenti.

Yuni menahan napas.

"Itu... siapa?" bisiknya.

Tiba-tiba layar kembali menyala.

Kini yang muncul adalah rekaman malam sebelumnya.

Yuni melihat dirinya sendiri sedang bekerja.

Ia mengikuti sosok perempuan menuju ruang arsip.

Namun ada sesuatu yang membuat darahnya seakan membeku.

Dalam rekaman itu, Yuni tidak berjalan sendirian.

Di belakangnya berdiri puluhan wanita berpakaian kantor dengan wajah pucat, semuanya tersenyum sambil mengikuti langkahnya.

Padahal saat kejadian berlangsung, lorong terlihat kosong.

Suara perempuan itu kembali terdengar.

"Sekarang kau sudah melihat kami."

Yuni menoleh.

Seluruh kursi rapat telah terisi oleh wanita-wanita yang sama seperti di rekaman CCTV.

Mereka duduk diam tanpa berkedip.

Senyum mereka semakin lebar.

"Siapa kalian?" teriak Yuni.

Seorang wanita yang duduk paling depan perlahan menjawab.

"Kami bukan penghuni gedung ini."

"Lalu siapa?"

"Kami adalah semua orang yang pernah mencium bau itu... dan memilih mengikutinya."

Ruangan kembali gelap.

Ketika lampu menyala beberapa detik kemudian, semua kursi telah kosong.

Hanya tersisa satu bunga melati di atas meja rapat.

Sejak malam itu Yuni mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Tidak ada seorang pun yang mencoba menahannya.

Namun beberapa bulan setelah pindah bekerja ke kantor baru di kota lain, sesuatu yang selama ini berusaha ia lupakan kembali muncul.

Tepat pukul 23.00, saat seluruh pegawai sudah pulang dan hanya dirinya yang masih menyelesaikan pekerjaan, udara di ruangannya berubah dingin.

Perlahan aroma bunga melati kembali memenuhi ruangan.

Ponsel Yuni bergetar tanpa ada panggilan masuk.

Layarnya menyala sendiri menampilkan satu kalimat yang tidak pernah ia tulis.

"Kami tidak pernah tinggal di satu gedung. Kami hanya mengikuti orang terakhir yang mencium bau kami."

Di belakang layar ponsel yang mulai menghitam, Yuni melihat pantulan sosok perempuan berdiri tepat di belakang kursinya.

Ketika ia membalikkan badan, ruangan itu kosong.

Namun aroma bunga melati tidak pernah hilang lagi sejak malam tersebut, dan selalu muncul setiap pukul sebelas malam, di mana pun Yuni berada.

Posting Komentar