Perempuan yang Tidur di Kolong Tempat Tidurku
Tidak semua rumah sewaan menyimpan kenangan indah. Ada rumah yang menyimpan rahasia begitu kelam hingga dindingnya seolah masih mengingat setiap jeritan yang pernah terjadi di dalamnya. Aku baru memahami kalimat itu setelah dipindahkan ke sebuah wilayah perbatasan kota, tempat di mana sebuah rumah tua mengubah seluruh hidupku.
Namaku Tania, seorang wanita pekerja kantoran berusia dua puluh tujuh tahun. Aku belum menikah dan bekerja di sebuah perusahaan distribusi yang memiliki beberapa kantor cabang di berbagai wilayah Indonesia. Suatu hari, atasanku memberikan tugas mendadak.
"Tania, kamu akan membantu operasional cabang perbatasan selama beberapa bulan," ujar Pak Surya.
"Baik, Pak."
"Tenang saja. Rumahnya sudah saya siapkan. Itu rumah milik keluarga saya yang memang biasa disewakan untuk karyawan."
Aku mengangguk tanpa banyak berpikir.
Aku tidak sendirian. Aku ditemani rekan kerja bernama Mira, wanita ceria yang terkenal usil di kantor.
"Asyik! Anggap saja liburan," katanya sambil tertawa.
"Jangan sampai kamu bikin ulah ya."
"Siap, Bu Tania."
Perjalanan menuju wilayah perbatasan memakan waktu hampir delapan jam. Daerah itu jauh dari keramaian kota. Jalan mulai sepi sejak sore, hanya diterangi lampu-lampu jalan yang berjauhan.
Rumah yang kami tempati cukup besar. Bangunannya bergaya lama dengan halaman dipenuhi pohon mangga dan bambu di belakang rumah.
"Lumayan juga rumahnya," ujar Mira.
"Iya, cuma agak sepi."
Kami menempati satu kamar yang cukup luas.
Di dalamnya terdapat dua tempat tidur terpisah.
Semuanya tampak normal.
Setidaknya... pada malam pertama.
...
Tepat pukul dua belas malam.
Tok... tok... tok...
Aku membuka mata.
Suara itu berasal dari bawah kasurku.
Aku diam.
Suara itu berhenti.
Lima detik kemudian.
DUG!
Kasurku berguncang pelan seperti ada seseorang menendangnya dari bawah.
"Mira!" teriakku.
Tidak ada jawaban.
"Jangan iseng malam-malam!"
Kasur berhenti bergoyang.
Keesokan paginya.
"Mir, semalam jangan bercanda begitu."
Mira terlihat bingung.
"Bercanda apa?"
"Nendang kasurku."
"Aku tidur pulas."
"Ah bohong."
"Serius."
Aku hanya mendecak.
Memang Mira sering mengerjaiku.
Jadi aku tidak terlalu memikirkannya.
Namun malam berikutnya...
Gangguan semakin aneh.
Ada suara perempuan berbisik sangat lirih.
"Tolong..."
"Sakit..."
"Jangan tinggalkan aku..."
Aku menutup telinga.
Besok paginya suara itu hilang.
Mira tetap tidak mendengar apa pun.
Hari demi hari kejadian semakin sering.
Kadang terdengar kuku menggesek lantai.
Kadang seperti seseorang merangkak mengitari kasur.
Kadang kasurku bergoyang sendiri.
Lucunya...
Kasur Mira tidak pernah diganggu.
"Aku pindah ke kasurmu saja ya?" kataku.
"Boleh kalau memang takut."
Tetapi anehnya setiap kali aku berpindah...
Gangguan ikut berpindah ke tempat aku tidur. Fenomena itu mengingatkanku pada kisah kursi yang berpindah sendiri, hanya saja kali ini yang berpindah bukan furniturnya, melainkan teror yang terus mengikutiku.
Seolah sesuatu memang mengikutiku.
...
Malam yang mengubah segalanya terjadi sekitar dua minggu setelah kami pindah.
Aku kembali terbangun.
DUG!
DUG!
DUG!
Kasurku seperti dipukul dari bawah.
"Mira! Sudah ya! Aku capek!" bentakku.
Tidak ada jawaban.
"Keluar! Jangan sembunyi di bawah kasur!"
Masih sunyi.
Aku kesal.
Lalu aku menoleh.
Jantungku langsung berhenti berdetak sesaat.
Mira...
Masih tertidur pulas di kasurnya.
Wajahnya menghadap tembok.
Selimutnya masih rapi.
Kalau begitu...
Siapa yang berada di bawah kasurku?
Seluruh tubuhku membeku.
Rasa penasaran dan takut saling bertarung.
Perlahan aku turun dari kasur.
Lututku gemetar.
Aku mengambil senter dari ponsel.
Lalu berjongkok.
Perlahan kutundukkan kepala.
Sinar lampu menyapu kolong kasur.
Awalnya gelap.
Lalu...
Aku melihat rambut panjang.
Seorang wanita.
Memakai gaun putih kusam.
Tubuhnya meringkuk.
Posisinya seperti sedang tidur.
Wajahnya membelakangi aku.
Namun perlahan...
Kepalanya berputar.
Bukan tubuhnya.
Hanya kepalanya.
Berputar perlahan hingga wajahnya menghadapku.
Matanya terbuka lebar.
Pucat.
Mulutnya tersenyum.
"Tolong..."
"AAAAAA!!"
Aku berlari menuju kasur Mira.
Mira langsung terbangun.
"Kenapa?!"
"Di bawah kasur! Ada orang!"
Kami memberanikan diri memeriksa bersama.
Namun...
Kolong kasur kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya debu.
Dan bau tanah lembap.
...
Sejak malam itu aku mulai percaya bahwa rumah tersebut memang tidak biasa.
Aku menghubungi Pak Surya.
"Pak... rumah ini pernah terjadi sesuatu?"
Jawaban beliau singkat.
"Tidak ada."
Namun nada bicaranya terdengar ragu.
Aku mulai melakukan penyelidikan sendiri.
Sepulang kerja aku mendatangi warga sekitar.
Sebagian besar hanya menggeleng.
Hingga seorang nenek penjual jamu memanggilku.
"Nak..."
"Iya, Nek?"
"Rumah itu jangan ditempati terlalu lama."
"Kenapa?"
Nenek itu hanya berbisik.
"Ada perempuan yang belum pulang."
Kalimat itu membuat bulu kudukku berdiri.
Beliau tidak mau menjelaskan lebih jauh.
...
Aku semakin penasaran.
Suatu malam aku bermimpi.
Dalam mimpi itu aku melihat seorang perempuan berlari memasuki rumah.
Pakaiannya berlumuran darah.
Ia berteriak minta tolong.
Namun beberapa pria mengejarnya.
Lalu semuanya gelap.
Aku melihat perempuan itu diseret menuju kamar tempat aku tidur.
Lalu...
Mayatnya didorong masuk ke bawah kasur.
Aku terbangun sambil menangis.
Di samping tempat tidur terdapat secarik kertas tua yang sebelumnya tidak pernah ada.
Isinya hanya sebuah alamat dan tanggal.
Aku yakin itu bukan kebetulan.
Alamat tersebut ternyata rumah kosong yang sudah lama terbengkalai.
Di sana aku menemukan seorang pria tua yang sedang membersihkan halaman.
"Pak, dulu siapa yang tinggal di sini?"
Pria itu langsung pucat.
"Kamu dari rumah itu ya?"
"Iya."
"Dulu anak saya..."
Ia berhenti bicara.
"Anak saya hilang dua puluh tahun lalu."
Beliau memperlihatkan foto seorang wanita.
Wajahnya...
Sama persis dengan wanita yang kulihat di bawah kasur.
Namanya Sinta.
Kasusnya dinyatakan orang hilang.
Tidak pernah ditemukan.
...
Aku mulai mencocokkan semua informasi.
Tanggal hilangnya Sinta sama dengan tanggal pembangunan kamar tersebut.
Aku meminta izin polisi membuka arsip lama.
Di sana aku menemukan kejanggalan.
Pemilik rumah lama ternyata pernah menjadi tersangka kasus kekerasan terhadap perempuan.
Namun penyelidikan dihentikan karena kurang bukti.
Yang lebih aneh...
Pemilik lama tiba-tiba menjual rumah itu beberapa bulan setelah Sinta menghilang.
Semua potongan mulai tersusun.
Aku melapor kepada polisi mengenai seluruh temuanku.
Awalnya mereka ragu.
Namun karena terdapat beberapa bukti administrasi yang selama ini terabaikan, akhirnya dilakukan penyelidikan ulang.
Tim forensik membongkar lantai kamar.
Di bawah bekas posisi kasur lama...
Ditemukan sisa-sisa kerangka manusia.
Seluruh warga gempar.
Hasil DNA memastikan kerangka itu adalah milik Sinta.
Penyelidikan berlanjut.
Beberapa saksi lama akhirnya berani bicara setelah puluhan tahun bungkam.
Terungkap bahwa Sinta menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan.
Pelaku menyembunyikan jasadnya di bawah kasur sebelum akhirnya menutup lantai dan menghilangkan semua jejak.
Kasus yang selama puluhan tahun menjadi misteri akhirnya berhasil diungkap.
Para pelaku yang masih hidup akhirnya diproses sesuai hukum berdasarkan bukti-bukti baru yang ditemukan.
...
Malam terakhir sebelum aku pindah.
Aku kembali mendengar suara dari bawah kasur.
Kali ini bukan suara gedoran.
Melainkan langkah pelan.
Aku memberanikan diri melihat.
Wanita itu kembali ada.
Namun wajahnya tidak lagi menyeramkan.
Gaun putihnya tampak bersih.
Ia tersenyum lembut.
"Terima kasih..."
"Sekarang keluargaku tahu di mana aku."
"Aku tidak sendiri lagi."
Perlahan tubuhnya berubah menjadi cahaya.
Lalu menghilang.
Sejak malam itu...
Tidak pernah lagi terdengar suara dari bawah kasur.
Rumah itu menjadi sunyi.
Aku dan Mira segera pindah setelah tugas kami selesai.
Beberapa bulan kemudian rumah tersebut dibongkar atas permintaan keluarga korban dan tidak pernah dibangun kembali.
Hingga kini, setiap kali melihat kolong tempat tidur di mana pun aku berada, selalu teringat malam ketika aku menemukan seorang perempuan sedang tertidur di bawah kasurku.
Dan aku sadar...
Terkadang yang paling menakutkan bukanlah hantu.
Melainkan kejahatan manusia yang mampu membuat arwah seseorang menunggu keadilan selama puluhan tahun.

Posting Komentar