Kursi Kosong yang Selalu Berpindah Sendiri
Lena masih mengingat aroma cat baru yang memenuhi rumah dua lantai itu saat dirinya pertama kali menginjakkan kaki bersama suaminya. Rumah tersebut berdiri di pinggiran sebuah kota di Jawa Tengah, berada di kawasan yang unik karena memadukan suasana perkampungan yang tenang dengan pemandangan kota yang masih bisa terlihat dari lantai dua. Setiap pagi, suara ayam berkokok berpadu dengan deru kendaraan yang samar dari kejauhan. Angin yang berembus membawa aroma sawah dan tanah basah. Tempat itu terasa sempurna untuk memulai kehidupan baru setelah mereka resmi menikah.
Suaminya, Arga, adalah seorang manajer di perusahaan swasta ternama. Meski sibuk, Arga selalu pulang tepat waktu jika tidak ada rapat penting. Lena sendiri bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan berbeda. Kehidupan mereka sederhana tetapi penuh kebahagiaan. Berangkat bekerja bersama menggunakan mobil, berpisah di persimpangan jalan menuju kantor masing-masing, lalu bertemu kembali saat senja. Setiap malam mereka makan bersama, bercanda, menonton televisi, lalu beristirahat.
"Rumah ini benar-benar membawa ketenangan ya, Mas," kata Lena suatu malam sambil menyajikan teh hangat.
"Aku juga merasa begitu. Semoga kita bisa punya keluarga kecil yang bahagia di sini."
Lena tersenyum bahagia.
Hari-hari berlalu tanpa masalah. Tetangga sekitar ramah. Lingkungan juga nyaman. Namun, ada satu benda yang sejak awal membuat Lena merasa sedikit aneh.
Di pojok ruang tamu, tepat di dekat tembok yang menghadap tangga menuju lantai dua, terdapat sebuah kursi tua dari kayu jati. Warnanya sudah kusam. Salah satu sandarannya sedikit retak. Meski demikian, kursi itu tampak kokoh.
"Mas, kenapa kursi jelek ini tidak kita buang saja?" tanya Lena.
"Memangnya ada ya? Kupikir itu memang sudah ada dari pemilik sebelumnya."
"Aku kurang suka melihatnya."
"Kalau begitu nanti kita pindahkan ke gudang."
Malam itu mereka mengangkat kursi tersebut ke gudang belakang rumah.
Keesokan paginya, saat Lena turun ke ruang tamu untuk bersiap berangkat kerja, tubuhnya langsung membeku.
Kursi itu kembali berada di pojok ruang tamu.
"Mas!" teriaknya.
Arga berlari turun.
"Kenapa?"
"Kenapa kursinya dibawa turun lagi?"
"Aku tidak menyentuh kursi itu."
"Jangan bercanda."
"Aku serius."
Lena menganggap mungkin suaminya lupa telah memindahkannya. Ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan.
Sore harinya mereka kembali memindahkan kursi itu ke gudang.
Namun pagi berikutnya...
Kursi itu sudah berada di tempat semula.
Kali ini Arga terlihat mulai kebingungan.
"Aku benar-benar tidak memindahkannya."
"Kalau bukan Mas, siapa?"
Arga terdiam.
Malam-malam berikutnya mulai terasa berbeda.
Lena sering mendengar suara kayu bergesekan dengan lantai dari bawah.
Grek... grek... grek...
Seolah ada seseorang yang sedang menyeret kursi perlahan.
"Mas, dengar tidak?" bisiknya.
Arga mengangguk.
"Aku cek."
Mereka turun bersama.
Suara itu berhenti.
Kursi tetap berada di pojok.
Tidak ada siapa pun.
Beberapa hari kemudian, Lena mulai melihat sosok perempuan tua berdiri di belakang kursi itu setiap kali ia melintas sekilas. Saat menoleh kembali, sosok tersebut hilang.
"Aku mungkin terlalu capek," gumamnya.
Namun kejadian semakin sering terjadi.
Suatu sore saat pulang kerja, Lena membuka pintu rumah.
Kursi itu tidak lagi berada di pojok.
Melainkan tepat di tengah ruang tamu.
Seolah menjadi kursi yang kosong yang sedang menunggu seseorang untuk duduk.
Jantung Lena berdegup cepat.
"Mas?"
Tidak ada jawaban.
Arga belum pulang.
Ia memberanikan diri memindahkan kursi tersebut kembali.
Begitu tangannya menyentuh sandaran kursi, telinganya mendengar suara perempuan tua yang sangat lirih.
"Jangan pindahkan tempatku..."
Lena langsung melepaskan kursi itu sambil berteriak.
Arga yang baru tiba beberapa menit kemudian mendapati istrinya menangis ketakutan.
"Aku dengar ada yang bicara..."
"Besok kita panggil tukang angkut. Kursi itu kita buang jauh."
Keesokan harinya mereka membawa kursi tersebut ke tempat pembuangan barang bekas yang berjarak hampir lima belas kilometer.
Pemilik gudang barang bekas menerimanya.
"Silakan saja, Pak."
Arga merasa lega.
Namun malam itu...
Saat membuka pintu rumah...
Kursi tersebut sudah berada di ruang tamu.
Lebih bersih daripada sebelumnya.
Lena menjerit histeris.
"Tidak mungkin..."
Arga sampai kembali ke gudang barang bekas.
Pemilik gudang kebingungan.
"Lho Pak, kursinya memang hilang tadi sore. Saya kira Bapak mengambil lagi."
Arga pulang dengan wajah pucat.
Mereka mulai sulit tidur.
Setiap pukul dua belas malam, terdengar suara seseorang duduk di kursi tersebut.
Krek...
Kayu tua berbunyi pelan.
Disusul suara napas panjang.
Huuuh...
Lena mengintip dari lantai dua.
Tidak ada siapa-siapa.
Tetapi kursi itu bergerak sendiri.
Perlahan menghadap tangga.
Seolah sedang menatap dirinya.
Esok paginya Lena bertanya kepada tetangga paling tua di kampung.
"Bu, dulu rumah kami pernah terjadi apa?"
Nenek itu tiba-tiba diam.
"Kalian beli rumah nomor itu?"
"Iya."
"Harusnya rumah itu sudah lama diratakan."
"Memangnya kenapa?"
Nenek itu menghela napas.
"Pemilik pertama rumah itu punya ibu yang lumpuh bertahun-tahun. Satu-satunya tempat beliau duduk ya kursi kayu itu."
"Terus?"
"Suatu malam rumah itu kebakaran kecil."
"Lalu?"
"Anaknya menyelamatkan semua barang berharganya."
"Ibunya?"
Nenek itu menatap Lena dengan wajah sedih.
"Tertinggal di dalam rumah... masih duduk di kursi itu."
Tubuh Lena merinding.
"Katanya sejak saat itu kursi tersebut tidak pernah bisa dibuang."
Lena pulang dengan langkah gemetar.
Namun keanehan belum berakhir.
Malam itu kursi tersebut tidak berada di pojok.
Kursi itu berada di depan pintu kamar mereka.
Persis menghalangi jalan.
"Mas... tadi siapa yang mindahin?"
"Aku baru keluar kamar."
Perlahan kursi itu bergerak sendiri.
Grek...
Grek...
Grek...
Seolah didorong seseorang yang tidak terlihat.
Lena memeluk Arga erat.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan tua.
"Anakku..."
"Jangan tinggalin Ibu lagi..."
Suara itu menggema di seluruh rumah.
Lampu berkedip.
Pintu-pintu terbuka sendiri.
Jendela menghantam dinding berkali-kali.
Brak! Brak! Brak!
Arga memberanikan diri mendekati kursi tersebut.
"Siapa pun Anda, kami tidak berniat mengganggu."
Kursi berhenti bergerak.
Lalu terdengar suara tangisan.
Bukan dari ruang tamu.
Melainkan dari dalam kursi.
Seolah rongga kayu itu menyimpan seseorang yang sedang menangis.
Keesokan harinya mereka memanggil seorang kunci dari desa sebelah.
Pria tua itu hanya melihat kursi beberapa detik.
Lalu wajahnya berubah pucat.
"Jangan disentuh."
"Kenapa?" tanya Arga.
"Yang duduk di situ bukan satu."
"Maksudnya?"
"Saya melihat ada banyak tangan memegang sandaran kursi dari dalam."
Lena hampir pingsan.
Pria tua itu mengelilingi rumah.
Tiba-tiba berhenti di bawah tangga.
"Ada yang ditutup."
Mereka membongkar sebagian lantai bawah tangga. Seketika Lena teringat kisah Tangisan dari Sumur Tertutup, yang sama-sama berawal dari rahasia mengerikan yang tersembunyi di bawah bangunan.
Di balik semen ditemukan ruang sempit bekas pondasi lama.
Di sana terdapat beberapa tulang manusia yang sudah sangat tua.
Bukan satu.
Melainkan tiga kerangka.
Di sampingnya terdapat foto keluarga lama penghuni rumah.
Namun anehnya...
Dalam foto hanya ada ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki.
Tidak ada tiga orang lain.
Pria tua itu berkata pelan.
"Ini bukan keluarga pemilik rumah."
"Lalu siapa?"
"Korban lain."
Polisi datang melakukan penyelidikan.
Dari arsip lama diketahui bahwa puluhan tahun silam rumah itu ternyata pernah digunakan sebagai tempat persembunyian seorang pembunuh berantai yang tidak pernah tertangkap. Korban-korbannya dikubur diam-diam di bawah rumah. Pemilik rumah berikutnya sama sekali tidak mengetahui sejarah tersebut.
Namun ada satu fakta yang membuat semua orang bergidik.
Tidak pernah ada catatan mengenai seorang ibu lumpuh yang meninggal terbakar.
Cerita yang disampaikan nenek tetangga ternyata tidak tercatat di mana pun.
Ketika Lena kembali menemui nenek itu, rumahnya kosong.
Warga sekitar justru kebingungan.
"Rumah itu sudah kosong hampir sepuluh tahun."
"Tidak ada yang tinggal di sana."
"Nenek yang Anda maksud sudah meninggal sejak lama."
Darah Lena serasa berhenti mengalir.
Kalau begitu...
Siapa perempuan tua yang berbicara dengannya kemarin?
Setelah seluruh kerangka dipindahkan dan dimakamkan secara layak, gangguan memang berkurang.
Kursi itu akhirnya tidak lagi berpindah setiap hari.
Namun sebelum mereka memutuskan menjual rumah tersebut, Lena sempat melihat sesuatu untuk terakhir kalinya.
Pada dini hari, ia terbangun karena mendengar suara kursi bergeser.
Grek...
Ia membuka pintu kamar perlahan.
Kursi itu kembali berada di pojok ruang tamu.
Di atasnya duduk seorang perempuan tua yang hangus terbakar sambil memangku seorang anak kecil berlumuran tanah.
Keduanya menoleh perlahan.
Lalu tersenyum.
"Terima kasih..." ucap mereka bersamaan.
Sesaat kemudian tubuh keduanya menghilang menjadi debu hitam yang berhamburan diterpa angin dari jendela yang terbuka sendiri.
Lena mengira semuanya telah berakhir.
Mereka pun pindah ke kota lain beberapa bulan kemudian.
Rumah lama berhasil dijual kepada seorang pengusaha dari luar daerah.
Seminggu setelah transaksi selesai, Arga menerima pesan singkat dari pembeli rumah.
"Pak... maaf mengganggu. Saya hanya ingin bertanya. Kursi kayu tua di pojok ruang tamu itu memang sengaja ditinggal, ya?"
Arga langsung membeku.
Mereka tidak pernah meninggalkan kursi apa pun.
Sebelum pindah, kursi tersebut telah dibakar hingga menjadi abu.
Namun foto yang dikirim pembeli menunjukkan kursi kayu yang sama.
Masih berada di pojok ruang tamu.
Dan jika foto itu diperbesar, pada pantulan kaca jendela terlihat Lena dan Arga sedang berdiri di belakang kursi tersebut... meski saat foto diambil, mereka berada ratusan kilometer jauhnya.

Posting Komentar