Lelaki Tanpa Wajah di Ujung Jalan Buntu

Table of Contents
Seorang wanita ketakutan melihat sosok lelaki tanpa wajah di lorong jalan buntu

Vani selalu pulang ketika malam sudah benar-benar sepi.

Perempuan berusia dua puluh sembilan tahun itu bekerja di sebuah perusahaan swasta di Jakarta. Pekerjaannya membuatnya sering lembur hingga larut malam. Beruntung, Vani tidak pernah terlalu memikirkan perjalanan pulang karena ia memiliki mobil pribadi dan tinggal sendirian di sebuah apartemen mewah dengan fasilitas lengkap.

Kedua orang tuanya tinggal di Jawa. Mereka beberapa kali meminta Vani pulang dan tinggal bersama keluarga, tetapi Vani merasa pekerjaannya di Jakarta terlalu penting untuk ditinggalkan.

Setiap malam, setelah melewati kemacetan dan jalanan yang semakin lengang, Vani akan memasuki area parkir apartemennya.

Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul 23.47.

Vani mematikan mesin mobil, mengambil tas kerja, lalu berjalan menuju lift. Namun ketika melewati sebuah lorong di lantai tempat ia tinggal, langkahnya tiba-tiba terhenti.

Di ujung lorong yang buntu, berdiri seorang lelaki.

Vani mengernyitkan dahi.

Lorong itu sebenarnya bukan jalan yang digunakan penghuni apartemen. Bagian tersebut memang buntu dan biasanya dipakai pengelola untuk menyimpan beberapa barang properti seperti meja, kursi, papan dekorasi, dan peralatan lama.

Lelaki itu berdiri membelakangi Vani.

Ia mengenakan kaus lusuh berwarna gelap dan celana panjang yang terlihat kotor. Rambutnya sedikit berantakan.

Vani mengira lelaki itu mungkin petugas kebersihan.

"Pak?" panggil Vani.

Lelaki tersebut tidak bergerak.

Vani kembali memanggil.

"Pak, di situ ada apa?"

Tidak ada jawaban.

Merasa tidak nyaman, Vani akhirnya masuk ke apartemennya.

Ia berusaha melupakan kejadian itu.

Namun malam berikutnya, lelaki tersebut kembali berdiri di tempat yang sama.

Begitu juga malam setelahnya.

Selalu di ujung jalan buntu. Sosok itu seolah memiliki kebiasaan yang sama: datang ketika suasana sudah benar-benar sepi dan tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Selalu berdiri diam.

Selalu membelakangi Vani.

Dan anehnya, setiap kali Vani melewati lorong itu, lelaki tersebut seperti sudah menunggunya.

Suatu malam Vani akhirnya bertanya kepada salah satu petugas keamanan.

"Mas, di lantai saya ada orang yang sering berdiri di ujung lorong belakang. Mas tahu siapa?"

Petugas keamanan bernama Dimas itu langsung mengerutkan kening.

"Ujung lorong yang buntu?"

"Iya."

"Memangnya ada orang di sana?"

Vani terdiam.

"Ada. Hampir setiap malam."

Dimas terlihat sedikit ragu.

"Saya coba cek nanti, Bu."

Malam itu Dimas akhirnya menemani Vani menuju lorong tersebut.

Mereka berjalan perlahan.

Vani menunjuk ke arah ujung lorong.

"Itu orangnya."

Dimas melihat ke depan.

"Mana?"

"Itu. Berdiri di sana."

Namun ketika mereka mendekat, tidak ada siapa-siapa.

Hanya tumpukan kursi tua dan sebuah lemari rusak.

Dimas menggaruk kepalanya.

"Mungkin orang tadi pergi lewat pintu belakang?"

"Tidak ada pintu belakang di situ."

Dimas terdiam.

Vani pulang ke apartemennya dengan perasaan tidak nyaman.

Keesokan malamnya, lelaki itu muncul lagi.

Kali ini ia berdiri sedikit lebih dekat.

Vani mulai merasa takut.

Lelaki Tanpa Wajah Semakin Mendekat

Ia bahkan tidak lagi berani menatap terlalu lama.

Namun rasa penasaran perlahan mengalahkan ketakutannya.

Suatu malam, sekitar pukul 00.18, Vani memutuskan mendekati lelaki tersebut.

Lorong apartemen begitu sepi. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar dari kejauhan.

Vani berjalan perlahan.

Sepuluh langkah.

Lima langkah.

Dua langkah.

Lelaki itu masih diam.

"Pak..." suara Vani bergetar.

Lelaki itu tidak menjawab.

"Bapak tinggal di sini?"

Hening.

Vani menelan ludah.

"Kenapa setiap malam berdiri di sini?"

Perlahan, lelaki itu mulai berbalik.

Vani membeku.

Wajah lelaki itu tidak ada.

Tidak ada mata.

Tidak ada hidung.

Tidak ada mulut.

Hanya permukaan kulit pucat yang rata seperti wajah yang belum selesai dibuat.

Vani menjerit.

"AAAAAA!"

Lelaki itu tiba-tiba bergerak maju.

Vani berlari sambil menangis.

Suara teriakannya membuat beberapa penghuni apartemen keluar dari unit masing-masing. Dimas dan dua petugas keamanan segera datang.

"Bu Vani! Ada apa?"

Vani menunjuk dengan tangan gemetar.

"Dia... dia ada di sana!"

Semua orang melihat ke ujung lorong.

Tidak ada siapa-siapa.

Lelaki itu menghilang.

Sejak malam tersebut, Vani berusaha tidak memedulikannya.

Namun lelaki tanpa wajah itu tetap muncul.

Setiap malam.

Hanya berdiri.

Yang membuat Vani semakin ketakutan, posisi lelaki tersebut perlahan berubah.

Malam pertama, ia berdiri di ujung jalan buntu.

Malam berikutnya, beberapa meter lebih dekat.

Malam setelahnya, semakin dekat lagi.

Sampai suatu malam, lelaki itu berdiri tepat di depan pintu darurat yang hanya berjarak sekitar dua puluh meter dari apartemen Vani.

Vani mulai tidak bisa tidur.

Ia menelepon ibunya.

"Bu, Vani kayaknya mau pulang beberapa hari."

"Kenapa? Kamu sakit?"

"Enggak. Cuma capek."

Ibunya terdiam sebentar.

"Kamu jangan sering pulang malam, Van."

Vani mencoba tertawa.

"Iya, Bu."

Namun sebelum percakapan berakhir, ibunya tiba-tiba bertanya.

"Van, kamu sekarang tinggal di apartemen yang dulu itu, kan?"

"Iya. Kenapa?"

Suara ibunya berubah pelan.

"Dulu waktu kamu kecil, kamu pernah cerita soal lelaki yang berdiri di ujung jalan."

Vani terdiam.

"Aku pernah?"

"Iya. Kamu bilang lelaki itu tidak punya wajah."

Jantung Vani serasa berhenti.

"Bu... aku nggak pernah cerita begitu."

Ibunya tidak langsung menjawab.

"Kamu memang tidak pernah ingat."

"Maksud Ibu apa?"

"Sebelum kamu lahir, Ibu pernah tinggal di daerah yang sama dengan apartemenmu sekarang. Dulu bukan apartemen. Di sana ada sebuah rumah tua."

Vani berdiri dari tempat duduknya.

"Terus?"

"Ada seorang lelaki yang meninggal di sana. Orang-orang bilang wajahnya tidak pernah ditemukan setelah kecelakaan."

Telepon tiba-tiba terputus.

Malam itu Vani tidak berani keluar dari apartemennya.

Sekitar pukul 01.03, terdengar suara ketukan.

Tok.

Tok.

Tok.

Vani membeku di atas tempat tidur.

Ketukan terdengar lagi.

Tok.

Tok.

Tok.

Vani mengambil ponselnya dan melihat kamera keamanan dari aplikasi apartemen.

Layar menunjukkan lorong di depan pintunya.

Kosong.

Vani menghela napas.

Namun ketika kamera beralih ke lorong belakang, tubuh Vani langsung lemas.

Lelaki tanpa wajah itu berdiri di sana.

Tetapi kali ini ia tidak berdiri di ujung lorong.

Ia berdiri tepat di depan pintu apartemen Vani.

Padahal kamera menunjukkan lorong itu kosong.

Vani menatap layar.

Pelan-pelan, lelaki tersebut mengangkat tangannya.

Ia menunjuk ke kamera.

Lalu kepalanya bergerak perlahan ke arah pintu Vani.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan kembali terdengar dari luar.

Vani menutup mulut agar tidak berteriak.

Ia mundur perlahan.

Tiba-tiba ponselnya berdering.

Nama penelepon yang muncul membuat darah Vani terasa membeku.

Vani.

Nomornya sendiri.

Dengan tangan gemetar, Vani mengangkat telepon tersebut.

"Halo?"

Tidak ada jawaban.

Lalu terdengar suara perempuan berbisik dari ujung telepon.

"Jangan buka pintunya."

Vani langsung mengenali suara itu.

Suara ibunya.

"Bu?"

Suara tersebut kembali berbisik.

"Dia bukan datang untuk masuk."

Vani menangis.

"Lalu dia mau apa?"

Beberapa detik hening.

"Dia datang untuk menggantikan seseorang."

Sambungan terputus.

Vani menatap pintu.

Ketukan berhenti.

Ia memberanikan diri melihat kamera sekali lagi.

Lorong kosong.

Lelaki tanpa wajah sudah tidak ada.

Vani mengira semuanya telah berakhir.

Sampai layar kamera tiba-tiba menampilkan sesuatu yang membuatnya menjerit.

Sosok lelaki itu sekarang berdiri di dalam apartemennya.

Tepat di belakang tempat Vani berdiri.

Vani perlahan menoleh.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun di layar ponsel, lelaki itu semakin dekat.

Ia berdiri tepat di belakang Vani.

Dan untuk pertama kalinya, sosok itu memiliki wajah.

Wajahnya adalah wajah Vani sendiri.

Vani menjatuhkan ponselnya.

Sejak malam itu, tidak ada lagi yang pernah melihat lelaki tanpa wajah di ujung jalan buntu.

Petugas keamanan bahkan memeriksa seluruh lorong dan tidak menemukan apa pun.

Namun beberapa minggu kemudian, pengelola apartemen menemukan sesuatu ketika sedang memindahkan barang-barang lama di ujung lorong.

Di balik sebuah lemari tua terdapat foto hitam putih sebuah keluarga yang pernah tinggal di lokasi tersebut puluhan tahun lalu.

Di dalam foto itu terdapat seorang perempuan muda.

Perempuan tersebut sangat mirip dengan Vani.

Di belakang foto tertulis sebuah tanggal lama dan satu kalimat pendek.

"Jika anak perempuan ini kembali, jangan biarkan dia melihat lelaki di ujung jalan."

Yang tidak diketahui siapa pun adalah bahwa Vani ternyata tidak pernah pulang ke apartemen sejak malam terakhir itu.

Seorang petugas keamanan menemukannya dua hari kemudian sedang berdiri diam di ujung jalan buntu.

Ia mengenakan pakaian kerja yang sama.

Wajahnya tertunduk.

Ketika petugas memanggil namanya, Vani perlahan berbalik.

Wajahnya masih ada.

Tetapi matanya kosong.

Dan di belakangnya, berdiri seorang lelaki tanpa wajah.

Kali ini lelaki itu tidak lagi berdiri di ujung jalan.

Ia berdiri tepat di tempat Vani sebelumnya berdiri.

Sementara Vani perlahan berjalan menuju apartemennya.

Sejak saat itu, setiap malam ada seorang perempuan yang berdiri di ujung jalan buntu.

Dan setiap malam, seorang lelaki tanpa wajah berdiri semakin dekat ke pintu apartemen Vani.

Tidak ada yang tahu siapa sebenarnya yang sedang menunggu.

Dan tidak ada yang berani mencari tahu.

Posting Komentar