Radio Tua yang Menyebut Namaku
Malam pertama Putri menempati rumah baru itu, ia mendengar suara seseorang memanggil namanya dari lantai bawah.
“Putri...”
Pelan. Serak. Seperti suara yang keluar dari tenggorokan orang yang sudah terlalu lama tidak berbicara.
Putri yang sedang duduk di depan laptop langsung menghentikan pekerjaannya. Ia menoleh ke arah pintu kamar. Tidak ada siapa-siapa.
“Put?” suara ibunya terdengar dari kamar sebelah.
“Iya, Bu?”
“Kamu manggil Ibu?”
Putri mengernyit.
“Bukan. Ibu dengar suara siapa?”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara ayahnya dari ujung lorong.
“Sudah tidur saja. Jangan keluar kamar.”
Putri merasa aneh. Ayahnya biasanya tidak pernah melarangnya keluar kamar.
Rumah itu sebenarnya cukup bagus. Letaknya di kawasan perkotaan yang ramai, tidak jauh dari pusat perkantoran tempat Putri bekerja. Setelah bertahun-tahun tinggal di rumah kontrakan, kedua orang tuanya akhirnya membeli rumah tersebut dengan harga yang menurut Putri terlalu murah untuk ukuran rumah di kawasan itu.
Rumahnya besar, memiliki dua lantai, halaman sempit, serta gudang tua di belakang dapur.
Namun sejak pertama kali datang, Putri merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Terutama dengan ayahnya.
Setiap kali Putri bertanya tentang pemilik rumah sebelumnya, ayahnya selalu menghindar.
“Rumah ini sudah lama kosong?” tanya Putri ketika mereka pertama kali pindah.
Ayahnya hanya menjawab singkat.
“Lumayan.”
“Kenapa dijual murah?”
“Yang penting kita mampu beli.”
Jawaban itu terasa seperti sengaja menutup sesuatu.
Radio Tua yang Memanggil Nama Putri
Tiga hari setelah pindah, Putri menemukan radio tua di dalam gudang.
Radio itu berwarna cokelat gelap, penuh debu, dengan antena bengkok dan beberapa tombol yang sudah berkarat. Di bagian depannya terdapat kain speaker yang menguning.
Ketika Putri menyentuhnya, terdengar suara kresek dari dalam.
“Krrr... krrr...”
Putri spontan menarik tangannya.
“Masih hidup?” gumamnya.
Ia membawa radio itu ke kamar. Entah mengapa benda tersebut terasa menarik. Mungkin karena bentuknya mengingatkan Putri pada barang-barang lama milik neneknya.
Malam itu, Putri membersihkan radio tersebut dan mencoba memutarnya.
Awalnya hanya terdengar suara statis.
“Krrr... krrr... selamat malam...”
Putri tersenyum kecil.
“Masih bisa menangkap siaran?”
Kemudian suara penyiar terdengar samar.
“...untuk pendengar yang masih terjaga malam ini...”
Putri mulai bekerja sambil mendengarkan radio.
Sampai tiba-tiba penyiar itu berhenti.
Hening beberapa detik.
Lalu terdengar suara perempuan berbisik.
“Putri...”
Tangan Putri membeku di atas keyboard.
“Apa?”
Radio kembali mengeluarkan suara statis.
“Putri...”
Kali ini lebih jelas.
Putri langsung mematikan radio.
Jantungnya berdegup keras.
Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin namanya hanya kebetulan terdengar dari siaran radio.
Namun keesokan malam, radio itu kembali menyala sendiri.
Pukul 02.13.
Putri terbangun karena mendengar suara kresek dari meja.
Radio menyala.
“Krrr...”
Putri menatapnya dari tempat tidur.
“Siapa yang menyalakan?”
Tidak ada jawaban.
Lalu suara penyiar terdengar.
“Selamat datang kembali, Putri.”
Putri langsung merasakan seluruh tubuhnya dingin.
“Siapa kamu?”
Radio diam.
Kemudian terdengar suara perempuan menangis.
“Jangan percaya ayahmu...”
Putri turun dari tempat tidur.
“Apa?”
Suara itu semakin pelan.
“Dia tahu... dia tahu semuanya...”
Radio mati.
Pagi harinya, Putri menghampiri ayahnya.
“Ayah pernah tinggal di rumah ini?”
Ayahnya yang sedang minum kopi tiba-tiba berhenti.
“Kenapa tanya begitu?”
“Radio tua di kamar menyebut namaku.”
Wajah ayah Putri berubah pucat.
“Buang radio itu.”
“Kenapa?”
“Sekarang juga.”
Putri semakin curiga.
“Ayah tahu radio itu?”
Ayahnya berdiri.
“Putri, dengarkan Ayah. Jangan pernah menyalakan radio itu lagi.”
“Kenapa?”
Ayahnya tidak menjawab.
Malam berikutnya, teror semakin parah.
Putri melihat sosok misterius di ujung lorong. Rambutnya panjang menutupi wajah. Perempuan itu mengenakan pakaian putih yang basah, sementara lantai di bawah kakinya dipenuhi genangan air.
Putri memejamkan mata.
Ketika membukanya kembali, perempuan itu sudah berada tepat di depan pintu kamar.
“Putri...”
Putri menjerit.
Ayah dan ibunya berlari menghampiri.
“Ada apa?!”
Putri menunjuk pintu.
“Ada perempuan!”
Ayahnya melihat ke arah pintu, lalu wajahnya berubah ketakutan.
“Dia sudah kembali...” bisiknya.
“Ayah kenal?”
Ayah Putri terdiam lama.
“Dulu... sebelum rumah ini dibangun seperti sekarang, ada rumah lain di sini.”
Putri menatap ayahnya.
“Terus?”
“Ayah tinggal di sana.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Ayah akhirnya mengaku bahwa puluhan tahun lalu, ketika masih muda, ia pernah bekerja sebagai teknisi radio. Di rumah lama tersebut tinggal seorang perempuan bernama Ratih, penyiar radio lokal yang terkenal di kawasan itu.
Ratih meninggal secara misterius setelah suatu malam menghilang dari rumah.
“Orang-orang bilang dia bunuh diri,” kata ayah Putri.
“Tapi Ayah tidak percaya?”
Ayah menggeleng.
“Karena malam dia meninggal, Ayah ada di rumah itu.”
Putri tercekat.
“Apa yang Ayah lakukan?”
Ayahnya menunduk.
“Ayah memperbaiki radio miliknya.”
Malam itu Putri mencari radio tersebut dan menemukan sesuatu di bagian belakangnya: sebuah tulisan kecil yang hampir terhapus.
STUDIO 13 — 17 AGUSTUS 1998.
Di bawah tulisan itu terdapat nama.
PUTRI.
Putri merasa kepalanya berputar.
“Ini... mustahil.”
Ia belum lahir pada tahun itu.
Putri berlari menemui ayahnya sambil membawa radio tersebut.
“Kenapa namaku ada di sini?”
Ayahnya tidak menjawab.
Putri memaksa.
“Ayah! Kenapa?!”
Akhirnya ayahnya menangis.
“Karena Putri bukan nama yang Ayah pilih setelah kamu lahir.”
Putri terdiam.
“Nama itu sudah diberikan oleh Ratih.”
“Apa maksud Ayah?”
Ayahnya mengungkap rahasia yang selama puluhan tahun disimpannya.
Malam Ratih meninggal, ia sebenarnya sedang menyiarkan sebuah rekaman tentang seseorang yang diam-diam membeli tanah di kawasan tersebut. Ia menemukan bukti bahwa rumah itu digunakan sebagai tempat menyembunyikan barang-barang hasil kejahatan.
Ayah Putri, yang saat itu masih muda, membantu Ratih merekam bukti tersebut.
Namun sebelum rekaman disiarkan, seseorang datang.
Ratih dibunuh.
Ayah Putri melarikan diri karena ketakutan.
Sebelum meninggal, Ratih sempat merekam pesan terakhir.
“Kalau suatu hari anakmu lahir perempuan, beri nama dia Putri.”
Putri menatap ayahnya dengan air mata mengalir.
“Tapi... bagaimana Ratih tahu Ayah akan punya anak?”
Ayahnya tidak menjawab.
Radio tua di atas meja tiba-tiba menyala.
“Krrr...”
Suara Ratih terdengar jelas.
“Karena aku bukan sedang berbicara denganmu, Putri...”
Putri menatap radio.
“Lalu dengan siapa?”
Suara itu menjawab.
“Dengan Putri yang dulu.”
Radio mendadak mengeluarkan rekaman suara bayi menangis.
Putri membeku.
Ibunya menutup mulut.
Ayah Putri jatuh terduduk.
Di dinding ruang keluarga, muncul bercak air yang perlahan membentuk tulisan.
AKU TIDAK PERNAH MATI.
Putri berbalik.
Di belakang ayahnya berdiri perempuan berambut panjang itu.
Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Putri mengenal wajah tersebut.
Itu adalah wajah yang selama ini ia lihat dalam foto lama yang disimpan ayahnya.
Namun ada satu hal yang membuat Putri hampir kehilangan kesadaran.
Perempuan itu bukan Ratih.
Perempuan itu adalah dirinya sendiri.
Radio kembali berbunyi.
“Putri... sekarang kamu ingat?”
Putri memegang kepalanya.
Tiba-tiba seluruh ingatan yang bukan miliknya masuk ke dalam pikirannya: sebuah studio kecil, lampu merah menyala, suara mikrofon, seorang perempuan berlari, dan seorang lelaki muda membawa radio.
Lelaki itu adalah ayahnya.
Namun perempuan yang berdiri di studio bukan Ratih.
Dia adalah Putri.
Putri akhirnya menyadari kebenaran yang jauh lebih mengerikan.
Rumah itu tidak pernah benar-benar kosong.
Rumah tersebut dibangun kembali di atas lokasi studio radio lama. Ayahnya membeli rumah itu bukan secara kebetulan. Ia kembali karena selama bertahun-tahun menerima pesan misterius dari radio yang sama.
Dan Putri bukan sekadar korban.
Ia adalah alasan rumah itu memanggil kembali semua orang.
Ayahnya telah menyembunyikan satu hal terakhir: Putri sebenarnya pernah datang ke rumah tersebut ketika masih kecil, lalu mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatannya.
Radio itu tidak sedang meramal kematian Putri.
Radio itu sedang mengingatkan Putri tentang kematiannya yang pertama.
Pukul 02.13, radio berbunyi untuk terakhir kalinya.
“Putri...”
Putri berdiri di depan radio dengan tubuh gemetar.
“Apa yang kamu mau?”
Suara dari radio berubah menjadi suara Putri sendiri.
“Aku cuma ingin pulang.”
Radio mati.
Sejak malam itu, rumah tersebut kembali kosong.
Ayah dan ibu Putri pindah tanpa membawa satu pun barang dari sana.
Namun beberapa minggu kemudian, seorang pekerja kantor menemukan radio tua di sebuah gudang gedung perkantoran yang sedang direnovasi.
Radio itu masih menyala.
Dan dari dalam speaker terdengar suara perempuan berbisik.
“Putri...”
Padahal tidak ada seorang pun bernama Putri di gedung tersebut.
Setidaknya, begitu yang mereka kira.

Posting Komentar