Jam Dinding yang Berdetak Mundur Saat Tengah Malam

Table of Contents
Seorang wanita ketakutan melihat jam yang berdetak mundur tengah malam

Susi selalu menganggap suara jam dinding sebagai suara paling biasa di dunia.

Di kantor, di rumah, bahkan di ruang tunggu stasiun, bunyi tik... tik... tik... tidak pernah lebih dari sekadar penanda waktu.

Sampai suatu malam, ia mendengar suara itu berdetak mundur.

Malam itu Susi baru pulang dari kantor. Hujan mengguyur jalanan sejak sore, membuat sebagian ruas jalan di Jakarta tergenang. Setelah hampir dua jam terjebak macet, perempuan berusia dua puluh sembilan tahun itu akhirnya tiba di rumah kontrakannya yang berada di sebuah gang sempit.

Rumah itu tidak besar. Hanya rumah sederhana dengan dua kamar, ruang tamu kecil, dapur, dan sebuah radio tua yang sudah ada sejak Susi pertama kali menyewa tempat itu.

Jam tersebut berbentuk bulat dengan bingkai kayu gelap. Angkanya menggunakan angka Romawi, sementara kedua jarumnya sudah terlihat kusam.

Sejak pindah, Susi tidak pernah memperhatikan jam itu.

Sampai pukul dua belas lewat tiga belas menit malam itu.

Tik... tik... tik...

Susi yang sedang membuka laptop di ruang tamu tiba-tiba mengangkat kepala.

Ada sesuatu yang aneh.

Suara detaknya bukan seperti biasanya.

Tik... tok... tik... tok...

Ia memperhatikan jarum detik.

Jarum itu bergerak.

Tetapi bergerak ke arah yang salah.

Berputar mundur.

Susi berdiri perlahan.

“Kok...” gumamnya.

Ia mendekati jam tersebut dan melihat jarum panjang bergerak dari angka tiga menuju angka dua.

Lalu angka satu.

“Baterainya kali.”

Susi mencoba bercanda dengan dirinya sendiri. Ia mengambil kursi, lalu membuka penutup belakang jam.

Baterainya masih baru.

Ia bahkan baru menggantinya seminggu lalu.

Ketika hendak mengambil baterai itu, suara detakan berhenti.

Sunyi.

Susi menghela napas lega.

Namun beberapa detik kemudian terdengar suara dari arah kamar.

Tok.

Susi menoleh.

Tok.

Seperti ada seseorang mengetuk pintu kamarnya.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Susi berjalan mendekat dan membuka pintu.

Kamar itu kosong.

Jendela tertutup. Lemari tertutup. Tidak ada apa-apa.

Ia kembali ke ruang tamu.

Jam dinding itu masih berhenti pada pukul 12.13.

Malam berikutnya, kejadian yang sama terulang.

Tepat pukul 12.13, jam itu mulai berdetak mundur.

Kali ini Susi merekamnya menggunakan ponsel.

Ia duduk di sofa sambil menatap jam tersebut.

“Kalau besok rusak lagi, gue buang,” katanya.

Jarum bergerak mundur.

12.12.

12.11.

12.10.

Semakin lama, suara detakannya semakin cepat.

Tik-tik-tik-tik-tik...

Kemudian jarum berhenti di angka dua belas.

Suara detakan menghilang.

Dalam rekaman ponselnya, Susi mendengar sesuatu yang tidak ia dengar ketika kejadian berlangsung.

Suara perempuan berbisik.

“Susi...”

Susi langsung mematikan rekaman.

Wajahnya pucat.

Ia memutar ulang.

“Susi...”

Kali ini suara itu terdengar jelas.

Suara seorang perempuan.

Dan yang membuat Susi merinding, suara itu terdengar seperti suara ibunya.

Padahal ibunya sudah meninggal enam tahun lalu.

Keesokan paginya Susi membawa jam tersebut ke kantor dan bertanya kepada rekan kerjanya, Rina.

“Rin, lo pernah lihat jam ini?”

Rina mengamati foto yang ditunjukkan Susi.

Wajahnya tiba-tiba berubah.

“Jam itu dari mana?”

“Udah ada di rumah waktu gue sewa.”

Rina diam beberapa saat.

“Kenapa?” tanya Susi.

“Nggak apa-apa.”

“Jangan bohong.”

Rina menarik napas.

“Gue pernah dengar cerita soal rumah lo.”

Susi mengerutkan kening.

“Cerita apa?”

“Katanya dulu pernah ada perempuan yang meninggal di situ.”

“Kecelakaan?”

Rina menggeleng.

“Bunuh diri.”

Susi terdiam.

“Namanya siapa?”

Rina menatapnya.

“Nggak tahu.”

Sepulang kerja, Susi langsung menemui pemilik rumah.

Pak Darto, pria berusia sekitar enam puluh tahun, awalnya terlihat biasa saja ketika Susi bertanya tentang penghuni sebelumnya.

Namun ketika Susi menyebut jam dinding, wajahnya berubah.

“Jam itu masih ada?”

“Iya.”

“Buang saja.”

“Kenapa?”

Pak Darto tidak menjawab.

“Pak, saya cuma mau tahu. Memangnya siapa yang meninggal di rumah ini?”

Pria itu menghela napas panjang.

“Namanya Mira.”

Susi terdiam.

Nama itu terasa asing.

“Mira meninggal dua belas tahun lalu. Tepat tengah malam.”

“Karena bunuh diri?”

Pak Darto mengangguk.

“Jam dinding itu berhenti pukul 12.13 malam. Sejak saat itu, tidak pernah bisa diperbaiki.”

Susi pulang dengan kepala penuh pertanyaan.

Teror Jam Dinding di Tengah Malam

Malam itu ia memutuskan untuk tidak tidur.

Pukul 12.12, ia duduk tepat di depan jam.

12.13.

Tik.

Jarum mulai bergerak mundur.

12.12.

12.11.

12.10.

Susi merekam dengan ponselnya.

Lalu sesuatu terjadi.

Jarum tidak berhenti di angka dua belas.

Ia terus bergerak.

11.59.

11.58.

11.57.

Susi berdiri.

“Ini apaan...”

Ketika jarum menunjukkan pukul 11.30, terdengar suara pintu depan terbuka.

Kreeek...

Susi membeku.

Ia tinggal sendirian.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Suara langkah kaki terdengar dari ruang depan.

Tap... tap... tap...

Langkah itu mendekat.

Susi mundur hingga punggungnya menempel ke dinding.

Kemudian seorang perempuan muncul dari lorong.

Rambutnya panjang menutupi sebagian wajah.

Bajunya putih dan basah seperti baru keluar dari hujan.

Susi ingin berteriak, tetapi tenggorokannya tercekat.

Perempuan itu berhenti beberapa meter di depannya.

“Susi...”

Suara itu.

Suara ibunya.

“Kamu akhirnya pulang.”

Susi menangis.

“Ibu?”

Perempuan itu mengangkat wajah.

Susi langsung menutup mulut.

Wajah perempuan itu bukan wajah ibunya.

Itu wajah seorang wanita yang tidak dikenalnya.

Namun matanya persis seperti mata Susi.

“Siapa kamu?”

Perempuan itu tersenyum.

“Kamu benar-benar tidak ingat?”

Jam dinding terus berdetak mundur.

11.15.

11.14.

11.13.

Susi melihat sesuatu di belakang perempuan itu.

Sebuah foto lama tergantung di dinding.

Ia mendekatinya dengan tubuh gemetar.

Dalam foto tersebut ada tiga orang.

Seorang pria.

Seorang wanita.

Dan seorang anak perempuan kecil.

Anak itu adalah Susi.

Wanita di sebelahnya adalah Mira.

Susi menatap foto itu tidak percaya.

“Ini... siapa?”

Perempuan di belakangnya menjawab pelan.

“Ibumu.”

Susi menggeleng.

“Ibuku namanya bukan Mira.”

“Itu yang mereka katakan kepadamu.”

Detak jam semakin cepat.

10.59.

10.58.

Susi tiba-tiba merasakan sakit kepala luar biasa.

Potongan-potongan ingatan muncul di kepalanya.

Sebuah rumah.

Suara pertengkaran.

Ayahnya memegang jam dinding.

Ibunya menangis.

Lalu suara benda pecah.

Dan seorang anak kecil bersembunyi di bawah meja.

Susi memegang kepalanya.

“Aku ingat...”

Perempuan itu menatapnya.

“Sekarang kamu ingat siapa yang membunuhku?”

Susi perlahan menoleh ke foto itu.

Ayahnya.

Bukan bunuh diri.

Mira dibunuh.

Setelah itu, ayahnya membawa Susi pergi dan mengatakan bahwa ibunya meninggal karena sakit.

Tetapi ada satu hal yang tidak masuk akal.

Ayah Susi sudah meninggal tiga tahun lalu.

Jadi siapa yang selama ini membuat Susi melupakan semuanya?

Jam dinding tiba-tiba berhenti.

Jarumnya menunjukkan pukul 10.00.

Perempuan bernama Mira itu mendekati Susi.

“Aku tidak pernah memanggilmu untuk menakut-nakutimu.”

“Lalu untuk apa?”

Mira menunjuk ke arah jam.

“Karena waktumu hampir habis.”

“Waktu untuk apa?”

Mira tersenyum tipis.

“Untuk mengingat kenapa kamu membunuhku.”

Susi terdiam.

“Apa?”

Tiba-tiba seluruh ingatan yang hilang kembali sekaligus.

Malam itu, dua belas tahun lalu, Susi kecil tidak hanya bersembunyi di bawah meja.

Ia yang mendorong ibunya.

Ia masih ingat suara tubuh Mira jatuh menghantam sudut meja.

Ayahnya kemudian menutupi kejadian itu dan mengarang cerita bahwa Mira bunuh diri.

Jam dinding tersebut sengaja dipasang kembali sebagai pengingat.

Namun setelah ayahnya meninggal, ingatan Susi mulai kembali.

Susi menatap Mira dengan air mata mengalir.

“Aku masih kecil...”

“Aku tahu.”

“Aku tidak sengaja.”

Mira mendekat.

“Aku juga tahu.”

Jam dinding kembali berdetak.

Kali ini maju.

Tik... tik... tik...

Jarumnya bergerak menuju angka dua belas.

Mira berbisik.

“Tapi setiap malam, waktumu akan kembali ke malam itu sampai kamu berani mengakuinya.”

Pukul 12.13.

Susi membuka mata.

Ia terbaring di sofa ruang tamu.

Hari sudah pagi.

Jam dinding kembali menunjukkan waktu normal.

Susi mengira semua itu hanya mimpi.

Sampai ia melihat tangannya.

Di telapak tangannya terdapat noda darah yang sudah mengering.

Ia berlari ke kamar mandi.

Ketika menatap cermin, Susi melihat pantulan dirinya.

Namun di belakang pantulan itu berdiri Mira.

Mira tersenyum.

“Sampai malam nanti.”

Susi berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Di ruang tamu, jam dinding kembali berbunyi.

Tik... tik... tik...

Lalu jarum detiknya bergerak mundur satu angka.

Dan untuk pertama kalinya, Susi menyadari sesuatu yang jauh lebih mengerikan.

Jam itu bukan sedang menghitung mundur menuju kematian Mira.

Jam itu sedang menghitung mundur menuju kematian Susi.

Posting Komentar