Tawa dari Atap Loteng Kantor
Malam itu, hujan turun sejak sore dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Air mengalir deras di balik kaca jendela gedung perkantoran lantai tujuh, sementara sebagian besar ruangan sudah gelap tanpa lampu.
Hanya satu ruangan yang masih menyala.
Di sudut lantai tujuh itu, Lina masih duduk sendirian di depan komputer. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu sudah terbiasa bekerja sampai malam. Hampir setiap hari ia lembur karena pekerjaannya sebagai staf keuangan membuatnya sering dikejar laporan yang harus selesai sebelum pagi.
Lina menarik napas panjang sambil melihat jam di layar komputernya. Jam berdetak seram itu terasa semakin jelas di tengah kesunyian kantor yang mulai kosong.
“Jam sepuluh lagi...” gumamnya.
Ia memijat tengkuknya yang terasa kaku. Kantor yang biasanya dipenuhi suara keyboard, percakapan karyawan, dan dering telepon kini terasa seperti gedung kosong.
Teman-temannya sudah pulang sejak pukul delapan.
Satpam biasanya masih berkeliling sampai tengah malam, tetapi lantai tujuh jarang didatangi karena setelah pukul sembilan seluruh karyawan sudah diperbolehkan meninggalkan gedung.
Lina kembali fokus pada pekerjaannya.
Beberapa menit kemudian, suara aneh terdengar dari atas kepalanya.
Tok... tok... tok...
Lina berhenti mengetik.
Ia mendongak.
Langit-langit kantor itu terlihat biasa saja. Tidak ada apa-apa selain beberapa lampu panel yang menyala redup.
“Tikus?” katanya pelan.
Suara itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
Kali ini lebih jelas.
Seperti ada seseorang yang berjalan di atas plafon.
Lina menatap langit-langit dengan perasaan tidak nyaman. Ia tahu di atas lantai tujuh terdapat sebuah ruang loteng kecil yang digunakan untuk menyimpan beberapa peralatan lama perusahaan.
Namun, ruang itu sudah bertahun-tahun tidak digunakan.
“Paling suara pipa,” pikir Lina.
Ia berusaha kembali bekerja.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan.
“Hehehehehe...”
Jari Lina langsung berhenti di atas keyboard.
Suara itu sangat pelan, tetapi jelas.
Tawa seorang wanita.
Lina perlahan berdiri dari kursinya.
“Siapa?” tanyanya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar jendela.
Lina mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi satpam.
Belum sempat panggilan tersambung, tawa itu kembali terdengar.
“Hehehe... hahahaha...”
Kali ini suara tersebut datang tepat dari atas kepalanya.
Lina merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Pak Darto?” teriak Lina. “Kalau ada orang di atas, jangan bercanda!”
Hening.
Kemudian terdengar suara perempuan berbisik.
“Lina...”
Ponsel di tangan Lina hampir terjatuh.
“Siapa?”
“Lina...”
Suara itu kembali memanggil namanya.
Lina mundur beberapa langkah.
“Bagaimana dia tahu nama saya?”
Ia langsung mematikan komputer.
Namun ketika hendak berlari menuju pintu, terdengar bunyi sesuatu jatuh dari langit-langit.
Brak!
Lina menjerit.
Sebuah benda kecil jatuh tepat di dekat kakinya.
Sebuah jepit rambut berwarna merah.
Lina menatap benda tersebut.
Ada sesuatu yang membuatnya semakin takut.
Jepit rambut itu tampak sangat tua, penuh debu, tetapi di bagian tengahnya masih terdapat noda hitam seperti bekas darah yang sudah mengering.
Lina tidak berani menyentuhnya.
Ia berlari keluar ruangan dan menuju lift.
“Ayo... ayo...” katanya sambil berkali-kali menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka.
Lina masuk dan segera menekan tombol lantai dasar.
Namun sebelum pintu tertutup, terdengar suara tawa dari ujung lorong.
“Hehehehehe...”
Lina menoleh.
Lorong kosong.
Tetapi pada pantulan pintu lift yang perlahan menutup, Lina melihat sesuatu berdiri di belakangnya.
Seorang wanita berambut panjang.
Wajahnya pucat.
Dan bibirnya tersenyum lebar.
Lina berbalik dengan cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
“Tidak mungkin...” bisiknya.
Pintu lift tertutup.
Baru beberapa detik lift bergerak turun, lampunya tiba-tiba berkedip.
Tek.
Gelap.
Lina menahan napas.
Kemudian terdengar suara seseorang mengetuk pintu lift dari luar.
Tok... tok... tok...
“Tolong...” Lina mulai panik.
Ketukan itu berubah menjadi suara kuku yang menggores pintu besi.
Kreeeek...
Lina menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak.
Lalu suara perempuan itu terdengar tepat di samping telinganya.
“Jangan pulang dulu...”
Lina menjerit.
“Pergi!”
Lampu lift kembali menyala.
Lift ternyata tidak bergerak.
Panel menunjukkan angka tujuh.
Lina menatap angka itu dengan wajah pucat.
Pintu lift terbuka.
Namun yang terlihat bukan lorong lantai tujuh.
Melainkan ruangan gelap penuh meja dan kursi lama.
Lina mengenali ruangan itu.
Itu adalah loteng kantor.
Padahal lift tidak pernah mempunyai akses menuju loteng.
Di tengah ruangan, seorang wanita duduk membelakanginya.
Rambut panjang wanita itu menjuntai sampai menyentuh lantai.
Lina ingin menekan tombol tutup pintu, tetapi tangannya tidak mampu bergerak.
Wanita itu perlahan berdiri.
“Lina...”
“Kamu siapa?”
Wanita itu tidak menjawab.
Ia hanya menunjuk sebuah meja di sudut ruangan.
Di atas meja terdapat tumpukan dokumen lama.
Dan di bagian paling atas ada sebuah foto.
Lina melangkah mundur ketika melihat foto tersebut.
Foto itu adalah foto karyawan perusahaan sekitar sepuluh tahun lalu.
Di barisan belakang berdiri beberapa orang.
Salah satunya adalah wanita yang berada di hadapannya.
Lina mengenal wajah itu.
Ia pernah melihatnya di sebuah foto lama yang terpajang di ruang arsip.
Namanya Maya.
Maya adalah karyawan bagian keuangan yang diberitakan menghilang secara misterius sepuluh tahun sebelumnya.
Menurut cerita yang beredar di kantor, Maya menghilang setelah lembur sendirian.
Namun ada satu hal yang tidak pernah diketahui Lina.
Maya ternyata menghilang dari gedung itu pada malam yang sama dengan tanggal hari ini.
“Kenapa kamu menunjukkan ini?” tanya Lina dengan suara gemetar.
Maya perlahan mengangkat tangannya.
Jarinya menunjuk ke arah dokumen.
Lina mengambil salah satu berkas.
Matanya membesar.
Dokumen itu berisi laporan keuangan perusahaan yang menunjukkan adanya penggelapan uang dalam jumlah besar.
Nama Maya tercantum sebagai pihak yang dituduh.
Namun di halaman terakhir terdapat catatan tulisan tangan.
“Saya tidak mengambil uang itu. Semua bukti sudah saya simpan di loteng.”
Lina terdiam.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Beberapa bulan sebelumnya, ia menemukan kejanggalan dalam laporan keuangan perusahaan. Ada sejumlah transaksi lama yang nilainya tidak masuk akal.
Ia bahkan sempat menyampaikan hal tersebut kepada atasannya.
Atasannya hanya berkata, “Jangan ikut campur dengan laporan lama.”
Lina mulai memahami semuanya.
Maya bukan menghilang karena melarikan diri.
Seseorang telah membuatnya seolah-olah menjadi pelaku penggelapan.
“Siapa yang melakukan itu?” tanya Lina.
Maya perlahan mengangkat tangan dan menunjuk ke belakang Lina.
Lina membeku.
Ia menoleh.
Di pintu loteng berdiri seorang pria.
Satpam gedung.
Pak Darto.
Wajah lelaki itu terlihat pucat.
“Pak...”
Pak Darto tersenyum tipis.
“Kamu seharusnya tidak naik ke sini, Lina.”
Lina mundur.
“Bapak tahu tentang Maya?”
Pak Darto tidak menjawab.
Ia justru mengunci pintu loteng dari luar.
“Pak! Buka pintunya!”
“Dulu Maya juga berteriak seperti itu.”
Lina menangis ketakutan.
“Kenapa Bapak melakukan ini?”
Pak Darto menatapnya dari balik kaca kecil pintu.
“Karena ada orang-orang tertentu yang tidak ingin rahasia perusahaan terbongkar.”
“Siapa?”
Pak Darto tersenyum.
“Orang yang selama ini kamu panggil atasan.”
Lina merasakan tubuhnya lemas.
Namun sebelum Pak Darto pergi, terdengar suara tawa dari dalam loteng.
“Hehehehehe...”
Pak Darto tiba-tiba berhenti.
Wajahnya berubah pucat.
“Tidak...” bisiknya.
Tawa itu semakin keras.
“Hahahahaha...”
Pak Darto mundur beberapa langkah.
Lina menatap ke belakangnya.
Maya sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, berdiri tiga sosok perempuan di antara meja-meja tua.
Lina baru menyadari bahwa foto karyawan yang tadi dilihatnya ternyata bukan hanya memiliki satu wajah perempuan yang dicoret.
Ada tiga nama yang hilang dari daftar karyawan lama.
Maya.
Rina.
Dan Sari.
Ketiganya pernah bekerja lembur di kantor itu.
Ketiganya menghilang pada tahun yang berbeda.
Dan semuanya pernah dituduh mencuri uang perusahaan.
Pak Darto mulai berteriak.
“Saya cuma menjalankan perintah!”
Suara tawa berubah menjadi jeritan.
Pintu loteng bergetar hebat.
Lina berlari menjauh.
Beberapa detik kemudian terdengar suara benturan keras dari luar.
Brak!
Pintu terbuka.
Pak Darto sudah tidak ada.
Lina keluar dengan tubuh gemetar.
Ia berlari menuju lift dan turun ke lantai dasar.
Pagi harinya, polisi datang setelah pihak keamanan menemukan Pak Darto tergeletak di tangga darurat dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Ketika polisi memeriksa loteng, mereka menemukan dokumen-dokumen lama yang selama ini disembunyikan.
Kasus penggelapan uang perusahaan akhirnya terbongkar.
Namun ada satu hal yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Pak Darto bersumpah bahwa malam itu ia melihat tiga perempuan berdiri di belakang Lina.
Sementara Lina bersumpah bahwa hanya ada satu.
Maya.
Beberapa minggu kemudian, Lina memutuskan berhenti dari pekerjaannya.
Ia tidak pernah kembali ke gedung itu.
Namun pada malam terakhir sebelum benar-benar meninggalkan perusahaan, Lina menerima sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal.
Pesannya hanya berisi satu kalimat.
“Terima kasih sudah menemukan kami.”
Lina mengira semuanya sudah berakhir.
Sampai ia melihat foto yang dikirim bersama pesan tersebut.
Foto itu memperlihatkan dirinya sedang duduk lembur di depan komputer.
Di belakangnya berdiri tiga perempuan berambut panjang.
Dan di bagian paling belakang foto, ada seseorang yang selama ini tidak pernah Lina lihat.
Seorang wanita keempat.
Wajahnya sangat mirip dengan Lina.
Lina membeku.
Di bawah foto itu terdapat tulisan:
“Sekarang giliran kamu.”
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kejadian di kantor, Lina mendengar suara tawa dari atas rumahnya.
“Hehehehehe...”
Ia perlahan mendongak.
Di atas plafon kamar, terdengar suara langkah kaki berjalan pelan.
Tok... tok... tok...
Lalu suara seorang wanita berbisik.
“Lina...”
Dan sejak malam itu, tidak ada seorang pun yang pernah mengetahui ke mana Lina pergi.
Kamar kontrakannya ditemukan kosong tiga hari kemudian.
Semua barang masih berada di tempatnya.
Ponselnya tergeletak di atas meja.
Layarnya masih menyala.
Pesan terakhir yang tertulis di sana hanya satu.
“Aku sudah menemukan loteng yang baru.”

Posting Komentar