Teror Hantu Suanggi di Hutan Papua

Table of Contents
Teror Hantu Suanggi di Hutan Papua - Cerpen Horor Mania

Legenda Mengerikan Suanggi Papua

Desi adalah seorang mahasiswi cantik asal Jakarta yang baru saja pindah ke Jayapura, Papua, untuk melanjutkan studinya di salah satu universitas negeri ternama di sana. Ia adalah gadis yang penuh semangat dan percaya diri, dengan penampilan yang memikat: tubuh tinggi semampai, kulit kuning langsat, rambut hitam panjang bergelombang, dan tatapan mata yang tajam namun lembut. Banyak mahasiswa laki-laki di kampus langsung jatuh hati padanya, bahkan sebelum mengenalnya lebih dekat.

Namun di balik senyum manis dan penampilan yang memesona itu, Desi menyimpan rasa cemas yang tidak bisa dijelaskan. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di tanah Papua, ia merasa ada sesuatu yang berbeda. Udara di sini terasa berat, bukan karena cuaca tropisnya, tapi karena suasana yang seolah menyimpan rahasia gelap yang sulit dijangkau logika manusia.

Asrama tempat ia tinggal terletak di pinggir hutan. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat pepohonan tinggi menjulang dan kabut tebal yang sering turun menjelang malam. Kadang ia mendengar suara burung hantu bersahutan, atau desiran angin yang membawa aroma tanah basah dan bunga liar. Tapi yang membuatnya tidak tenang adalah perasaan seperti diawasi. Setiap kali ia melangkah keluar kamar malam hari untuk ke kamar mandi, selalu ada bayangan samar di ujung koridor, berdiri diam dan menatapnya.

“Nanda, kamu yakin tempat ini aman?” tanya Desi suatu malam, ketika mereka berdua sedang merapikan kamar. Nanda adalah teman sekamarnya, gadis asli Jayapura yang ramah dan cerewet.

“Aman kok,” jawab Nanda ringan, meski suaranya terdengar sedikit ragu. “Tapi ya… kalau malam Jumat, jangan keluar sendirian aja. Ada cerita dari anak-anak lama.”

“Cerita apa?”

“Katanya, di asrama ini suka muncul perempuan pakai gaun putih. Dulu, katanya, dia mahasiswi yang hilang di hutan belakang kampus. Mayatnya nggak pernah ditemukan. Sejak itu, setiap malam Jumat, suka ada yang lihat sosok perempuan nyanyi di bawah pohon besar belakang asrama.”

Desi mengernyit. “Suanggi?”

Nanda menatapnya heran. “Kamu tahu Suanggi?”

“Cuma pernah baca di internet. Katanya roh jahat yang bisa nyerang manusia, kan?”

“Bukan sekadar jahat. Mereka bisa menipu, menghipnotis, bahkan mengambil jiwa manusia lewat bayangan. Mereka biasanya wanita yang mati dengan penuh dendam.”

Desi tertawa kecil untuk menutupi rasa takutnya. “Ah, paling juga cuma cerita buat nakut-nakutin mahasiswa baru.”

Namun malam itu, ketika lampu kamar sudah dimatikan, Desi sulit memejamkan mata. Dari luar jendela terdengar suara lembut, seperti seseorang bersenandung. Lagu itu aneh, seolah-olah tidak berasal dari dunia ini. Nadanya melengking, tapi indah sekaligus menyayat hati. Ia mencoba menutup telinga dengan bantal, tapi suara itu makin jelas.

“Desiii…”

Desi terlonjak. Ia menatap jendela. Di balik tirai, tampak siluet perempuan berdiri diam. Rambutnya panjang menjuntai, dan gaun putihnya berkibar pelan diterpa angin. Ketika Desi hendak berteriak, sosok itu tiba-tiba lenyap, meninggalkan bayangan kabur dan aroma bunga melati yang menusuk hidung.

Keesokan paginya, Desi tampak pucat. Matanya sembab, seperti kurang tidur. Ia mencoba tidak membicarakan kejadian semalam, tapi sepanjang hari ia merasa tidak tenang. Di kampus, bayangan putih itu seolah mengikuti. Di cermin toilet fakultas, ia sempat melihat pantulan perempuan berdiri di belakangnya. Tapi ketika menoleh, tidak ada siapa-siapa.

Hari demi hari, gangguan itu semakin intens. Buku catatannya sering berpindah tempat, pintu kamar terbuka sendiri, dan parfum yang baru dibelinya pecah tanpa sebab. Suatu malam, ia mendengar seseorang berbisik di telinganya saat ia hendak tidur. “Ikut aku ke hutan, Desi… aku sudah menunggumu.”

Desi terbangun dengan napas terengah. Ia menatap sekeliling, tapi kamar sunyi. Nanda masih terlelap di ranjangnya. Namun dari arah luar, terdengar suara langkah pelan mendekati pintu. Lalu… tiga ketukan perlahan.

Tok… tok… tok…

Desi menahan napas. Siapa yang mengetuk jam dua dini hari? Ia menunggu, tapi suara itu datang lagi, lebih keras.

Tok… tok… tok…

Desi memberanikan diri berjalan ke pintu. Tapi sebelum tangannya menyentuh gagang, dari celah bawah pintu, mengalir cairan merah pekat—darah. Ia menjerit, membangunkan Nanda. Ketika pintu dibuka, tidak ada siapa pun di luar. Tidak ada darah. Hanya udara dingin dan suara hutan yang berdesir.

“Desi, kamu halu,” kata Nanda berusaha menenangkan, tapi matanya sendiri tampak ketakutan. “Mungkin kamu stres aja.”

Desi menggeleng. “Nggak, Ndra. Aku lihat darahnya. Aku juga lihat dia…”

“Dia siapa?”

Desi menelan ludah. “Perempuan itu. Yang di jendela. Dia… datang lagi.”

Beberapa hari berikutnya, Desi mulai kehilangan kendali atas dirinya. Kadang ia berbicara sendiri, kadang tertawa tanpa alasan. Di kelas, ia menatap kosong ke arah pepohonan di luar jendela. Beberapa teman sempat melihatnya berjalan sendirian ke arah hutan pada malam hari, tapi saat mereka mengejar, Desi menghilang begitu saja.

Suatu sore, Nanda menemukan Desi duduk di bawah pohon besar di belakang kampus. Matanya kosong, tangannya menggenggam bunga melati yang sudah layu.

“Desi! Kamu ngapain di sini?”

Desi menoleh perlahan. “Dia tadi di sini, Ndra. Dia bilang dia sendirian. Katanya aku mirip dirinya waktu masih hidup.”

“Siapa dia?”

“Namanya Mera.”

Nama itu membuat Nanda terdiam. Ia tahu kisah Mera. Dulu, Mera adalah mahasiswi yang dikabarkan bunuh diri di hutan belakang kampus karena dikhianati kekasihnya. Setelah kematiannya, banyak mahasiswa mengaku melihat sosok perempuan di sekitar hutan. Sejak itu, orang-orang menyebutnya Suanggi Mera.

Malamnya, Nanda memanggil Pak Elia, seorang dosen tua yang dikenal paham ilmu adat dan spiritual Papua. Ketika melihat Desi, wajah Pak Elia langsung berubah serius. “Anak ini sudah diincar Suanggi,” katanya pelan.

“Apa maksudnya, Pak?” tanya Nanda panik.

“Suanggi biasanya mencari pengganti. Kalau roh perempuan itu sudah memilih korban, dia akan terus mengikuti sampai berhasil membawa jiwanya ke hutan.”

Desi yang duduk di pojok kamar tiba-tiba tertawa pelan. “Aku tidak diincar, Pak. Aku dipilih. Mera bilang aku penerusnya.”

Pak Elia segera merapal doa dalam bahasa daerah, tapi Desi menjerit keras, matanya berubah merah menyala. Semua lampu padam, dan udara di kamar menjadi beku. Suara tertawa perempuan bergema dari luar jendela, diikuti bisikan serempak dari banyak arah. “Dia milik kami…”

Ritual singkat itu gagal. Desi pingsan, dan ketika sadar, ia tidak ingat apa-apa. Tapi di pergelangan tangannya kini ada bekas goresan hitam seperti terbakar.

Keesokan harinya, Pak Elia memutuskan membawa Desi ke rumah adat di tepi hutan untuk menjalani upacara pembersihan. Mereka berangkat pagi-pagi, ditemani beberapa tetua kampung. Dalam perjalanan, Desi menatap keluar jendela, memperhatikan hutan lebat yang seolah memanggilnya.

“Cantik ya, hutannya…” gumam Desi dengan suara lirih.

Pak Elia menatapnya dari kaca spion. “Jangan pandangi hutan itu terlalu lama, Desi. Di sana banyak roh yang tidak suka diperhatikan.”

Desi tersenyum samar. “Tapi dia menungguku di sana.”

Sesampainya di rumah adat, ritual pun dimulai. Dupa dibakar, doa-doa kuno dilantunkan. Para tetua berputar mengelilingi Desi yang duduk di tengah lingkaran. Tapi tidak lama kemudian, Desi berteriak kesakitan. Asap dupa berubah menjadi hitam, dan suara tawa perempuan menggema dari seluruh penjuru ruangan.

“Kalian tidak akan mengambilnya!”

Tubuh Desi terangkat beberapa sentimeter dari lantai. Matanya menatap kosong ke atas, lalu suaranya berubah menjadi berat dan bergema. “Aku Mera. Dan dia adalah aku.”

Pak Elia terus membaca mantra sambil menaburkan air suci, tapi setiap kali air itu menyentuh kulit Desi, terdengar suara mendesis seperti daging terbakar. Dari luar rumah adat, angin berhembus kencang, menggoyangkan pepohonan. Tiba-tiba pintu rumah terbuka, dan beberapa sosok wanita bergaun putih masuk, wajah mereka rusak dan dipenuhi luka.

Desi menatap mereka satu per satu. “Mereka… saudariku,” katanya lembut. Lalu ia berdiri dan melangkah ke arah pintu. Pak Elia mencoba menahannya, tapi Desi mendorongnya hingga terjatuh. Ia terus berjalan keluar, diikuti oleh sosok-sosok putih itu menuju hutan.

“Desi! Jangan!” Nanda berteriak sambil berlari mengejar, tapi begitu melewati batas pepohonan, ia tak melihat apa pun. Hanya kabut tebal dan suara perempuan bernyanyi di kejauhan.

Hujan deras turun malam itu. Petir menyambar, menerangi langit dan hutan. Warga kampung mencari Desi selama dua hari, tapi yang ditemukan hanyalah gaun putihnya yang robek di tepi sungai, dan gelang kecil yang biasa ia pakai di pergelangan tangan.

Semua orang percaya Desi telah menjadi bagian dari para Suanggi. Namun Nanda tidak pernah bisa melupakan tatapan terakhir temannya saat berjalan ke hutan—tatapan damai, seolah akhirnya menemukan tempat yang ia cari.

Tiga bulan kemudian, kampus kembali tenang. Tapi setiap malam Jumat, mahasiswa sering mendengar suara perempuan bernyanyi di belakang gedung asrama. Kadang mereka melihat sosok wanita bergaun putih melayang di dekat jendela lantai dua. Beberapa bahkan mengaku melihat Desi berdiri di bawah pohon besar, menatap ke arah asrama dengan senyum misterius.

Suatu sore, Nanda yang kini tinggal di kamar baru berjalan melewati taman belakang fakultas. Angin berhembus lembut, membawa aroma melati. Tiba-tiba, suara yang sangat ia kenal memanggil namanya dengan lembut.

“Nandaaa…”

Ia menoleh. Di ujung taman, berdiri sosok perempuan bergaun putih. Rambutnya panjang, kulitnya pucat, tapi wajahnya sangat mirip Desi. “Desi?” bisiknya, setengah tak percaya.

Sosok itu tersenyum, lalu berkata pelan, “Aku bahagia sekarang, Ndra… tapi kamu harus hati-hati. Mera belum selesai.”

Sebelum Nanda sempat bertanya, sosok itu memudar perlahan, menghilang di balik kabut senja. Hanya suara nyanyiannya yang tertinggal, bergema lembut di antara pepohonan.

Sejak hari itu, kampus Jayapura dikenal dengan legenda “Suanggi Hutan Papua.” Banyak mahasiswa baru yang dilarang mendekati hutan saat malam, terutama perempuan. Beberapa kali, penjaga kampus mengaku melihat bayangan wanita bergaun putih melintas di tepi hutan sambil tertawa kecil. Dan bagi mereka yang nekat menoleh… katanya akan melihat wajah Desi tersenyum di balik kabut.

Sampai kini, tidak ada yang tahu apakah roh Desi masih terjebak bersama Mera, atau ia sudah menjadi bagian dari kegelapan itu sendiri. Tapi satu hal yang pasti—di hutan Papua yang sunyi, suara nyanyian perempuan masih terdengar, memanggil siapa pun yang lewat.

“Ikut aku ke hutan…”

Dan jika kau mendengar suara itu di tengah malam berkabut… jangan pernah menjawabnya.

Posting Komentar