Hantu di Sekolah Lama di Bandung
Kisah Horor Nyata di Sekolah Tua Bandung
Namaku Vina, seorang siswi kelas XI di sebuah sekolah tua di Bandung. Sekolah ini terkenal bukan hanya karena sejarah panjangnya, tapi juga karena reputasinya sebagai sekolah paling angker di daerah itu. Banyak orang bilang bangunannya sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda, dan dulu sempat dijadikan rumah sakit militer. Tapi buatku, semua itu hanya cerita. Setidaknya, sebelum aku mengalaminya sendiri.
Pagi itu udara Bandung terasa dingin menusuk tulang. Kabut masih menggantung di atas halaman sekolah, sementara lonceng tua di menara utama berdentang pelan. Aku melangkah melewati gerbang besi yang sudah berkarat. Ada rasa aneh yang sulit dijelaskan — seolah ada mata yang memperhatikanku dari balik jendela-jendela tua di lantai dua.
“Vina!” panggil seorang gadis dari belakang. Itu Tania, teman sebangkuku. Rambutnya dikuncir dua, wajahnya cerah meski matahari belum sepenuhnya muncul.
“Kamu datang pagi juga?” tanyaku sambil tersenyum.
“Iya, tadi Ayah nganter sekalian berangkat kerja. Eh, kamu tahu gak, katanya semalam satpam lihat bayangan cewek di koridor musik.”
Aku terkekeh. “Mungkin cuma bayangan lampu atau pantulan kaca.”
Tania menatapku serius. “Kamu belum tahu aja, Vin. Sekolah ini punya banyak rahasia. Katanya ada murid yang mati terbakar di ruang musik waktu kebakaran dua puluh tahun lalu.”
“Namanya Ratna, kan?” sahutku. Aku sudah pernah dengar nama itu dari ibu waktu aku bilang mau pindah sekolah. Ibu bahkan sempat melarangku. Tapi karena nilai dan fasilitas sekolah ini cukup bagus, aku tetap memutuskan masuk.
Tania mengangguk. “Iya. Dan orang-orang bilang, kalau malam Jumat suka terdengar suara piano dari ruangan itu.”
“Ah, paling cuma cerita horor buat nakut-nakutin murid baru.”
“Terserah kamu percaya atau nggak,” katanya dengan nada misterius. “Tapi nanti malam Jumat, coba kamu dengar sendiri.”
Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Aku memang tak percaya hal-hal seperti itu. Tapi malam itu mengubah semuanya.
Hari sudah sore. Teman-teman satu kelas sudah pulang, hanya aku dan beberapa anggota OSIS yang masih di aula. Kami sedang mempersiapkan dekorasi untuk acara pentas seni minggu depan. Aku ditugaskan mengurus bagian hiasan dinding. Setelah selesai, teman-teman pamit pulang lebih dulu karena gerimis mulai turun. Aku memutuskan membereskan peralatan sendirian.
Saat hendak keluar, aku mendengar sesuatu. Nada-nada lembut mengalun dari kejauhan — suara piano. Aku berhenti, menajamkan telinga. Sekolah sepi, tapi jelas sekali suara itu berasal dari arah ruang musik di ujung koridor. Aku menelan ludah. “Mungkin ada guru yang latihan,” pikirku.
Namun saat aku berjalan mendekat, lampu-lampu di lorong redup berkedip seperti kehabisan daya. Setiap langkahku bergema panjang. Semakin dekat aku ke ruang musik, semakin jelas lagu itu — irama klasik yang sedih, seperti lagu duka.
Pintu ruang musik setengah terbuka. Aku mendorongnya perlahan. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya dari jendela. Piano hitam di tengah ruangan tampak berdebu, seperti tak pernah digunakan bertahun-tahun. Tapi jari-jari tak terlihat masih menekan tutsnya. Nada terakhir berhenti mendadak begitu aku masuk.
“Halo? Ada orang?” tanyaku pelan.
Tak ada jawaban. Aku melangkah hati-hati, mendekati piano. Tiba-tiba satu tuts bergerak sendiri dan mengeluarkan suara keras: *TING!* Aku meloncat mundur.
“Tania, jangan bercanda!” seruku panik. Tapi ruangan tetap sunyi. Udara mendadak dingin. Aku merasa seperti ada napas di tengkukku. Saat aku menoleh ke arah kaca besar di sisi ruangan, jantungku nyaris berhenti. Di pantulannya, terlihat wajah pucat seorang gadis dengan rambut panjang menutupi sebagian mukanya, menatap lurus ke arahku dari belakang.
Aku berteriak dan langsung berlari keluar ruangan. Aku tak peduli tas dan barang-barangku tertinggal. Di ujung lorong, aku hampir menabrak Pak Rudi, penjaga sekolah yang sudah berumur.
“Vina? Kenapa kamu lari-lari begitu?”
“Pa... Pak, di ruang musik... ada orang... ada hantu!”
Pak Rudi menatapku lama, lalu berkata pelan, “Kamu lihat dia juga, ya?”
“Maksud Bapak?”
“Gadis itu. Namanya Ratna. Dia memang masih di sini.”
“Tapi... kenapa? Bukannya dia sudah meninggal waktu kebakaran itu?”
Pak Rudi menghela napas panjang. “Tidak semua arwah bisa pergi dengan tenang, Nak. Kadang, mereka menunggu sesuatu.”
“Menunggu apa?” tanyaku.
Ia tak menjawab. Hanya menatap ke arah lorong panjang di belakangku dan berkata lirih, “Kalau kamu dengar piano itu lagi, jangan dekati. Karena dia mungkin sedang mencari seseorang.”
Setelah kejadian itu, aku tak bisa tidur. Bayangan wajah pucat itu terus muncul di kepalaku. Keesokan paginya aku menceritakan semuanya kepada Tania, tapi dia malah terlihat takut.
“Kamu... beneran lihat dia?” tanyanya pelan.
“Iya, aku yakin itu bukan halusinasi.”
Tania menunduk. “Sebenarnya aku juga pernah dengar suara piano itu waktu kelas tujuh. Tapi aku pura-pura gak tahu. Guru-guru di sini gak suka kalau murid ngomong soal Ratna.”
“Kenapa?”
“Katanya, dulu ada guru yang terlibat dalam kematiannya. Tapi kasusnya ditutup. Guru itu sekarang kerja di sini juga... sebagai penjaga.”
Jantungku berdegup keras. “Pak Rudi?”
Tania mengangguk pelan. “Aku denger rumor itu dari orang tua murid lama.”
Malamnya, aku tak tenang. Aku membuka laptop dan mencoba mencari berita lama tentang kebakaran di sekolah itu. Setelah beberapa pencarian, aku menemukan sebuah artikel koran tahun 2003. Di situ tertulis: *“Siswi bernama Ratna (17) tewas terjebak di ruang musik saat kebakaran melanda SMA X di Bandung. Saksi terakhir melihat pintu ruangan itu terkunci dari luar.”* Aku membeku membaca kalimat terakhir itu.
Beberapa hari berikutnya, aku sengaja datang lebih pagi ke sekolah. Aku ingin melihat ruang musik di siang hari, mungkin untuk meyakinkan diriku bahwa semua itu hanya imajinasi. Tapi ketika aku sampai di depan pintu ruangan, aku menemukan sesuatu yang aneh. Ada bekas hangus di lantai dekat piano, seperti bekas terbakar tapi sudah tua. Di atas piano, tergeletak buku catatan dengan sampul cokelat. Aku membuka perlahan. Di dalamnya ada tulisan tangan halus: *“Aku takut. Pak R menatapku lagi hari ini.”*
Halaman berikutnya lebih kacau. Tulisan semakin goyah: *“Aku tidak mau ke ruang musik sore ini... dia menyuruhku tinggal setelah latihan.”*
Darahku berdesir. Huruf “R” itu... pasti “Rudi”. Aku menutup buku itu dengan gemetar. Saat hendak meninggalkan ruangan, tiba-tiba pintu menutup sendiri dengan keras. Aku mencoba membukanya tapi terkunci dari luar. Aku panik. Lalu... terdengar suara tawa lirih perempuan di telingaku. “Kau akhirnya tahu, ya?”
Suara itu datang dari mana-mana. Lampu padam, dan lilin-lilin di atas piano menyala sendiri. Di antara cahaya redup itu, muncul sosok Ratna, mengenakan seragam sekolah yang terbakar di bagian bawah. Wajahnya penuh luka, tapi matanya sedih, bukan marah.
“Aku cuma ingin seseorang tahu kebenarannya,” katanya dengan suara bergetar.
“Kebenaran apa?”
“Pak Rudi yang menutup pintu itu. Dia takut aku akan melaporkannya.”
Air mataku mengalir tanpa sadar. “Jadi dia... membunuhmu?”
Ratna mengangguk perlahan. “Aku tak bisa pergi sampai dia menerima balasannya. Tapi aku butuh saksi, Vina. Kau bisa membantuku.”
“Bagaimana caranya?”
“Tunjukkan catatan itu pada kepala sekolah. Katakan apa yang kau lihat.”
Sebelum aku sempat menjawab, pintu terbuka dengan keras. Pak Rudi berdiri di sana, wajahnya pucat. “Kamu ngapain di sini?!” teriaknya.
“Pak, saya tahu semuanya!” jawabku menantang. “Ratna... dia ingin kebenaran diungkap!”
Wajahnya berubah bengis. “Jangan campuri urusan yang bukan kamu!” Ia melangkah maju, tapi tiba-tiba seluruh ruangan bergetar. Tuts piano menekan sendiri, menghasilkan nada keras yang tak beraturan. Dari belakangnya, muncul bayangan Ratna dengan tubuh terbakar, menatapnya tajam.
“Kau yang menutup pintu itu, Rudi...” bisiknya. “Kau biarkan aku mati di dalam api!”
Pak Rudi menjerit dan mundur, tersandung kursi. “Ampun, Ratna! Aku... aku tidak bermaksud...”
Piano berbunyi semakin keras, seakan menjerit. Api kecil muncul di sekitar ruangan, tapi anehnya tak membakar apapun. Hanya cahaya merah yang menari-nari di udara. Pak Rudi terus mundur sampai terpojok, dan dalam sekejap, sosok Ratna meraih tangannya. Seketika tubuhnya kaku, matanya membelalak, lalu jatuh tak bergerak.
Ketika aku menatap kembali ke arah Ratna, sosoknya mulai memudar. Ia menatapku dan tersenyum. “Terima kasih, Vina. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang.” Lalu, tubuhnya berubah menjadi cahaya putih dan menghilang di udara.
Beberapa menit kemudian, guru-guru datang setelah mendengar teriakanku. Mereka menemukan Pak Rudi tak bernyawa di lantai ruang musik. Polisi menyebutnya serangan jantung. Tapi aku tahu, bukan itu penyebabnya. Ia akhirnya mendapat balasan atas apa yang dilakukannya.
Setelah kejadian itu, sekolah ditutup sementara. Ruang musik dikunci permanen, dan pihak sekolah melarang siapapun mendekatinya. Namun, tiap malam Jumat, warga sekitar masih sering mendengar alunan piano dari dalam gedung itu. Beberapa bahkan bersumpah melihat bayangan gadis duduk di depan jendela ruang musik, memainkan lagu yang sama berulang-ulang.
Beberapa bulan berlalu, aku lulus dari sekolah itu. Tapi kejadian itu masih melekat di pikiranku. Saat upacara perpisahan, aku berdiri di halaman, menatap bangunan tua yang kini terlihat lebih tenang. Di jendela ruang musik, aku melihat siluet Ratna melambaikan tangan, senyumnya lembut. Aku balas melambaikan tangan dengan haru.
Aku kira itu perpisahan terakhir kami. Tapi malamnya, aku bermimpi berada di ruang musik lagi. Di sana ada Ratna duduk di depan piano, memainkan lagu yang sama seperti malam itu. Ia menoleh padaku dan berkata, “Sekarang giliranku pergi, Vina. Tapi tempat ini harus ada yang menjaga...”
“Menjaga?” tanyaku bingung.
Ia tersenyum samar. “Kau sudah melihat terlalu banyak. Sekolah ini memilihmu.”
Aku terbangun dengan keringat dingin. Dari jendela kamarku, samar-samar aku mendengar alunan piano yang sama. Saat aku menatap kaca, pantulanku tampak aneh — senyumku terlalu lebar, mataku seperti milik orang lain.
Semenjak malam itu, aku sering melihat bayangan seseorang berdiri di belakangku di cermin, kadang memakai seragam sekolah lamaku. Kadang aku juga mendengar suara langkah di lorong kosong rumahku, seperti sepatu sekolah yang menyeret pelan di lantai.
Aku mulai takut pada diriku sendiri. Karena setiap malam Jumat, tanpa sadar aku duduk di depan meja belajar, menggerakkan jari-jariku di atas permukaan kayu... seperti memainkan piano yang tak ada di sana. Dan di luar jendela, angin Bandung yang dingin membawa suara yang dulu hanya terdengar di sekolah itu — suara lembut Ratna, berbisik pelan, “Sekarang kau bagian dari kami, Vina.”
Sejak saat itu, tak ada murid yang berani melewati sekolah lama itu malam-malam. Tapi sesekali, warga sekitar masih mendengar alunan lagu sedih dari dalam gedung yang sudah kosong bertahun-tahun. Lagu yang sama... yang dulu dimainkan oleh gadis bernama Ratna — dan mungkin kini oleh seseorang yang baru.
Dan jika kau kebetulan melintas di sekitar sekolah tua di Bandung itu, jangan pernah berhenti mendengarkan. Karena jika kau mendengar irama piano dari ruang musiknya... mungkin salah satu dari mereka sedang memanggilmu untuk bermain bersama.
Tapi ingat — jangan pernah menoleh ke belakang.

Posting Komentar