Bayangan Hitam di Jalan Malioboro

Table of Contents
Bayangan Hitam di Jalan Malioboro - Cerpen Horor Mania

Kisah Horor Penjaga Butik Malioboro

Suasana malam di Jalan Malioboro selalu punya pesonanya sendiri. Lampu-lampu jalan yang temaram, bau khas sate yang terbakar di kejauhan, dan gemericik langkah para wisatawan yang biasanya memenuhi trotoar. Namun malam itu, suasana terasa berbeda. Malioboro begitu sepi, terlalu sepi. Seolah-olah semua kehidupan yang biasa berdenyut di sana tiba-tiba menghilang begitu saja.

Wati, seorang wanita berusia dua puluhan, baru saja menyelesaikan pekerjaannya di “Butik Anggun”, butik busana yang terkenal menjual kebaya dan kain batik eksklusif. Ia bekerja di sana sudah hampir dua tahun, menjadi penjaga toko sekaligus penata manekin di etalase. Malam itu, ia harus lembur karena bosnya memintanya menyiapkan tampilan baru untuk promosi akhir tahun.

“Sial, sudah jam segini aja,” gumam Wati sambil melirik jam dinding di butik yang menunjukkan pukul 23.45. Ia meraih tas kecilnya, mematikan lampu ruangan, lalu menutup rolling door yang berderit pelan. Jalanan di luar tampak kosong. Hanya lampu neon dari toko sebelah yang berkedip-kedip, dan suara radio dari warung ujung gang yang samar terdengar.

Ia menarik napas panjang. “Ya Tuhan, cuma jalan sebentar kok takut,” bisiknya pada diri sendiri. Ia mulai melangkah di trotoar Malioboro yang panjang, melewati deretan toko yang tertutup rapat. Suara langkah kakinya menggema di antara bangunan, membuat bulu kuduknya berdiri. Bayangan tubuhnya yang memanjang di aspal seolah menari mengikuti langkahnya. Tapi... ada sesuatu yang ganjil.

Bayangan itu tidak bergerak sempurna. Kadang berhenti meski ia terus berjalan, kadang menoleh sedikit lebih cepat dari dirinya. Wati mengerutkan kening, mencoba menenangkan diri. “Ah, cuma capek. Bayangan juga bisa kelihatan aneh kalau cahaya lampunya nggak pas.” Ia tertawa kecil, tapi suara tawanya terdengar kaku, dipaksakan.

Beberapa langkah kemudian, ia merasa seperti ada yang mengikutinya. Awalnya samar, seperti langkah kaki yang berjarak beberapa meter di belakangnya. Ketika ia berhenti, suara itu juga berhenti. Ketika ia berjalan lagi, suara itu kembali terdengar. “Siapa?” serunya sambil menoleh cepat. Jalan itu kosong, hanya tiang lampu dan papan reklame tua. Tidak ada siapa pun di sana.

Wati mencoba mempercepat langkah. Namun rasa tidak nyaman itu semakin kuat. Udara sekitar terasa lebih dingin dari biasanya, angin berhembus membawa aroma melati bercampur bau busuk seperti bangkai. Jantungnya mulai berdetak cepat. Ia menoleh ke arah jendela kaca toko di sebelahnya dan hampir menjerit.

Di dalam pantulan kaca itu, di belakang dirinya, tampak sebuah bayangan besar. Bentuknya seperti manusia, tapi tanpa wajah. Tubuhnya hitam pekat, seolah terbuat dari asap. Dan yang paling menakutkan — bayangan itu seolah sedang tersenyum padanya, meski tidak punya mulut.

“Ya Allah...” Wati menoleh cepat ke belakang, tapi tidak ada apa-apa. Ketika ia kembali melihat ke kaca, bayangan itu masih di sana, namun kini lebih dekat — hanya beberapa langkah darinya. “Nggak mungkin...” gumamnya lirih, kakinya gemetar. Ia mundur beberapa langkah, lalu berlari.

Langkahnya terdengar tergesa, sepatu hak datarnya memukul aspal dengan suara berulang. Malioboro yang biasanya terasa hangat kini seperti lorong panjang yang tak berujung. Lampu-lampu jalan di belakangnya padam satu per satu, meninggalkan kegelapan yang mengikuti. Di tengah pelariannya, ia mendengar bisikan halus memanggil namanya.

“Waaatiiii...”

Suara itu pelan tapi jelas, seperti keluar dari dalam kepalanya sendiri. Ia berhenti mendadak dan menatap sekeliling. Tidak ada siapa pun. Ia menelan ludah, tubuhnya menggigil hebat. “Kamu siapa? Jangan ganggu aku!” teriaknya nyaris menangis.

Dari kejauhan, di bawah lampu jalan terakhir yang masih menyala, tampak sosok wanita berpakaian putih berdiri diam. Rambutnya panjang menutupi wajah, tubuhnya sedikit condong ke depan. Wati menatapnya dengan mata melebar. “Mbak... siapa?” katanya dengan suara serak. Sosok itu tidak menjawab, hanya bergerak perlahan mendekat.

Ketika jaraknya hanya beberapa meter, Wati bisa melihat sesuatu yang menggantung di tangan sosok itu — kepala patung manekin butik. Kepala itu persis seperti yang biasa ia gunakan di etalase. Bola matanya kosong, lehernya patah. Sosok wanita itu melempar kepala manekin itu ke arah Wati, yang langsung menjerit dan terjatuh ke belakang. Kepala itu menggelinding di aspal, berhenti tepat di kakinya.

“Astaghfirullah...” Wati menangis. Ia bangkit dan berlari ke arah utara, berharap menemukan pos penjagaan atau pedagang kaki lima yang masih buka. Tapi semakin ia berlari, jalan itu terasa tidak berubah. Toko-toko di kiri dan kanan terlihat sama, seolah ia berputar di tempat yang sama.

Suara gamelan tiba-tiba terdengar pelan dari kejauhan, padahal tak ada pertunjukan apa pun malam itu. Nada-nada gamelan itu mengalun aneh, pelan tapi memikat, seolah menghipnotisnya. Wati merasa langkahnya semakin berat, udara di sekitarnya membeku. Ia menatap ke bawah dan terhenti — bayangannya di tanah tidak mengikuti geraknya. Bayangan itu diam, lalu perlahan bangkit berdiri.

“Apa... apa yang terjadi?” gumamnya ketakutan. Bayangan itu kini berdiri tegak di depannya, menatap langsung ke arahnya. Bentuknya persis seperti dirinya, tapi berwarna hitam pekat, tanpa detail wajah. Ia merasa lututnya lemas.

Bayangan itu berbicara, suaranya berat dan bergema, “Kamu nggak seharusnya di sini, Wati...”

“Kenapa? Siapa kamu?”

“Aku... kamu.”

Wati berteriak dan berlari, kali ini tak peduli arah. Nafasnya terengah, jantungnya seperti mau meledak. Tapi suara langkah bayangan itu terus mengikuti, semakin cepat, semakin keras. Ketika ia menoleh sebentar, ia melihat sesuatu yang tak akan pernah ia lupakan — bayangan itu kini memiliki wajahnya sendiri, tapi matanya kosong dan bibirnya robek lebar ke arah telinga.

“Berhenti!” tiba-tiba terdengar suara berat dari depan. Seorang pria tua berpakaian lurik berdiri di tengah jalan sambil membawa tongkat. Wajahnya tenang tapi tegas. “Jangan lari ke arah situ, Nak!”

“Pak! Tolong saya! Ada yang ngikutin saya!” teriak Wati panik. Ia berlari mendekat, hampir tersandung. Pria itu menatap ke belakangnya, lalu mengetukkan tongkatnya ke tanah tiga kali. Seketika, hawa dingin di sekitar mereka menghilang, dan suara langkah itu berhenti.

“Dia sudah pergi,” kata pria itu pelan.

“Apa itu tadi, Pak?” tanya Wati sambil terisak. “Bayangan hitam itu siapa?”

Pria itu menatapnya lama, lalu menjawab, “Itu bukan cuma bayangan, Nak. Itu penunggu jalan ini. Dulu, ada perempuan yang bekerja di butik, persis seperti kamu. Pulang larut malam, lalu tertabrak becak karena dia berlari dikejar bayangannya sendiri. Sejak itu, arwahnya menampakkan diri setiap kali ada wanita pulang terlalu larut dari Malioboro.”

“Tapi kenapa harus saya, Pak? Saya nggak ganggu siapa pun.”

“Karena kamu mirip dengannya,” jawab pria tua itu lirih. “Nama kamu juga sama — Wati.”

Wati terpaku. “Sama?”

Pria itu mengangguk. “Aku dulu satpam di butik itu. Aku yang menemukan jasadnya waktu itu... di tempat yang sama dengan kamu berdiri sekarang.”

Wati tak sanggup bicara. Air matanya mengalir tanpa sadar. Ia ingin menanyakan lebih banyak, tapi pria tua itu tiba-tiba menatap ke arah lain, lalu berkata pelan, “Pergilah, Nak. Jangan pernah berjalan sendirian lagi di jalan ini setelah tengah malam.”

Ketika Wati hendak mengucapkan terima kasih, pria tua itu sudah tidak ada. Ia menoleh ke kanan dan kiri — kosong. Hanya ada suara angin yang berdesir lembut di antara bangunan. Ia memegangi dadanya yang berdebar, lalu bergegas menuju kos di gang kecil dekat Stasiun Tugu.

Sampai di kos, Wati langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia duduk di lantai, memegangi kepala, mencoba memproses apa yang baru saja terjadi. Namun sesuatu terasa janggal. Lampu kamarnya terang, tapi bayangannya di lantai... tidak ada. Ia menatap ke bawah, menggosok mata, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. Tapi benar — tubuhnya tidak memantulkan bayangan apa pun.

“Kenapa... nggak ada bayangan?” bisiknya pelan. Napasnya memburu. Dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki pelan mendekat. Ia menoleh perlahan — dan di cermin kecil di sudut kamarnya, tampak bayangan hitam berdiri di belakangnya.

Bayangan itu tersenyum, lalu membisikkan sesuatu di telinganya, “Sekarang... giliranmu...”

Wati menjerit histeris. Suaranya bergema di sepanjang lorong kos. Para penghuni lain mengira ia hanya bermimpi buruk, hingga pagi datang dan mereka menemukan kamarnya terbuka lebar. Di dalamnya, tidak ada Wati — hanya bayangan samar di dinding yang menempel di posisi duduk, seperti seseorang yang pernah duduk di sana dan tak pernah pergi.

Kabar itu menyebar cepat. Butik tempat Wati bekerja kembali buka seminggu kemudian, tapi para pegawai baru sering mengeluh karena setiap malam, setelah toko ditutup, mereka selalu mendengar suara perempuan menyanyi lembut di dekat manekin. Salah satu karyawan bahkan melihat bayangan wanita berdiri di etalase, meski lampu toko sudah padam dan pintu terkunci rapat.

Beberapa pedagang kaki lima di sekitar Malioboro juga mengaku sering melihat sosok wanita duduk di depan butik itu setelah tengah malam, mengenakan pakaian kerja rapi dengan name tag bertuliskan “Wati.” Saat mereka coba memanggil, sosok itu hanya menunduk dan menghilang, meninggalkan jejak hitam pekat di lantai yang baru hilang ketika disiram air.

Sejak kejadian itu, warga sekitar mempercayai sebuah pantangan baru: jangan pernah berjalan sendirian di Jalan Malioboro setelah tengah malam, terutama jika kamu bekerja di butik atau toko busana. Karena mungkin saja, bayanganmu bukan lagi milikmu — tapi milik seseorang yang sudah lama menunggu untuk kembali.

Dan ketika lampu jalan Malioboro meredup di tengah malam yang hening, sesekali orang masih melihat sesuatu bergerak di antara pantulan kaca etalase. Bukan manusia, bukan pula bayangan biasa — tapi sosok hitam tanpa wajah, berdiri diam sambil menatap kosong ke arah siapa pun yang berani lewat sendirian.

“Bayangan Hitam di Jalan Malioboro,” begitu warga menyebutnya. Sebuah kisah yang terus hidup di antara lampu-lampu temaram kota Yogyakarta. Dan hingga kini, tidak ada yang tahu... apakah Wati benar-benar menghilang, atau ia hanya berpindah tempat — menjadi bagian dari bayangan yang dulu mengejarnya.

Posting Komentar