Kuntilanak Merah Penunggu Kampung Jemblung

Table of Contents
Kuntilanak Merah Penunggu Kampung Jemblung - Cerpen Horor Mania

Misteri Penunggu Pintu Masuk Jemblung

Namaku Manda, siswi kelas XI SMA negeri di Jonggol, berparas cantik dan manis, itulah orang lain menilaiku. Dari kecil aku terbiasa hidup di lingkungan yang tenang dan penuh gotong-royong. Kampung Jemblung, Desa Sukagalih, tempatku lahir dan tumbuh, adalah kawasan yang terlihat biasa di siang hari, tapi menjadi penuh misteri saat malam tiba. Banyak orang yang melewati pintu masuk kampung pasti melihat makam tua tepat di sisi jalan; makam itu seperti gerbang lain yang memisahkan dunia yang terlihat dan dunia yang tidak.

Orang tua kami selalu mengajarkan sopan santun ketika melewati area makam itu. Jangan memandang terlalu lama. Jangan berkata kasar. Dan jangan berlama-lama di sana. Tapi sebagai anak kecil, aku dulu tidak pernah mempercayai hal-hal seperti itu. Sampai kemudian kejadian-kejadian aneh mulai mengikutiku ketika beranjak remaja.

Gangguan pertama datang saat aku duduk di bangku kelas X. Setiap pulang sore, ketika matahari hampir tenggelam dan bayangan pepohonan semakin panjang, aku selalu mencium bau melati yang sangat menyengat. Tidak seperti melati biasa—bau ini seperti bercampur dengan udara dingin yang menusuk tulang. Fenomena seperti ini mengingatkanku pada kisah Suara Tangisan dari Rumah Lama di Medan, yang juga bermula dari gangguan kecil yang semakin lama makin jelas. Aku pikir itu hanya perasaanku saja. Sampai suatu hari, aku mendengar suara tawa pelan.

“Hi… hii… hiii…”

Seketika bulu kudukku berdiri. Aku menoleh cepat, tapi tidak melihat siapa pun. Yang ada hanya pepohonan rimbun dan makam tua yang tampak semakin gelap karena bayangan senja. Aku mempercepat langkah, tapi suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

“Hi… hi… hiiii…”

Jantungku serasa mau copot. Aku langsung berlari tanpa menoleh ke belakang. Sampai di rumah, ibuku hanya bertanya, “Kenapa kok lari-lari? Ada anjing?” Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Aku tidak ingin membuat orang tua khawatir.

Sejak saat itu, bau melati, suara tawa, dan bayangan gaun merah mulai sering muncul di hari-hariku. Terutama di dekat pintu masuk kampung. Tapi semuanya semakin buruk ketika aku mulai menjalin hubungan dengan seseorang.

Namanya Rendi. Kakak kelas yang terkenal tampan, jago main basket, dan punya pesona bad boy yang membuat banyak siswi jatuh hati. Aku juga salah satunya. Rendi perhatian, suka mengantar pulang, dan sering membuatku tersipu dengan gombalannya. Tapi semakin lama kami berpacaran, semakin terasa ada sisi gelap dalam dirinya.

Rendi sering pulang sangat malam, suka marah tanpa alasan, dan kadang terlalu memaksakan kehendak. Aku berusaha menutup mata, menenangkan diri bahwa dia hanya lelah. Tapi entah kenapa, setiap aku bersamanya, bayangan gaun merah itu sering muncul dari jauh. Seperti mengawasi.

Puncaknya terjadi pada suatu malam ketika Rendi mengantarku pulang. Kami melewati pintu masuk kampung. Udara tiba-tiba berubah dingin. Bau melati menyeruak sangat kuat.

“Eh, Mand… itu apaan?” Rendi tiba-tiba menghentikan motor.

Aku menatap ke depan. Dan di sana, tepat di tengah jalan, berdiri sosok perempuan bergaun merah koyak dengan rambut panjang sampai pinggang, menutupi hampir seluruh wajahnya.

Aku menahan napas. “Jalan, Ren… tolong… jalan.”

Tapi Rendi malah turun dari motor. “Siapa sih lo!? Mau ngapain di sini!?”

Sosok perempuan itu perlahan menoleh. Matanya merah menyala bagai bara. Mulutnya sobek panjang, mengeluarkan suara serak.

“Awaaaaasiiiii…”

Rendi menjerit histeris, buru-buru naik motor dan tancap gas begitu kencang sampai aku hampir terjatuh. Kami tidak berhenti sampai rumahku terlihat di kejauhan.

Sejak malam itu, kuntilanak merah mulai menampakkan diri tidak hanya padaku, tapi juga pada Rendi. Dan berbeda dengan sikapnya padaku, pada Rendi ia selalu muncul dengan cara mengancam.

Di sekolah, aku makin sering melihat bayangannya. Kadang muncul di kaca jendela kelas, kadang berdiri di ujung koridor. Tidak menakut-nakuti, hanya mengawasi. Tapi tatapannya seolah ingin menyampaikan sesuatu.

Sementara itu, sikap Rendi semakin buruk. Dia mudah marah, mulai menghindari tatapanku, dan sering menghilang. Aku mencoba berbicara baik-baik, tapi ia selalu memotong pembicaraan dengan kasar.

Suatu malam, ia datang ke rumah dalam keadaan gelisah dan panik. Tangannya gemetaran saat mengetuk pintu belakang.

“Manda, keluar sebentar! Gue harus ngomong!”

Aku keluar ke halaman belakang. “Ada apa sih, Ren? Kamu kenapa? Mukamu pucet banget.”

“Ada yang ngikutin gue! Dia muncul di jalan pas gue pulang! Sumpah Mand, itu kuntilanak merah itu lagi!”

Aku menelan ludah. “Ren… kamu yakin dia ngikutin kamu karena kamu ngelakuin sesuatu?”

Rendi menatapku marah. “Maksud lo apa!?”

“Aku… cuma tanya.”

Rendi mencengkeram tanganku dengan kasar. “Jangan sok tahu! Lo tuh pacar gue, bukan nyokap gue! lebih baik kita bercumbu saja yuk!”

Tangannya semakin kuat sampai aku meringis kesakitan, aku dipeluknya dari depan, bibirku hampir di lumat olehnya, dalam hatiku ini pemaksaan! untungnya aku selalu menghindar.

“Rendi… apaan sih kamu!”

Tapi sebelum aku sempat berteriak, angin kencang berhembus. Suara tawa melengking terdengar dari pepohonan bambu.

“Hi… hii… hiiii…”

Aku dan Rendi sama-sama menoleh. Sosok gaun merah melayang di atas batang-batang bambu seperti kabut merah yang bergerak.

Matanya menatap tajam ke arah Rendi.

“Jangan sakiti cucukuuuu…” suaranya terdistorsi, seperti berasal dari dua dunia.

Rendi melepas tanganku dan berlari tunggang langgang sampai keluar dari halaman rumah. Aku jatuh terduduk sambil memegangi pergelangan tanganku.

Kuntilanak itu kemudian mendekat padaku. Anehnya, aku tidak merasa takut. Matanya berubah menjadi teduh. Suaranya menjadi lembut.

“Manda… kau harus tahu…”

“Tahu apa…?” suaraku lirih dan bergetar.

“Bahwa laki-laki itu jahat. Dia membawa celaka. Dia berniat buruk padamu… dan pada gadis-gadis lain.” Kata-katanya terasa seperti peringatan dalam kisah Jangan Pernah Percaya Dia, seolah semua tanda bahaya sudah ada di depan mata tapi terlalu lama kuabaikan.

Tubuhku seketika dingin. “Apa maksudmu?”

“Lihatlah…”

Dunia di sekelilingku tiba-tiba memudar. Sekelilingku berubah menjadi gelap. Lalu muncul gambaran-gambaran seperti bayangan di cermin berembun. Aku melihat Rendi… memukul seseorang. Kemudian mendorong motor seseorang. Lalu… aku melihat ia memperlakukan seorang gadis dengan keji.

Aku menjerit dan menutup mulut. “Tidak! Itu… itu bukan Rendi! Dia tidak mungkin begitu!”

Kuntilanak itu berkata pelan. “Dia adalah bajingan. Pencuri motor. Penyerang perempuan. Sudah lama aku mengawasinya. Dan dia mengincarmu, cucuku. Karena itu aku datang.”

Deg.

Kata 'cucuku' menggema di kepala.

“Kau bilang… cucu?”

Sosok itu tersenyum samar. Untuk pertama kali, ia tampak tidak menakutkan. Lebih menyerupai perempuan tua yang bijaksana.

“Aku Nyi Sari. Leluhurmu. Aku mati di kampung ini ratusan tahun lalu. Sejak itu aku menjaga wilayah ini. Tidak semua arwah tinggal karena dendam. Ada yang bertahan karena cinta dan tanggung jawab.”

Aku terpaku, tidak bisa menggerakkan tubuh. Seolah sebagian diriku tahu bahwa kata-kata itu benar. Aku bisa merasakan aura kehangatan aneh dari sosok yang selama ini kukira iblis.

“Kau adalah keturunanku. Salah satu yang terakhir dari garisku. Tidak akan kubiarkan laki-laki buruk binasakan hidupmu.”

Setelah itu dunia kembali normal. Angin berhenti. Suara jangkrik kembali terdengar. Kuntilanak itu perlahan menghilang seperti embun pagi.

Aku menangis terisak tanpa bisa menahan emosi. Semua rasa takut, bingung, dan marah bercampur menjadi satu.

Dalam sedihku, aku melihat ke arah samping, ternyata ada satu warga bernama Kang Bebeng yang melihatku dari tadi.

“Kamu joget-joget sendiri sambil menangis Manda? untung hanya aku yang melihatmu, tutur Kang Bebeng sembari melihat ke arah pepohonan gelap dan tersenyum, membuatku semakin bingung dengan pertanyaan itu.”

Keesokan harinya, seluruh sekolah geger. Ada siswi kelas X ditemukan tak sadarkan diri di semak-semak dekat jalan raya. Pakaian lusuh, tubuh penuh luka cakaran. Saat sadar sebentar, ia hanya sempat menyebut satu hal.

“M-motor… hitam… R… Ren...”

Seluruh tubuhku gemetar. Itu motor Rendi—knalpot besar, warna hitam pekat dengan stiker yang tidak salah lagi.

Aku akhirnya bercerita pada Lala, Dini, Yani dan Omi, mereka sahabatku, tentang semuanya. Tentang bayangan merah, suara tawa, sampai pengakuan Nyi Sari.

Dini langsung memelukku. “Mand… lo harus lapor warga. Ini udah gak wajar.”

Malam itu, Rendi datang ke rumahku sambil ketakutan dan meminta tolong kepada warga. Tanpa sadar, Rendi malah membawa motor curian ke rumahku dan segera di tangkap oleh warga dengan bukti pemilik yang ternyata salahsatu kerabat warga di kampungku.

Aku bercerita pada beberapa warga. Pak Rt Dadang, Kang Bebeng, Mas Alam, hingga Lurah Aja Waridin datang, Mereka saling berpandangan berdiskusi. Salah satu tetua kampung yang paling dihormati, Abah Aji, hanya mengangguk pelan seolah sudah mengharapkan hal ini.

“Nyi Sari memang penjaga kampung ini. Dia tidak pernah muncul di hadapan warga. Kalau sampai dia menampakkan diri pada kamu, berarti kamu dalam bahaya besar, tutur Abah Aji”

Kami akhirnya sepakat menghubungi polisi. Pak Sacep dan Pak Dian yang menjaga Rendi tiba-tiba panik karena Rendi berusaha kabur, tapi sepanjang pelariannya, ia terus berteriak ketakutan.

“Aaaaah!!! Jangan ikutin gue!!! Jangan!!!”

“Bah aya naon iyeu? tangkurak jalma teh mabur gogorowokan, lieur da, tutur Haji Eman”

“Keunting antep Haji Eman, Enggeus atuh Nyi icing! tutur Abah Aji, seperti berbicara pada sosok yang Tak terlihat di pojokan rumah”

Sekdes Heri Herdiana menjelaskan kepada Manda, bahwa banyak saksi mata mengatakan mereka melihat Kuntilanak Merah sering duduk di belakang motor Rendi ketika dia datang ke rumah. Kadang berdiri di tengah jalan menghadangnya. Rendi ini juga seorang kriminal pencuri motor hingga kasus pemerkosaan. Dan, Kang Bebeng juga kemarin melihat Kuntilanak Merah itu di dekatmu lalu terbang ke pepohonan dan mengilang.

“Membuatku ingat akan pertanyaan Kang Bebeng malam itu”

Di tempat lain, sebuah truk hampir menabrak Rendi yang sedang di kejar warga karena ia tiba-tiba berhenti mendadak sambil menutup mata dan menjerit. Polisi akhirnya menangkap Rendi tanpa kesulitan.

Dan malam itu, aku kembali ke pintu masuk kampung.

Di sana, di atas makam tua yang selalu membuatku merinding, berdiri sosok Nyi Sari. Tidak mengerikan. Tidak menakutkan. Hanya… teduh.

"Terima kasih… karena kau mendengarkan," katanya lembut.

"Aku yang berterima kasih," jawabku. "Tanpa kamu… mungkin aku sudah—"

Ia mengangkat tangan. "Tidak apa, cucuku. Mulai sekarang, jalanmu akan lebih tenang. Aku akan tetap menjaga kampung ini. Menjaga kau… dan garis keluarga kita."

Sosok itu kemudian perlahan menghilang, seperti larut dalam udara senja. Dan yang tersisa hanya bau melati yang lembut, tidak lagi mencekam—tapi seperti pelukan seorang nenek pada cucunya.

Sejak saat itu, kuntilanak merah tidak pernah lagi muncul dengan cara mengganggu. Tidak ada lagi suara tawa menyeramkan atau sosok gaun merah di kejauhan. Tapi setiap kali aku melewati pintu masuk kampung Jemblung, aku selalu merasakan hal yang sama.

Seseorang sedang mengawasiku.

Bukan untuk menakut-nakuti.

Tapi untuk melindungi.

Dan aku tahu… Nyi Sari tetap ada di sana. Penjaga abadi kampung Jemblung. Nenek buyutku yang tidak pernah pergi.

Cerita ini bukan dibuat untuk menakuti siapa pun. Tapi untuk mengingatkan bahwa tidak semua arwah datang membawa petaka. Ada yang datang membawa peringatan, perlindungan, dan kasih sayang yang tidak pernah padam meski dunia sudah berubah.

"Aku Manda, kisah nyata ini telah aku publikasikan lewat media penulis Alamnovski"

Tamat.

Posting Komentar