Penunggu Sumur Tua di Belakang Kontrakan
Teror Hantu Sumur Kontrakan Bekasi
Nama aku Vina, 17 tahun, siswi kelas XI yang sedang menjalani PKL di sebuah toko fashion di Mall Metropolitan Bekasi. Seharusnya hari-hariku hanya diisi rutinitas sekolah, laporan PKL, dan bermain bersama teman-temanku. Tidak ada sedikit pun kubayangkan hidupku berubah menjadi mimpi buruk sejak aku tinggal di sebuah kontrakan tua yang menyimpan rahasia mengerikan.
Kontrakan itu terletak tidak jauh dari mall, sekitar 10 menit naik angkot. Bagian depannya biasa saja — cat putih sedikit mengelupas, pagar besi berderit jika dibuka. Namun bagian belakangnya… seperti tempat lain yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Di sana terdapat halaman liar dipenuhi rumput tinggi, pohon rindang gelap, dan satu benda yang langsung mencuri perhatian: sumur tua, tua sekali, lapuk, dan penuh lumut.
Saat pertama kali mengantar kunci, pemilik kontrakan sempat berkata padaku: “Jangan ke belakang setelah Maghrib. Kalau dengar suara orang manggil, jangan jawab.” Wajahnya tegang saat mengucapkannya, seperti menahan sesuatu. Aku hanya menganggap itu nasihat orang tua untuk menakut-nakuti anak kontrakan baru. Aku bahkan menertawakannya dalam hati. Tapi semua penyesalan datang terlambat.
Malam pertama, aku bermimpi sangat jelas. Seolah aku sedang berjalan di halaman belakang kontrakan. Udara dingin mencekik. Aku merasa dipaksa melangkah ke arah sumur tua, meski dalam hati aku ingin pergi. Saat aku mendekat, suara gemericik air terdengar pelan. Kemudian muncul tangan kotor pucat yang meraih bibir sumur… lalu kepala…. lalu tubuh wanita bergaun putih, rambut panjang menutupi seluruh wajahnya.
Ia tidak bersuara. Ia hanya menatapku dari balik rambutnya. Kepalanya miring perlahan, seperti mempelajari wajahku. Lalu terdengar suara lirih, meski bibirnya tidak bergerak: “Tunggu aku…”
Saat ia merangkak ke arahku, aku terbangun sambil menjerit. Dadaku sesak. Nafasku tercekat. Aku tidak bisa tidur lagi malam itu, meski aku mencoba menganggapnya hanya mimpi.
Pagi harinya aku mencoba melupakan kejadian itu dan fokus pada pekerjaan PKL. Hari berjalan normal sampai aku masuk ruang stok sendirian untuk mengecek barang. Tiba-tiba terdengar suara lembut memanggil namaku.
"Vinaa…"
Suara itu seperti datang dari samping telingaku, padahal tidak ada siapa pun di ruangan selain aku. Aku menoleh, tapi ruangan kosong. Aku takut, tapi mencoba mengabaikan. Saat aku berbalik untuk melanjutkan pendataan, tumpukan kardus di pojok bergerak sendiri. Satu per satu jatuh, bukan roboh… tetapi seperti ada sesuatu yang merangkak dari baliknya.
Dari celah kardus muncul ujung rambut hitam. Rambut itu bergerak dengan lambat… seolah ada kepala yang merayap keluar.
Aku berlari keluar ruangan sambil menangis. Supervisorku mengira aku hanya kelelahan. Tapi aku tahu apa yang kulihat bukan halusinasi.
Malam itu, suara timba sumur terdengar dari halaman belakang. Cethak… cethak… seperti ada yang sedang menimba air. Dengan ketakutan, aku mengintip lewat jendela.
Aku melihat wanita dalam mimpi itu berdiri di depan sumur. Tangannya menarik tali timba dengan gerakan patah dan kaku. Setelah timba naik, ia menuangkan air ke tanah sambil perlahan menoleh ke arahku, meski wajahnya tertutup rambut. Suara langsung terdengar jelas, seperti ia persis di belakangku:
“Aku sudah keluar.”
Aku jatuh terduduk karena shock. Aku tahu hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah itu.
Hari-hari berikutnya menjadi siksaan. Di dalam kamar mandi, air keran berubah menjadi hitam pekat berbau anyir. Saat aku berkumur di wastafel, aku merasa sesuatu seperti rambut tersangkut di tenggorokanku. Di cermin, aku melihat sosok wanita itu berdiri tepat di belakangku.
Aku mulai kehilangan fokus di tempat PKL. Aku berkali-kali salah memasukkan data. Staf lain menegurku. Tapi rasa takut terus membuntuti. Suatu hari di toilet mall, aku mendengar suara keran menyala sendiri. Saat aku membuka pintu bilik, wanita bergaun putih itu berdiri di depan cermin dengan kepala tertunduk. Tidak ada orang lain di sana.
Aku menutup pintu sambil menangis, duduk di lantai, menggigil sampai seseorang menemukan aku dan membawaku keluar.
Aku tidak sanggup menanggung beban ini sendirian. Aku akhirnya menceritakan semuanya pada teman PKL-ku, Dilla, satu-satunya yang aku percaya.
“Lo yakin bukan halusinasi?” tanya Dilla pelan.
“Gue lihat dia jelas banget. Gue dengar suara dia. Dia ngikutin gue.” air mataku keluar tanpa bisa kucegah.
Dilla tampak berpikir lama lalu berkata, “Gue pernah dengar cerita tentang sumur di belakang kontrakan itu. Katanya dulu ada perempuan yang bunuh diri di situ karena dikhianati suaminya. Ceritanya bahkan pernah dibandingkan sama kisah Kampung Seribu Hantu Tirta Asih yang sama-sama terkenal angker. Kabarnya, dia suka ngikutin cewek yang tinggal sendirian di kontrakan itu.”
Aku semakin ketakutan. Apa dia menganggap aku sebagai “pengganti”? Atau “teman”?
Malam itu, aku berusaha tidak tidur. Tapi jam 2 malam, lampu kamarku padam sendiri, dan tubuhku seperti lumpuh. Aku melihat wanita itu duduk di ujung kasurku.
Ia menengadah perlahan, rambutnya tersingkap sedikit. Kulitnya pucat membiru. Matanya hitam tanpa bola mata. Bibirnya robek seperti dipaksa tersenyum.
“Aku milikmu,” katanya.
“KENAPA KAMU IKUTI AKU!?” aku berteriak.
“Kamu menjawab panggilanku,” jawabnya. “Kamu sudah memilihku.”
Tiba-tiba ia mencengkeram lenganku. Tangannya sangat dingin, seperti memegang es batu. Aku menjerit dan terbangun. Tapi bekas cincin jari merah membiru jelas terlihat di lenganku. Itu bukan mimpi.
Aku memutuskan pindah untuk sementara ke rumah Dilla. Awalnya tenang, sampai tengah malam seseorang menggedor pintu kamarnya sangat keras. Suara wanita itu terdengar lagi.
“Vinaaa… buka pintunya. Kamu harus ikut aku ke sumur.”
Aku dan Dilla ketakutan. Pintu tiba-tiba terbuka, padahal sudah dikunci rapat. Wanita itu berdiri di ambang pintu. Semua lampu rumah mati bersamaan. Tubuhnya bergerak seperti boneka rusak, melangkah ke arahku sambil menyeret kaki.
Dilla pingsan. Aku tidak bisa bicara. Aku hanya menangis tanpa suara. Wanita itu meletakkan tangannya di kepalaku dan berbisik:
“Sudah waktunya pulang.”
Saat aku tersadar, aku sudah berada di halaman belakang kontrakan. Di depan sumur tua itu. Wanita itu berdiri di belakangku, mendorong tubuhku ke bibir sumur.
“Temani aku,” katanya. “Aku sendirian di sini terlalu lama.”
Kakiku sudah tergantung. Aku hampir terjatuh. Aku menjerit sekuat mungkin.
Tiba-tiba ada yang menarikku dari belakang. Pak Darto, penjaga kontrakan, menarik tubuhku kuat-kuat sambil membaca doa panjang. Wanita itu menjerit kencang, tubuhnya menghitam seperti terbakar, lalu menghilang menjadi asap hitam.
Aku menangis sejadi-jadinya. Pak Darto memegangi bahuku dengan tatapan serius.
“Kamu harus pergi dari sini. Kalau kamu kembali, dia akan menjemputmu lagi. Dia tidak pernah melepas orang yang sudah menjawab panggilannya.”
Hari itu aku pindah dengan membawa semua barangku. Aku berhenti PKL dan pulang ke rumah orang tua. Semua orang berpikir aku hanya sakit dan stres. Tidak ada yang akan percaya ceritaku.
Tiga bulan berlalu tanpa gangguan. Aku mulai tenang. Aku mulai bisa tertawa lagi. Aku yakin semua sudah selesai.
Sampai suatu malam, seseorang mengirim foto anonim ke ponselku. Foto halaman belakang kontrakan dengan sumur tua. Dari bibir sumur terlihat rambut panjang tergantung di timbanya… seolah sedang menunggu.
Pesan kedua menyusul:
“Aku masih menunggumu pulang.”
Aku membuang ponselku ke lantai karena ketakutan. Tapi malam itu aku tak bisa tidur. Aku terus merasa diperhatikan.
Saat aku bercermin sebelum tidur, aku melihat ada sehelai rambut panjang hitam menempel di bahuku. Bukan rambutku — rambutku jauh lebih pendek.
Sebelah telingaku terdengar suara lirih, sangat jelas, seolah ia berdiri tepat di belakangku:
“Sumur tidak lengkap tanpa kamu…”
Aku menutup telinga, menjerit, meminta semuanya berakhir. Aku bahkan berpikir lebih baik mati daripada terus dibuntuti seperti ini.
Keesokan harinya aku pergi ke ustaz di kampung untuk mencari pertolongan. Beliau mendengarkan ceritaku tanpa memotong. Matanya berkaca-kaca, seakan memahami apa yang terjadi.
“Anak ini bukan sekadar diganggu,” katanya pada ibuku. “Arwah perempuan itu sedang menuntut keterikatan. Ia ingin menggantikan dirinya dengan perempuan lain. Bila tidak diputus, arwah itu akan menjemputnya kembali suatu hari nanti.” Kata-katanya mengingatkanku pada kisah Jeritan Malam dari Sang Mantan, tentang roh yang terbelenggu oleh rasa kehilangan dan cinta yang berubah menjadi dendam.
Aku menangis histeris. “Apa aku bisa bebas?”
Ustaz itu menggeleng pelan. “Selama kamu hidup, kamu akan selalu menjadi target. Tapi hubungan itu bisa diperlemah agar ia tidak bisa mengambilmu secara langsung.”
Ia membacakan serangkaian doa panjang sambil memegang kepalaku. Tubuhku terasa sangat berat, lalu aku merasakan sesuatu keluar dari tubuhku — seperti kabut dingin, jahat, penuh kebencian. Aku juga mendengar suara wanita bergaun putih itu menjerit marah jauh di kejauhan.
Ustaz itu memandangku. “Sekarang dia jauh. Tapi dia tidak pergi. Kalau kamu kembali ke sumur itu… dia akan selesai menjemputmu.”
Hari-hari berlalu lebih tenang — sampai malam kemarin.
Aku bermimpi berada di sumur lagi, tapi kali ini wanita itu tidak muncul. Yang ada hanyalah suara rintihan sedih.
“Kamu janji akan kembali…”
Aku tidak menjawab. Aku berlari dalam mimpi. Tapi suara itu mengejarku.
“Kamu… milikku…”
Saat aku terbangun, lenganku kembali terdapat bekas cengkeraman seperti sebelumnya. Aku terdiam lama, tanpa suara, karena aku tahu apa artinya itu:
Dia masih bisa mencapainya.
Aku menulis ini bukan untuk mencari perhatian. Aku hanya ingin meninggalkan jejak jika suatu hari aku… menghilang. Jika suatu hari aku tidak kembali ke rumah, tolong… jangan cari aku ke kontrakan itu. Jangan cari aku di sumur itu.
Karena jika aku berada di sana… berarti dia akhirnya berhasil membawaku.
Dan kalau kamu membaca cerita ini lalu suatu malam kamu mendengar namamu dipanggil… jangan jawab.
Karena kalau kamu menjawab… maka kamu akan menjadi miliknya berikutnya.

Posting Komentar