Bayangan Misterius di Kamar Ibu
Teror Bayangan Putih di Lombok
Namaku Aulia. Aku siswi kelas dua SMA di Lombok Tengah, tinggal di sebuah rumah sederhana yang berdiri agak jauh dari jalan raya. Rumah itu sudah kutempati sejak kecil bersama ibu dan ayah. Namun sejak ayah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan laut, suasana rumah berubah menjadi sunyi dan berat, seolah ada sesuatu yang tertinggal dan tak pernah benar-benar pergi.
Setiap sudut rumah menyimpan kenangan tentang ayah. Kursi kayu tempat ia biasa duduk sambil merokok di sore hari masih ada di teras. Jam dinding tua di ruang tengah masih berdetak, jam yang dulu selalu ia betulkan jika bunyinya mulai melambat. Sejak ayah pergi, jam itu sering mati sendiri, lalu berdetak kembali tanpa disentuh siapa pun.
Ibu jatuh sakit enam bulan setelah kepergian ayah. Awalnya hanya batuk biasa, lalu demam yang datang dan pergi. Sampai akhirnya dokter di puskesmas bilang paru-parunya lemah dan ibu harus banyak istirahat. Sejak itu, ibu lebih sering berbaring di kamar belakang, kamar yang dulu jarang kupakai karena selalu terasa dingin dan pengap meski jendela terbuka.
Kamar itu berada di ujung rumah, berdinding kayu tua. Cat putihnya sudah menguning, mengelupas di beberapa bagian. Lantainya dari semen kasar yang selalu terasa dingin di telapak kaki. Di sanalah ibu menghabiskan hari-harinya. Aku yang merawat ibu sepulang sekolah, memasakkan makanan, menyuapinya, dan menemani tidur saat malam.
Setiap kali aku masuk ke kamar itu, perasaanku selalu tidak nyaman. Seperti ada mata lain yang ikut mengawasiku dari sudut-sudut gelap, mengingatkanku pada kisah Penampakan Wajah di Pohon Tua yang pernah membuat warga sekitar gempar. Aku sering menoleh tiba-tiba, memastikan tak ada siapa-siapa selain aku dan ibu. Namun rasa diawasi itu tak pernah hilang.
Awalnya aku tidak merasa aneh. Sampai suatu malam, sekitar pukul sebelas, saat aku hendak mengambil air minum di dapur.
Rumah kami di Lombok memang sunyi di malam hari. Tetangga terdekat berjarak cukup jauh. Suara jangkrik dan angin laut yang samar menjadi satu-satunya teman di malam-malam panjang. Lampu rumah sengaja kupadamkan sebagian untuk menghemat listrik, hanya menyisakan lampu kecil di ruang tengah.
Aku melewati pintu kamar ibu yang sedikit terbuka. Lampu di dalam kamar mati. Hanya cahaya rembulan yang masuk melalui jendela, membentuk bayangan samar di lantai.
Di situlah aku melihatnya.
Sebuah bayangan putih berdiri di sudut kamar.
Aku berhenti melangkah. Jantungku berdegup keras. Bayangan itu tinggi, kurus, seperti seorang wanita mengenakan kain putih panjang. Rambutnya hitam terurai menutupi wajah. Tubuhnya tampak samar, seperti kabut yang memadat.
Aku menelan ludah. "Bu?" panggilku pelan.
Tidak ada jawaban.
Bayangan itu tidak bergerak. Diam, namun terasa seperti sedang menatapku. Dadaku sesak, napasku terasa pendek. Aku ingin berlari, tapi kakiku seolah terpaku di lantai.
Aku mundur perlahan, kakiku gemetar. Saat aku berkedip, bayangan itu menghilang. Sudut kamar kembali kosong, hanya ada lemari tua dan kursi kayu yang biasa kupakai duduk menemani ibu.
"Cuma capek," gumamku mencoba menenangkan diri, meski tenggorokanku kering.
Namun malam itu aku tidak bisa tidur. Setiap suara kecil membuatku terlonjak. Bayangan putih itu terus terngiang di kepalaku, berdiri diam seperti patung.
Sejak kejadian itu, bayangan putih itu terus muncul. Kadang saat aku mengganti baju ibu. Kadang saat aku duduk di lantai membaca buku pelajaran sambil menemani ibu tidur. Selalu di kamar itu. Selalu diam.
Yang membuatku semakin takut, bayangan itu tak pernah muncul di tempat lain. Hanya di kamar ibu. Seolah kamar itu adalah dunianya.
Aku mulai sering mimpi buruk. Dalam mimpiku, aku berdiri di depan kamar ibu, sementara dari dalam terdengar suara napas berat bercampur isak tangis.
"Aulia…" suara itu memanggil namaku.
Setiap kali aku membuka pintu kamar dalam mimpi, yang kulihat hanyalah kegelapan pekat dan bau anyir yang menusuk hidung.
Aku terbangun dengan keringat dingin. Bajuku basah. Kadang aku mendapati diriku berdiri di depan pintu kamar ibu tanpa sadar, seperti berjalan dalam tidur.
Suatu sore sepulang sekolah, aku memberanikan diri bertanya pada ibu. Wajah ibu terlihat semakin tirus. Matanya cekung, namun tatapannya sering kosong, seolah melihat sesuatu yang tak bisa kulihat.
"Bu… dulu sebelum sakit, ibu pernah lihat sesuatu di kamar ini?" tanyaku hati-hati.
Ibu menoleh pelan. "Kenapa kamu tanya begitu, Lia?"
Aku ragu sejenak. "Aku sering merasa… ada yang berdiri di sudut kamar. Bayangan putih."
Ibu terdiam lama. Tangannya mencengkeram selimut. Napasnya memburu.
"Kamu jangan ngomong begitu lagi," katanya akhirnya. Suaranya bergetar. "Jangan pernah menyebut-nyebut kamar ini."
"Kenapa, Bu?"
Ibu menutup mata. "Dulu, sebelum kamu lahir… kamar ini bukan kamar tidur."
Aku menahan napas. Jantungku kembali berdebar kencang.
"Ini kamar tempat ibumu dulu menyimpan banyak hal," lanjutnya lirih. "Hal-hal yang seharusnya tidak disimpan."
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi ibu tiba-tiba batuk keras sampai tubuhnya terguncang. Aku panik dan segera memberinya minum. Pembicaraan itu terhenti begitu saja, meninggalkan rasa takut yang semakin dalam.
Malam-malam berikutnya menjadi semakin berat. Ibu sering mengigau, menyebut nama ayah, lalu menangis. Kadang ia bicara sendiri, menatap sudut kamar sambil tersenyum aneh.
Suatu malam, bayangan itu muncul lagi. Kali ini lebih dekat.
Aku sedang duduk di samping tempat tidur ibu, memijat kakinya. Lampu kamar menyala redup. Ibu tertidur dengan napas berat.
Tiba-tiba hawa dingin menyentuh tengkukku. Bulu kudukku berdiri.
Aku menoleh.
Bayangan putih itu berdiri tepat di belakangku.
Aku menjerit. "Allahu Akbar!"
Bayangan itu tidak menghilang. Ia justru bergerak perlahan ke arah tempat tidur ibu. Langkahnya tidak terdengar, tapi setiap gerakannya membuat udara semakin dingin.
"Jangan!" teriakku sambil menangis.
Bayangan itu berhenti. Untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya. Pelan, parau, seperti bisikan angin yang keluar dari liang kubur.
"Dia memanggilku…"
Aku jatuh terduduk. Tubuhku lemas tak bertulang.
"Siapa kamu?" tanyaku dengan suara bergetar.
Bayangan itu mengangkat kepalanya. Wajahnya masih tertutup rambut, tapi aku bisa melihat kulit pucat di baliknya.
"Aku… bagian dari ibu."
Lampu kamar tiba-tiba mati. Aku menjerit histeris. Dalam gelap, aku mendengar suara napas berat dan tawa lirih.
Saat lampu menyala kembali, bayangan itu sudah lenyap. Ibu terbangun, terengah-engah, keringat dingin membasahi wajahnya.
"Kamu lihat dia, ya?" tanya ibu lirih.
Aku mengangguk sambil menangis, tak mampu berkata apa-apa.
Ibu menarik tanganku. Genggamannya dingin. "Maafkan ibu, Lia…"
Malam itu ibu bercerita panjang lebar. Dulu, sebelum menikah, ibu pernah melakukan perjanjian dengan seseorang yang mengaku bisa memberi perlindungan dan kekuatan, mirip dengan Kisah Bajang, Arwah Anak-Anak yang sering dikaitkan dengan perjanjian gelap dan ikatan tak kasatmata. Ia takut hidup miskin, takut ditinggalkan, takut sendirian.
"Ibu tidak tahu kalau yang dipanggil bukan penjaga, tapi sesuatu yang menumpang," katanya dengan mata berkaca-kaca. "Saat ibu hamil kamu, ibu mencoba menghentikannya. Tapi dia sudah terikat."
Aku menggigil. "Jadi bayangan itu…"
"Ia bagian dari hidup ibu. Dan sekarang… dia ingin kembali," jawab ibu lirih.
Sejak malam itu, kondisi ibu semakin memburuk. Ia sering bicara sendiri, tertawa tanpa sebab, lalu menangis histeris. Tubuhnya semakin kurus, seolah ada sesuatu yang menghisap tenaganya perlahan.
"Dia berdiri di sana, Aulia," katanya suatu malam sambil menunjuk sudut kamar. "Dia menunggu."
Aku tak tahan lagi. Dengan sisa keberanian, aku menghubungi pak ustaz di desa sebelah. Beliau dikenal sering membantu orang-orang yang mengalami gangguan seperti ini.
Ustaz datang malam Jumat membawa air doa dan kitab kecil. Saat beliau mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, angin kencang berhembus meski semua jendela tertutup. Tirai berkibar liar.
Bayangan putih itu muncul di sudut kamar. Kali ini wajahnya terlihat jelas.
Wajah itu… mirip ibu. Matanya kosong, bibirnya tersenyum aneh.
Aku menjerit. "Bu!"
Bayangan itu menoleh ke arahku. "Anak manis…" katanya lirih.
Ustaz mengeraskan bacaan. Bayangan itu menjerit melengking. Suaranya memekakkan telinga, membuat kaca jendela bergetar.
"Dia milikku!"
Ibu berteriak dari tempat tidur. "Ambil aku saja! Jangan anakku!"
Bayangan itu menoleh ke ibu. "Sudah waktunya," katanya dingin.
Tiba-tiba ibu kejang hebat. Tubuhnya melengkung tak wajar. Aku berusaha memeganginya, menangis sambil memanggil namanya.
Dalam sekejap, semua lampu padam.
Hening.
Saat lampu kembali menyala, bayangan itu sudah tidak ada. Ibu terbaring diam, matanya terbuka menatap kosong ke langit-langit.
"Bu…?" panggilku pelan.
Tidak ada napas.
Ibu meninggal malam itu.
Setelah pemakaman, rumah terasa kosong dan lebih sunyi dari sebelumnya. Aku memutuskan tetap tinggal sementara menunggu paman datang menjemputku. Setiap malam aku tidur dengan lampu menyala, takut akan bayangan putih itu.
Kamar ibu terkunci. Aku tidak pernah membukanya lagi. Namun aku sering mendengar suara dari dalamnya. Suara langkah pelan, suara kain diseret di lantai.
Pada malam ketujuh, aku terbangun oleh suara pintu berderit. Dari arah kamar ibu.
Pintu kamarku terbuka perlahan.
Bayangan putih berdiri di ambang pintu.
Kali ini, wajahnya bukan lagi mirip ibu.
Wajah itu adalah wajahku sendiri.
"Sekarang giliranmu menjaga kamar ini," katanya sambil tersenyum.
Sejak malam itu, aku tidak pernah keluar dari rumah lagi.
Dan jika suatu hari kamu berkunjung ke Lombok dan melihat rumah tua dengan kamar belakang yang selalu tertutup, jangan pernah mencoba membukanya.
Karena bayangan itu masih ada.
Menunggu.

Posting Komentar