Penampakan Wajah di Pohon Tua

Table of Contents
Penampakan Wajah di Pohon Tua - Cerpen Horor Mania

Teror Pohon Angker di Cibubur

Namaku Vani. Usia tujuh belas tahun. Seorang siswi SMA yang baru saja pindah ke Cibubur bersama kedua orang tuaku. Perpindahan ini bukan keinginanku, tapi tuntutan pekerjaan Ayah yang membuat kami harus meninggalkan rumah lama di Depok. Awalnya aku pikir ini hanya soal adaptasi sekolah baru dan lingkungan baru. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa keputusan pindah rumah itu justru menyeret kami ke dalam teror yang tak pernah kami bayangkan sebelumnya.

Rumah baru kami terletak di ujung sebuah kompleks perumahan yang masih setengah jadi. Banyak rumah kosong, lampu jalan tidak semuanya menyala, dan suasananya sunyi bahkan di siang hari. Di belakang rumah, terdapat sebidang tanah kosong yang berbatasan langsung dengan sisa hutan kecil. Di sanalah berdiri sebuah pohon tua yang ukurannya mencolok. Batangnya besar, daunnya lebat, dan akarnya menjalar ke mana-mana seperti urat nadi raksasa yang mencengkeram tanah.

Sejak hari pertama pindah, aku sudah merasa tidak nyaman dengan pohon itu. Ada perasaan seperti sedang diperhatikan setiap kali aku berada di halaman belakang. Tapi aku memilih diam. Aku tak ingin dianggap berlebihan atau penakut.

Hari-hari pertama berjalan normal. Aku mulai bersekolah di SMA baruku, mencoba beradaptasi dengan teman-teman, meski rasa asing masih melekat. Hingga suatu sore, saat aku membantu Ibu membersihkan halaman belakang, kejadian itu terjadi.

Matahari hampir tenggelam. Langit berwarna jingga kemerahan. Aku menyapu daun kering di dekat pohon tua itu ketika pandanganku tertuju pada sesuatu yang aneh di batangnya. Awalnya terlihat seperti noda hitam tidak beraturan. Tapi semakin aku mendekat, dadaku terasa sesak.

Itu wajah.

Wajah manusia yang terukir jelas di batang pohon. Matanya cekung dan hitam, hidungnya mancung tapi terlihat patah, mulutnya menganga seperti sedang berteriak tanpa suara. Ekspresinya begitu menyiksa, penuh amarah dan penderitaan.

“Ibu…” panggilku pelan, suaraku bergetar.

Ibu mendekat dan langsung menjerit kecil. “Ya Allah…”

Ayah yang mendengar teriakan kami segera datang. Begitu melihat batang pohon itu, wajahnya langsung berubah tegang.

“Mungkin cuma bentuk alami kayu,” katanya mencoba rasional, meski jelas ia sendiri tidak yakin.

Malam itu, Ayah mengambil pisau besar dari dapur. Dengan senter di tangan, ia mengikis bagian batang pohon yang menyerupai wajah tersebut. Serpihan kulit kayu berjatuhan. Perlahan, bentuk wajah itu menghilang.

“Sudah. Tidak ada apa-apa,” kata Ayah sambil tersenyum tipis.

Aku ingin percaya. Ibu juga mencoba menenangkan diri. Kami masuk ke rumah dan mengunci pintu rapat-rapat.

Namun pagi berikutnya, ketenangan itu hancur.

Saat aku membuka jendela kamarku yang menghadap ke belakang rumah, jantungku seolah berhenti berdetak. Wajah itu muncul lagi di batang pohon. Kali ini lebih jelas. Lebih dalam. Bahkan seperti sedikit berubah ekspresi, seolah sedang tersenyum tipis.

Sejak saat itu, kejadian aneh terus berulang. Setiap pagi, Ayah menghapus wajah tersebut. Setiap sore atau malam, wajah itu muncul kembali. Tidak pernah gagal. Tidak pernah terlambat.

“Ini tidak normal,” kata Ibu suatu malam sambil memeluk tasbih. “Ini pasti bukan hal biasa.”

Teror mulai merambat ke dalam rumah.

Setiap malam aku mendengar suara langkah di halaman belakang. Kadang suara ranting patah, kadang suara seperti seseorang menghela napas panjang tepat di balik tembok kamarku. Lebih mengerikan lagi, sering terdengar bisikan memanggil namaku, mengingatkanku pada kisah Suara Tangisan dari Rumah Lama di Medan, di mana tangis arwah juga menjadi pertanda teror yang perlahan menguasai rumah penghuninya.

“Vani…”

Suara itu lirih, seperti suara perempuan yang menahan tangis.

Aku sering terbangun tengah malam dengan tubuh kaku dan keringat dingin. Lampu kamar sering berkedip sendiri. Cermin di lemari kadang terasa seperti memantulkan bayangan yang bukan milikku.

Suatu malam, sekitar pukul dua dini hari, aku terbangun karena merasa ada yang memperhatikanku. Dengan jantung berdebar, aku menoleh ke arah jendela. Tirai sedikit terbuka.

Di luar sana, di dekat pohon tua itu, berdiri sesosok perempuan.

Rambutnya panjang menjuntai menutupi sebagian wajah. Gaunnya putih tapi kotor, robek di beberapa bagian. Ia berdiri membelakangi rumah. Perlahan, ia menoleh.

Wajahnya sama persis dengan wajah di pohon.

Mata hitam kosong menatap lurus ke arah kamarku. Mulutnya bergerak, seolah berbicara.

“Pulang…”

Aku menjerit sekuat tenaga hingga Ayah dan Ibu berlari masuk ke kamarku. Saat mereka melihat ke luar jendela, sosok itu sudah menghilang. Tapi wajah di pohon terlihat semakin nyata.

Keesokan harinya, Ayah memutuskan untuk menebang pohon itu.

Mereka memanggil tukang tebang pohon dari luar kompleks. Orang pertama datang dengan gergaji mesin. Tapi anehnya, mesin itu tidak mau menyala meski sudah dicoba berkali-kali. Setelah memeriksa sebentar, tukang itu pergi dengan wajah pucat.

Hari berikutnya, tukang kedua datang. Ia baru saja mendekat ke batang pohon itu ketika tiba-tiba ia terjatuh. Katanya ia melihat seorang perempuan berdiri di balik pohon sambil tersenyum padanya.

Tukang ketiga bahkan tidak sempat bekerja. Malam sebelumnya, ia mendadak demam tinggi dan muntah darah. Keluarganya melarangnya datang.

Pohon itu seolah menolak untuk ditebang.

Seiring waktu, kondisi mental kami memburuk. Ibu sering menangis di tengah malam. Ayah terlihat cepat marah dan mudah lelah. Aku sendiri sering kehilangan fokus di sekolah. Guruku memanggil orang tuaku karena nilaiku menurun drastis.

Mimpi buruk mulai menghantuiku setiap malam.

Dalam mimpiku, aku berada di sebuah hutan gelap. Tanahnya basah, udara lembap. Di tengah hutan berdiri pohon tua itu. Wajah di batangnya bergerak, keluar perlahan dari kulit kayu.

“Ini rumahku,” katanya dengan suara parau. “Kalian mengusirku.”

Aku mencoba berlari, tapi kakiku seperti tertahan akar-akar pohon.

Suatu sore, seorang tetangga tua bernama Mbah Wiryo datang ke rumah. Ia menatap halaman belakang kami lama sekali.

“Kalian diganggu penunggu pohon itu,” katanya pelan.

Ayah mengangguk lemah. Mbah Wiryo kemudian menceritakan sejarah tempat itu.

Dulu, sebelum perumahan dibangun, kawasan itu adalah hutan. Ada seorang siswi SMA yang dibunuh oleh kekasihnya karena cemburu. Tubuhnya dikubur hidup-hidup di bawah pohon tua tersebut, mirip dengan kisah tragis dalam Suara Rintihan Rumah Terkubur Kalimantan yang sama-sama menyimpan jerit penderitaan arwah yang tak pernah benar-benar pergi.

“Wajah di pohon itu adalah wajah terakhirnya,” kata Mbah Wiryo.

Ibu menangis terisak. Aku sendiri gemetar.

“Kenapa dia menampakkan diri pada kami?” tanya Ayah.

Mbah Wiryo menatapku. “Karena Vani mirip dengannya. Usia, wajah, bahkan seragam sekolah. Dia mengira Vani adalah dirinya yang kembali.”

Malam itu menjadi puncak teror.

Sosok itu masuk ke rumah.

Aku terbangun dan melihatnya berdiri di ujung ranjang. Bau tanah basah tercium kuat. Wajahnya rusak, tapi matanya penuh amarah dan kesedihan.

“Gantikan aku…” bisiknya.

Aku berteriak. Ayah dan Ibu datang. Lampu mati, pintu terbanting, suara tangisan menggema.

Mbah Wiryo datang membawa doa dan sesajen. Sosok itu menjerit, tubuhnya tertarik kembali ke arah pohon. Tangisannya berubah menjadi tawa panjang yang menusuk telinga.

Keesokan paginya, pohon itu kering. Daunnya rontok. Wajah di batangnya menghilang.

Kami pindah rumah seminggu kemudian.

Namun sampai sekarang, setiap kali aku melihat pohon tua, aku selalu merasa ada yang menatap dari balik batangnya. Dan kadang, di kaca jendela kamarku, aku melihat bayangan wajah itu… tersenyum, seolah belum selesai denganku.

Posting Komentar