Suara Rintihan Rumah Terkubur Kalimantan

Table of Contents
Suara Rintihan dari Rumah Terkubur di Kalimantan - Cerpen Horor Mania

Teror Korban Banjir Bandang Perkebunan Sawit

Nama Shelly masih terasa asing di telinganya sendiri ketika pertama kali terpampang di papan nama kantor kecil perkebunan kelapa sawit itu. Ia baru saja dipindahkan dari kantor pusat di kota ke wilayah pedalaman Kalimantan, sebuah tempat yang selama ini hanya ia kenal lewat laporan dan foto-foto buram di dokumen perusahaan. Usianya masih dua puluh tujuh tahun, kariernya sedang menanjak, dan ia merasa penugasan ini adalah batu loncatan penting. Meski begitu, ada perasaan berat yang tak bisa ia jelaskan sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Kantor tempat Shelly bekerja berdiri di antara hamparan kebun kelapa sawit yang seakan tak berujung. Pohon-pohon sawit berbaris rapi, daunnya yang tajam bergesekan ketika angin bertiup, menimbulkan suara mendesir yang kadang terdengar seperti bisikan. Shelly bertugas sebagai staf administrasi lapangan, mengurus laporan panen, absensi pekerja, dan pencatatan distribusi hasil kebun. Meski sebagian besar waktunya dihabiskan di depan komputer, ia sering turun langsung ke lapangan untuk memastikan data sesuai kenyataan.

Untuk tempat tinggal, perusahaan menyewakan sebuah rumah kayu sederhana di perkampungan yang jaraknya sekitar dua kilometer dari kantor kebun. Kampung itu dihuni oleh para pekerja kebun, pedagang kecil, dan warga lokal yang sudah turun-temurun tinggal di sana, termasuk sebagian warga yang masih menyimpan kisah-kisah lama seperti Kisah Horor Orang Kayan dari Kalimantan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Rumah-rumah berdiri rapat, sebagian sudah tua dan miring dimakan usia. Di belakang kampung, mengalir sungai kecil yang airnya cokelat keruh, menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga.

Hari pertama pindah, Shelly disambut beberapa warga. Pak Rahman, ketua RT yang berusia sekitar lima puluh tahun, membantu menunjukkan rumah kontrakannya. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan lapor,” katanya ramah. “Di sini kita saling bantu.”

Shelly mengangguk dan tersenyum, meski di dalam hatinya ada rasa canggung. Malam pertama di rumah itu terasa panjang. Suara hutan menyelinap lewat celah dinding kayu, mulai dari suara jangkrik, katak, hingga hembusan angin yang menggoyang daun sawit. Namun kelelahan membuatnya tertidur juga.

Beberapa minggu berlalu tanpa kejadian aneh. Shelly mulai terbiasa dengan rutinitas barunya. Pagi hari ia berangkat ke kantor kebun, siang mengecek laporan, sore kembali ke kampung. Ia mulai mengenal warga, termasuk Bu Mira, seorang janda paruh baya yang tinggal sendirian di rumah tak jauh dari kontrakan Shelly. Bu Mira dikenal pendiam, jarang keluar rumah kecuali untuk membeli kebutuhan pokok.

“Mbak Shelly, kalau hujan deras jangan tidur terlalu pulas,” pesan Bu Mira suatu sore ketika mereka berpapasan. “Air sungai di sini suka naik diam-diam.”

Shelly tertawa kecil. “Iya, Bu. Saya ingat kok.”

Namun peringatan itu ternyata bukan sekadar basa-basi.

Malam bencana itu datang tanpa aba-aba. Sejak sore, langit sudah gelap, awan hitam menggantung rendah seolah menekan bumi. Hujan turun deras, jauh lebih lebat dari biasanya. Angin kencang membuat dinding rumah kayu berderit, atap seng bergetar keras.

Shelly yang baru selesai makan malam duduk di tepi ranjang sambil memegang ponsel. Sinyal buruk, pesan tak terkirim. Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan, seperti tanah longsor bercampur suara kayu patah.

Belum sempat ia berdiri, air berlumpur menerobos masuk ke dalam rumah dengan kekuatan luar biasa. Arusnya mendorong perabotan, membuat Shelly terjatuh. Dalam kepanikan, ia hanya sempat meraih tas kecil berisi ponsel dan dompet.

“Tolong! Tolong!” teriakan warga terdengar saling bersahutan.

Shelly berusaha keluar rumah, melawan arus yang semakin deras. Air sudah mencapai dadanya. Dari balik hujan, ia melihat batang-batang kayu besar terbawa arus, menghantam rumah-rumah hingga roboh. Lampu-lampu padam, kampung tenggelam dalam kegelapan.

Seseorang menarik tangannya dengan kasar. “Cepat ke atas! Jangan ke sungai!” teriak Pak Rahman.

Mereka berlari tertatih menuju bukit kecil di pinggir kampung. Air terus naik, hingga hanya atap rumah yang terlihat. Tangisan, doa, dan teriakan bercampur menjadi satu.

Hujan baru berhenti menjelang pagi. Saat matahari muncul, pemandangan yang tersisa membuat Shelly terduduk lemas. Kampung itu nyaris lenyap. Rumah-rumah terkubur lumpur, beberapa rata dengan tanah. Banyak warga hilang, termasuk Bu Mira.

Hari-hari setelah bencana terasa seperti mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Akses keluar terputus total. Jalan tertimbun longsor, sinyal hampir tak ada. Warga yang selamat mendirikan tenda darurat di tempat tinggi. Bantuan hanya bisa diharapkan lewat udara.

Setiap hari, mereka menggali rumah-rumah yang tertimbun. Dengan cangkul dan tangan kosong, mereka mencari tanda-tanda kehidupan. Satu per satu jasad ditemukan. Tangis selalu menyertai setiap penemuan.

Shelly ikut membantu sebisanya. Meski bukan tenaga kuat, ia tak tega hanya diam. Malam hari, tubuhnya remuk oleh lelah, namun pikirannya tak pernah tenang. Bayangan air, suara kayu patah, dan jeritan selalu menghantuinya.

Memasuki minggu ketiga, suasana kampung semakin mencekam. Persediaan makanan menipis, hujan masih sering turun. Pada suatu malam, Shelly terbangun oleh suara yang tak asing namun membuat bulu kuduknya berdiri.

“Tolong...”

Suara itu pelan, lirih, seperti datang dari kejauhan sekaligus sangat dekat. Shelly duduk, menahan napas. Ia menoleh ke sekitar tenda, semua orang masih tertidur.

“Tolong aku...”

Shelly meraih senter dan keluar tenda. Udara malam dingin dan lembap. Suara itu terdengar jelas berasal dari arah rumah Bu Mira.

Rumah itu kini hampir sepenuhnya tertimbun tanah. Hanya sebagian atap yang terlihat. Shelly mendekat dengan langkah gemetar.

“Bu Mira?” panggilnya ragu.

Tidak ada jawaban, hanya rintihan yang semakin menyayat. Shelly berlari kembali ke tenda, membangunkan Pak Rahman.

“Pak, saya dengar suara minta tolong dari rumah Bu Mira!” katanya panik.

Pak Rahman terdiam sejenak. “Mbak, rumah itu sudah kita gali sebagian. Tidak ada orang hidup.”

“Tapi suaranya jelas, Pak!”

Pak Rahman menghela napas panjang. “Mungkin Mbak masih syok. Banyak yang mengalami hal serupa setelah bencana.”

Shelly kembali ke tenda, namun malam itu suara rintihan terus terdengar, memanggil-manggil namanya. Keesokan malamnya, Shelly melihat sosok perempuan berdiri di atas timbunan tanah. Rambutnya panjang, wajahnya pucat, gaunnya basah oleh lumpur.

“Shelly...” suara itu memanggil lirih.

Shelly menjerit, membuat warga terbangun. Namun saat mereka menoleh, sosok itu menghilang.

Sejak saat itu, gangguan semakin sering. Setiap malam, Shelly mendengar ketukan dari bawah tanah, rintihan, bahkan tangisan. Tubuhnya semakin kurus, matanya cekung. Warga mulai berbisik-bisik, menyebut arwah korban yang belum tenang, mengaitkannya dengan kisah-kisah lama tentang Makhluk Mistis di Gua Kuno Malang yang dipercaya muncul dari tempat-tempat tragedi dan kematian massal.

“Kalau memang masih ada yang tertimbun, kenapa baru sekarang?” tanya seorang warga.

Shelly sendiri mulai ragu antara nyata dan halusinasi. Namun satu hal yang ia yakini, suara itu bukan sekadar ilusi. Ada sesuatu yang belum selesai.

Ketika helikopter bantuan akhirnya datang, tim evakuasi melanjutkan pencarian. Shelly memberanikan diri mendatangi petugas.

“Masih ada satu korban,” katanya yakin. “Di rumah itu.”

Petugas sempat ragu, namun akhirnya mengikuti arah yang ditunjuk Shelly. Penggalian dilakukan lebih dalam. Tak lama kemudian, mereka menemukan jasad seorang perempuan terhimpit runtuhan rumah.

“Ini Bu Mira,” kata Pak Rahman lirih.

Saat jasad itu diangkat, Shelly merasakan keheningan yang aneh. Suara rintihan yang selama ini mengganggunya lenyap seketika. Malam itu, ia tidur tanpa mimpi buruk.

Beberapa hari kemudian, Shelly dievakuasi keluar kampung. Namun pengalaman itu terus membekas. Ia tahu, suara rintihan dari rumah terkubur itu bukan sekadar teror, melainkan jeritan terakhir seseorang yang ingin ditemukan.

Dan sejak saat itu, Shelly percaya bahwa tidak semua hantu datang untuk menakuti. Beberapa hanya ingin didengar, agar bisa pergi dengan tenang.

Posting Komentar