Aku Melihat Hantu Nenek Pakande
Teror Nenek Pakande di Kampung Sulawesi
Namaku Siska. Aku seorang perempuan yang sejak lulus kuliah terbiasa hidup dengan jadwal ketat, lampu kantor yang tak pernah benar-benar padam, dan target pekerjaan yang terus mengejar. Dunia kerja memang sering menyimpan kisah-kisah tak masuk akal, mengingatkanku pada cerita seram seperti Misteri Tangisan Gudang PT Mandom yang pernah kudengar dari sesama karyawan. Hidupku lurus, datar, dan nyaris tanpa kejutan. Sampai suatu hari, bosku memanggilku ke ruangannya dan mengatakan bahwa aku harus dipindahkan ke Sulawesi untuk mengurus cabang baru perusahaan.
“Kamu cocok di sana. Tenang, fasilitas lengkap,” katanya sambil menyerahkan map cokelat berisi surat tugas. Aku hanya mengangguk. Aku mengira ini hanya soal adaptasi tempat kerja dan lingkungan baru. Aku tidak tahu bahwa kepindahan ini akan mengubah seluruh hidupku.
Setibanya di Sulawesi, aku langsung dibawa ke sebuah kampung yang letaknya agak masuk ke pedalaman. Tidak terlalu terpencil, tapi jauh dari hiruk pikuk kota. Bosku memberikan sebuah rumah dinas yang katanya sudah lama tidak ditempati. Rumah panggung tua dari kayu ulin, berdiri di tepi kampung, menghadap kebun singkong dan hutan kecil yang tampak gelap bahkan di siang hari.
“Kalau malam agak sepi, tapi aman,” kata sopir yang mengantarku. Entah kenapa, kata aman itu justru membuatku merinding.
Malam pertama aku tidur di rumah itu, aku terbangun berkali-kali. Angin malam berhembus dari arah hutan, membawa bau tanah basah dan daun busuk. Sesekali terdengar suara seperti langkah kaki di bawah kolong rumah, pelan dan teratur, seolah seseorang berjalan mondar-mandir.
“Mungkin kucing,” gumamku sambil memeluk bantal. Aku mencoba memejamkan mata lagi.
Hari-hari awal berjalan cukup normal. Aku mulai bekerja di kantor cabang yang tidak terlalu besar. Warga kampung terlihat ramah. Anak-anak sering bermain di depan rumah, berlarian sambil tertawa. Mereka sering memanggil namaku.
“Kak Siska! Lihat layangan kami!”
Aku tersenyum dan melambaikan tangan. Suasana itu terasa hangat, bahkan menenangkan.
Semuanya berubah pada minggu ketiga.
Pagi itu kampung mendadak ramai. Suara orang berteriak terdengar dari arah balai kecil dekat masjid. Aku keluar rumah dan melihat warga berkerumun. Seorang perempuan menangis histeris sambil dipeluk tetangganya.
“Anakku, Randi! Dia tidak pulang sejak kemarin sore!”
Warga mulai berbisik-bisik. Ada yang menyebut penculikan, ada juga yang curiga ada orang asing masuk kampung. Aku berdiri di pinggir kerumunan, mencoba memahami situasi.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Di belakang kerumunan warga, dekat pohon pisang tua yang batangnya sudah menghitam, berdiri sosok perempuan renta. Tubuhnya bongkok, kulitnya keriput dan kusam. Rambutnya panjang, kusut, dan sebagian menutupi wajahnya. Tangannya panjang dengan kuku hitam melengkung. Rahangnya bergerak pelan, seperti sedang mengunyah sesuatu.
Darahku serasa berhenti mengalir.
Ketika sosok itu menoleh ke arahku, matanya terlihat jelas. Putih, tanpa bola mata, tapi seolah bisa menatap langsung ke dalam pikiranku. Bibirnya terangkat, membentuk senyuman yang terlalu lebar.
“Nenek Pakande…” gumamku hampir tanpa suara.
Sejak kecil, nenekku sering menceritakan kisah-kisah horor dari Sulawesi. Salah satunya tentang Nenek Pakande, hantu perempuan tua yang memangsa anak-anak. Kisah-kisah makhluk halus seperti ini mengingatkanku pada legenda lain yang tak kalah menyeramkan, seperti Raja Tuyul di Hutan Riau, yang juga dipercaya memangsa korban secara diam-diam. Ia menculik mereka, menggendongnya seperti cucu sendiri, lalu memakannya di tempat sepi. Aku selalu mengira itu hanya dongeng.
Sosok itu tertawa pelan, lalu melangkah mundur ke arah hutan. Dalam sekejap, ia menghilang.
Randi ditemukan keesokan harinya. Tubuhnya tergeletak di tepi hutan, dingin dan pucat. Matanya terbuka, mulutnya sedikit menganga. Warga mengatakan ia tersesat dan meninggal karena kelelahan. Tidak ada luka, tidak ada darah. Semua menerima penjelasan itu, meski wajah ibu Randi menunjukkan bahwa ia sendiri tidak percaya.
Setelah kejadian itu, kampung mulai berubah. Anak-anak tidak lagi bermain sampai sore. Pintu rumah ditutup lebih awal. Orang-orang mulai berbisik ketika aku lewat.
Seminggu kemudian, seorang anak perempuan bernama Mila hilang. Lalu disusul anak lain. Kampung diliputi ketakutan.
“Ini bukan manusia,” kata seorang bapak tua saat warga berkumpul. “Wewe gombel yang ambil anak-anak itu.”
Semua mengangguk setuju. Nama wewe gombel menyebar cepat, seolah itu jawaban paling masuk akal.
Aku mencoba bicara. “Bukan wewe gombel,” kataku dengan suara gemetar. “Yang mengambil anak-anak itu Nenek Pakande.”
Suasana hening sesaat, lalu terdengar tawa kecil.
“Kamu orang baru, Siska. Jangan percaya cerita lama,” kata seorang warga.
Sejak hari itu, aku sering melihatnya. Nenek Pakande berjalan di tepi kampung saat senja. Kadang duduk di atas atap rumah warga, kadang berdiri di balik pohon sambil menatap anak-anak. Tidak ada yang menyadarinya. Hanya aku.
Suatu malam, saat hujan turun deras, aku mendengar ketukan di pintu.
Tok. Tok. Tok.
“Siska…”
Suara itu serak, panjang, dan dingin. Aku membeku di tempat tidur.
“Kau bisa melihatku,” suara itu kembali terdengar. “Itu tidak baik.”
Aku menahan napas. Bau anyir memenuhi ruangan, seperti bau daging mentah. Aku tahu, ia berdiri di luar pintu.
Sejak malam itu, hidupku berubah menjadi rangkaian teror.
Aku sering bermimpi dikejar sosok tua dengan perut buncit dan tangan panjang. Dalam mimpi itu, ia tertawa sambil mengunyah, dan suara tulangnya terdengar jelas. Aku terbangun dengan keringat dingin, tenggorokanku perih seperti habis berteriak.
Barang-barang di rumah sering berpindah tempat. Bekas kuku muncul di dinding kayu. Kadang aku mendengar suara anak-anak menangis dari kolong rumah, memanggil namaku.
“Tolong, Kak Siska…”
Aku pernah mencoba mengintip ke bawah rumah dengan senter. Yang kulihat hanya bayangan hitam bergerak cepat dan suara tawa tertahan.
Warga akhirnya sepakat mencari wewe gombel. Mereka membawa parang, obor, dan membaca doa-doa. Aku ikut bersama mereka, meski hatiku tahu mereka salah sasaran.
Di tengah hutan, aku melihat Nenek Pakande berdiri di atas batu besar. Ia menatapku, lalu tersenyum.
“Kau mengganggu makanku,” suaranya terdengar langsung di kepalaku.
Aku terjatuh. Warga mengira aku terpeleset.
Pencarian itu gagal. Malam berikutnya, seorang anak kembali hilang. Kali ini aku mendengar jeritannya.
Aku berlari ke kebun, dan di sanalah aku melihatnya. Nenek Pakande menggendong seorang anak yang masih hidup.
“Lepaskan!” teriakku.
Ia tertawa. “Kalau kau mau menyelamatkannya, kau harus menggantikannya.”
Aku menutup mata dan berdoa sekuat tenaga. Saat aku membukanya kembali, sosok itu menghilang.
Anak itu ditemukan selamat keesokan harinya di depan rumah orang tuanya. Warga menganggap itu keajaiban.
Sejak malam itu, tidak ada lagi anak yang hilang.
Namun terorku tidak berakhir.
Setiap malam aku merasakan tatapan dari arah hutan. Kadang dalam pantulan kaca, aku melihat sosok perempuan tua berdiri di belakangku, tersenyum.
Beberapa minggu kemudian, bosku menelepon. Ia memintaku kembali ke kota. Alasannya tidak jelas.
Saat aku meninggalkan kampung itu, aku melihat Nenek Pakande berdiri di bawah pohon pisang.
“Kita belum selesai, Siska,” katanya pelan.
Aku pergi. Aku selamat.
Namun sampai hari ini, aku tahu satu hal. Aku masih bisa melihatnya. Dan selama aku bisa melihatnya, Nenek Pakande tidak akan pernah benar-benar pergi.

Posting Komentar