Sosok Misterius di Pelabuhan Tanjung Priok
Teror Wanita Bergaun Putih di Tanjung Priok
Maya selalu menyukai pemandangan laut, meskipun tempat ia bekerja sama sekali tidak romantis seperti bayangan banyak orang tentang laut biru dan angin sepoi-sepoi. Kantornya berada di kawasan Tanjung Priok, wilayah yang hampir tidak pernah tidur. Setiap hari dipenuhi suara klakson truk kontainer, deru mesin kapal besar, dan teriakan buruh pelabuhan yang saling bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itulah Maya, seorang wanita muda berusia dua puluh tujuh tahun, menjalani kehidupannya sebagai pekerja kantoran dengan tanggung jawab besar.
Ia bekerja di sebuah gedung perkantoran tinggi yang berdiri menghadap langsung ke area pelabuhan. Posisi Maya bukanlah posisi sembarangan. Ia dipercaya mengelola administrasi inti yang berkaitan dengan keluar masuk kapal-kapal besar, termasuk kapal internasional yang membawa muatan bernilai miliaran rupiah. Kesalahan kecil saja bisa berdampak besar. Karena itu, Maya dikenal sebagai sosok perfeksionis, tegas, dan jarang tersenyum di tempat kerja.
Darah campuran Indonesia dan Cina mengalir di tubuhnya. Dari luar, Maya terlihat anggun dan berkelas. Kulitnya cerah, wajahnya simetris dengan mata sedikit sipit yang tajam, rambut hitam panjang selalu tertata rapi. Namun di balik penampilannya, ia menyimpan tekanan batin yang jarang ia ceritakan pada siapa pun. Ia terbiasa memendam semuanya sendiri, termasuk rasa lelah dan kesepian yang kerap datang saat malam.
Hari itu, seperti biasa, Maya datang lebih pagi dari pegawai lain. Ia menyukai suasana pagi pelabuhan, saat kabut tipis masih menggantung dan kapal-kapal tampak seperti bayangan raksasa di kejauhan. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa tempat yang selama ini ia anggap biasa saja, perlahan akan berubah menjadi sumber teror yang mengusik kewarasannya.
Sore menjelang malam, langit Tanjung Priok tampak muram. Awan gelap menggantung rendah, menutup cahaya matahari yang perlahan menghilang di balik bangunan dan derek raksasa. Satu per satu pegawai mulai meninggalkan kantor. Lampu-lampu ruangan dipadamkan, menyisakan lantai tujuh yang hanya ditempati Maya seorang diri.
“Mbak Maya, saya duluan ya. Jangan pulang terlalu malam,” ujar Pak Rudi, petugas keamanan yang sudah bertahun-tahun bekerja di gedung itu.
Maya mengangguk sambil tetap fokus pada layar komputer. “Iya, Pak. Terima kasih.”
Setelah suara langkah Pak Rudi menghilang, keheningan mulai terasa. Hanya suara pendingin ruangan dan ketukan keyboard yang menemani Maya. Waktu berjalan tanpa terasa hingga jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Matanya terasa perih, pundaknya pegal, dan kepalanya berat.
Maya berdiri, berjalan perlahan menuju jendela besar di sudut ruangan. Dari sana, ia bisa melihat seluruh area pelabuhan. Lampu-lampu kapal besar menyala temaram, memantul di permukaan laut yang gelap. Kontainer tersusun seperti labirin raksasa, sementara derek pelabuhan berdiri kaku, menyerupai makhluk besi yang mengawasi malam.
Namun, pandangan Maya terhenti pada sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Di dekat dermaga kecil, di samping sebuah perahu tua yang tampak tak terawat, berdiri sesosok wanita. Gaunnya putih, panjang, terlihat lusuh dan basah di bagian bawah. Rambutnya hitam panjang, menjuntai menutupi seluruh wajah. Sosok itu berdiri diam, menghadap laut, seolah sedang menunggu sesuatu.
“Siapa… siapa itu?” gumam Maya, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia mengedipkan mata beberapa kali, mencoba memastikan apa yang dilihatnya nyata. Tapi sosok itu tidak menghilang. Justru perlahan, wanita itu mengangkat kepalanya. Rambut panjangnya bergeser sedikit, memperlihatkan sebagian wajah pucat dengan rongga mata yang gelap.
Napas Maya tercekat. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Ia mundur beberapa langkah, kakinya gemetar, punggungnya membentur meja kerja.
“Tidak… ini pasti cuma halusinasi,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri sendiri.
Dengan tangan gemetar, Maya menutup tirai jendela. Ia kembali ke mejanya, memaksa fokus pada pekerjaannya. Namun bayangan sosok wanita itu terus terngiang di benaknya. Malam itu, Maya pulang dengan perasaan tidak tenang, seolah ada sesuatu yang mengikutinya dari kejauhan.
Keesokan harinya, gangguan mulai terasa nyata. Telepon di meja Maya berdering sendiri, padahal belum tersambung ke jaringan. Komputer menyala tanpa disentuh. File-file penting tiba-tiba terbuka dan tertutup sendiri. Awalnya Maya mencoba berpikir logis, menganggap semuanya sebagai kesalahan teknis.
Namun, saat suara langkah kaki terdengar di lorong kosong pada tengah hari, Maya mulai merasakan ketakutan yang berbeda. Suara itu pelan, teratur, seperti seseorang berjalan tanpa alas kaki.
“Ada siapa?” tanya Maya sambil berdiri.
Tidak ada jawaban. Lorong kosong. Sunyi.
Gangguan itu terus berulang, bahkan semakin sering. Rekan-rekan kerja mulai membicarakannya secara diam-diam. Beberapa pegawai mengaku melihat bayangan wanita berambut panjang di sekitar kantor saat malam.
“Mbak Maya, saya takut,” ujar Sari suatu pagi dengan wajah pucat. “Semalam saya lihat perempuan berdiri di dekat lift. Rambutnya panjang banget.”
Maya menelan ludah. “Kamu yakin bukan salah lihat?”
Sari menggeleng cepat. “Saya yakin, Mbak. Dia… bukan manusia.”
Teror itu tidak berhenti di kantor. Saat Maya pulang ke rumahnya di Jakarta Barat, gangguan serupa terjadi, mengingatkannya pada kisah-kisah mistis seperti Penunggu Rumah Tua di Padang yang sering diceritakan orang. Lampu ruang tamu sering mati sendiri. Pintu kamar terbuka perlahan di tengah malam. Aroma laut yang amis kadang tercium di dalam rumah, meskipun jarak rumahnya cukup jauh dari pantai.
Suatu malam, Maya terbangun karena suara air menetes. Ia bangkit dari tempat tidur, mengikuti suara itu hingga ke dapur. Keran air menyala sendiri, mengalir deras.
“Siapa yang nyalain?” Maya bergumam.
Saat ia menutup keran, bayangannya di kaca jendela tampak berbeda. Di belakangnya, samar-samar terlihat sosok wanita bergaun putih berdiri mematung.
Maya menjerit dan berbalik. Tidak ada siapa-siapa. Namun lantai dapur basah, dan jejak kaki kecil terlihat menuju pintu belakang.
Keesokan harinya, Maya memutuskan mencari jawaban. Ia menemui Pak Slamet, pegawai senior pelabuhan yang dikenal menyimpan banyak cerita lama, termasuk kisah-kisah makhluk gaib yang dulu sering dibicarakan orang, seperti Raja Tuyul di Hutan Riau.
“Pak Slamet, di pelabuhan ini… pernah ada kejadian aneh, ya?” tanya Maya pelan.
Pak Slamet terdiam lama, menatap Maya dengan sorot mata berat. “Kamu sudah lihat dia?”
Maya mengangguk perlahan.
“Bertahun-tahun lalu,” ujar Pak Slamet akhirnya, “ada seorang wanita yang bunuh diri di dermaga. Katanya dia menunggu kekasihnya yang tidak pernah kembali dari laut. Sejak itu, arwahnya sering muncul.”
“Kenapa dia mengganggu saya?” suara Maya bergetar.
Pak Slamet menghela napas panjang. “Karena kamu punya kaitan dengannya.”
Malam itu, Maya kembali lembur. Ia ingin menghadapi semuanya. Tepat tengah malam, sosok wanita itu muncul di luar jendela. Kali ini, lebih dekat, lebih jelas.
“Maya…” suara itu menggema, dingin dan dalam.
“Siapa kamu sebenarnya?” teriak Maya sambil menangis.
Wanita itu mengangkat wajahnya sepenuhnya. Wajah pucat itu sangat mirip seseorang yang Maya kenal. Ibunya.
Ingatan lama yang selama ini terkubur tiba-tiba muncul. Tentang rahasia keluarga, tentang seorang saudari yang dihapus dari cerita, tentang kematian di dermaga yang tak pernah dibicarakan.
“Aku menunggumu,” ujar sosok itu lirih.
Seketika lampu padam. Saat menyala kembali, sosok itu menghilang. Sejak malam itu, teror berhenti. Namun Maya tahu, tidak semua yang hilang benar-benar pergi.
Setiap kali ia menatap laut Tanjung Priok dari jendela kantornya, Maya selalu merasa ada sepasang mata yang menatap balik dari kegelapan, mengingatkan bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar mati.

Posting Komentar