Penunggu Rumah Tua di Padang
Teror Kakek Misterius di Rumah Padang
Nama saya Susi. Saya adalah seorang perempuan pekerja kantoran biasa yang selama ini hidup dengan logika dan rutinitas. Sejak kecil, saya tidak pernah benar-benar mempercayai cerita-cerita mistis yang sering dibicarakan orang. Bagi saya, semua hal selalu memiliki penjelasan rasional, termasuk suara-suara aneh atau perasaan tidak nyaman yang sering dikaitkan dengan hal gaib. Prinsip itu saya pegang erat, bahkan ketika akhirnya pekerjaan memaksa saya pindah sementara ke Padang, Sumatera Barat, kota yang dikenal memiliki banyak kawasan lama dengan cerita-cerita yang sering dibisiki dari mulut ke mulut.
Saya bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan ekspedisi yang membuka cabang baru di pinggiran kota Padang. Lokasi kantor tersebut cukup jauh dari rumah orang tua saya yang berada di daerah lain, sehingga menyewa rumah menjadi pilihan paling masuk akal. Setiap hari saya harus berangkat pagi dan pulang menjelang malam. Saya hanya membutuhkan tempat tinggal yang tenang, dekat dengan kantor, dan tidak terlalu mahal. Saya sama sekali tidak berpikir soal hal-hal lain.
Rumah yang saya sewa berada di sebuah kawasan lama, bukan kawasan elit, tetapi juga bukan daerah kumuh. Bangunannya sederhana, satu lantai, dengan halaman kecil di depan. Cat dindingnya sudah mulai pudar, beberapa bagian mengelupas, namun masih terlihat kokoh. Di sekitarnya terdapat beberapa rumah warga yang jaraknya tidak terlalu rapat. Saat pertama kali melihat rumah itu, saya merasa cukup nyaman. Tidak ada kesan angker, tidak ada aroma aneh, dan suasananya terlihat normal seperti rumah-rumah lain.
Pemilik rumah, seorang pria paruh baya bernama Pak Arman, terlihat ramah dan mudah diajak bicara. Ia menjelaskan bahwa rumah itu sudah lama kosong karena sebelumnya disewa oleh seorang keluarga yang kemudian pindah ke luar kota. Nada bicaranya santai, seolah tidak ada hal yang perlu disembunyikan.
“Tenang saja, Nak Susi. Lingkungannya aman, orang-orangnya juga baik,” kata Pak Arman sambil tersenyum.
Saya hanya mengangguk dan membalas senyumnya. Saat itu yang ada di pikiran saya hanyalah bagaimana saya bisa beristirahat dengan tenang setelah bekerja seharian. Saya tidak bertanya terlalu banyak, apalagi soal sejarah rumah atau lingkungan sekitar. Bagi saya, rumah hanyalah tempat singgah.
Hari-hari pertama saya tinggal di sana berjalan normal. Rutinitas saya tidak berubah. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang sore, memasak sederhana, lalu tidur. Kadang saya lembur di kantor dan baru pulang setelah Isya. Tidak ada hal aneh yang terjadi, setidaknya pada awalnya. Namun, tanpa saya sadari, ada satu detail kecil yang perlahan mulai menarik perhatian saya.
Di seberang gang kecil, tidak jauh dari rumah yang saya sewa, berdiri sebuah rumah tua yang terlihat jauh lebih usang dibanding bangunan lain di sekitarnya. Rumah itu besar, dengan bentuk khas bangunan lama. Jendelanya tinggi-tinggi, pintunya besar, dan cat dindingnya sudah hampir habis, memperlihatkan warna asli tembok yang kusam. Bahkan di siang hari, rumah itu terlihat gelap, seolah cahaya matahari enggan menyentuhnya.
Setiap kali saya melewati gang itu, entah saat berangkat atau pulang kerja, ada perasaan tidak nyaman yang muncul begitu saja. Seperti ada mata yang mengamati dari balik jendela rumah tua tersebut. Awalnya saya mengabaikannya, menganggap itu hanya sugesti atau perasaan waspada berlebihan karena saya tinggal di lingkungan baru.
Rasa penasaran saya akhirnya memuncak pada suatu sore. Saat itu, Pak Arman terlihat sedang duduk santai di teras rumahnya. Saya menghampirinya dengan niat sekadar bertanya.
“Pak, mau tanya,” saya membuka percakapan dengan nada biasa. “Rumah tua di depan gang itu… kosong ya, Pak?”
Pak Arman terdiam sejenak. Tangannya yang semula memegang gelas teh berhenti di udara. Ekspresinya berubah, seolah ia sedang memilih kata yang tepat.
“Oh, rumah itu?” katanya akhirnya. “Tidak kosong.”
Saya mengernyit. “Ada yang tinggal?”
“Ada. Seorang kakek-kakek. Sudah lama tinggal di situ,” jawab Pak Arman pelan.
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat saya merasa aneh, tetapi saya tidak terlalu memikirkannya.
“Kok saya tidak pernah lihat beliau keluar rumah?” tanya saya lagi.
Pak Arman tersenyum tipis. “Kakeknya memang jarang keluar. Orangnya agak tertutup, bahkan cenderung angkuh. Tidak terlalu akur dengan warga sekitar.”
Penjelasan itu terdengar masuk akal. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Sama sekali tidak ada kecurigaan di benak saya. Saya justru merasa kasihan, membayangkan seorang kakek tua hidup sendiri tanpa banyak berinteraksi.
Malam pertama gangguan terjadi, saya baru menyadarinya setelah hampir seminggu tinggal di rumah itu. Malam itu hujan turun cukup deras. Angin berembus kencang, membuat dedaunan dan ranting pohon bergesekan satu sama lain. Suasana malam terasa lebih sunyi dari biasanya, mengingatkan saya pada kisah Suara Rintihan Misterius di Pulau Sumba yang pernah saya baca sebelumnya.
Saya sudah berbaring di tempat tidur ketika tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah ruang tengah.
Tok… tok… tok…
Saya terdiam. Jantung saya berdetak lebih cepat. Rumah ini hanya saya huni sendiri. Tidak mungkin ada orang lain.
“Paling tikus,” gumam saya, mencoba menenangkan diri.
Namun suara itu terlalu teratur untuk ukuran binatang. Langkahnya pelan, namun jelas, seolah seseorang sedang berjalan sambil menahan beban di tubuhnya.
Saya bangkit dan membuka pintu kamar sedikit. Lorong rumah tampak gelap, hanya diterangi lampu kecil di dapur. Tidak ada siapa pun di sana. Saya menutup pintu kembali dan mencoba tidur, meski perasaan waswas belum sepenuhnya hilang.
Beberapa menit kemudian, suara itu terdengar lagi. Kali ini disertai tawa lirih.
“He… he… he…”
Suara itu berat, serak, seperti suara kakek-kakek yang tertahan di tenggorokan. Bulu kuduk saya langsung berdiri. Saya menutup telinga dengan bantal, memejamkan mata, berharap semua itu hanya permainan pikiran akibat kelelahan.
Kejadian itu tidak berhenti di satu malam. Malam-malam berikutnya, suara langkah kaki dan tawa lirih itu selalu muncul. Waktunya hampir selalu sama, sekitar tengah malam. Kadang langkah itu mengitari rumah, kadang berhenti tepat di depan pintu kamar saya. Bahkan sesekali terdengar suara seperti orang berbisik, menyebut nama saya dengan sangat pelan.
“Susi…”
Saya mulai kehilangan waktu tidur. Di kantor, saya sering melamun dan sulit fokus. Rekan kerja saya mulai menyadari perubahan itu.
“Kamu kenapa akhir-akhir ini, Sus? Kelihatan capek sekali,” kata Rina, teman sekantor saya.
“Kurang tidur,” jawab saya singkat, tidak berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
Puncak ketakutan saya terjadi pada malam ketujuh. Malam itu, suara langkah kaki terdengar lebih berat dari biasanya, seolah seseorang menyeret kakinya di lantai.
Tok… srek… tok…
Tawa lirih itu terdengar sangat dekat, tepat di balik pintu kamar.
“Kamu dengar aku, Nak?” suara itu berbisik.
Saya menangis tanpa suara. Tubuh saya gemetar hebat. Dengan sisa keberanian yang ada, saya berteriak, “Siapa kamu?”
Suara itu terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Aku dari seberang…”
Pagi harinya, dengan kondisi tubuh yang lemah dan pikiran kacau, saya memberanikan diri mendatangi rumah tua itu. Pagar besinya berkarat dan sedikit terbuka. Halamannya dipenuhi rumput liar yang tumbuh tidak terawat. Setiap langkah terasa berat, seolah ada tekanan di dada saya.
“Permisi…” panggil saya sambil berdiri di depan pintu.
Tidak ada jawaban. Namun saya merasakan kehadiran seseorang di dalam. Perasaan itu begitu kuat, membuat tangan saya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
Pintu kayu tua itu terbuka dengan derit panjang. Di dalam rumah, suasananya sangat berbeda. Udara terasa dingin dan lembap. Debu tebal menempel di hampir semua permukaan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan manusia.
Saya melangkah masuk beberapa langkah, memanggil sekali lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban. Perasaan takut bercampur bingung membuat saya mundur dan keluar dari rumah itu dengan napas tersengal.
Sore harinya, saya melapor kepada Pak Arman dan beberapa warga sekitar. Saya menceritakan apa yang saya alami, meski mereka terlihat ragu.
“Tidak mungkin rumah itu kosong,” kata salah satu warga. “Kakek itu masih ada. Kami sering melihatnya.”
Malam itu, gangguan kembali terjadi. Namun kali ini saya memutuskan untuk tidak bersembunyi. Saya membuka pintu kamar dan melihat sosok kakek tua berdiri di lorong rumah. Tubuhnya membungkuk, wajahnya pucat, dan matanya kosong, persis seperti gambaran dalam kisah Aku Melihat Hantu Nenek Pakande yang pernah membuat saya merinding.
“Akhirnya kamu mau melihatku,” katanya lirih.
“Apa yang kamu inginkan dari saya?” tanya saya sambil menangis.
Kakek itu tersenyum. Senyum yang membuat saya semakin takut.
“Aku sudah lama mati, Nak. Mereka tidak tahu. Aku ingin ada yang tahu,” katanya.
Perlahan, tubuhnya berubah. Kulitnya mengelupas, memperlihatkan tulang dan tengkorak di baliknya. Saya menjerit dan jatuh terduduk.
Keesokan harinya, warga bersama polisi membuka rumah tua itu. Di sebuah kamar belakang, mereka menemukan tengkorak manusia yang sudah lama berada di sana. Kakek itu telah meninggal bertahun-tahun lalu, sendirian, tanpa ada yang tahu.
Saya pindah dari rumah itu seminggu kemudian. Namun pengalaman itu meninggalkan luka batin yang mendalam.
Kisah yang saya alami menjadi pelajaran berharga bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan logika semata. Rumah tua di Padang itu bukan sekadar bangunan kosong, melainkan saksi bisu kehidupan seseorang yang terlupakan. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar dan menghargai setiap cerita, sekecil apa pun, yang mungkin menyimpan kebenaran.
Hingga kini, setiap kali mengingat suara tawa lirih itu, saya selalu teringat bahwa ada dunia lain yang berjalan berdampingan dengan dunia kita. Dunia yang kadang hanya ingin didengar dan diakui keberadaannya.

Posting Komentar