Suara Rintihan Misterius di Pulau Sumba

Table of Contents
Seorang Ibu-ibu Rumah Tangga Terjebak di Hutan Sumba dan Diganggu Hantu

Teror Hantu di Rumah Baru Sumba

Namaku Rini. Sejak menikah dan memiliki seorang anak, hidupku sepenuhnya berubah. Aku bukan lagi perempuan yang bebas bepergian, melainkan seorang ibu rumah tangga yang hari-harinya diisi memasak, membersihkan rumah, dan mengurus kebutuhan keluarga. Ketika suamiku, Arman, mendapat kabar bahwa ia dipindahtugaskan ke Pulau Sumba karena pekerjaannya di bidang peternakan, aku merasa campur aduk. Ada harapan akan kehidupan baru, tapi juga ketakutan besar akan tempat asing yang selama ini hanya kudengar dari cerita orang.

Kami meninggalkan Jawa dengan kapal kecil yang berlayar berjam-jam melewati laut bergelombang. Anak kami, Dika, tertidur di pangkuanku, sementara aku menatap laut luas yang gelap. Entah mengapa, sejak saat itu perasaanku tidak tenang, seolah ada sesuatu yang menunggu kami di seberang sana. Aku mencoba menepis pikiran buruk itu dan menganggapnya sebagai kecemasan biasa seorang ibu.

Rumah yang kami tempati berada di pinggiran desa kecil, jauh dari keramaian. Dindingnya terbuat dari batu kapur yang dingin saat disentuh, atap sengnya sudah berkarat, dan halaman depannya ditumbuhi ilalang setinggi dada orang dewasa. Dari luar, rumah itu tampak tua dan kusam, seperti sudah terlalu lama ditinggalkan. Udara di sekitarnya terasa lebih berat dibanding rumah-rumah lain di desa.

Penduduk desa mengatakan rumah itu kosong bertahun-tahun. Konon, pemiliknya meninggal secara tidak wajar di hutan tak jauh dari sana. Aku mendengar cerita itu dari bisik-bisik para tetangga, mirip dengan kisah mistis lain yang pernah kudengar seperti Aku Melihat Hantu Nenek Pakande, bukan dari penjelasan resmi. Setiap kali aku bertanya, mereka selalu menatapku dengan ragu, lalu mengalihkan pembicaraan.

"Kenapa rumah ini kosong lama sekali?" tanyaku suatu sore pada seorang ibu tetangga bernama Ina Mery, saat kami duduk di teras sambil menjemur jagung.

Ina Mery menghentikan tangannya, menatapku dengan mata yang sulit diartikan. "Tidak semua rumah suka dihuni lama-lama," jawabnya singkat. Setelah itu, ia berdiri dan pamit dengan alasan ada pekerjaan lain. Sejak saat itu, kalimatnya terus terngiang di kepalaku.

Malam pertama kami lalui dengan kelelahan. Setelah membereskan barang-barang, aku langsung tertidur di samping Dika, sementara Arman masih membuka laptopnya. Namun tengah malam, aku terbangun oleh suara aneh. Suara itu seperti rintihan perempuan, lirih namun jelas, seolah seseorang menahan sakit yang amat sangat, mengingatkanku pada kisah-kisah suara gaib yang pernah kudengar seperti Suara Mistis Gamelan Gua Petir. Suara itu berasal dari arah dapur.

"Mas... dengar tidak?" bisikku sambil mengguncang bahu suamiku dengan tangan gemetar.

Arman membuka mata setengah, lalu menghela napas. "Mungkin angin, Rin. Rumah ini kan tua," katanya sambil kembali memejamkan mata.

Tapi aku yakin itu bukan angin. Rintihan itu memiliki irama, naik turun seperti orang yang sedang menangis sambil menahan teriakannya. Aku memberanikan diri bangkit dari tempat tidur dan mengintip ke arah dapur. Saat itu juga suara tersebut lenyap, digantikan oleh keheningan yang justru terasa lebih menakutkan.

Malam-malam berikutnya menjadi siksaan bagiku. Suara rintihan itu selalu datang tepat tengah malam. Kadang terdengar dari dapur, kadang dari kamar mandi, bahkan pernah seolah berasal dari balik dinding kamar tidur kami. Aku mulai sulit tidur dan sering terbangun dengan keringat dingin.

Suatu malam, aku mendengar suara langkah kaki mengelilingi rumah. Langkah itu berat, lambat, seolah seseorang menyeret kakinya di tanah. Jantungku berdebar keras. Dari celah jendela, aku melihat bayangan hitam tinggi berdiri di bawah pohon lontar, diam tanpa bergerak.

"Siapa di luar?" teriakku dengan suara bergetar, meski aku tahu itu tindakan bodoh.

Bayangan itu tidak menjawab. Ia justru menundukkan kepala, lalu terdengar rintihan yang sama, kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Aku menjerit, membangunkan Arman dengan paksa.

Arman keluar membawa senter dan sebilah parang. "Halo! Ada siapa?" teriaknya. Namun halaman kosong. Tak ada siapa-siapa. Saat ia kembali masuk, kami sama-sama melihat bekas jejak kaki berlumpur menuju pintu dapur, lalu berhenti begitu saja.

Sejak malam itu, Arman tak lagi menganggap remeh. Wajahnya mulai pucat, matanya sering tampak kosong. "Besok kita temui orang tua adat," katanya dengan suara berat.

Namun sebelum sempat melakukannya, kejadian yang lebih menakutkan terjadi. Dika, anak kami yang masih berusia lima tahun, tiba-tiba berbicara sendiri di kamar. Ia tertawa kecil, lalu menangis tanpa sebab.

"Ibu, ada tante nangis di hutan," katanya polos sambil menunjuk jendela.

"Tante siapa, Nak?" tanyaku sambil memeluknya erat.

"Tante yang tidak punya muka," jawabnya. Kalimat itu membuat darahku serasa berhenti mengalir.

Malam itu, rintihan terdengar lebih keras dari sebelumnya. Seolah ada seseorang berdiri tepat di balik pintu kamar kami. Aku menutup telinga Dika dan memeluknya sekuat tenaga. Bau tanah basah dan amis memenuhi ruangan.

"Pergi..." bisikku sambil menangis. "Tolong pergi dari rumah kami."

Tiba-tiba pintu dapur terbuka sendiri dengan bunyi keras. Angin dingin menerpa seluruh rumah. Di sela-sela rintihan, terdengar bisikan pelan, "Kembalikan..."

Bayangan hitam itu muncul di ujung lorong. Kini lebih jelas. Tubuhnya tinggi kurus, rambut panjang menutupi wajah yang seolah berlubang. Arman membaca doa dengan suara gemetar, sementara aku tak mampu bergerak.

Keesokan paginya, aku mendatangi Ina Mery dengan langkah gontai. "Tolong katakan yang sebenarnya," pintaku.

Ina Mery menghela napas panjang. "Rumahmu berdiri di jalur lama menuju hutan keramat. Dulu ada perempuan pendatang seperti kamu. Ia menghilang di hutan. Katanya, suaranya masih mencari jalan pulang."

"Kenapa dia mengganggu kami?" tanyaku putus asa.

"Karena kau menggantikan tempatnya," jawab Ina Mery pelan.

Ketakutanku memuncak ketika suatu sore Dika menghilang. Aku mendengar suara tangis dari arah hutan dan tanpa berpikir panjang aku mengikutinya. Semakin jauh aku masuk, hutan terasa berputar dan gelap.

"Dika!" teriakku berulang kali.

Yang menjawab adalah rintihan itu. Kini tepat di telingaku. Aku sadar aku telah mengikuti suara yang sama selama ini.

Di tengah hutan, aku melihat sosok perempuan itu berdiri di antara pepohonan kering. "Kau sudah pulang," katanya tanpa membuka mulut.

"Aku bukan kamu," jawabku sambil menangis.

"Kita sama," bisiknya. "Kita ditinggalkan."

Aku berlari sekuat tenaga. Rintihan berubah menjadi tawa yang mengejar dari segala arah. Kakiku terjerat akar, tubuhku terjatuh keras ke tanah.

Dalam keputusasaan, aku berteriak menyebut nama Tuhan. Seketika hutan sunyi. Sosok itu lenyap.

Aku ditemukan pingsan oleh Arman dan warga desa. Dika sudah lebih dulu ditemukan di rumah, tertidur pulas seolah tak pernah keluar.

Kami pindah dari rumah itu. Namun sejak malam di hutan, aku masih mendengar rintihan. Bukan dari luar, tapi dari dalam kepalaku sendiri.

Di cermin, aku kadang melihat bayangan perempuan tanpa wajah berdiri di belakangku. Saat aku menoleh, bayangan itu menyatu denganku.

Aku menyadari sesuatu yang mengerikan. Sejak tersesat di hutan, aku tak pernah melihat bayanganku sendiri di tanah.

Suatu malam, Dika menatapku dan berkata, "Ibu, sekarang ibu yang suka nangis malam-malam."

Aku tersenyum sambil menangis. Dari luar rumah baru kami, terdengar suara rintihan pelan, menyatu dengan nafasku sendiri. Dan aku tahu, Pulau Sumba tak pernah benar-benar melepaskanku.

Posting Komentar