Mimpi Buruk Jam 3 Pagi di Magelang
Cerita Horor Jam Tiga Pagi yang Terus Terulang
Namaku Fani. Usia tujuh belas tahun, siswi kelas sebelas di SMA Negeri yang jaraknya cuma dua puluh menit dari rumahku. Aku tinggal di sebuah desa kecil di pinggiran Kabupaten Magelang, daerah yang kalau malam terasa seperti berhenti bernafas. Lampu jalan cuma ada beberapa, selebihnya hanya gelap yang dipotong-potong oleh cahaya rumah warga yang temaram. Orang-orang di desa sering bilang tempat ini menyimpan kisah mistis Magelang yang tidak pernah benar-benar hilang.
Rumahku berdiri sendiri agak jauh dari tetangga. Di depannya ada kebun singkong dan pisang milik almarhum ibu. Kalau siang, tempat itu terlihat biasa saja. Tapi kalau malam, pohon-pohon pisang seperti berdiri lebih tinggi dari seharusnya, dan daun-daunnya berdesir seperti bisikan orang yang tidak ingin diketahui, mirip kisah Penunggu Rumah Tua di Purwokerto yang pernah kubaca dulu.
Aku tinggal hanya dengan ayah. Sejak ibu meninggal tiga tahun lalu karena sakit yang panjang, ayah jadi orang yang berbeda. Ia tidak lagi banyak bicara, tidak lagi tertawa, dan tidak pernah menatap mataku lama-lama. Setiap kali aku menyapanya, ia hanya mengangguk atau menjawab pendek.
“Fan, berangkat sekolah,” ucapku setiap pagi.
Ayah hanya menatap koran atau rokoknya, lalu menjawab tanpa melihat wajahku.
“Iya.”
Itu saja. Selalu itu saja.
Awalnya aku pikir ayah sedang berduka. Tapi semakin lama, sikap cueknya terasa bukan seperti sedih, melainkan seperti… tidak menganggap aku ada.
Dan sejak beberapa bulan terakhir, hidupku berubah jadi mimpi buruk yang tidak bisa aku ceritakan ke siapa pun. Rasanya seperti cerita horor jam 3 pagi yang dipaksa terulang setiap malam.
Semuanya dimulai pada malam pertama aku bermimpi dikejar hantu.
Malam itu hujan turun deras. Angin meniup genting sampai berbunyi seperti orang berjalan di atap. Aku tidur lebih cepat karena besok ada ulangan Matematika. Saat memejamkan mata, aku sempat mendengar ayah menutup pintu kamar dengan pelan.
Namun ketika aku tertidur, aku masuk ke dunia lain yang terasa jauh lebih nyata daripada kenyataan.
Dalam mimpi, aku berdiri di depan gerbang sekolahku. Tapi suasananya berbeda, seperti sekolah itu berubah menjadi tempat angker, seolah aku sedang terjebak dalam teror hantu sekolah yang menunggu korban. Tapi gerbang itu bukan gerbang besi seperti biasanya. Gerbangnya tinggi, hitam, penuh lumut, seperti gerbang pemakaman tua.
Langit di atas sekolah kelabu, dan jam di menara sekolah menunjukkan pukul tiga pagi.
Aku memanggil teman-temanku.
“Rina! Siska! Ada orang nggak?”
Tidak ada jawaban.
Koridor sekolah sepi, lantainya basah seperti baru saja disiram darah encer. Bau amis menusuk hidungku. Aku melangkah pelan, dan setiap langkahku terdengar menggema.
Lalu dari ujung lorong, aku melihat seseorang berdiri membelakangiku.
Rambutnya panjang menjuntai sampai pinggang. Seragamnya putih abu-abu, sama seperti seragamku, tapi bajunya sobek-sobek. Tangannya menggantung, dan di bawah kakinya ada genangan hitam pekat.
“Hei… kamu siapa?” suaraku bergetar.
Orang itu perlahan menoleh.
Wajahnya bukan wajah manusia. Matanya kosong seperti lubang sumur. Mulutnya sobek lebar sampai ke pipi, memperlihatkan gigi-gigi hitam.
Aku mundur.
Dan saat itulah ia berlari ke arahku dengan suara kaki yang tidak menyentuh lantai.
“Fani…”
Namaku disebut dengan nada serak, seperti suara orang tenggelam.
Aku langsung berlari. Aku tidak tahu harus ke mana, tapi kakiku bergerak sendiri. Aku melewati kelas-kelas yang pintunya terbuka. Di dalam kelas, bangku-bangku tersusun rapi, tapi di papan tulis ada tulisan besar dengan kapur merah.
AKU MENUNGGUMU.
Aku berteriak dan terus berlari sampai keluar sekolah. Tapi ketika aku keluar gerbang, aku tidak menemukan jalan desa atau rumahku. Yang ada hanya jalan tanah panjang menuju hutan bambu.
Angin berhembus dingin, dan suara bambu bergesekan seperti tawa kecil.
Di belakangku, suara langkah hantu itu semakin dekat.
“Fani… jangan lari…”
Aku menoleh sekilas, dan kulihat wajahnya semakin dekat. Kulitnya seperti terbakar, dan lehernya miring seolah patah.
Aku menjerit, lalu terjatuh.
Saat aku jatuh, tanah di bawahku berubah seperti lumpur yang menarik tubuhku masuk. Aku berusaha bangkit, tapi tangan-tangan hitam keluar dari tanah dan mencengkeram pergelangan kakiku.
“Tolong!”
Hantu itu berdiri di atas kepalaku, menatapku dari jarak dekat. Napasnya dingin dan bau tanah basah.
“Kamu harus ikut…” bisiknya.
Aku menutup mata.
Dan saat aku membuka mata kembali, aku terbangun di kamarku, basah oleh keringat.
Jam dinding menunjukkan pukul 03.00 tepat.
Aku menatap langit-langit kamar dengan napas terengah. Jantungku berdegup keras, seolah ingin keluar dari dada. Aku mengira itu hanya mimpi biasa. Tapi ketika aku bangun dan menyalakan lampu, aku melihat ada tanah basah menempel di ujung kakiku, seperti habis diinjak dari sawah.
Aku langsung menjerit.
Ayah tidak datang. Tidak ada suara langkah. Tidak ada pintu terbuka. Tidak ada apa-apa.
Aku turun dari ranjang dengan kaki gemetar dan berjalan ke ruang tengah. Lampu ruang tengah mati, tapi aku bisa melihat bayangan ayah duduk di kursi bambu, menghadap ke dinding.
“Ayah?” panggilku pelan.
Ayah menoleh sedikit, wajahnya terlihat pucat dalam gelap.
“Kamu kenapa belum tidur?” suaranya datar.
“Aku mimpi buruk… Ayah bisa temenin?”
Ayah tidak menjawab. Ia hanya menatapku sebentar, lalu kembali menatap dinding seperti orang kehilangan arah.
“Tidur saja. Besok sekolah.”
Itu saja. Tidak ada pelukan. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada rasa khawatir.
Aku kembali ke kamar dengan perasaan aneh. Ada bagian dari diriku yang sakit, bukan karena mimpi, tapi karena sikap ayah yang semakin dingin.
Sejak malam itu, mimpi buruk itu terus datang. Seolah ada kutukan yang membuatku mengalami mimpi buruk setiap malam tanpa bisa berhenti.
Setiap malam, selalu pukul tiga.
Selalu ada hantu.
Dan selalu ada namaku dipanggil.
Beberapa malam berikutnya, mimpinya berubah-ubah. Kadang aku berada di jalan desa yang gelap, dikejar suara langkah tanpa tubuh. Kadang aku berada di sungai, melihat mayat-mayat anak sekolah mengapung dengan mata terbuka. Kadang aku berada di rumahku sendiri, melihat pintu kamar ayah terbuka, dan di dalamnya ada sosok perempuan berambut panjang yang duduk membelakangi.
Tapi yang paling menakutkan adalah mimpi ketika aku melihat diriku sendiri.
Malam itu aku bermimpi berada di depan cermin kamar. Aku berdiri dengan seragam sekolah, rambutku diikat rapi. Tapi pantulan di cermin tidak meniru gerakanku, dan entah kenapa aku langsung teringat cerita Bayangan Dalam Lemari Tua yang pernah membuatku susah tidur.
Pantulan itu tersenyum sendiri.
Lalu ia menempelkan tangan ke kaca, seolah ingin keluar.
“Kamu capek ya, Fan?” kata pantulan itu.
Aku mundur.
“Kamu siapa?”
Pantulan itu menatapku dengan mata yang sama seperti mataku, tapi lebih gelap.
“Aku kamu. Tapi aku sudah tahu semuanya.”
“Tahu apa?”
Pantulan itu tertawa, lalu kaca cermin retak perlahan dari tengah. Retakannya menjalar seperti urat nadi. Dari retakan itu keluar bau anyir dan dingin yang menusuk.
“Kamu masih belum sadar…” bisiknya.
Lalu tangannya keluar dari cermin dan mencengkeram kerah seragamku.
Aku menjerit dan terbangun lagi pada pukul tiga pagi.
Kali ini aku benar-benar tidak kuat. Aku menyalakan lampu kamar, mengambil air minum, dan duduk di ranjang sambil memeluk lutut. Aku mencoba mengingat semua mimpi itu, mencoba mencari pola. Tapi semakin aku mengingat, semakin kepalaku sakit.
Seolah ada sesuatu yang menghalangi ingatanku sendiri.
Di sekolah, aku mulai berubah. Aku jadi mudah marah, mudah panik, dan sering melamun. Teman-temanku mulai memperhatikan, tapi entah kenapa… mereka jarang sekali benar-benar mengajakku bicara. Seolah aku hanya ada di pinggir pandangan mereka.
Satu-satunya orang yang masih sering menghampiriku hanyalah Akmal.
Akmal duduk di bangku belakang dekat jendela. Anak ustaz di kampung sebelah. Sikapnya tenang, bicaranya pelan, dan selalu membawa tas kecil berisi Al-Qur’an saku. Ia bukan tipe anak yang suka bercanda berlebihan. Tapi kalau ia menatap seseorang, tatapannya seperti menembus sampai ke isi kepala.
Orang-orang bilang Akmal itu aneh. Ada yang bilang ia sering melihat “yang tidak terlihat”. Ada juga yang bilang ia punya ilmu karena sering ikut ayahnya ruqyah orang kesurupan.
Aku dulu menertawakan rumor itu.
Sampai aku mulai mengalami mimpi buruk.
Siang itu, saat jam istirahat, aku duduk sendirian di bangku taman belakang kelas. Angin panas berhembus dari arah lapangan. Aku memegang kening, mencoba menahan pusing.
Tiba-tiba Akmal datang dan duduk di sebelahku tanpa permisi.
“Kamu nggak apa-apa, Fan?” tanyanya.
Aku menoleh, agak terkejut. “Hah? Oh… aku nggak apa-apa.”
Akmal mengangguk pelan, lalu menatap wajahku lama sekali.
“Kamu sering mimpi buruk ya?”
Aku langsung menegang. “Kok kamu tahu?”
Akmal tidak langsung menjawab. Ia hanya merogoh tasnya dan mengeluarkan botol kecil berisi air.
“Ini air doa. Minum sedikit. Biar kamu nggak terlalu lemah.”
Aku menatap botol itu curiga.
“Kamu ngapain bawa beginian ke sekolah?”
Akmal tersenyum tipis. “Kebiasaan.”
Aku menerima botol itu dan meminumnya. Rasanya hambar, tapi anehnya tenggorokanku terasa lebih hangat.
“Fan,” kata Akmal lagi, suaranya lebih pelan. “Kamu pernah merasa ada yang aneh sama dirimu?”
“Aneh gimana?”
Akmal menatap langit sebentar, lalu kembali menatapku.
“Kadang ada orang yang hidupnya… nggak utuh. Kayak ada bagian yang hilang.”
Aku menelan ludah. “Maksud kamu apa?”
Akmal menggeleng pelan, seolah tidak ingin menjawab langsung.
“Nggak apa-apa. Yang penting kamu jangan pulang sendirian. Kalau bisa, pulang bareng aku sampai gerbang.”
Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi bel masuk berbunyi.
Hari-hari berikutnya, Akmal semakin sering menemaniku. Ia tidak pernah terlihat takut meski aku menceritakan mimpi-mimpi burukku. Bahkan ketika aku menggambarkan sosok hantu bermulut sobek itu, Akmal hanya menarik napas panjang, seperti sudah menduga.
Suatu sore sepulang sekolah, aku dan Akmal berjalan melewati lorong belakang yang jarang dilewati siswa. Lorong itu sempit, dindingnya lembap, dan baunya seperti tanah basah. Aku tidak tahu kenapa kakiku otomatis membawa ke sana, tapi Akmal langsung berhenti.
“Jangan lewat sini, Fan,” katanya tegas.
Aku menatapnya bingung. “Kenapa?”
Akmal memandang ujung lorong yang gelap. Matanya menyipit seperti melihat sesuatu yang tidak kulihat.
“Ada yang nunggu.”
Aku merinding. “Nunggu siapa?”
Akmal menggenggam tasnya kuat, lalu berbisik, “Nunggu kamu.”
Aku menelan ludah. “Kamu bercanda kan?”
Akmal menggeleng. “Aku nggak pernah bercanda soal beginian.”
Aku menatap ujung lorong itu. Aku tidak melihat apa pun selain gelap. Tapi tiba-tiba bulu kudukku berdiri. Udara di sekitarku mendadak dingin.
Aku menoleh ke Akmal.
“Mal… kamu bisa lihat apa?”
Akmal tidak menjawab. Ia justru menarikku pelan menjauh dari lorong itu.
“Ayo pulang. Jangan banyak tanya.”
Namun rasa takut itu terus menempel sampai malam.
Dan seperti biasa… jam tiga pagi menjemputku lagi.
Seragam putih abu-abu.
Mulut sobek.
Aku merasa ada sesuatu yang menempel di punggungku, seolah ada mata yang mengawasi dari belakang.
Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak aku pedulikan.
Seperti tatapan orang-orang di sekolah.
Seperti bisikan yang berhenti mendadak saat aku lewat.
Seperti guru yang tidak pernah menyebut namaku ketika absen.
Aku ingat suatu pagi, Bu Wati guru Bahasa Indonesia memanggil absen.
“Rina Ayu?”
“Hadir, Bu.”
“Siska Rahma?”
“Hadir.”
Nama-nama disebut satu per satu. Aku menunggu namaku.
Tapi Bu Wati menutup buku absen tanpa menyebut “Fani.”
Aku mengangkat tangan.
“Bu, saya hadir.”
Bu Wati menatapku sebentar, lalu wajahnya berubah bingung. Ia melihat daftar absen lagi.
“Kamu…”
“Saya Fani, Bu.”
Bu Wati diam lama. Suasana kelas jadi hening. Lalu ia tertawa kecil, tapi tawanya terdengar dipaksakan.
“Oh… iya, iya. Maaf ya, Bu lupa.”
Namun aku bisa melihat tangannya gemetar saat ia menulis sesuatu di buku.
Sejak saat itu, aku mulai merasa ada yang tidak beres.
Aku pulang sekolah dengan langkah cepat. Sepanjang jalan desa, aku merasa udara lebih dingin daripada biasanya. Aku melewati sawah yang sedang kering, melewati pohon beringin besar dekat jembatan kecil. Pohon itu selalu membuatku tidak nyaman, tapi hari itu rasanya seperti ada sesuatu yang bergerak di antara akar-akarnya.
Ketika aku sampai rumah, pintu depan tidak terkunci. Aku masuk pelan.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
Aku melihat ayah duduk di ruang tengah, menatap foto ibu yang tergantung di dinding. Foto itu sudah agak kusam. Ibu tersenyum di sana, seperti tidak pernah merasakan sakit apa pun.
Aku mendekat.
“Ayah… Ayah nggak masak?” tanyaku.
Ayah menoleh, menatapku sekilas, lalu kembali menatap foto ibu.
“Kamu sudah makan di sekolah.”
“Belum,” jawabku. “Aku lapar.”
Ayah berdiri perlahan, berjalan ke dapur tanpa bicara. Ia mengambil piring, menaruh nasi dingin, dan menaruh telur goreng yang sudah keras seperti batu.
Ia menaruhnya di meja tanpa menatapku.
“Makan.”
“Ayah kenapa sih akhir-akhir ini dingin banget?” tanyaku, suaraku mulai meninggi. “Aku ini anak Ayah, kan?”
Ayah berhenti bergerak. Tangannya menggenggam sendok, tapi ia tidak menoleh.
“Jangan tanya yang aneh-aneh.”
“Kenapa Ayah nggak pernah ngomong sama aku? Kenapa Ayah kayak nggak peduli?”
Ayah menarik napas panjang, lalu menatapku dengan mata yang merah. Tapi tatapannya bukan marah, bukan sedih. Tatapannya seperti orang yang melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
“Kamu… pulang saja. Jangan bikin masalah.”
Aku terdiam.
“Ini rumahku juga!” bentakku.
Ayah tidak menjawab. Ia hanya duduk kembali, menunduk, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku meninggalkan meja makan dengan air mata menetes. Aku masuk kamar dan membanting pintu.
Hari itu aku tidak makan. Aku hanya berbaring, menatap langit-langit, mencoba menahan tangis.
Malam datang lagi.
Dan aku sudah tahu, pukul tiga akan kembali menjemputku.
Ketika aku tertidur, mimpi itu datang dengan lebih ganas.
Aku berada di jalan desa, tapi desa itu tidak seperti biasanya. Rumah-rumah tampak kosong, pintu-pintu terbuka, dan dari dalam rumah terdengar suara orang menangis.
Aku berjalan pelan, memanggil nama ayah.
“Ayah… Ayah di mana?”
Suara langkahku terdengar seperti orang berjalan di atas papan peti mati.
Lalu aku melihat sesuatu di tengah jalan.
Sebuah sepeda motor tergeletak miring, lampunya masih menyala. Kaca spion pecah, dan ada darah menetes dari stangnya.
Aku mengenali motor itu.
Motor itu motor ayah.
Aku berlari mendekat, tapi saat aku sampai, aku melihat sesuatu yang membuat tubuhku membeku.
Di samping motor itu, ada helm retak, dan di bawahnya… ada rambut panjang yang menempel dengan darah.
Aku menutup mulutku.
“Nggak… nggak mungkin…”
Suara tertawa kecil terdengar dari belakangku.
Ketika aku menoleh, hantu perempuan itu berdiri di bawah pohon beringin. Mulutnya sobek, matanya kosong, tapi kali ini ia membawa sesuatu di tangannya.
Sebuah tas sekolah.
Tas itu tas milikku.
“Kamu cari ini?” katanya sambil mengangkat tas itu.
Aku mundur, tapi kakiku terasa berat.
“Kenapa kamu selalu ganggu aku?” teriakku.
Hantu itu tertawa lagi, suaranya seperti daun kering diremas.
“Aku nggak ganggu kamu, Fan…”
Ia melangkah mendekat, dan tanah di sekitarnya berubah jadi hitam seperti bekas terbakar.
“Aku cuma ngajak kamu pulang.”
“Pulang? Ini sudah desa aku!”
Hantu itu menggeleng pelan.
“Belum. Kamu belum pulang ke tempat yang sebenarnya.”
Tiba-tiba angin kencang berhembus. Pohon beringin bergoyang, dan dari akar-akarnya keluar tangan-tangan putih yang meraih ke arahku.
Aku berlari, tapi jalan desa berubah menjadi lorong sekolah. Aku kembali berada di koridor yang sama, dengan papan tulis bertuliskan AKU MENUNGGUMU.
Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda.
Di ujung lorong, ada pintu kelas yang terbuka. Di atas pintu itu tertulis “XI IPA 2”. Kelas itu kelasku.
Aku berjalan mendekat, meski tubuhku menolak.
Ketika aku masuk, aku melihat bangku-bangku kosong, tapi di depan kelas ada guru berdiri membelakangiku.
Gurunya Bu Wati.
“Bu…” panggilku pelan.
Bu Wati menoleh perlahan.
Tapi wajahnya bukan wajah Bu Wati. Wajahnya penuh luka bakar, kulitnya mengelupas, dan matanya hitam pekat.
“Fani…” katanya dengan suara berat.
Aku mundur, tapi pintu kelas menutup sendiri.
Di papan tulis muncul tulisan baru, seperti ditulis oleh tangan tak terlihat.
KAMU SUDAH TERLAMBAT.
Aku menjerit dan memukul pintu, tapi pintu itu seperti tembok. Dari belakang, aku mendengar suara kursi bergeser. Aku menoleh, dan semua bangku di kelas kini terisi oleh murid-murid.
Tapi murid-murid itu bukan murid biasa.
Mereka semua pucat, mata mereka kosong, dan seragam mereka basah oleh darah. Ada yang kepalanya pecah, ada yang lehernya patah, ada yang tubuhnya berlubang seperti bekas kecelakaan.
Mereka menatapku serempak.
Dan mereka mulai berbisik bersamaan.
“Fani… Fani… Fani…”
Suara itu seperti ribuan serangga masuk ke telingaku.
Aku menutup telinga, tapi bisikan itu semakin keras.
Lalu dari belakangku, hantu perempuan bermulut sobek muncul lagi, berdiri sangat dekat.
“Kamu inget nggak?” bisiknya.
“Inget apa?” aku menangis.
Hantu itu menunduk, lalu ia membuka mulutnya lebih lebar, sampai rahangnya seperti patah. Dari dalam mulutnya keluar suara yang bukan suaranya.
Suara ayah.
“Fani… maafin Ayah…”
Aku membeku.
“Ayah?”
Hantu itu tertawa, lalu kelas bergetar. Lampu-lampu mati. Semua murid di kelas berdiri bersamaan, lalu berjalan mendekat ke arahku dengan gerakan patah-patah.
Aku berteriak sekuat tenaga.
Dan aku terbangun lagi, tepat pukul tiga.
Kali ini aku tidak bisa diam. Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku harus tahu kenapa mimpi-mimpi ini terasa seperti pesan.
Aku keluar kamar dan berjalan ke kamar ayah. Pintu kamar ayah tertutup rapat. Aku mengetuk.
Tok tok tok.
“Ayah?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka pintu perlahan. Kamar ayah gelap, hanya ada cahaya bulan masuk dari jendela.
Ayah duduk di lantai, memeluk sesuatu.
Ketika mataku menyesuaikan, aku melihat ia memeluk… baju seragam sekolah.
Seragam putih abu-abu.
Seragam itu milikku.
Aku mendekat dengan napas tercekat.
“Ayah… ngapain?”
Ayah menoleh. Matanya merah, wajahnya penuh air mata. Tapi yang membuatku merinding adalah cara ia menatapku.
Seolah ia menatap sesuatu yang tidak nyata.
“Kamu… kamu jangan ke sini,” katanya pelan, suaranya gemetar.
“Kenapa?”
Ayah menggenggam seragam itu lebih erat.
“Aku nggak kuat…”
“Ayah ngomong apa sih?”
Ayah menggeleng kuat-kuat, lalu menutup matanya.
“Kamu sudah pergi, Fan. Kamu sudah pergi…”
Aku terdiam. Tubuhku dingin.
“Pergi? Maksud Ayah?”
Ayah menatapku lagi, kali ini dengan tatapan kosong.
“Aku nggak mau lihat kamu. Aku nggak mau lihat kamu berdiri di sini. Aku nggak mau…”
Ia menangis, suara tangisnya tertahan, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan rasa bersalah.
Aku mundur selangkah.
“Ayah… aku ini Fani. Aku anak Ayah. Aku hidup.”
Ayah tidak menjawab. Ia hanya memeluk seragam itu dan menggoyangkan tubuhnya pelan seperti orang gila.
“Maafin Ayah…”
Kalimat itu membuat kepalaku berdenyut.
Dan tiba-tiba, potongan-potongan ingatan muncul seperti kilat.
Jalan desa gelap.
Motor melaju cepat.
Hujan deras.
Suara rem menjerit.
Dan suara tubuh jatuh.
Aku memegang kepalaku.
“Ayah… apa yang Ayah lakukan?”
Ayah mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, ia menatapku tepat di mata.
Namun tatapan itu bukan tatapan seorang ayah pada anaknya.
Itu tatapan seorang ayah pada penyesalan yang tidak bisa dihapus.
“Aku nggak sengaja…” bisiknya. “Ayah cuma marah malam itu…”
“Malam apa?”
Ayah menutup wajahnya lagi.
“Malam kamu pulang terlambat. Kamu bilang kamu ikut belajar kelompok, tapi Ayah lihat kamu naik motor sama anak laki-laki itu. Ayah marah. Ayah kejar kamu…”
Jantungku seperti dihantam palu.
“Aku…”
Ayah melanjutkan dengan suara patah.
“Ayah ngebut. Ayah nggak lihat tikungan. Motor jatuh. Kamu… kamu mental ke batu.”
Aku merasa lantai berputar.
“Nggak…”
Ayah menangis lagi, lebih keras.
“Ayah bawa kamu pulang. Ayah nggak bawa ke rumah sakit. Ayah takut. Ayah bodoh. Ayah pikir kamu cuma pingsan. Tapi… kamu dingin. Kamu nggak bangun.”
Air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.
“Jadi… aku…”
Ayah menatap seragam itu, lalu berbisik, “Ayah kubur kamu di belakang rumah. Di kebun singkong. Ayah bilang ke orang-orang kamu pindah sekolah ke kota. Ayah bohong. Ayah bohong ke semua orang…”
Dadaku sesak. Aku ingin berteriak, tapi tidak ada suara keluar.
Aku menatap tangan-tanganku sendiri.
Tanganku pucat.
Sangat pucat.
Aku menatap kaki-kakiku.
Dan tiba-tiba aku sadar, sejak beberapa bulan ini, aku tidak pernah benar-benar makan. Aku tidak pernah benar-benar merasa kenyang. Aku hanya merasa lapar, tapi tidak pernah lapar itu hilang.
Dan di sekolah… semua orang seperti melihatku tapi tidak melihatku.
Bu Wati tidak menyebut namaku di absen.
Orang-orang berbisik ketika aku lewat.
Aku seperti bayangan yang memaksa diri untuk tetap berjalan.
Aku mengingat sesuatu lagi.
Suatu hari di kantin, aku duduk sendirian. Aku membeli bakso, tapi ketika aku coba makan, sendokku menembus bakso itu seperti menembus asap. Saat itu aku pikir aku hanya pusing.
Ternyata bukan.
Aku menatap ayah dengan mata berkaca-kaca.
“Ayah… jadi aku ini… sudah mati?”
Ayah mengangguk pelan, tubuhnya gemetar.
“Sejak malam itu.”
“Tapi kenapa aku masih sekolah?”
Ayah tertawa pahit.
“Ayah juga nggak ngerti. Setiap pagi, Ayah lihat kamu keluar rumah pakai seragam. Ayah dengar pintu terbuka. Ayah dengar langkahmu. Tapi setiap kali Ayah coba nyapa… Ayah cuma ingat… kamu sudah nggak ada.”
Ayah menatapku dengan mata merah.
“Ayah takut, Fan. Ayah takut kamu marah. Ayah takut kamu minta balas dendam.”
Aku mundur perlahan.
“Jadi… selama ini Ayah cuek karena Ayah… nggak sanggup?”
Ayah mengangguk, lalu menangis seperti anak kecil.
“Ayah nggak sanggup lihat kamu.”
Suasana kamar terasa semakin dingin. Lampu kamar berkedip meski tidak ada angin. Dari luar, terdengar suara daun pisang bergesekan seperti bisikan.
Aku memegang dadaku sendiri. Tidak ada detak jantung.
Tidak ada napas hangat keluar dari mulutku.
Dan saat itu, aku teringat semua mimpi burukku.
Hantu perempuan itu.
Ia selalu bilang aku harus ikut.
Ia selalu bilang aku belum pulang ke tempat yang sebenarnya.
Ternyata, ia bukan mengejarku untuk membunuhku.
Ia mengejarku karena aku sudah mati… tapi masih menolak pergi.
Di luar kamar ayah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Langkahnya pelan, menyeret.
Aku menoleh ke pintu.
Pintu kamar ayah terbuka sendiri perlahan.
Dan di sana berdiri sosok perempuan bermulut sobek itu.
Rambutnya basah, seragamnya robek, dan tubuhnya seperti keluar dari tanah.
Ayah menjerit ketakutan dan mundur sampai menempel ke dinding.
“Jangan! Jangan ambil dia!”
Hantu itu menatap ayah, lalu tersenyum lebar, mulutnya makin sobek.
“Dia bukan milikmu lagi.”
Aku berdiri, tubuhku gemetar.
“Kamu siapa?” tanyaku, suaraku lirih.
Hantu itu menatapku lama.
“Aku yang pertama.”
“Yang pertama?”
Ia melangkah masuk. Setiap langkahnya meninggalkan jejak tanah hitam.
“Ayahmu… bukan cuma membunuhmu.”
Ayah menangis sambil menutup telinga.
“Diam… diam…”
Hantu itu tertawa pelan.
“Dulu, sebelum kamu, ada aku. Aku siswi sekolahmu. Aku juga mati karena dia.”
Aku menatap ayah dengan mata membesar.
“Ayah?”
Ayah menggigil, tidak bisa bicara.
Hantu itu melanjutkan, suaranya seperti angin keluar dari kuburan.
“Dia menabrakku di jalan desa. Mabuk. Lalu dia menguburku di dekat beringin. Dia pikir tidak ada yang tahu.”
Aku merasa mual meski aku tidak punya tubuh hidup lagi.
“Jadi… mimpi-mimpi itu…”
Hantu itu mengangguk.
“Itu bukan mimpi. Itu ingatan yang kamu kubur dalam kepalamu sendiri.”
Aku menatap ayah, air mataku jatuh seperti hujan.
“Ayah… kenapa?”
Ayah memukul kepalanya sendiri dengan tangan.
“Ayah salah… Ayah salah…”
Hantu itu menatapku lagi.
“Kamu masih di sini karena kamu masih berharap ayahmu akan mengakui kamu. Kamu masih ingin dipeluk. Kamu masih ingin dengar dia bilang sayang.”
Kata-kata itu menusukku lebih dalam daripada semua mimpi buruk.
Karena itu benar.
Aku masih tinggal di rumah ini, masih sekolah, masih berjalan seperti manusia, karena aku belum siap menerima kenyataan bahwa aku sudah tidak hidup.
Aku memandang ayah yang menangis.
Di dalam hatiku, ada dua perasaan yang bertarung.
Marah.
Dan rindu.
Ayah mengangkat wajahnya, menatapku dengan mata penuh penyesalan.
“Fani… Ayah sayang kamu…”
Suara itu akhirnya keluar. Kalimat yang selama ini tidak pernah ia ucapkan.
“Ayah sayang… tapi Ayah takut.”
Aku menangis lebih keras.
“Kalau Ayah sayang, kenapa Ayah biarin aku mati?”
Ayah tersedu.
“Ayah bodoh… Ayah egois… Ayah pikir bisa nutup semuanya. Ayah pikir kamu akan pergi… tapi kamu tetap datang setiap hari. Ayah dengar langkahmu setiap pagi. Ayah lihat seragammu tergantung sendiri. Ayah… Ayah gila…”
Hantu perempuan itu melangkah mendekat ke arahku, lalu mengulurkan tangannya.
“Sekarang kamu sudah tahu. Kamu bisa ikut aku.”
Aku menatap tangan itu. Tangannya dingin, kotor, penuh tanah.
Aku menoleh ke ayah.
Ayah merangkak mendekat, mencoba memegang kakiku. Tapi tangannya menembus kakiku seperti menembus kabut.
Ia menatap tangannya sendiri dengan putus asa.
“Kamu… kamu nggak nyata…” bisiknya.
Aku menatapnya dengan sedih.
“Ayah yang bikin aku jadi begini.”
Ayah menjerit, lalu menunduk sampai kepalanya menyentuh lantai.
“Ayah minta maaf… Ayah minta maaf…”
Di luar, suara ayam jantan mulai terdengar. Subuh hampir tiba.
Aku merasakan tubuhku semakin ringan, seperti asap yang akan hilang tertiup angin.
Aku tahu, kalau matahari terbit, aku akan kembali ke sekolah, berjalan lagi seperti biasa, pura-pura hidup lagi.
Dan mimpi buruk itu akan terus datang.
Kecuali… aku memilih pergi.
Aku menatap hantu perempuan itu.
“Kalau aku ikut kamu… aku akan ke mana?”
Hantu itu tersenyum.
“Ke tempat kita seharusnya.”
Aku menelan ludah, meski tenggorokanku sudah bukan tenggorokan hidup.
“Apa kamu akan menyakitiku?”
Hantu itu menggeleng.
“Aku cuma penjaga jalan pulang.”
Aku menatap ayah sekali lagi. Untuk pertama kalinya, aku melihatnya benar-benar sebagai manusia rapuh, bukan sebagai ayah yang kuat. Ia menyesal, tapi penyesalannya terlambat.
“Ayah…” panggilku pelan.
Ayah mengangkat wajahnya.
“Jangan pergi… jangan tinggalin Ayah…”
Aku tersenyum kecil, meski air mata masih jatuh.
“Ayah sudah ninggalin aku duluan.”
Kalimat itu membuat ayah terdiam.
Aku melangkah mendekat ke arah ayah. Aku mengulurkan tangan, mencoba menyentuh kepalanya. Tapi tanganku menembus rambutnya seperti angin.
“Ayah, aku capek,” bisikku. “Aku capek mimpi buruk setiap malam. Aku capek lari dari sesuatu yang ternyata adalah kenyataan.”
Ayah menangis lagi.
“Ayah akan menyerahkan diri… Ayah janji…”
Aku menatapnya.
“Bukan itu yang aku butuh.”
Ayah menatapku dengan mata putus asa.
“Terus kamu butuh apa?”
Aku menutup mata sebentar.
“Aku cuma butuh Ayah mengakui aku. Mengakui bahwa aku sudah mati. Mengakui bahwa aku bukan imajinasi. Aku cuma anak Ayah yang hilang.”
Ayah mengangguk cepat.
“Iya… iya… kamu Fani. Kamu anak Ayah. Kamu… kamu mati karena Ayah.”
Kalimat itu terdengar seperti pengakuan dosa.
Dan anehnya, setelah kata-kata itu keluar, aku merasakan sesuatu dalam diriku seperti dilepaskan. Seperti rantai yang selama ini mengikat kakiku akhirnya patah.
Hantu perempuan itu menatapku puas.
“Sekarang kamu bisa pulang.”
Aku mengangguk pelan.
Tapi sebelum aku pergi, aku melihat sesuatu di sudut kamar ayah.
Sebuah foto.
Foto keluarga kecil kami. Ayah, ibu, dan aku kecil. Aku tersenyum lebar, memeluk tangan ibu. Ayah juga tersenyum, meski senyumnya tipis.
Aku menatap foto itu lama.
“Ayah… ibu pasti sedih lihat kita begini,” kataku lirih.
Ayah menunduk.
“Ibu kamu datang tiap malam di mimpi Ayah… dia cuma nangis.”
Aku menatap hantu perempuan itu lagi.
“Aku siap.”
Hantu itu mengulurkan tangannya.
Aku memegang tangannya.
Dan seketika, ruangan berubah.
Kamar ayah menghilang. Rumahku menghilang. Semua menggelap, lalu muncul jalan tanah panjang yang aku kenal dari mimpi.
Di kiri kanan, pohon bambu berdiri rapat, membentuk lorong alami. Angin bertiup pelan, membawa suara bisikan yang tidak lagi menakutkan.
Hantu perempuan itu berjalan di depanku.
“Namamu siapa?” tanyaku.
Ia menoleh sebentar.
“Aku Diah.”
“Kamu benci ayahku?”
Diah tersenyum miring.
“Aku benci manusia yang mengubur dosa dan berharap tanah akan diam.”
Aku menunduk.
“Aku nggak tahu harus benci atau sedih.”
Diah tidak menjawab. Ia hanya terus berjalan.
Kami sampai di sebuah tempat yang membuatku merinding.
Sebuah tanah lapang dengan banyak nisan kecil tanpa nama. Nisan-nisan itu tidak beraturan, seperti dibuat terburu-buru. Di tengah lapang itu ada satu pohon beringin besar, akar-akarnya menjalar seperti ular.
Diah berhenti di depan satu nisan yang baru.
Nisan itu bertuliskan namaku.
FANI.
Tulisan itu samar, seperti ditulis dengan arang.
Aku menatap nisan itu lama.
“Ini… aku?”
Diah mengangguk.
“Tubuhmu di bawah sini.”
Aku merasakan tenggorokanku tercekat. Aku tidak pernah membayangkan aku akan melihat makamku sendiri.
Di belakang nisan itu, tanah terlihat lebih gelap, seolah baru saja digali beberapa bulan lalu.
“Jadi selama ini aku… tidur di atas tubuhku sendiri?”
Diah menatapku.
“Kamu tidur di atas kebohongan.”
Aku berlutut di depan nisan itu. Aku menyentuh tanahnya. Dingin.
Tiba-tiba, suara langkah terdengar di belakang kami.
Aku menoleh.
Ayah berdiri di tepi lapang itu, wajahnya pucat, matanya membesar.
“Fani…” suaranya pecah.
Aku berdiri pelan.
“Ayah?”
Ayah berjalan pelan mendekat, tapi setiap langkahnya terlihat berat seperti membawa batu besar.
“Aku ngikutin suara kamu,” katanya. “Aku nggak tahu kenapa… tapi aku dengar kamu.”
Diah menatap ayah dengan mata tajam.
“Kamu berani datang.”
Ayah menatap Diah, lalu lututnya lemas. Ia jatuh di tanah.
“Aku minta maaf… aku minta maaf…”
Diah mendekat, berdiri di depan ayah.
“Maaf nggak bisa menghidupkan mereka.”
Ayah menangis.
“Aku tahu… aku tahu…”
Aku memandang ayah dengan perasaan campur aduk. Ada bagian dari diriku yang ingin memeluknya. Ada bagian lain yang ingin berteriak sekuat tenaga.
Ayah mengangkat wajahnya padaku.
“Fan… Ayah… Ayah nggak pantas hidup.”
Aku menatapnya lama, lalu berkata pelan, “Ayah akan hidup dengan rasa bersalah itu. Itu hukuman yang lebih berat daripada mati.”
Ayah menutup mulutnya, menangis tersedu.
Diah menoleh padaku.
“Sudah. Waktumu hampir habis.”
Aku menatap langit. Langit mulai berubah warna, dari hitam menjadi abu-abu. Subuh benar-benar datang.
Aku menatap ayah untuk terakhir kalinya.
“Ayah…”
Ayah menatapku penuh harap.
“Aku maafin Ayah,” kataku. “Tapi aku nggak bisa tinggal.”
Ayah menjerit.
“Jangan pergi!”
Aku tersenyum tipis.
“Ayah sudah kehilangan aku sejak malam itu. Sekarang, Ayah harus belajar hidup tanpa bayanganku.”
Ayah mencoba meraih tanganku, tapi lagi-lagi tangannya menembusku.
Ia terjatuh, memukul tanah, seperti orang yang kehilangan kewarasan.
Diah menggenggam tanganku erat.
“Ayo.”
Dan saat kami berjalan menjauh dari nisan itu, aku mendengar suara ayah yang semakin kecil.
“Fani… Fani… jangan…”
Suara itu memudar bersama kabut.
Ketika kami masuk ke lorong bambu, aku merasakan tubuhku semakin ringan, semakin tipis, seperti kertas yang terbakar.
Aku menoleh ke belakang.
Lapangan itu menghilang. Nisan itu menghilang. Ayahku menghilang.
Yang tersisa hanya suara bambu yang berdesir.
Diah berhenti di depan sebuah pintu kayu tua yang berdiri sendirian di tengah lorong.
Pintu itu tidak punya dinding. Hanya pintu.
Di atasnya ada tulisan yang membuatku menggigil.
RUMAH.
Diah menatapku.
“Kalau kamu masuk, kamu tidak akan kembali.”
Aku mengangguk.
“Aku sudah capek balik.”
Diah tersenyum, kali ini tidak menyeramkan. Ada sedikit rasa lega di wajahnya.
“Selamat pulang, Fani.”
Aku memegang gagang pintu itu. Dinginnya seperti es.
Sebelum aku membuka pintu, aku mendengar suara kecil di belakangku.
Suara anak-anak tertawa.
Aku menoleh.
Di lorong bambu itu, berdiri banyak anak berseragam sekolah. Wajah mereka pucat, tapi mata mereka tidak menyeramkan. Mereka menatapku seperti teman lama.
Aku mengenali beberapa di antaranya.
Salah satunya adalah siswi yang pernah hilang dari sekolahku tahun lalu.
Ia melambaikan tangan padaku.
“Ayo, Kak Fani,” katanya pelan.
Aku menelan ludah, lalu mengangguk.
Aku membuka pintu itu.
Cahaya putih menyilaukan keluar, hangat, seperti sinar matahari pertama yang aku rasakan setelah lama berada dalam hujan.
Aku melangkah masuk.
Dan saat kakiku melewati ambang pintu, semua mimpi burukku berhenti.
Tidak ada lagi pukul tiga.
Tidak ada lagi hantu mengejar.
Tidak ada lagi sekolah yang terasa seperti kuburan.
Yang ada hanya keheningan yang damai.
Namun, anehnya, di sampingku ada "Akmal" teman sekolahku.
“Mal, apakah kamu juga sudah mati?” kataku pelan.
“Tidak, aku hanya ingin mengajakmu kesana” katanya pelan.
“Kemana?” Jawabku.
Aku melihat taman yang indah, pepohonan yang asri, hewan berterbangan, anak-anak berlarian, ada yang memakan buah-buahan langsung, ada juga yang berenang di air yang sangat jernih.
Namun jauh di dunia yang aku tinggalkan, Akaml menunjukan sesuatu, di rumah kecil pinggir kebun singkong, ayahku terduduk sendirian. Ia menatap kursi kosong di ruang tengah.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, rumah itu benar-benar sepi.
Tidak ada suara pintu kamar terbuka.
Tidak ada suara langkah kaki kecil menuju dapur.
Tidak ada suara seorang anak perempuan berkata, “Ayah, aku berangkat sekolah.”
Ayah menatap langit-langit rumah dan menangis.
“Fan…”
Namaku keluar dari mulutnya seperti doa yang terlambat.
Di belakang rumah, tanah kebun singkong tetap diam. Tapi kalau orang desa lewat saat malam, mereka bilang kadang ada suara anak perempuan tertawa pelan di dekat kuburan tanpa nisan.
Bukan tertawa bahagia.
Tapi tertawa seperti orang yang akhirnya berhenti bermimpi buruk.
Dan sejak malam itu, jam di rumah ayahku selalu berhenti tepat di pukul tiga.
Seolah waktu pun menolak bergerak, menunggu seseorang yang sudah tidak akan pernah kembali.
Dan aku juga melihat "Akmal" di depan sekolah sambil menatap langit, menatap ke arahku, Akmal yang di sampingku telah hilang.
Akmal terlihat tersenyum melihatku dan menunjukkan jempol tangannya seolah tau aku berada di tempat yang seharusnya.
Siapakah Akmal? pertanyaan itu tak pernah terjawab.
TAMAT.

Posting Komentar