Sosok di Balik Tirai Rumah Tua

Table of Contents
Wanita ketakutan setelah melihat hantu di balik tirai jendela rumah

Teror Wanita Putih di Desa Terpencil

Angin malam di perkampungan terpencil itu selalu membawa hawa yang berbeda dibandingkan siang hari. Jika pagi hingga sore desa itu tampak biasa saja—anak-anak berlari di jalan tanah, ibu-ibu menjemur pakaian, suara ayam dan motor tua bersahutan—maka ketika matahari tenggelam, suasananya berubah drastis. Sunyi terasa lebih pekat, bayangan pepohonan tampak lebih panjang, dan setiap rumah seperti menyimpan rahasia masing-masing. Di desa itulah Fifi memulai hidup barunya sebagai seorang istri.

Fifi baru tiga bulan menikah dengan Arga. Pekerjaan Arga sebagai petugas survei tanah membuat mereka harus pindah dari kota ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah. Awalnya Fifi sempat kecewa membayangkan tinggal di desa yang jauh dari pusat perbelanjaan dan hiruk-pikuk kota. Namun semua bayangannya berubah ketika mereka tiba di rumah yang akan mereka tempati.

Rumah itu bukan rumah kayu sederhana seperti yang ia kira, melainkan rumah gedung permanen yang cukup bagus dan mencolok dibanding bangunan lain di sekitarnya. Dindingnya tembok kokoh berwarna krem muda, pagarnya besi hitam dengan motif sederhana, dan lantainya keramik putih mengilap. Di ruang tamu terdapat sofa empuk berwarna abu-abu lengkap dengan meja kaca modern. Sebuah lemari pajangan berdiri di sudut ruangan, dan televisi layar datar tergantung di dinding. Bahkan ada lampu gantung cantik yang membuat ruangan tampak hangat saat malam tiba.

“Lumayan banget ya, Mas. Aku kira rumahnya kecil,” ujar Fifi kagum saat pertama kali masuk.

Arga tersenyum bangga. “Ini rumah dinas lama yang direnovasi. Katanya biar pegawai betah. Kamu nyaman kan?”

Fifi mengangguk. Ia benar-benar merasa beruntung. Rumah itu terasa aman dan nyaman, seperti perlindungan di tengah desa yang asing.

Namun kenyamanan itu terasa sedikit terganggu oleh satu hal—rumah tepat di sebelahnya.

Berbeda jauh dengan rumah mereka yang terang dan rapi, rumah tetangga itu tampak tua dan menyeramkan, mengingatkan Fifi pada kisah Penunggu Rumah Tua di Purwokerto yang pernah ia baca. Dindingnya kusam dan retak di sana-sini. Catnya mengelupas memperlihatkan lapisan semen kasar. Jendelanya kayu lapuk berwarna cokelat tua dengan tirai putih kotor yang selalu menggantung setengah terbuka. Halamannya dipenuhi rumput liar dan pohon pisang yang tak terawat. Atapnya sedikit miring, seolah menua bersama waktu.

Kontras antara dua rumah itu terasa mencolok—yang satu terang, kokoh, dan nyaman; yang satu gelap, lembap, dan suram.

“Mas, yang tinggal di sebelah siapa?” tanya Fifi pada malam pertama mereka di sana.

“Kata Pak RT cuma kakek-kakek tua. Namanya Mbah Wiryo. Sendirian sejak istrinya meninggal,” jawab Arga santai.

Fifi mengangguk, berusaha tidak memikirkan rumah itu lebih jauh. Tapi entah kenapa, setiap kali ia duduk di sofa ruang tamu dan menatap keluar melalui jendela besar rumahnya, pandangannya selalu tertuju pada tirai putih kusam di rumah tua itu.

Malam pertama berlalu tanpa gangguan. Malam kedua juga. Namun pada malam ketiga, tepat sekitar pukul sebelas lewat, sesuatu terjadi.

Fifi terbangun karena merasa seperti ada yang memperhatikannya. AC kamar berembus pelan, Arga tertidur lelap di sampingnya. Ia bangkit perlahan dan berjalan ke ruang tamu untuk minum air. Lampu ruang tamu masih menyala redup, memantulkan cahaya lembut pada sofa dan lantai keramik.

Saat ia mendekati jendela, tanpa sengaja matanya menangkap sesuatu di rumah sebelah.

Di balik tirai putih yang separuh tersibak, berdiri sosok perempuan bergaun putih panjang. Gaunnya menjuntai hingga lantai. Rambutnya hitam panjang terurai. Wajahnya pucat seperti tak pernah tersentuh matahari. Dan yang paling mengganggu—senyumnya.

Senyum itu terlalu lebar. Terlalu kaku. Terlalu lama.

Fifi membeku. Jantungnya berdetak keras hingga terasa sakit. Sosok itu berdiri diam, tepat di jendela rumah tua yang gelap, menatap lurus ke arah rumah Fifi yang terang.

“Mas…” bisik Fifi dengan suara hampir tak terdengar.

Arga terbangun ketika Fifi mengguncang bahunya. “Kenapa?”

“Di rumah sebelah… ada perempuan.”

Arga bangkit dan berjalan ke ruang tamu. Ketika ia melihat ke luar, tirai rumah tua itu sudah tertutup rapat. Tidak ada siapa-siapa.

“Enggak ada, Fi. Jangan bikin aku kaget.”

Fifi terdiam. Ia yakin bukan salah lihat.

Malam berikutnya, sosok itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas karena lampu ruang tamu Fifi menyala terang. Cahaya dari dalam rumahnya justru menerangi sebagian wajah perempuan itu, membuat senyumnya terlihat semakin nyata dan mengerikan.

Setiap malam ia muncul pada jam yang sama, seperti pola teror dalam kisah Mimpi Buruk Jam 3 Pagi di Magelang yang selalu datang tepat di waktu orang-orang terlelap.

Kadang ia hanya berdiri diam. Kadang kepalanya miring perlahan. Kadang tangannya terangkat sedikit, seperti hendak mengetuk kaca.

Fifi mulai kehilangan nafsu makan. Ia sering duduk diam di sofa ruang tamunya sambil memandangi jendela, menunggu dengan cemas apakah sosok itu akan muncul lagi.

Suatu sore ia berbincang dengan Bu Rini.

“Bu, istri Mbah Wiryo meninggalnya kenapa?”

Bu Rini terlihat ragu. “Katanya bunuh diri. Gantung diri di ruang tamu dekat jendela.”

“Dekat jendela?” Fifi merasakan dingin merambat di punggungnya.

“Iya. Dulu tirainya juga putih.”

Malam itu, sosok perempuan muncul lebih dekat dari biasanya. Tirai tersibak lebar. Ia tidak hanya berdiri, tetapi mengangkat tangan dan melambaikan jari-jarinya perlahan ke arah rumah Fifi.

Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu pagar besi rumah Fifi.

Tok. Tok. Tok.

Arga membuka pintu. Mbah Wiryo berdiri di luar pagar dengan tongkat kayunya.

“Kalau lihat apa-apa dari rumah saya, jangan diladeni,” katanya pelan namun tegas.

Fifi merasa napasnya tercekat. Bagaimana kakek itu tahu?

Rasa penasaran akhirnya mengalahkan rasa takut. Suatu siang ketika Arga bekerja, Fifi mendatangi rumah tua itu. Begitu masuk, ia langsung merasakan perbedaan suhu. Rumah itu lembap dan dingin meski matahari bersinar terik di luar.

Ruang tamunya sempit dan gelap. Lantai semen kasar. Kursi kayu reyot. Di dinding tergantung foto seorang perempuan muda bergaun putih. Senyum dalam foto itu identik dengan senyum yang ia lihat setiap malam.

“Cantik ya, istri saya.”

Fifi terkejut. Mbah Wiryo berdiri di belakangnya.

“Saya sering melihatnya di jendela, Mbah,” kata Fifi tanpa basa-basi.

Kakek itu terdiam lama. “Dia tidak suka rumahmu lebih terang dari rumah ini.”

“Apa maksudnya?”

“Dulu, rumah ini yang paling bagus di kampung. Halaman luas. Jendela besar. Tapi waktu berlalu… semuanya berubah.”

Malam puncak teror datang seminggu kemudian.

Fifi terbangun dan mendapati dirinya berdiri di ruang tamu rumahnya sendiri. Lampu mati. Hanya cahaya bulan menerobos masuk. Pintu rumah terbuka sedikit.

Tanpa sadar ia melangkah keluar, melewati pagar, menuju rumah tua itu.

Pintu rumah tua terbuka lebar. Di dalam, perempuan bergaun putih berdiri tepat di bawah kusen jendela.

Namun kali ini ia tidak tersenyum.

Air mata hitam mengalir di pipinya.

“Aku tidak ingin sendiri…” bisiknya.

Tiba-tiba bayangan masa lalu menyeruak ke kepala Fifi. Ia melihat pertengkaran hebat antara Mbah Wiryo dan istrinya. Teriakan. Benturan keras. Tubuh terjatuh. Sunyi. Panik. Tali dipasang di langit-langit. Tirai ditutup untuk menyembunyikan semuanya.

“Dia tidak bunuh diri…” bisik Fifi dengan suara bergetar.

Perempuan itu mengangguk pelan.

Tiba-tiba Mbah Wiryo muncul di belakang Fifi dengan wajah penuh kemarahan. “Kamu tidak berhak tahu!” teriaknya.

Namun sebelum ia sempat mendekat, napasnya terhenti. Tubuhnya jatuh ke lantai semen dengan bunyi keras. Serangan jantung merenggut nyawanya malam itu.

Warga berdatangan. Arga menemukan Fifi dalam keadaan linglung.

Beberapa hari kemudian, rumah tua itu dibongkar. Di bawah lantai dekat jendela ditemukan potongan tali lama dan noda gelap yang tak pernah hilang.

Sejak itu, sosok perempuan tak pernah muncul lagi.

Rumah Fifi tetap terang, bersih, dan nyaman. Sofa empuk di ruang tamu kembali menjadi tempat bersantai tanpa rasa was-was.

Namun setiap malam sebelum menutup tirai jendela besarnya, Fifi selalu melirik ke arah rumah kosong di sebelah.

Bukan karena takut.

Melainkan karena ia sadar, terkadang yang paling menyeramkan bukanlah sosok yang berdiri di balik tirai rumah tua yang gelap.

Melainkan rahasia manusia yang tersimpan rapi, menunggu seseorang cukup berani untuk melihatnya.

Posting Komentar