Teror Hantu Jembatan Gantung Maluku
Bayangan Hantu di Jembatan Maluku
Hari pertama Rina menginjakkan kaki di Maluku terasa berbeda. Angin laut berhembus lembut, membawa aroma asin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Rumah barunya berada di sebuah desa kecil yang tidak terlalu ramai. Dari halaman depan rumah, terlihat pepohonan kelapa bergoyang perlahan. Di kejauhan, ada sebuah jembatan gantung tua yang melintang di atas sungai lebar yang mengalir menuju laut.
"Rina, cepat bereskan barangmu. Besok kamu sudah harus masuk sekolah," kata ibunya dari ruang tamu.
"Iya, Bu," jawab Rina santai.
Rina berjalan ke jendela kamarnya. Dari sana, jembatan gantung itu terlihat jelas. Tali-tali besinya tampak berkarat. Papan kayunya sebagian terlihat gelap seperti sudah lama tidak diganti.
Namun ada sesuatu yang aneh.
Di tengah jembatan, seolah berdiri seseorang.
Seorang wanita bergaun putih panjang. Rambutnya menjuntai hingga menutupi wajah, mengingatkan Rina pada cerita misteri seperti Sosok di Balik Tirai Rumah Tua yang pernah ia dengar dari orang desa.
Rina menatapnya beberapa detik.
Lalu ia hanya menghela napas pelan.
"Oh... ada lagi," gumamnya datar.
Ia menutup tirai jendela dan kembali merapikan koper. Baginya, pemandangan seperti itu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Malam pertama di rumah baru, suara jangkrik terdengar sangat jelas. Desa itu jauh lebih sunyi dibanding kota tempat Rina tinggal sebelumnya, membuat Rina teringat kisah horor seperti Mimpi Buruk Jam 3 Pagi di Magelang yang sering diceritakan orang-orang tentang kejadian aneh di tengah malam.
Saat makan malam, ayah Rina bercerita.
"Di desa ini ada satu tempat yang harus kamu hindari kalau malam," kata ayahnya.
"Apa itu, Yah?" tanya Rina sambil menyendok nasi.
"Jembatan gantung dekat sungai. Orang-orang bilang tempat itu sering ada penampakan."
Ibu Rina langsung menimpali, "Katanya dulu ada wanita yang bunuh diri di sana. Sejak itu banyak yang melihat bayangan perempuan di tengah jembatan."
Rina hanya mengangguk kecil.
"Oh... gitu ya," jawabnya singkat.
Ayahnya memperhatikan ekspresi Rina.
"Kamu tidak takut?"
Rina tersenyum tipis.
"Belum tentu juga itu hantu."
Padahal Rina tahu persis apa yang ia lihat tadi.
Hari berikutnya, Rina mulai sekolah di SMA negeri yang tidak jauh dari rumahnya. Sekolah itu cukup besar untuk ukuran desa. Bangunannya sudah tua, tetapi masih terawat.
Di kelas, Rina duduk di bangku dekat jendela.
Seorang siswi bernama Maya duduk di sebelahnya.
"Kamu anak baru ya?" tanya Maya ramah.
"Iya. Aku Rina."
"Aku Maya. Kamu tinggal di mana?"
"Rumah dekat jembatan gantung."
Maya langsung membelalakkan mata.
"SERIOUS?"
"Kenapa?"
Maya menurunkan suaranya.
"Orang-orang di desa sini tidak berani lewat sana malam-malam."
"Kenapa memangnya?"
"Karena..." Maya berhenti sejenak. "Ada perempuan yang sering berdiri di tengah jembatan."
Rina tersenyum kecil.
"Oh... yang pakai gaun putih?"
Maya langsung merinding.
"Kamu... pernah lihat?"
Rina mengangkat bahu.
"Mungkin."
Maya langsung memeluk lengannya sendiri.
"Ih jangan bercanda!"
Sepulang sekolah, Rina sengaja berjalan kaki melewati jembatan gantung itu. Sinar matahari sore membuat sungai terlihat keemasan.
Namun ketika Rina sampai di tengah jembatan, suasana tiba-tiba terasa dingin.
Angin berhenti berhembus.
Langkah Rina terhenti.
Di ujung jembatan berdiri wanita yang sama.
Gaun putihnya tampak kotor dan basah. Rambutnya panjang terurai. Wajahnya pucat.
Perempuan itu menatap Rina.
"Kamu... bisa melihatku?"
Rina mengangguk santai.
"Iya."
Wanita itu terlihat terkejut.
"Biasanya manusia langsung lari."
"Aku tidak."
"Kenapa?"
Rina menatapnya beberapa detik.
"Karena kamu tidak menakutkan."
Wanita itu terlihat bingung.
"Tidak... menakutkan?"
"Iya. Kamu malah cantik."
Hantu wanita itu terdiam lama.
Sudah puluhan tahun tidak ada manusia yang berkata seperti itu padanya.
"Namaku Sari," katanya lirih.
"Aku Rina."
"Kenapa kamu bisa melihatku?"
Rina hanya tersenyum.
"Sejak kecil memang begitu."
Tiba-tiba suara motor terdengar dari ujung jembatan.
Dua pria desa melintas.
Mereka melihat Rina berdiri sendirian di tengah jembatan.
"Nak! Jangan berdiri di situ!" teriak salah satu pria.
"Itu tempat angker!"
Rina hanya melambaikan tangan.
Namun kedua pria itu langsung mempercepat motor mereka sambil menoleh ketakutan.
"Aneh sekali manusia," kata Sari pelan.
"Iya," jawab Rina.
Hari-hari berikutnya, Rina sering melewati jembatan itu. Kadang Sari muncul, kadang tidak.
Tetapi keanehan mulai terjadi di sekolah.
Suatu siang, Maya tiba-tiba berteriak di kelas.
"AAAAAA!"
Semua murid panik.
"Ada apa?!"
Maya menunjuk ke sudut kelas dengan wajah pucat.
"Ada... ada perempuan berdiri di sana!"
Tidak ada siapa-siapa.
Semua orang hanya melihat dinding kosong.
Kecuali Rina.
Di sana memang ada sosok perempuan.
Tapi bukan Sari.
Sosok itu berdiri dengan tubuh bengkok. Matanya hitam pekat.
Rina menghela napas.
"Ah... yang ini iseng," gumamnya.
Setelah pulang sekolah, Rina kembali ke kelas sendirian.
Hantu itu masih di sana.
"Kamu yang ganggu teman-temanku?" tanya Rina.
Hantu itu menyeringai.
"Aku hanya bermain."
"Jangan ganggu manusia di sini."
"Kalau tidak?"
Rina menatapnya datar.
"Aku usir."
Hantu itu tertawa menyeramkan.
Namun beberapa detik kemudian tawanya berhenti.
Ia menatap mata Rina dengan ketakutan.
"Mata itu..."
"Pergi sekarang," kata Rina pelan.
Angin dingin berhembus di dalam kelas.
Hantu itu langsung menghilang seperti ditarik sesuatu.
Malam harinya, orang tua Rina justru mengalami kejadian aneh.
Pintu rumah terbuka sendiri.
Piring jatuh dari dapur.
Ibunya ketakutan.
"Pak... ini kenapa?"
Ayah Rina juga pucat.
"Sepertinya rumah ini... tidak beres."
Rina yang sedang minum teh hanya berkata santai.
"Tenang saja. Cuma ada tamu."
"TAMU?!"
Ibunya hampir menangis.
"Rina jangan bercanda!"
Rina berdiri dan berjalan ke pintu belakang.
Di sana berdiri tiga sosok bayangan.
"Kalian mau apa?"
Salah satu dari mereka berkata pelan.
"Kami hanya ingin lewat."
"Lewat saja. Jangan ganggu rumah ini."
Tiga bayangan itu langsung menghilang.
Rina kembali ke ruang tamu.
"Sudah."
"APA yang sudah?!" tanya ayahnya gemetar.
Rina tersenyum.
"Sudah pergi."
Sejak malam itu, orang tua Rina mulai sering mengalami hal-hal menakutkan. Teman-teman sekolah Rina juga mulai sering melihat bayangan aneh di sekitar jembatan gantung.
Namun hanya Rina yang tidak pernah takut.
Akhirnya suatu malam ayahnya bertanya dengan serius.
"Rina... sebenarnya kamu ini siapa?"
Rina menatap ayahnya.
"Kenapa tanya begitu?"
"Karena setiap ada kejadian aneh... kamu selalu tenang."
Rina tersenyum tipis.
"Ayah benar-benar ingin tahu?"
Ayah dan ibunya mengangguk.
Rina menatap ke arah jendela yang menghadap jembatan gantung.
"Sejak kecil aku sudah bisa melihat mereka."
Ibunya langsung merinding.
"Mereka?"
"Para hantu."
Rina melanjutkan dengan tenang.
"Tapi bagi mataku... mereka tidak pernah terlihat menyeramkan."
"Apa maksudmu?"
"Hantu yang paling menakutkan sekalipun... selalu terlihat sangat cantik atau sangat tampan bagiku."
Ayahnya terdiam.
"Seperti wanita di jembatan itu?"
"Iya."
Rina menambahkan pelan.
"Karena aku memang dilahirkan dengan indra keenam."
Ibunya menutup mulut.
"Dan itu bukan kebetulan," lanjut Rina.
"Dalam keluargaku... ada keturunan orang sakti dari zaman dulu."
Ayahnya menatapnya tak percaya.
"Jadi selama ini..."
Rina mengangguk.
"Hantu-hantu sering datang padaku."
"Untuk apa?"
"Ada yang minta dibantu. Ada yang cuma iseng."
"Lalu?"
Rina tersenyum santai.
"Kalau mereka baik, aku bantu menyelesaikan urusan mereka."
"Kalau tidak?"
Rina menatap gelap keluar jendela.
"Aku lenyapkan."
Malam itu, dari kejauhan terlihat sosok Sari berdiri di jembatan gantung.
Ia tersenyum ke arah rumah Rina.
Karena untuk pertama kalinya setelah puluhan tahun...
Ia akhirnya bertemu manusia yang tidak pernah takut pada dunia mereka.
Dan sejak saat itu, desa kecil di Maluku itu tidak pernah lagi sama.

Posting Komentar