Cerita Mistis di Jalan Kelok Hantu Minang
Dewi tidak pernah menyangka bahwa keputusan pindah kerja ke Sumatera Barat akan mengubah hidupnya selamanya. Sebagai wanita karier yang terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar, ia justru merasa tertantang saat mendapat penempatan di sebuah kantor cabang di daerah Minang yang terkenal masih kental dengan adat dan cerita mistisnya. Baginya, ini adalah kesempatan untuk memulai hidup baru, menjauh dari rutinitas lama yang terasa membosankan.
Rumah dinas yang diberikan kantor terletak agak jauh dari pusat kota. Untuk mencapainya, Dewi harus melewati sebuah jalan berkelok panjang yang membelah perbukitan dan hutan lebat. Warga setempat menyebut jalan itu sebagai "Kelok Hantu". Nama yang menurut Dewi terdengar terlalu dramatis.
"Ah, paling cuma cerita buat nakut-nakutin pendatang, sama seperti kisah-kisah lain seperti Teror Hantu Jembatan Gantung Maluku yang sering beredar di berbagai daerah," gumam Dewi sambil tersenyum kecil saat pertama kali mendengar kisah itu dari rekan kerjanya.
Namun salah satu rekan kantornya sempat memperingatkan.
"Kalau lewat malam, jangan pernah berhenti. Apapun yang kamu lihat, jangan diladeni."
Dewi hanya mengangguk, meski dalam hati ia tidak benar-benar percaya.
Pagi pertama ia berangkat kerja terasa biasa saja. Kabut tipis menyelimuti jalan berkelok itu, namun pemandangan alamnya begitu indah. Pepohonan tinggi menjulang, udara sejuk, dan suara burung terdengar menenangkan. Tidak ada yang aneh.
Namun semuanya berubah pada malam pertama.
Jam menunjukkan pukul 21.30 ketika Dewi mulai memasuki kawasan Kelok Hantu. Jalanan sepi, nyaris tidak ada kendaraan lain. Lampu jalan hanya beberapa, sebagian bahkan mati.
Di tikungan ketiga, Dewi melihat sesuatu.
Seorang wanita berdiri di pinggir jalan.
Gaun putih panjangnya menjuntai hingga tanah. Rambutnya menutupi wajahnya.
Dewi memperlambat mobil.
"Mungkin orang minta tolong..."
Namun saat sorot lampu mobil mengenai tubuh wanita itu, Dewi membeku.
Kakinya tidak menyentuh tanah.
Dewi langsung menginjak gas.
"Ya Tuhan!"
Dari kaca spion, wanita itu perlahan melayang mengikuti mobilnya.
Lalu terdengar suara tawa melengking dari dalam mobil.
"Hehehe... Dewi..."
Dewi membeku. Tangannya gemetar di setir.
"Siapa kamu?!"
Tidak ada jawaban. Hanya suara napas dingin di telinganya.
Malam itu Dewi berhasil sampai rumah, namun ia tidak bisa tidur. Bayangan wanita itu terus menghantuinya.
Keesokan harinya, ia mencoba melupakan kejadian itu. Namun gangguan justru semakin nyata.
Malam kedua, saat melewati jalan yang sama, Dewi melihat pocong berdiri di tengah jalan.
"Tolong... buka..." suara serak itu terdengar jelas.
Dewi memejamkan mata dan menekan gas lebih dalam.
Mobilnya hampir menabrak sesuatu, namun saat ia membuka mata, jalan kembali kosong.
"Aku mulai gila..." bisiknya.
Malam berikutnya, gangguan semakin parah.
Di salah satu tikungan tajam, mobilnya tiba-tiba terasa berat.
Dewi melihat ke kaca depan.
Seorang pria besar berbulu hitam duduk di kap mobilnya.
Mata merahnya menatap tajam.
"Turun... ikut aku..." suara berat itu bergema.
"Pergi!" Dewi berteriak sambil terus melaju.
Makhluk itu tertawa keras sebelum menghilang begitu saja.
Namun gangguan tidak berhenti di jalan.
Suatu malam, saat Dewi sudah sampai rumah dan mencoba tidur, ia mendengar suara langkah kaki di atap.
Kreek... kreek...
Dewi menutup telinganya.
"Ini cuma halusinasi..."
Namun suara itu berpindah ke dalam rumah.
Dari dapur terdengar suara wanita menangis.
Dewi gemetar dan memberanikan diri berjalan ke dapur.
Lampu berkedip-kedip.
Dan di sudut ruangan, sosok kuntilanak itu kembali muncul, mengingatkannya pada kisah menyeramkan seperti Sosok di Balik Tirai Rumah Tua yang sering diceritakan orang-orang.
Wajahnya rusak, matanya kosong.
"Kamu pulang juga..." katanya lirih.
Dewi menjerit dan pingsan.
Sejak malam itu, hidup Dewi berubah total.
Ia mulai sering kehilangan waktu. Kadang ia tidak ingat bagaimana bisa sampai rumah. Kadang ia menemukan dirinya berdiri di depan cermin tanpa sadar sejak kapan.
Suatu malam, ia mendengar seseorang mengetuk pintu pukul 2 pagi.
Tok... tok... tok...
"Dewi... buka pintunya..."
Suara itu mirip suaranya sendiri.
Dewi tidak berani membuka.
Namun keesokan paginya, pintu itu terbuka sendiri.
Dan ada jejak kaki basah masuk ke dalam rumah.
Ketakutan mulai menguasai Dewi sepenuhnya.
Ia mencoba menghindari Kelok Hantu dengan mencari jalan alternatif.
Namun setiap kali ia menggunakan GPS, rutenya selalu kembali ke jalan yang sama.
Seolah-olah ada sesuatu yang menariknya kembali.
Hingga suatu malam, semuanya mencapai puncaknya.
Mobil Dewi tiba-tiba mati di tengah Kelok Hantu.
Lampu padam.
Gelap total.
Lalu terdengar bisikan banyak suara sekaligus.
"Kamu milik kami..."
Satu per satu sosok muncul di sekeliling mobil.
Kuntilanak. Pocong. Genderuwo.
Mereka semua menatap Dewi.
Serentak tersenyum.
Kaca mobil retak perlahan.
Dewi menjerit histeris.
Namun tiba-tiba suara klakson keras terdengar.
Dewi tersadar.
Mobilnya hidup kembali.
Di belakangnya ada mobil lain.
"Mbak! Jangan berhenti di sini!" teriak seorang pria.
Dewi langsung tancap gas tanpa berpikir panjang.
Namun teror belum selesai.
Saat sampai rumah, pintu sudah terbuka.
Padahal ia yakin telah menguncinya.
Dewi masuk perlahan.
Rumah gelap dan dingin.
Lalu ia mendengar suara dari ruang tamu.
Suara itu... suaranya sendiri.
"Akhirnya kamu pulang..."
Dewi membeku.
Di ruang tamu, ia melihat dirinya sendiri duduk di sofa.
Wajahnya tersenyum, tapi matanya kosong.
"Aku sudah lama menunggu," kata sosok itu.
Dewi mundur perlahan.
"Kamu... siapa?!"
Sosok itu berdiri.
"Aku kamu... yang seharusnya tinggal di sini."
Tiba-tiba semua lampu mati.
Dan suara-suara dari Kelok Hantu memenuhi rumah.
Dewi menjerit.
Namun suaranya perlahan menghilang.
Sejak malam itu, tidak ada yang pernah melihat Dewi yang asli lagi.
Yang tinggal di rumah dinas hanyalah sosok yang menyerupainya.
Namun cerita tidak berhenti di sana.
Warga sekitar mulai melihat hal aneh.
Setiap malam, mobil Dewi tetap melewati Kelok Hantu.
Namun di dalam mobil itu, terlihat lebih dari satu Dewi.
Ada yang duduk di kursi depan.
Ada yang menempel di kaca.
Ada yang berdiri di atap mobil.
Dan semuanya tersenyum ke arah pengendara lain.
Beberapa orang yang mencoba menolong justru menghilang tanpa jejak.
Konon, Kelok Hantu bukan sekadar jalan.
Melainkan gerbang.
Gerbang bagi mereka yang tersesat antara dunia hidup dan mati.
Dan Dewi... kini menjadi bagian dari penjaganya.
Jika suatu malam kamu melewati jalan berkelok di daerah Minang dan melihat seorang wanita melambaikan tangan di pinggir jalan...
Jangan berhenti.
Karena mungkin itu bukan manusia.
Dan mungkin... itu adalah Dewi.
Yang sedang mencari pengganti.
Tamat.

Posting Komentar