Suara Ketukan Dalam Lemari Terkunci

Table of Contents
Seorang wanita terkejut mendengar suara ketukan misterius dalam lemari terkunci

Langit sore itu menggantung rendah di atas jalanan berliku menuju sebuah desa terpencil di Jawa Barat. Kabut tipis mulai turun perlahan, menelan ujung-ujung pohon pinus yang berdiri rapat seperti barisan penjaga sunyi. Mobil yang ditumpangi Yuni melaju pelan, bannya sesekali tergelincir di jalanan lembap yang mengingatkan pada Cerita Mistis di Jalan Kelok Hantu Minang yang juga terkenal angker. Suasana terasa asing, terlalu sunyi, seolah mereka memasuki wilayah yang sengaja dihindari banyak orang.

"Kamu yakin ini alamatnya, Yun?" tanya Rara dari kursi depan, alisnya sedikit berkerut sambil menatap layar ponsel yang sinyalnya terus menghilang.

"Iya, aku sudah cek berkali-kali. Kata HRD, rumah kontrakan kita di daerah sini. Dekat kantor baru," jawab Yuni, berusaha terdengar yakin meski dalam hatinya ada rasa aneh yang sulit dijelaskan.

Siska yang duduk di belakang bersama Yuni tertawa kecil. "Dekat sih dekat... tapi ini kayak masuk dunia lain nggak sih?"

Yuni hanya tersenyum tipis. Ia menatap keluar jendela. Pohon-pohon tinggi yang mereka lewati tampak seperti bayangan hitam panjang, seolah memperhatikan mereka. Tanpa disadari, bulu kuduknya meremang.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah besar yang berdiri sendiri di tengah lahan luas. Rumah itu tampak aneh—terlalu terawat untuk ukuran lokasi yang terpencil. Catnya masih bersih, jendelanya utuh, bahkan halaman depannya dipenuhi rumput hijau yang dipangkas rapi. Namun tidak ada tanda-tanda kehidupan.

"Ini dia," ucap Yuni pelan.

Angin dingin menyapu wajah mereka saat turun dari mobil. Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Bahkan suara angin pun terasa tertahan.

Pintu rumah terbuka tanpa perlu didorong kuat, seperti sudah lama menunggu kedatangan mereka.

Hari pertama mereka habiskan dengan membersihkan rumah. Debu ternyata tidak sebanyak yang mereka kira. Seolah rumah ini masih sering dirawat, meskipun tidak ada penghuni.

"Aneh ya," gumam Siska sambil mengelap meja. "Rumah kosong tapi nggak kotor."

"Mungkin ada yang jaga," jawab Rara.

Yuni tidak ikut berkomentar. Perhatiannya tertuju pada satu hal di dalam kamarnya—lemari tua besar yang berdiri di sudut ruangan, mengingatkannya pada Bayangan Dalam Lemari Tua yang penuh misteri.

Lemari itu terbuat dari kayu jati gelap, penuh ukiran halus yang terlihat rumit dan tidak biasa. Pola ukirannya seperti simbol-simbol yang saling terhubung, membentuk sesuatu yang tidak mudah dipahami.

"Wah... ini beda banget," bisik Yuni sambil mendekat.

Ia menyentuh permukaan kayu itu. Dingin. Terlalu dingin untuk sebuah benda mati.

"Kamu mau pakai itu?" tanya Rara dari pintu kamar.

"Masih bagus kok," jawab Yuni.

"Aku sih nggak berani," sahut Siska. "Serius, ini lemari kayak punya cerita."

Yuni tertawa kecil, meski sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama.

Malam pertama datang dengan cepat.

Udara menjadi jauh lebih dingin dibanding sore tadi. Yuni berbaring di ranjangnya, mencoba tidur setelah lelah seharian. Namun rasa tidak nyaman membuatnya sulit terlelap.

Hingga akhirnya...

Tok... tok... tok...

Yuni membuka mata.

Suara itu pelan, seperti ketukan dari dalam kayu.

Ia duduk perlahan, menahan napas.

Tok... tok... tok...

Kali ini lebih jelas. Berasal dari lemari.

"Rara?" panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

"Siska?"

Sunyi.

Yuni berdiri. Langkahnya pelan, hampir tidak bersuara. Ia mendekati lemari itu dengan hati berdebar keras. Tangannya terangkat perlahan, hampir menyentuh gagang pintu.

Dan tepat saat itu...

Ketukan berhenti.

Hening.

Seolah tidak pernah ada apa-apa.

Pagi harinya, Yuni mencoba menceritakan kejadian itu.

"Cuma suara kayu kali," kata Rara santai sambil menyeruput kopi.

"Atau tikus. Rumah gede gini pasti ada," tambah Siska.

"Tapi suaranya kayak... disengaja," gumam Yuni.

"Kamu kebanyakan mikir," kata Rara sambil tertawa.

Yuni ikut tertawa, meski perasaan aneh itu belum hilang.

Malam kedua, suara itu kembali.

Tok... tok... tok...

Kali ini lebih keras.

Yuni tidak langsung bangun. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya suara biasa.

Namun suara itu berubah.

Tok... tok... tok...

Seperti pola. Seperti... kode.

Yuni bangkit.

"Ada orang di dalam?" bisiknya tanpa sadar.

Ia mendekat lagi.

Tiba-tiba—

"Keluar..."

Suara itu sangat pelan, hampir seperti angin. Tapi jelas berasal dari dalam lemari.

Yuni mundur dengan napas tercekat.

"Siapa?!"

Tidak ada jawaban.

Keesokan harinya, sesuatu mulai terasa berbeda.

Rara dan Siska tampak... aneh.

Mereka berbicara seperti biasa, tertawa, bahkan memasak bersama. Tapi setiap Yuni mengajak mereka ke kamarnya, mereka selalu menolak.

"Kamarmu dingin banget," kata Siska.

"Aku nggak suka masuk sana," tambah Rara pelan.

"Kenapa?"

"Nggak tahu... kayak ada yang lihat."

Yuni terdiam.

Malam ketiga menjadi titik perubahan.

DUK! DUK! DUK!

Suara itu tidak lagi pelan.

Itu pukulan keras dari dalam lemari.

"Buka!"

Yuni menjerit.

Ia berlari keluar kamar. Lorong rumah gelap. Tidak ada lampu yang menyala.

"Rara! Siska!"

Tidak ada jawaban.

Ia berlari ke ruang tamu.

Kosong.

Namun dari luar jendela, ia melihat sesuatu berdiri di halaman.

Sosok manusia.

Pucat.

Diam.

Menatap langsung ke arahnya.

"Pergi..."

Yuni mundur perlahan.

Sejak malam itu, teror tidak pernah berhenti.

Ia mulai melihat sosok-sosok lain. Perempuan berdiri di dapur dengan kepala miring. Anak kecil duduk di tangga sambil menangis tanpa suara. Pria tua di lorong yang hanya berdiri mematung.

Namun semua memiliki satu kesamaan—mereka menatap Yuni.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Hari demi hari, Yuni semakin lelah. Ia tidak bisa tidur. Ketukan itu terus datang setiap malam. Kadang pelan. Kadang keras. Kadang disertai suara tangisan.

"Tolong..."

"Dengar..."

"Sadarlah..."

Kata-kata itu semakin jelas.

Namun setiap kali Yuni menceritakan ke Rara dan Siska, mereka hanya menatapnya kosong.

"Kamu kenapa sih, Yun?" tanya Rara suatu malam.

"Kita nggak dengar apa-apa."

"Kamu stres ya?" tambah Siska.

Yuni terdiam.

Ia mulai meragukan dirinya sendiri.

Hingga suatu malam, semuanya berubah.

"Cukup!"

Yuni berdiri di depan lemari itu.

Matanya merah, wajahnya pucat.

"Kalau memang ada, keluar!"

DUK! DUK! DUK!

Seolah menjawab.

Yuni membuka pintu lemari itu dengan paksa.

Kosong.

Tidak ada apa-apa.

Namun di dalamnya ada cermin kecil.

Yuni menatap cermin itu.

Dan tubuhnya membeku.

Refleksi di dalam cermin menunjukkan dirinya... penuh darah.

Wajahnya hancur.

Matanya kosong.

Yuni menoleh ke tubuhnya sendiri.

Bersih.

Ia kembali melihat cermin.

Refleksi itu tersenyum.

"Kamu sudah mati."

Suara itu kini jelas.

Ingatan menghantamnya.

Mobil.

Jalan gelap.

Rem.

Benturan.

Jeritan.

Darah.

Sunyi.

"Tidak..."

Yuni jatuh berlutut.

"Mereka tidak nyata," lanjut suara itu.

Rara.

Siska.

Wajah mereka mulai memudar dari ingatan Yuni.

Ia berlari keluar rumah.

Namun rumah itu kini berbeda.

Tua.

Berdebu.

Kosong.

Di halaman...

Ada mobil ringsek.

Dan di dalamnya—tubuhnya sendiri.

Yuni terdiam.

Sosok-sosok yang selama ini ia lihat kini berdiri mengelilinginya.

"Kami mencoba memberitahumu," kata salah satu dari mereka.

"Sejak kamu datang," tambah yang lain.

"Ketukan itu bukan untuk menakutimu," ujar sosok perempuan tua.

"Tapi untuk membangunkanmu."

Yuni menangis tanpa suara.

"Kenapa aku tidak sadar?"

"Karena kamu belum siap," jawab sosok itu.

"Lemari itu adalah batasmu."

Yuni menoleh.

Lemari itu kini terbuka lebar.

Gelap.

Dalam.

Seperti lorong tanpa akhir.

"Sekarang kamu tahu," kata suara dari dalam.

"Saatnya pulang."

Yuni berdiri perlahan.

Air matanya berhenti.

Ia melangkah menuju lemari itu.

Setiap langkah terasa ringan.

Dan saat ia masuk ke dalamnya...

Suara ketukan itu berhenti.

Namun jauh di dalam kegelapan, suara lain mulai terdengar.

Tok... tok... tok...

Bukan dari dalam.

Tapi dari luar.

Seolah kini... Yuni yang mengetuk.

Menunggu seseorang untuk membuka.

Posting Komentar