Perempuan yang Selalu Berdiri di Belakang Kursi
Namaku Vina. Di desa kecil tempat aku tinggal sejak lahir, semua orang saling mengenal. Tidak ada yang benar-benar bisa menyembunyikan apa pun di sini. Bahkan rahasia sekecil apa pun akan cepat menjadi bahan bisik-bisik di warung kopi atau di pinggir sawah saat para ibu menjemur padi.
Aku dikenal banyak orang. Bukan karena aku menginginkannya, tapi karena mereka memberiku julukan-julukan yang membuatku merasa asing dengan diriku sendiri. "Cantik", "anak paling pintar", "idaman para pemuda desa"—kata-kata itu sering aku dengar, sampai akhirnya terasa biasa saja.
Namun hidupku yang tenang mulai berubah sejak kedatangan sebuah keluarga baru.
Hari itu, kabar tentang pendatang dari kota menyebar cepat. Rumah mereka berada tidak jauh dari rumahku, hanya dipisahkan kebun singkong yang sudah lama tidak terurus. Orang-orang desa ramai membicarakan mereka. Katanya, mereka pindah secara tiba-tiba. Tidak ada yang tahu alasan pastinya.
Aku tidak terlalu peduli, sampai aku melihatnya di sekolah.
Seorang gadis duduk sendiri di bangku belakang. Rambutnya panjang lurus, wajahnya pucat bersih, dan matanya… entah kenapa terasa seperti menyimpan sesuatu yang dalam.
Namanya Nina.
"Kamu murid baru ya?" tanyaku saat jam istirahat.
Dia menoleh perlahan, lalu tersenyum tipis. "Iya. Aku Nina."
Sejak hari itu, kami menjadi dekat. Terlalu cepat, bahkan menurutku. Nina bukan tipe orang yang banyak bicara, tapi entah kenapa dia selalu nyaman berada di dekatku. Dan aku pun merasakan hal yang sama.
Setiap hari kami berangkat sekolah bersama. Melewati jalan setapak, menyusuri sawah, tertawa kecil tentang hal-hal sederhana. Namun ada satu hal yang selalu mengganjal.
Nina tidak pernah membicarakan keluarganya.
Hingga suatu sore, aku akhirnya diajak ke rumahnya.
Rumah Nina terlihat biasa dari luar. Dindingnya masih baru dicat, tapi suasananya terasa… dingin, seperti kisah Sosok di Balik Rumah Angker Malang yang pernah kubaca. Bukan dingin karena cuaca, tapi seperti ada sesuatu yang membuat udara di dalamnya terasa berat.
Di ruang tengah, ada sebuah kursi kayu tua. Letaknya tepat di tengah ruangan. Anehnya, kursi itu terlihat kontras dengan perabot lain yang lebih modern.
"Duduk sini aja," kata Nina santai.
Aku duduk di sofa di sampingnya. Dan saat itulah aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Seorang perempuan berdiri di belakang kursi itu.
Gaunnya putih, tapi kotor. Bagian bawahnya seperti terseret tanah. Rambutnya panjang menutupi wajahnya. Tubuhnya kurus… terlalu kurus.
Jantungku langsung berdegup kencang.
"Nina… kamu lihat itu?" bisikku.
"Lihat apa?" jawabnya santai tanpa menoleh.
Aku menelan ludah. Sosok itu tidak bergerak. Tapi aku yakin… dia sedang menatapku.
"Di belakang kursi itu…"
Nina menoleh. "Nggak ada siapa-siapa, Vin."
Aku terdiam. Mungkin aku salah lihat. Mungkin hanya bayangan. Tapi perasaan tidak nyaman itu tidak hilang.
Hari berikutnya aku datang lagi. Dan dia masih ada.
Selalu di posisi yang sama.
Selalu diam.
Selalu menatapku.
"Vin, kamu kenapa sih sering lihat ke sana?" tanya Nina suatu hari.
"Kamu beneran nggak lihat dia?"
"Siapa?"
"Perempuan itu…"
Nina hanya menggeleng.
Sejak saat itu, aku mulai merasa ada sesuatu yang salah. Bukan hanya dengan rumah itu… tapi dengan Nina juga.
Suatu sore, saat Nina ke dapur, aku memberanikan diri mendekati kursi itu.
Langkahku terasa berat. Semakin dekat, hawa dingin semakin menusuk, seolah diiringi oleh suara dari hantu yang aneh seperti ketukan dan banyak lagi yang tak terdengar jelas tapi terasa menghantui.
Dan ketika aku berdiri tepat di depannya…
Sosok itu mengangkat kepalanya perlahan.
Matanya hitam pekat.
"Akhirnya…" bisiknya.
Aku terpaku.
"Kamu bisa melihatku…"
Suara itu seperti datang dari dalam kepalaku sendiri.
Aku mundur dan terjatuh. Teriakanku membuat Nina berlari kembali.
"Vina! Kenapa?!"
Aku gemetar. "Dia bicara… dia ada di sini…"
Untuk pertama kalinya, wajah Nina berubah. Tidak lagi tenang.
Malam itu, Nina mengantarku pulang dalam diam.
Keesokan harinya, di sekolah, Nina akhirnya membuka suara.
"Vin… kamu serius bisa lihat dia?"
"Iya. Dia selalu di belakang kursi itu."
Nina menunduk. Lama sekali sebelum akhirnya berkata pelan, "Aku kira cuma aku yang tahu…"
Aku terdiam.
"Keluargaku tahu," lanjutnya.
Jantungku berdegup lebih cepat.
"Dia sudah lama ikut kami… sejak kakek dan nenekku membuat perjanjian."
"Perjanjian apa?"
Nina menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Perjanjian dengan sesuatu yang tidak seharusnya disentuh manusia."
Ia mulai bercerita. Dulu, keluarganya hidup miskin. Kakek dan neneknya melakukan ritual untuk meminta kekayaan. Dan mereka mendapatkannya.
Tapi ada harga yang harus dibayar.
"Perempuan itu… penagihnya," kata Nina.
"Kenapa dia belum mengambil apa yang dia mau?" tanyaku.
Nina terdiam. "Karena dia menunggu."
"Menunggu apa?"
"Orang yang bisa melihatnya."
Sejak hari itu, hidupku berubah drastis.
Aku mulai bermimpi tentang perempuan itu. Dalam mimpi, dia tidak hanya berdiri. Dia berjalan. Mendekat. Selalu lebih dekat.
Dan suatu malam, aku terbangun.
Ada sesuatu di kamarku.
Di belakang kursiku… dia berdiri.
"Kamu sudah dipilih," katanya.
Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku kaku.
Hari berikutnya aku kembali ke rumah Nina. Tapi kali ini suasananya berbeda. Lebih dingin. Lebih sunyi.
Kursi itu… tidak kosong lagi.
Perempuan itu duduk di sana.
Nina menggenggam tanganku erat. "Dia sudah mulai," katanya.
"Mulai apa?"
"Mengambil."
Tiba-tiba suara ayah Nina terdengar.
"Kami tidak punya pilihan," katanya.
Aku menoleh. Kedua orang tuanya berdiri di belakang kami.
"Kami sudah mencoba kabur dari kota. Kami pikir desa akan aman. Tapi dia selalu mengikuti," lanjutnya.
Ibunya menangis. "Dia tidak pernah pergi… bahkan saat kami tidur…"
Aku mulai mengerti. Dan itu membuatku semakin takut.
"Jadi… kalian tahu semua ini?"
"Iya," jawab ayah Nina lirih.
"Dan kalian diam saja?"
"Kami menunggu," katanya.
Darahku terasa dingin.
"Menunggu… aku?"
Nina menangis. "Maafkan aku, Vina…"
Sosok perempuan itu berdiri dari kursi.
Langkahnya pelan. Tapi setiap langkah terasa seperti menghantam jantungku.
"Sekarang waktunya," katanya.
Aku mencoba lari. Tapi kakiku tidak bisa bergerak.
Tiba-tiba semua menjadi gelap.
Ketika aku membuka mata… aku berada di ruangan yang sama.
Tapi kosong.
Sunyi.
Kursi itu ada di tengah ruangan.
Dan aku… berdiri di belakangnya.
Aku mencoba berteriak. Tapi tidak ada suara.
Dan dari kejauhan… aku melihat seseorang masuk ke rumah itu.
Seorang gadis.
Dia duduk di kursi itu.
Dan aku… tidak bisa berhenti berdiri di belakangnya.
Beberapa bulan kemudian, orang-orang desa membicarakan hilangnya Vina.
Mereka hanya tahu aku pindah. Tidak ada yang tahu kebenarannya.
Nina tetap tinggal di desa itu.
Hidupnya terlihat normal.
Tapi setiap malam… di rumahnya… kursi itu tidak pernah kosong.
Dan kini… bukan hanya satu perempuan yang berdiri di belakangnya.
Tapi dua.
Dan suatu hari nanti… akan ada yang ketiga.

Posting Komentar