Pintu yang Selalu Terbuka ke Tempat yang Berbeda
Hujan turun sejak sore di kawasan Jakarta Selatan ketika Laras menatap layar komputernya yang masih dipenuhi tabel laporan penjualan. Jam digital di sudut monitor menunjukkan pukul 20.47 WIB. Hampir seluruh karyawan sudah pulang sejak satu jam lalu. Hanya suara pendingin ruangan dan bunyi hujan yang terdengar samar dari balik kaca gedung kantor.
Laras mengusap wajahnya pelan. Sejak dipindahkan menjadi supervisor administrasi di perusahaan ekspor itu, hidupnya terasa seperti diperas tanpa henti. Pekerjaan menumpuk, atasan terus menekan target, sementara ia harus tinggal sendirian di sebuah apartemen tua daerah Tebet setelah perceraian yang menyakitkan enam bulan lalu.
"Masih belum pulang, Ras?" suara satpam kantor mengagetkannya.
Laras menoleh. Pak Mulyono berdiri di depan ruangan sambil membawa senter.
"Sebentar lagi, Pak. Tinggal kirim email ini."
"Jangan terlalu malam. Lift lantai tujuh lagi rusak dari tadi siang."
"Rusak?"
"Iya. Katanya pintunya buka tutup sendiri terus."
Laras tertawa kecil. "Pasti sensornya error."
Pak Mulyono tidak ikut tertawa. Wajah tuanya terlihat pucat di bawah cahaya lampu kantor.
"Kalau nanti pulang, jangan pakai lift sebelah kanan."
"Memangnya kenapa?"
"Pokoknya jangan."
Satpam itu pergi sebelum Laras sempat bertanya lebih jauh.
Setengah jam kemudian, Laras akhirnya menyimpan laptop ke tas. Lorong kantor terasa sangat sunyi. Lampu otomatis di beberapa sudut bahkan sudah mati. Ia berjalan menuju lift sambil memainkan ponsel.
Dua lift berdiri berdampingan di ujung lorong. Lift kiri menyala normal. Sementara lift kanan berkedip redup. Di atas pintunya ada kertas bertuliskan RUSAK.
Ting.
Pintu lift kanan tiba-tiba terbuka sendiri.
Laras berhenti melangkah.
Bagian dalam lift itu gelap. Lampunya mati. Namun anehnya, dari dalam terdengar suara ramai seperti pasar.
Orang-orang bercakap dalam bahasa yang tidak jelas.
Laras mengernyit.
"Kok bisa ada suara?" gumamnya.
Ia mendekat sedikit. Bau amis samar tercium dari dalam lift.
Ting.
Pintu lift tertutup sendiri.
Laras merinding.
Beberapa detik kemudian lift kiri terbuka normal. Ia buru-buru masuk dan menekan tombol basement.
Sepanjang perjalanan turun, pikirannya masih terganggu oleh suara dari lift rusak tadi.
Sesampainya di basement, suasana parkiran jauh lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa mobil tersisa. Lampu neon berkedip di langit-langit beton.
Langkah Laras terhenti ketika melihat sesuatu di dekat tiang parkir.
Seorang perempuan berdiri membelakanginya, mengingatkan pada kisah Perempuan yang Selalu Berdiri di Belakang yang kerap muncul tanpa suara di saat paling sunyi.
Rambutnya panjang sampai pinggang. Bajunya seperti seragam kantor lama berwarna abu-abu kusam.
"Mbak?" panggil Laras.
Perempuan itu diam.
Laras berjalan mendekat.
"Basement sudah mau ditutup."
Perempuan itu perlahan menoleh.
Wajahnya hitam gosong seperti habis terbakar.
Laras menjerit keras.
Ketika berkedip, perempuan itu sudah hilang.
Suara langkah tergesa datang dari belakang.
"Kenapa, Mbak?" tanya Pak Mulyono sambil terengah.
Laras gemetar. "Ada perempuan... mukanya..."
Pak Mulyono langsung menatap area kosong dekat tiang parkir tadi.
Wajahnya berubah tegang.
"Cepat pulang sekarang."
"Bapak tahu itu siapa?"
Pak Mulyono tidak menjawab.
Malam itu Laras pulang dengan kepala penuh pertanyaan.
Namun semuanya baru benar-benar dimulai tiga hari kemudian.
Pagi itu hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh. Laras bangun kesiangan dan terburu-buru bersiap ke kantor. Saat keluar apartemen, ia baru sadar lift gedung mati total.
"Aduh, bisa telat," keluhnya.
Ia memutuskan turun lewat tangga darurat.
Tangga apartemen itu sempit dan lembap. Cat temboknya mengelupas. Lampunya redup kekuningan.
Saat sampai di lantai delapan, Laras melihat sebuah pintu besi kecil yang belum pernah ia perhatikan sebelumnya.
Pintu itu terbuka sedikit.
Dari dalam terdengar suara musik dangdut pelan.
Laras mengernyit.
"Perasaan nggak ada ruangan di sini."
Ia mendorong pintu itu perlahan.
Yang terlihat bukan gudang atau ruang listrik.
Melainkan lorong rumah sakit tua.
Lampu putih redup menyala di sepanjang lorong. Bau obat bercampur darah memenuhi udara.
Laras terpaku.
"Ini apa...?"
Padahal beberapa detik sebelumnya ia masih berada di tangga apartemen.
Dari ujung lorong terdengar suara roda ranjang pasien didorong cepat.
Seorang perawat melintas sambil menangis.
"Dokter! Tolong dokter!"
Laras mundur ketakutan.
Tapi rasa penasaran membuatnya kembali mengintip.
Seorang pria tua duduk di kursi roda dekat ujung lorong.
Matanya kosong menatap Laras.
"Kamu akhirnya datang juga," katanya lirih.
Jantung Laras berdegup keras.
"Maaf...?"
Pria tua itu tersenyum tipis.
"Jangan terlalu sering membuka pintu itu. Nanti dia sadar."
Brak!
Pintu besi tiba-tiba tertutup sendiri di depan Laras.
Laras langsung lari menuruni tangga tanpa berani menoleh lagi.
Sepanjang perjalanan ke kantor, pikirannya kacau.
Ia mencoba meyakinkan diri bahwa dirinya hanya berhalusinasi karena kurang tidur.
Tetapi malam harinya, kejadian lebih aneh kembali terjadi.
Saat lembur sendirian di kantor, Laras mendengar suara ketukan dari ruang arsip.
Tok... tok... tok...
Pelan. Teratur.
Laras menoleh ke arah ruangan itu.
Padahal ruang arsip sudah kosong sejak sore.
Tok... tok... tok...
Suara itu terdengar lagi.
Dengan gugup Laras berdiri dan berjalan mendekat.
Pintu ruang arsip terbuka sedikit.
Dari celahnya terlihat cahaya merah redup.
Laras menelan ludah.
"Siapa di dalam?"
Tidak ada jawaban.
Ia mendorong pintu perlahan.
Ruangan arsip itu sudah berubah.
Bukan lagi rak-rak dokumen kantor.
Melainkan sebuah rumah kayu tua dengan dinding anyaman bambu.
Suara hujan terdengar sangat deras.
Di tengah ruangan ada seorang ibu tua duduk membelakangi Laras sambil menyisir rambut panjangnya.
"Permisi...?"
Ibu tua itu berhenti menyisir.
"Sudah lama saya menunggu."
Suaranya parau dan serak.
Laras mundur satu langkah.
"Ini tempat apa?"
"Tempat orang-orang yang pernah membuka pintu."
"Pintu apa?"
Ibu tua itu perlahan menoleh.
Matanya kosong hitam tanpa bola mata.
"Pintu yang mencari jalan pulang."
Brak!
Pintu ruang arsip menutup sendiri.
Lampu kantor kembali normal.
Ruangan arsip kembali seperti semula.
Laras jatuh terduduk sambil gemetar hebat.
Sejak malam itu, pintu-pintu aneh mulai muncul di mana-mana.
Pintu toilet kantor pernah membawanya ke terminal bus tua yang dipenuhi mayat duduk diam.
Pintu gudang apartemen membawanya ke sebuah masjid kosong dengan suara azan terbalik.
Bahkan pintu kamar mandi rumahnya pernah berubah menjadi jalan desa berlumpur dengan banyak warga berdiri memandangi dirinya tanpa berkedip, seperti teror dalam Rumah yang Menolak Penghuninya Setiap Malam yang membuat penghuninya tak pernah benar-benar merasa aman.
Setiap tempat terasa nyata.
Setiap tempat selalu memiliki seseorang yang berbicara hal aneh padanya.
Dan semuanya selalu berkata hal yang hampir sama.
"Dia sedang mencarimu."
Laras mulai kehilangan tidur.
Matanya cekung.
Ia sering melamun di kantor.
Suatu sore sahabatnya, Rina, menghampiri meja kerjanya.
"Kamu sakit?"
Laras menggeleng lemah.
"Rin... kalau aku cerita, kamu pasti nggak bakal percaya."
"Coba aja dulu."
Laras akhirnya menceritakan semuanya.
Mulai dari lift rusak, rumah sakit aneh, sampai pintu-pintu yang berubah ke tempat berbeda.
Rina mendengarkan tanpa menyela.
Namun semakin lama wajahnya semakin pucat.
"Kenapa?" tanya Laras.
Rina menelan ludah.
"Perempuan yang mukanya gosong itu... kamu yakin lihat dia di basement?"
"Iya."
Rina terlihat ragu sebelum akhirnya berkata pelan.
"Tiga tahun lalu pernah ada kebakaran di basement gedung ini."
Laras terdiam.
"Seorang karyawan perempuan terjebak di lift kanan."
"Lift yang rusak itu?"
Rina mengangguk.
"Katanya mayatnya ditemukan hangus di dalam lift setelah api padam."
Bulu kuduk Laras langsung berdiri.
"Namanya siapa?"
"Maya."
Malam itu Laras tidak bisa tenang.
Ia mulai mencari berita lama tentang kebakaran gedung kantornya.
Dan benar.
Ia menemukan artikel tentang seorang supervisor administrasi bernama Maya Kusuma yang meninggal terjebak lift saat kebakaran.
Posisinya sama persis dengan jabatan Laras sekarang.
Namun ada hal lain yang membuat napasnya tercekat.
Wajah Maya sangat mirip dengannya.
Hanya beda potongan rambut.
"Nggak mungkin..." bisik Laras.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu apartemennya.
Tok... tok... tok...
Laras melihat jam.
Pukul 01.13 dini hari.
Dengan gugup ia mendekati pintu.
"Siapa?"
Tidak ada jawaban.
Tok... tok... tok...
Laras mengintip lewat lubang pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun pintu apartemennya perlahan terbuka sendiri.
Di balik pintu bukan lorong apartemen.
Melainkan sebuah ruangan gelap penuh pintu lain.
Ratusan pintu berdiri di sana.
Ada yang kayu, besi, bambu, bahkan pintu rumah sakit.
Semuanya terbuka sedikit.
Dari masing-masing pintu terdengar suara berbeda.
Tangisan.
Tawa.
Suara orang meminta tolong.
Laras mundur ketakutan.
Lalu ia melihat seseorang berdiri di tengah ruangan itu.
Perempuan bermuka gosong yang pernah muncul di basement.
Kali ini tubuhnya terlihat jelas.
Kulitnya meleleh seperti lilin terbakar.
Namun matanya menatap Laras penuh kesedihan.
"Tolong aku," katanya pelan.
"Kamu siapa sebenarnya?" teriak Laras.
Perempuan itu melangkah mendekat.
"Dia belum selesai."
"Siapa?"
Tiba-tiba semua pintu di ruangan itu terbuka bersamaan.
Angin dingin menerpa wajah Laras.
Dari seluruh pintu keluar suara jeritan panjang.
Lalu sebuah sosok tinggi muncul perlahan dari kegelapan.
Tubuhnya kurus panjang seperti mayat membusuk.
Kepalanya miring tidak wajar.
Dan wajahnya tidak memiliki mata.
Hanya lubang hitam besar.
Makhluk itu bergerak patah-patah sambil menyeret kaki.
Maya langsung berteriak.
"TUTUP PINTUNYA!"
Laras membanting pintu apartemennya sekuat tenaga.
Brak!
Seketika semuanya hilang.
Laras jatuh terduduk sambil menangis histeris.
Keesokan harinya ia memutuskan menemui Pak Mulyono.
Satpam tua itu terlihat tidak terkejut ketika mendengar cerita Laras.
"Akhirnya kamu lihat juga."
"Bapak tahu semua ini?"
Pak Mulyono menghela napas panjang.
"Dulu sebelum gedung ini dibangun, tanah ini bekas rumah sakit jiwa Belanda."
Laras terdiam.
"Katanya ada pasien yang dikurung bertahun-tahun di ruang bawah tanah. Dia meninggal terbakar saat kerusuhan tahun 1947."
"Terus hubungannya sama pintu-pintu itu?"
"Orang bilang arwahnya nggak pernah bisa keluar. Dia mencari jalan lewat pintu."
"Kenapa saya?"
Pak Mulyono memandang Laras lama.
"Karena kamu mirip Maya."
"Maya juga mengalami ini?"
Pak Mulyono mengangguk pelan.
"Sebelum meninggal, Maya sering bilang ada pintu yang membawa dia ke tempat aneh."
"Kenapa nggak ada yang nolong dia?"
Pak Mulyono menunduk.
"Karena semua orang pikir dia stres."
Hening beberapa saat.
Lalu Pak Mulyono berkata lirih.
"Dan sekarang dia memilih kamu."
Malam berikutnya Laras memutuskan tidak pulang ke apartemen.
Ia menginap di rumah Rina.
Namun sekitar pukul dua pagi, suara ketukan terdengar dari kamar tamu.
Tok... tok... tok...
Rina yang tidur di sebelahnya langsung terbangun.
"Itu suara apa?"
Laras membeku.
Ketukan itu datang dari lemari pakaian.
Tok... tok... tok...
Pintu lemari terbuka sedikit sendiri.
Dari celahnya terlihat lorong rumah sakit yang sama.
Rina menjerit.
Tiba-tiba sebuah tangan hitam panjang keluar dari dalam lemari.
Laras menarik Rina lari keluar kamar.
Mereka berdua kabur ke ruang tamu sambil panik.
Namun suara ketukan mulai terdengar dari seluruh rumah.
Dari pintu dapur.
Dari kamar mandi.
Dari bawah meja makan.
Tok... tok... tok...
"Dia datang," bisik Laras dengan wajah pucat.
Tiba-tiba listrik rumah mati.
Gelap total.
Dalam kegelapan terdengar suara langkah menyeret mendekat.
Srak... srak... srak...
Rina menangis ketakutan.
"Laras... itu apa...?"
Dua lubang hitam muncul perlahan dari balik pintu dapur.
Lalu sosok tinggi tanpa mata itu keluar pelan-pelan.
Tubuhnya mengeluarkan bau hangus.
Mulutnya terbuka terlalu lebar.
"Bukakan... semua... pintu..."
Laras menarik Rina kabur keluar rumah.
Mereka berlari ke jalan sambil hujan turun deras.
Namun saat Laras menoleh ke rumah Rina, seluruh pintu rumah itu terbuka sendiri bersamaan.
Dan di setiap pintu berdiri orang-orang pucat yang menatap keluar.
Keesokan harinya Rina menghilang.
Tidak ada yang tahu ke mana.
Polisi tidak menemukan tanda-tanda penculikan.
Rumahnya kosong.
Hanya ada bekas tangan hitam gosong di seluruh pintu rumah.
Sejak saat itu Laras sadar satu hal.
Makhluk itu tidak hanya muncul lewat pintu.
Ia juga membawa orang masuk ke dalamnya.
Laras mulai mencari cara menghentikan semuanya.
Ia mendatangi rumah sakit tua yang pernah muncul di balik pintu.
Setelah bertanya ke sana-sini, ia menemukan lokasi bekas rumah sakit jiwa Belanda yang sudah terbengkalai di daerah pinggiran Jakarta.
Bangunannya hampir runtuh.
Semak liar tumbuh di mana-mana.
Namun ada satu hal yang membuat Laras gemetar.
Pintu utama bangunan itu sama persis dengan pintu lift rusak di kantornya.
Laras masuk perlahan sambil membawa senter.
Udara di dalam sangat dingin.
Dinding dipenuhi bekas gosong.
Di lorong bawah tanah, Laras menemukan ruangan kecil penuh pintu besi.
Salah satu pintu terbuka sedikit.
Dari dalam terdengar suara Maya menangis.
"Laras... tolong..."
Laras mendekat dengan tubuh gemetar.
Saat membuka pintu itu, ia melihat ruangan gelap penuh ratusan pintu yang pernah muncul di apartemennya.
Maya berdiri di tengah sambil menangis.
"Dia mau keluar," katanya.
"Siapa dia sebenarnya?"
Maya menunjuk kegelapan di belakangnya.
"Pasien terakhir rumah sakit ini."
Suara langkah menyeret kembali terdengar.
Srak... srak... srak...
Sosok tanpa mata itu muncul dari balik pintu besar di ujung ruangan.
Kali ini tubuhnya jauh lebih besar.
Dan seluruh pintu di sekitarnya mulai terbuka sendiri.
Jeritan memenuhi ruangan.
Maya memegang tangan Laras erat.
"Kalau semua pintu terbuka, dia bisa masuk ke dunia kita."
"Terus gimana caranya nutup semua ini?"
Maya menatap Laras dengan mata sedih.
"Harus ada yang tinggal di sini menggantikan aku."
Laras membeku.
"Apa...?"
"Aku sudah terlalu lama menjaga pintu."
Sosok tanpa mata itu menjerit keras.
Suara jeritannya membuat seluruh ruangan bergetar.
Satu per satu pintu mulai terbuka lebih lebar.
Dari balik pintu keluar tangan-tangan pucat meraih udara.
Maya menangis.
"Cepat pilih!"
Laras mundur ketakutan.
Ia tidak ingin terjebak di tempat itu selamanya.
Tapi kalau kabur, makhluk itu akan keluar.
Dan entah berapa banyak orang akan mati.
Sosok tanpa mata tiba-tiba bergerak cepat ke arah mereka.
Laras refleks mendorong Maya.
Maya terjatuh tepat ke depan makhluk itu.
"LARAS!" jerit Maya.
Namun Laras berlari keluar ruangan secepat mungkin.
Ia membanting pintu besi dan menguncinya dari luar.
Jeritan Maya terdengar sangat keras dari balik pintu.
Lalu semuanya mendadak sunyi.
Laras terengah-engah sambil menangis.
Dengan tubuh gemetar ia keluar dari rumah sakit terbengkalai itu.
Hujan turun sangat deras malam itu.
Dan untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, Laras merasa semuanya selesai.
Tidak ada lagi pintu aneh.
Tidak ada lagi suara ketukan.
Tidak ada lagi lorong rumah sakit.
Hidupnya perlahan kembali normal.
Dua bulan kemudian, Laras resign dari kantornya dan pindah kerja ke Bandung.
Ia mencoba melupakan semuanya.
Suatu malam, setelah lembur di kantor barunya, Laras masuk ke toilet wanita.
Saat mencuci tangan, ia mendengar suara familiar di belakangnya.
Tok... tok... tok...
Laras membeku.
Perlahan ia menoleh.
Salah satu pintu toilet terbuka sedikit sendiri.
Dari dalam terdengar suara perempuan menangis.
Suara Maya.
"Laras... jangan tinggalin aku sendiri..."
Wajah Laras pucat pasi.
Lalu suara lain terdengar dari dalam toilet.
Suara berat dan parau.
"Sekarang... giliranmu..."
Lampu toilet berkedip cepat.
Semua pintu toilet perlahan terbuka bersamaan.
Dan di balik setiap pintu, berdiri sosok Laras.
Dengan wajah gosong hitam seperti terbakar.
Semua sosok itu tersenyum bersamaan.
Lalu lampu mati total.
Dan sejak malam itu, tidak ada lagi yang pernah melihat Laras keluar dari kantor.

Posting Komentar