Rumah yang Menolak Penghuninya Setiap Malam

Table of Contents
Cerita horor rumah kontrakan angker yang menolak penghuninya

Cerita ini bermula ketika Lina memutuskan tinggal di sebuah rumah kontrakan murah yang ternyata selalu mengusir penghuninya setiap malam.

Hujan turun tipis membasahi jalanan Kota Bandung ketika Lina menatap layar ponselnya di dalam angkot yang hampir kosong. Jam menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Matanya lelah setelah seharian mengurus laporan keuangan di kantor tempatnya bekerja. Hampir setiap hari dia pulang larut karena jarak rumah orang tuanya di Cimahi terlalu jauh dari kantornya yang berada di pusat kota.

"Kalau begini terus aku bisa sakit," gumam Lina pelan.

Sudah tiga bulan terakhir Lina mempertimbangkan untuk mengontrak rumah dekat kantor. Awalnya dia ingin tinggal di kos, tetapi harga kamar yang nyaman terlalu mahal. Hingga suatu siang, teman kantornya bernama Ratih memberikan informasi tentang sebuah rumah kontrakan murah di daerah Sukajadi.

"Rumahnya bagus, Lin. Murah lagi. Pemiliknya katanya lagi butuh cepat penyewa," kata Ratih sambil menyerahkan secarik alamat.

"Murah kenapa?" tanya Lina curiga.

Ratih mengangkat bahu. "Katanya sih penyewa sebelumnya nggak betah. Tapi ya namanya orang beda-beda."

Lina tidak terlalu memikirkan ucapan itu. Baginya, rumah nyaman dengan harga murah adalah keberuntungan.

Dua hari kemudian Lina datang melihat rumah tersebut. Rumah itu berada di gang yang cukup sepi. Cat temboknya putih bersih dengan pagar hitam yang masih terlihat baru. Halaman kecil di depan rumah dipenuhi tanaman bunga kamboja dan beberapa pot anggrek.

Seorang lelaki tua memperkenalkan diri sebagai Pak Harun, pemilik rumah.

"Kalau cocok langsung saja ditempati, Neng," katanya ramah.

Lina masuk ke dalam rumah itu dan langsung merasa nyaman. Ruang tamunya luas, kamar tidur bersih, dapur rapi, bahkan kamar mandi terlihat baru direnovasi.

"Kenapa murah, Pak?" tanya Lina.

Pak Harun diam beberapa detik sebelum menjawab.

"Saya cuma ingin rumah ini ada yang menjaga."

Jawaban itu terdengar aneh, tetapi Lina tidak mempersoalkannya.

Seminggu kemudian Lina resmi pindah.

Malam pertama tinggal di rumah itu berjalan biasa saja. Lina tidur nyenyak setelah membereskan barang-barangnya. Namun ketika pagi tiba, dia terbangun dalam keadaan menggigil.

Matanya terbuka perlahan.

Dia melihat langit pagi.

Bukan plafon kamar.

Lina langsung bangun panik.

Dia berada di taman depan rumahnya. Tubuhnya terbungkus selimut lengkap dengan bantal di samping kepala.

"Apa...?"

Lina menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Jantungnya berdetak cepat.

Dia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam, tetapi tidak ada yang aneh. Dia ingat tidur di kamar, mengunci pintu, lalu tertidur.

"Aku ngelindur?" katanya bingung.

Hari itu Lina tetap berangkat kerja meski pikirannya kacau.

Ratih tertawa ketika mendengar ceritanya.

"Mungkin kamu capek kerja."

"Tapi masa sampai bawa selimut sama bantal keluar?"

"Ya siapa tahu."

Lina mencoba menenangkan diri.

Namun keesokan paginya kejadian itu terulang lagi.

Dia kembali bangun di taman depan rumah.

Kali ini posisi tubuhnya berbeda. Dia tidur rapi di bangku taman kecil dekat pagar.

Selimutnya terlipat menutupi tubuh hingga leher.

Lina langsung masuk ke rumah dengan napas memburu.

Semua pintu terkunci dari dalam.

Tidak ada jejak orang lain.

Malam ketiga menjadi lebih mengerikan.

Sebelum tidur Lina sengaja mengganjal pintu kamarnya dengan kursi. Dia juga meletakkan gelas kaca di depan pintu agar pecah jika ada yang membuka.

Dia yakin kali ini akan tahu apa yang terjadi.

Tetapi saat pagi datang...

Lina kembali terbangun di luar rumah.

Kali ini di bawah pohon kamboja.

Selimut membungkus tubuhnya seperti kepompong.

Dan gelas kaca di dalam rumah masih utuh.

Lina mulai ketakutan.

Hari itu dia memutuskan pergi ke dokter.

Dokter memeriksa tekanan darah, kondisi saraf, hingga kemungkinan gangguan tidur berjalan.

Namun hasilnya normal.

"Secara medis tidak ada masalah," kata dokter.

"Tapi saya bangun di luar rumah tiga hari berturut-turut, Dok."

Dokter tersenyum tipis. "Mungkin stres kerja. Coba istirahat."

Lina pulang dengan perasaan lebih buruk.

Malam berikutnya dia mencoba tidak tidur.

Dia duduk di ruang tamu sambil menonton televisi hingga pukul dua dini hari.

Saat matanya mulai berat, tiba-tiba terdengar suara ketukan misterius dari arah dapur yang membuat Lina langsung menoleh dengan jantung berdebar.

Tok... tok... tok...

Lina menoleh.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Langkah itu terdengar lagi.

Pelan. Berat.

Lina memberanikan diri berjalan menuju dapur.

Namun ketika lampu dinyalakan, tidak ada siapa-siapa.

Yang membuat bulu kuduknya berdiri adalah kondisi pintu belakang.

Pintu itu terbuka sedikit.

Padahal Lina yakin sudah menguncinya.

Dia langsung menutup dan menguncinya kembali.

Saat berbalik, Lina membeku.

Di kaca jendela dapur terlihat bayangan seseorang berdiri di belakangnya, seperti perempuan yang selalu berdiri di belakang yang diam mematung sambil menatapnya tanpa berkedip.

Rambut panjang.

Tubuh kurus.

Wajah pucat.

Lina menoleh cepat.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun ketika dia kembali melihat kaca...

Bayangan itu masih ada.

Dan kini tersenyum.

"Aaaah!"

Lina lari keluar rumah malam itu juga dan baru kembali setelah matahari terbit.

Sejak kejadian itu gangguan mulai muncul di kantor.

Saat bekerja di depan komputer, Lina sering mendengar suara perempuan berbisik di telinganya.

"Pulang... keluar... jangan tinggal di sana..."

Suara itu sangat dekat.

Seolah tepat di sampingnya.

Suatu sore ketika lembur sendirian, layar komputer Lina tiba-tiba mati sendiri.

Lalu muncul tulisan putih di layar hitam.

PERGI.

Lina menjerit hingga membuat satpam kantor datang.

"Ada apa, Mbak?" tanya satpam.

"Komputer saya... tadi..."

Namun ketika dilihat lagi, komputer itu normal.

Satpam hanya menganggap Lina terlalu lelah.

Malamnya Lina pulang dengan perasaan takut.

Rumah itu terlihat berbeda.

Lampu teras berkedip sendiri.

Pohon kamboja di halaman bergoyang meski tidak ada angin.

Begitu masuk rumah, Lina mencium bau bunga melati sangat kuat.

Padahal dia tidak pernah membeli bunga.

Dia mulai berpikir untuk pindah.

Namun ada sesuatu yang aneh.

Setiap kali ingin mencari kontrakan lain, Lina selalu mengalami kejadian buruk.

Suatu kali motornya hampir ditabrak truk.

Lain waktu dompetnya hilang.

Bahkan ketika dia hampir membayar uang muka kontrakan baru, pemilik rumah tiba-tiba membatalkan tanpa alasan.

Seolah ada sesuatu yang menahan Lina agar tetap tinggal di rumah itu.

Karena semakin penasaran, Lina akhirnya membeli CCTV kecil.

Dia memasang kamera di kamar tidur dan ruang tamu.

"Kalau memang aku ngelindur, harusnya terekam," katanya.

Malam itu Lina tidur dengan jantung tidak tenang.

Dia sempat terbangun sekitar pukul satu dini hari karena mendengar suara kursi bergeser.

Krekkk...

Lina membuka mata perlahan.

Kamar gelap.

Namun dia melihat seseorang berdiri di pojok kamar.

Tinggi.

Hitam.

Tanpa wajah.

Lina mencoba berteriak, tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak.

Sosok itu perlahan mendekat.

Langkahnya berat menyeret lantai.

Lalu semuanya gelap.

Pagi harinya Lina kembali terbangun di luar rumah.

Kali ini dia langsung berlari mengambil rekaman CCTV.

Tangannya gemetar saat membuka video.

Awalnya tidak ada yang aneh.

Rekaman menunjukkan Lina tertidur di kamar.

Jam menunjukkan pukul 02.13 dini hari.

Tiba-tiba layar CCTV dipenuhi garis-garis statis.

Beberapa detik kemudian...

Seseorang muncul di kamar.

Lina membelalak.

Sosok itu bukan masuk dari pintu.

Dia muncul begitu saja dari sudut ruangan.

Tubuhnya tinggi kurus dengan kain putih lusuh menutupi sebagian wajah.

Yang membuat Lina hampir muntah adalah cara sosok itu berjalan.

Kakinya tidak menyentuh lantai.

Makhluk itu mendekati tempat tidur Lina.

Lalu...

Dengan gerakan sangat pelan, makhluk itu mengangkat tubuh Lina yang sedang tidur.

Seolah tubuh Lina sangat ringan.

Makhluk itu membawanya keluar kamar.

Rekaman ruang tamu memperlihatkan sosok itu berjalan menuju pintu depan.

Anehnya, pintu terbuka sendiri.

Lalu makhluk itu membaringkan Lina di taman.

Setelah itu, sosok tersebut berdiri menatap rumah beberapa detik sebelum menghilang.

Lina langsung menangis ketakutan.

Dia membawa rekaman itu ke Ratih.

Ratih pucat melihat video tersebut.

"Lin... kamu harus keluar dari rumah itu."

"Aku mau pindah hari ini juga."

Namun ketika Lina kembali ke rumah untuk mengambil barang-barang, sesuatu yang lebih aneh terjadi.

Semua koper yang sudah dia siapkan tiba-tiba berpindah ke dalam kamar lagi.

Padahal Lina yakin tadi menaruhnya di ruang tamu.

Listrik rumah mendadak mati.

Lalu terdengar suara perempuan tertawa dari atas plafon.

"Hihihihihi..."

Lina gemetar hebat.

Dia berlari keluar rumah.

Di depan pagar, seorang nenek penjual sayur yang sering lewat tiba-tiba memanggilnya.

"Neng!"

Lina menoleh.

Nenek itu menatap rumah dengan wajah serius.

"Rumah itu memang nggak suka ada penghuni."

Lina mendekat cepat.

"Maksudnya apa, Nek?"

Nenek itu menghela napas panjang.

"Dulu rumah itu milik keluarga kaya. Anak perempuannya meninggal bunuh diri di kamar belakang."

"Bunuh diri?"

"Katanya dia nggak mau rumah itu dijual. Setelah meninggal, semua orang yang tinggal di sana selalu diusir."

Lina merinding.

"Kenapa pemiliknya tetap menyewakan?"

Nenek itu menatap Lina aneh.

"Pemilik? Rumah itu sudah kosong bertahun-tahun."

Jantung Lina serasa berhenti.

"Pak Harun...?"

Nenek itu mengernyit.

"Pak Harun sudah meninggal lima tahun lalu."

Wajah Lina langsung pucat.

Dia teringat pertama kali melihat rumah itu.

Pak Harun memang terlihat sangat pucat.

Dan dingin.

Namun Lina tidak pernah curiga.

Malam itu Lina memutuskan menginap di apartemen Ratih.

Dia tidak berani kembali.

Tetapi sekitar pukul dua dini hari, ponselnya berbunyi.

Notifikasi CCTV.

Kamera di rumah mendeteksi gerakan.

Dengan tangan gemetar Lina membuka aplikasi CCTV.

Rekaman memperlihatkan ruang tamu kosong.

Beberapa detik kemudian...

Seorang perempuan berambut panjang muncul perlahan dari lorong kamar.

Wajahnya rusak.

Lehernya miring tidak wajar.

Dia berjalan menuju kamera.

Lalu berhenti tepat di depan lensa.

Matanya hitam seluruhnya.

Perempuan itu membuka mulut.

"Rumah ini bukan untuk manusia."

Layar CCTV langsung mati.

Lina histeris.

Ratih sampai ketakutan melihat kondisi sahabatnya.

Keesokan harinya Lina datang bersama dua orang ustaz dan beberapa warga.

Mereka berniat mengambil barang-barang Lina dan melakukan doa bersama.

Namun begitu pintu rumah dibuka, hawa dingin langsung menyergap.

Rumah itu gelap meski matahari terang.

"Jangan ada yang bicara sembarangan," kata salah satu ustaz.

Mereka mulai membaca doa.

Tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari kamar belakang.

Bruak!

Salah satu warga membuka pintu kamar tersebut.

Di dalamnya terdapat banyak coretan di dinding.

Tulisan merah memenuhi tembok.

PERGI.

JANGAN TINGGAL DI SINI.

RUMAH INI MILIKKU.

Bau busuk langsung memenuhi ruangan.

Tiba-tiba lemari tua di pojok kamar bergerak sendiri.

Krekkk...

Pintunya terbuka perlahan.

Dan di dalamnya...

Ada kerangka manusia duduk memeluk lutut.

Semua orang menjerit panik.

Polisi segera datang setelah warga melapor.

Setelah penyelidikan dilakukan, diketahui kerangka itu adalah anak perempuan pemilik rumah yang hilang belasan tahun lalu.

Ternyata dia tidak bunuh diri.

Dia dibunuh oleh keluarganya sendiri karena menolak rumah warisan dijual.

Mayatnya disembunyikan di lemari kamar belakang.

Sejak saat itu arwahnya terus menjaga rumah tersebut.

Bukan untuk mencelakai penghuni.

Tetapi mengusir siapa pun yang mencoba tinggal.

Lina akhirnya mengerti.

Selama ini sosok yang membawanya keluar rumah bukan ingin membunuhnya.

Arwah itu justru sedang menyelamatkannya.

Karena rumah tersebut bukan tempat bagi manusia hidup.

Beberapa minggu kemudian rumah itu dibongkar oleh pihak keluarga.

Namun sebelum pembongkaran selesai, seorang pekerja mengaku melihat perempuan berambut panjang berdiri di antara reruntuhan sambil tersenyum.

Sejak kejadian itu area bekas rumah tersebut dibiarkan kosong.

Tidak ada yang berani membangun lagi.

Warga sekitar percaya arwah penghuni rumah itu masih menjaga tanah tersebut hingga sekarang.

Sedangkan Lina memilih pindah ke kos kecil dekat kantornya.

Dia tidak pernah lagi mengalami kejadian aneh.

Namun terkadang saat pulang malam dan melewati gang menuju kosnya, Lina masih mencium bau bunga melati.

Dan setiap kali aroma itu muncul...

Dia selalu teringat bagaimana dirinya pernah diangkat keluar rumah oleh sosok tak kasat mata yang ternyata tidak ingin rumahnya diganggu manusia.

Suatu malam, hampir setahun setelah kejadian itu, Lina menerima pesan anonim di ponselnya.

Pesan itu hanya berisi satu foto.

Foto rumah lama yang sudah menjadi tanah kosong.

Di tengah foto terlihat seorang perempuan berdiri di bawah pohon kamboja.

Wajahnya samar.

Namun Lina mengenali selimut yang dipeluk perempuan itu.

Itu selimut miliknya.

Tangan Lina bergetar hebat.

Dia segera mencoba menelepon nomor pengirim.

Tidak aktif.

Beberapa detik kemudian pesan baru masuk.

"Terima kasih sudah mau pergi."

Lina langsung mematikan ponselnya.

Malam itu untuk pertama kalinya sejak pindah, dia kembali bermimpi berada di halaman rumah tersebut.

Dalam mimpi itu, perempuan berambut panjang berdiri di depan pintu rumah sambil berkata pelan.

"Aku hanya ingin sendiri."

Lina terbangun dengan napas memburu.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Dan untuk sesaat...

Dia mencium bau bunga melati sangat kuat di dalam kamarnya.

Lina menoleh perlahan ke arah pintu.

Di bawah pintu kamar terlihat bayangan kaki seseorang berdiri diam.

Tidak bergerak.

Tidak pergi.

Lina menahan napas.

Lalu terdengar suara perempuan berbisik sangat lirih dari balik pintu.

"Jangan suruh siapa pun tinggal di rumahku lagi..."

Posting Komentar