Cermin Aneh yang Menyeramkan

Table of Contents
Wanita terkejut melihat bayangannya tidak muncul di cermin

Vivi adalah seorang wanita muda berusia dua puluh empat tahun yang bekerja di sebuah perusahaan administrasi di kota Bandung. Wajahnya cantik, senyumnya manis, dan sifatnya ramah kepada siapa saja. Banyak orang menyukai Vivi karena ia mudah bergaul dan tidak pernah membuat masalah.

Sejak diterima bekerja dua tahun lalu, Vivi tinggal sendirian di sebuah rumah sewaan kecil yang dibayar oleh orang tuanya. Ayah dan ibunya tinggal jauh di Jawa Timur sehingga Vivi harus mengurus semua kebutuhannya sendiri.

Meskipun hidup sendirian, Vivi tidak pernah merasa kesepian. Ia memiliki banyak teman kantor dan tetangga yang baik. Rutinitasnya pun sangat sederhana. Pagi berangkat bekerja, sore pulang, lalu beristirahat di rumah.

Pada hari Senin malam, Vivi tidur lebih awal karena merasa sangat lelah. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya terasa berat sejak beberapa hari terakhir.

Keesokan paginya, alarm berbunyi pukul enam.

“Huh... kenapa rasanya capek sekali?” gumam Vivi sambil bangkit dari tempat tidur.

Ia segera mandi dan bersiap menuju kantor.

Perjalanan menuju kantor berlangsung seperti biasa. Jalanan kota ramai oleh kendaraan dan aktivitas warga.

Saat memasuki area kantor, Vivi mengernyit.

“Kok sepi ya?” katanya pelan.

Biasanya area parkir penuh kendaraan para karyawan. Namun pagi itu hanya ada beberapa mobil dan motor.

Ketika masuk ke ruangan kerja, suasana juga terasa aneh.

Hanya ada beberapa orang yang sedang bekerja.

“Pagi,” sapa Vivi.

“Pagi...” jawab seorang pria dengan suara pelan.

Vivi sempat heran karena ia tidak mengenali pria itu. Wajahnya pucat dan matanya tampak sayu.

Di meja lain juga ada beberapa orang yang tidak dikenalnya.

“Kemana yang lain ya?” pikir Vivi.

Namun ia tidak terlalu memikirkannya.

“Mungkin lagi touring kantor atau ada kegiatan luar,” gumamnya.

Hari itu berjalan biasa saja.

Sore menjelang malam, Vivi pulang menggunakan sepeda motor.

Di tengah perjalanan terdapat sebuah masjid tua yang selalu ia lewati.

Masjid itu cukup terkenal di lingkungan sekitar karena dipimpin seorang kiai yang ramah.

Setiap malam ketika pulang, Vivi hampir selalu bertemu beliau.

“Assalamualaikum, Vivi,” sapa sang kiai.

“Waalaikumsalam, Pak Kiai.”

“Pulang kerja?”

“Iya, Pak.”

“Hati-hati di jalan.”

“Siap, Pak.”

Vivi tersenyum lalu melanjutkan perjalanan.

Sesampainya di rumah, ia langsung membersihkan diri.

Saat sedang mengeringkan rambut di depan cermin kamar, ia tiba-tiba terdiam.

Bayangannya tidak terlihat.

“Loh?”

Vivi mendekat.

Cermin itu hanya memantulkan isi kamar tanpa dirinya.

Jantungnya berdegup kencang.

“Ah, mataku kali ya.”

Ia mengucek kedua matanya berkali-kali.

Beberapa detik kemudian bayangannya muncul kembali.

“Huh... bikin kaget saja.”

Vivi tertawa kecil dan menganggapnya sebagai halusinasi karena kelelahan.

Malam itu ia tidur dengan tenang.

Namun kejadian serupa kembali terjadi keesokan harinya.

Saat bercermin di ruang tamu, pantulan dirinya menghilang selama beberapa detik.

Setelah berkedip beberapa kali, bayangannya kembali muncul.

“Aneh banget.”

Tetapi Vivi tetap tidak terlalu memikirkannya.

Hari kedua di kantor terasa lebih aneh.

Jumlah karyawan yang hadir tetap sedikit.

Teman-teman dekatnya tidak terlihat sama sekali.

Ia mencoba menghubungi beberapa orang melalui telepon.

Tidak ada yang mengangkat.

“Mungkin lagi sibuk.”

Jawaban itu terus ia gunakan untuk menenangkan pikirannya.

Orang-orang yang ada di kantor juga membuatnya merasa tidak nyaman.

Wajah mereka sangat pucat.

Mereka jarang berbicara.

Ketika berbicara pun suara mereka terdengar pelan dan datar.

Namun tidak ada sesuatu yang benar-benar mencurigakan.

Setelah pulang, seperti biasa ia melewati masjid.

Pak Kiai kembali menyapanya.

“Bagaimana kabarnya, Vivi?”

“Baik, Pak.”

“Sudah makan?”

“Belum, mau cari makan dulu.”

Kiai tersenyum tipis.

“Jaga diri baik-baik.”

“Iya, Pak.”

Vivi tidak tahu mengapa tatapan Pak Kiai malam itu terasa berbeda.

Seolah menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.

Malam ketiga mulai muncul gangguan-gangguan aneh di rumah.

Saat sedang menonton televisi, ia melihat seseorang berdiri di dapur. Kejadian itu mengingatkannya pada kisah misteri Lift Berhenti di Lantai yang Tidak Ada yang pernah ia baca beberapa waktu lalu, meski Vivi berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanya halusinasi.

Ketika diperiksa, tidak ada siapa-siapa.

Menjelang tengah malam terdengar suara langkah kaki dari loteng.

Padahal rumah itu tidak memiliki loteng.

“Siapa?” teriak Vivi.

Tidak ada jawaban.

Suara itu berhenti begitu saja.

Paginya, Vivi berusaha melupakan semua kejadian tersebut.

Namun kantor kembali terasa kosong.

Ia mulai kesal.

“Sebenarnya semua orang kemana sih?”

Tidak ada yang menjawab.

Seorang wanita berwajah pucat hanya menatapnya sebentar lalu kembali mengetik.

Vivi merinding.

Malam berikutnya gangguan semakin sering terjadi.

Pintu yang Terbuka Sendiri menjadi salah satu kejadian yang paling sering dialami Vivi. Lampu ruang tamu berkedip. Beberapa kali ia mendengar suara orang berbicara dari halaman.

Lampu ruang tamu berkedip.

Beberapa kali ia mendengar suara orang berbicara dari halaman.

Ketika diperiksa, tidak ada siapa-siapa.

Cermin di ruang tamu pun semakin aneh.

Kadang memantulkan dirinya.

Kadang tidak.

Suatu malam ia berdiri lama di depan cermin.

“Kenapa sih?” katanya kesal.

Tak ada jawaban.

Bayangannya perlahan memudar hingga hilang.

Vivi mundur ketakutan.

Beberapa saat kemudian pantulannya kembali muncul.

“Aku harus minta bantuan.”

Keesokan malam, setelah pulang kerja, ia mampir ke masjid.

Pak Kiai sedang duduk sendirian.

“Pak...” panggil Vivi.

“Silakan duduk, Nak.”

“Saya mau cerita.”

Pak Kiai mengangguk.

“Di rumah saya ada yang aneh.”

“Apa?”

“Cermin saya sering tidak memantulkan bayangan saya.”

Pak Kiai terdiam cukup lama.

“Lalu?”

“Saya juga sering melihat penampakan.”

“Hmm...”

“Apa rumah saya angker, Pak?”

Kiai memandang wajah Vivi tanpa berkedip.

“Mungkin bukan rumahnya.”

“Maksudnya?”

“Belum saatnya saya menjelaskan.”

Jawaban itu membuat Vivi semakin bingung.

Ia pulang dengan perasaan tidak tenang.

Hari keempat menjadi hari paling menyeramkan.

Di kantor, ruangan terasa sangat dingin.

Orang-orang berwajah pucat yang selama ini bekerja di sana tampak semakin banyak.

Mereka tidak pernah tersenyum.

Mereka tidak pernah makan.

Mereka hanya duduk dan bekerja.

Ketika Vivi mencoba berbicara, mereka hanya menjawab seperlunya.

“Mas, bagian keuangan kemana ya?”

Pria itu menatapnya beberapa detik.

“Tidak ada.”

“Maksudnya?”

“Tidak ada.”

Lalu ia kembali menatap layar komputer.

Vivi merinding.

Malamnya ia melihat sosok perempuan berambut panjang berdiri di dapur.

Perempuan itu tidak bergerak.

Hanya berdiri membelakangi dirinya.

Ketika Vivi menyalakan lampu, sosok itu menghilang.

Ia hampir menangis.

“Aku tidak kuat lagi...”

Hari kelima tiba.

Sejak pagi Vivi merasa ada sesuatu yang salah.

Kantor terasa jauh lebih sepi dibanding sebelumnya.

Bahkan beberapa meja tampak berdebu seolah sudah lama tidak digunakan.

“Ini benar-benar aneh.”

Sore hari ia memutuskan pulang lebih cepat.

Di perjalanan, ia melihat banyak orang berkumpul di sekitar rumahnya.

Namun saat ia sampai di depan pagar, tidak ada siapa-siapa.

“Perasaanku saja mungkin.”

Malam itu suara tangisan terdengar dari ruang tamu.

Vivi memberanikan diri keluar kamar.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun suara tangisan masih terdengar.

Suara itu seperti datang dari segala arah.

Ia menutup telinganya.

“Cukup! Tolong berhenti!”

Tangisan itu mendadak hilang.

Vivi berlari keluar rumah.

Ia menuju masjid.

Malam sudah larut ketika ia tiba.

Pak Kiai masih berada di sana.

Seolah memang menunggunya.

“Pak!” seru Vivi dengan napas terengah.

“Saya sudah tidak kuat lagi.”

Kiai menghela napas panjang.

“Saya tahu.”

“Tolong bantu saya.”

“Saya tidak bisa.”

Vivi terdiam.

“Kenapa?”

“Karena masalahnya bukan seperti yang kamu pikirkan.”

“Maksud Bapak apa?”

Kiai menatapnya lama.

“Rumahmu tidak kosong.”

“Apa?”

“Di rumahmu banyak orang.”

“Tidak mungkin.”

“Banyak sekali.”

“Saya tinggal sendirian.”

“Tidak.”

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Vivi.

“Pak... sebenarnya apa yang terjadi?”

Pak Kiai memejamkan mata beberapa saat.

Lalu berkata dengan suara pelan.

“Nak Vivi... saya sudah tahu sejak awal.”

“Tahu apa?”

“Bahwa kamu sudah meninggal.”

Dunia seakan berhenti berputar.

Vivi membeku.

“Apa?”

“Kamu meninggal tujuh hari yang lalu.”

“Tidak...”

“Kamu tertabrak truk saat berangkat kerja.”

“Tidak mungkin...”

“Itulah sebabnya saya selalu menyapamu setiap malam.”

“Bohong...”

“Saya berharap kamu segera sadar.”

“Tidak!”

Vivi mundur beberapa langkah.

Kepalanya terasa sakit.

Tiba-tiba sebuah kenangan muncul.

Pagi yang sibuk.

Suara klakson.

Sebuah truk melaju kencang.

Rem yang menjerit.

Tubuhnya terlempar.

Darah di jalanan.

Orang-orang berteriak.

Semuanya muncul begitu jelas.

Vivi jatuh terduduk.

“Tidak...”

Air matanya mengalir deras.

“Tidak...”

“Maafkan saya,” kata Pak Kiai.

“Lalu... kantor?”

“Kamu tidak pernah masuk kantor lagi setelah kecelakaan itu.”

“Teman-teman saya?”

“Mereka datang ke rumahmu setiap malam.”

“Apa?”

“Mendoakanmu.”

“Orang-orang pucat itu?”

“Bukan rekan kerjamu.”

“Lalu siapa mereka?”

Pak Kiai tidak menjawab.

Vivi mulai memahami semuanya.

Cermin yang tidak memantulkan dirinya.

Kantor yang kosong.

Teman-temannya yang tidak pernah terlihat.

Penampakan yang terus muncul di rumah.

Semuanya perlahan menjadi masuk akal.

“Lalu orang-orang yang saya lihat di sekitar rumah?”

“Mereka nyata.”

“Nyata?”

“Itu keluargamu.”

“Keluarga?”

“Ayah dan ibumu datang dari Jawa Timur.”

“...”

“Teman-teman kantor juga datang.”

“...”

“Setiap malam setelah Isya mereka mengadakan tahlilan.”

Air mata Vivi semakin deras.

“Jadi selama ini...”

“Kamu melihat mereka dari dunia yang berbeda.”

“...”

“Tetapi kamu belum menyadarinya.”

Vivi menangis sesenggukan.

Ia teringat ayah dan ibunya.

Ia teringat teman-temannya.

Ia teringat semua rencana yang belum sempat diwujudkan.

“Saya ingin pulang...” katanya lirih.

“Kamu akan pulang.”

“Kemana?”

“Ke tempat yang seharusnya.”

Pak Kiai tersenyum lembut.

“Sudah waktunya.”

Malam terasa sangat sunyi.

Dari kejauhan terdengar lantunan doa.

Vivi memandang ke arah rumahnya.

Untuk pertama kalinya ia melihat dengan jelas.

Banyak orang duduk di ruang tamu.

Ayahnya menangis.

Ibunya memegang foto dirinya.

Teman-teman kantor duduk membaca doa.

Warga sekitar memenuhi halaman rumah.

Tak ada hantu.

Tak ada gangguan.

Yang ada hanyalah orang-orang yang mencintainya.

Vivi tersenyum di tengah air mata.

“Ayah...”

“Ibu...”

“Maaf...”

Perlahan tubuhnya terasa ringan.

Semakin ringan.

Suara doa terdengar semakin jelas.

Pak Kiai menundukkan kepala.

“Semoga tenang di sana, Nak.”

Vivi memandang rumahnya untuk terakhir kali.

Lalu semuanya berubah menjadi cahaya putih yang lembut.

Sejak malam itu, tidak ada lagi cermin aneh di rumah sewaan tersebut.

Tidak ada lagi sosok yang berjalan sendirian menuju kantor yang kosong.

Tidak ada lagi bayangan yang menghilang dari pantulan kaca.

Yang tersisa hanyalah kenangan tentang seorang gadis cantik bernama Vivi yang begitu dicintai keluarganya.

Dan bagi Pak Kiai, setiap kali melewati rumah itu, beliau masih mengingat senyum Vivi yang selalu membalas sapaan sederhana setiap malam.

Senyum yang ternyata sudah datang dari dunia yang berbeda sejak awal.

Posting Komentar