Lift Berhenti di Lantai yang Tidak Ada

Table of Contents
Wanita ketakutan di lift saat pintu terbuka ke lantai 19 misterius

Perpindahan tugas itu datang begitu mendadak.

Sarah, seorang karyawan administrasi di sebuah perusahaan logistik di Jakarta, awalnya bekerja di kantor cabang Tangerang. Namun pada awal bulan, manajemen memindahkannya ke kantor pusat yang berada di kawasan Jakarta Selatan.

Karena jarak rumah lamanya terlalu jauh untuk ditempuh setiap hari, perusahaan memberinya tunjangan tempat tinggal sementara. Sarah akhirnya menyewa sebuah unit apartemen yang cukup mewah tidak jauh dari kantornya.

Apartemen itu sangat besar.

Terdiri dari beberapa tower yang menjulang tinggi dengan puluhan lantai. Saat pertama kali melihatnya, Sarah sempat kagum.

"Wah, kayak hotel bintang lima," gumamnya.

Unit yang ia sewa berada di lantai 21.

Selama beberapa hari pertama, semuanya berjalan normal. Sarah berangkat kerja pagi, pulang malam, lalu beristirahat.

Hingga suatu malam.

Malam yang mengubah segalanya.

Jam menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh menit ketika Sarah memasuki lobi apartemen.

Suasana sepi.

Petugas keamanan terlihat mengantuk di meja resepsionis.

Sarah masuk ke lift seorang diri.

Ia menekan tombol 21.

Pintu lift menutup perlahan.

Lift mulai bergerak naik.

Lantai 5.

Lantai 8.

Lantai 12.

Lantai 16.

Tiba-tiba...

DING!

Lift berhenti.

Angka digital menunjukkan lantai 19.

Sarah mengernyit.

"Hah?"

Pintu lift terbuka.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun yang membuat bulu kuduknya berdiri adalah pemandangan di depan lift. Sekilas Sarah teringat kisah tentang Pintu yang Selalu Terbuka ke Tempat yang Berbeda, karena apa yang ada di hadapannya jelas bukan bagian dari apartemen yang ia tinggali.

Bukan koridor apartemen.

Bukan deretan pintu unit penghuni.

Melainkan sebuah ruangan luas yang gelap gulita.

Seolah lantai itu belum selesai dibangun.

Tidak ada lampu.

Tidak ada suara.

Hanya kegelapan.

Sarah menelan ludah.

"Siapa yang pencet lantai ini?" bisiknya.

Ia yakin seratus persen dirinya sendirian di lift.

Tidak ada orang lain.

Tidak mungkin ada yang menekan tombol 19.

Beberapa detik berlalu.

Pintu lift menutup kembali.

Lift bergerak menuju lantai 21.

Sarah berusaha melupakan kejadian itu.

Mungkin sistem lift sedang error.

Mungkin ada gangguan teknis.

Ia mencoba berpikir logis.

Namun keesokan harinya, hal yang sama terjadi lagi.

Kali ini Sarah tidak sendirian.

Lift dipenuhi beberapa penghuni apartemen.

Seorang ibu membawa belanjaan.

Dua mahasiswa.

Seorang pria paruh baya.

Dan Sarah.

Lift bergerak naik.

Semuanya tampak normal.

Lalu...

DING!

Angka 19 menyala.

Pintu terbuka.

Kegelapan yang sama muncul di depan mereka.

Ruangan kosong tanpa cahaya.

Sarah menunggu reaksi orang lain.

Teriakan.

Kebingungan.

Atau setidaknya rasa heran.

Tetapi tidak ada.

Semua penghuni justru langsung memalingkan wajah.

Ada yang melihat ke lantai.

Ada yang menatap dinding lift.

Ada yang pura-pura memainkan ponsel.

Tak seorang pun berani melihat ke luar.

Seolah mereka sudah terbiasa.

Seolah mereka tahu sesuatu.

Sarah merasa jantungnya berdegup lebih cepat.

Begitu pintu tertutup kembali, ia memberanikan diri bertanya kepada pria paruh baya di sampingnya.

"Pak... tadi itu apa ya?"

Pria itu menatap Sarah sekilas.

Wajahnya mendadak pucat.

"Jangan pernah tanya soal lantai 19."

"Kenapa?"

"Kalau masih mau tinggal di sini, pura-pura saja tidak pernah melihatnya."

Pintu lift terbuka di lantai 21.

Pria itu langsung keluar.

Meninggalkan Sarah yang semakin penasaran.

Sejak hari itu, lift selalu berhenti di lantai 19.

Setiap hari.

Tanpa pernah absen.

Baik pagi maupun malam.

Dan setiap kali pintu terbuka, yang terlihat selalu ruangan gelap yang sama.

Tak berubah sedikit pun.

Sarah mulai memperhatikan hal-hal aneh lainnya.

Kadang terdengar suara langkah kaki dari dalam kegelapan.

Kadang seperti ada bayangan berdiri jauh di ujung ruangan. Bentuknya samar, mengingatkannya pada berbagai cerita penampakan kuntilanak yang sering ia baca di internet.

Kadang terdengar suara perempuan menangis sangat pelan.

Namun setiap kali ia mencoba melihat lebih jelas, pintu lift selalu menutup kembali.

Rasa penasaran berubah menjadi obsesi.

Sarah mulai mencari informasi.

Ia bertanya kepada satpam.

Ia bertanya kepada petugas kebersihan.

Ia bertanya kepada penghuni lain.

Tetapi semua orang memberikan jawaban yang sama.

"Jangan cari tahu."

"Lupakan saja."

"Tidak ada manfaatnya."

Semakin dilarang, Sarah semakin penasaran.

Lalu mimpi itu datang.

Pada malam Jumat.

Sarah bermimpi berdiri di depan lift.

Pintu terbuka di lantai 19.

Kali ini ia melangkah keluar.

Ruangan itu ternyata jauh lebih luas daripada yang terlihat.

Seperti gudang raksasa tanpa ujung.

Lantai beton.

Dinding kusam.

Udara dingin menusuk tulang.

Di tengah ruangan berdiri ratusan orang.

Mereka diam.

Tidak bergerak.

Tidak berbicara.

Semuanya menghadap ke arah yang sama.

Sarah berjalan mendekat.

Lalu membeku.

Semua orang itu tidak memiliki wajah.

Kulit mereka rata.

Polos.

Seperti topeng daging.

"Tolong..."

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

Sarah menoleh.

Seorang wanita tua berdiri di sana.

Matanya hitam seluruhnya.

"Tolong kami keluar."

"Keluar dari mana?" tanya Sarah.

Wanita itu menunjuk ke atas.

"Dari apartemen ini."

Seketika seluruh manusia tanpa wajah menoleh bersamaan.

Mereka menghadap Sarah.

Meski tak memiliki mata, Sarah merasa sedang ditatap.

Lalu mereka berlari.

Ratusan sosok itu berlari ke arahnya.

Sarah menjerit.

Dan terbangun.

Napasnya terengah-engah.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi.

Namun ada sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Terdengar suara lift berhenti.

DING.

Dari luar unit apartemennya.

Padahal lantainya berada di 21.

Bukan 19.

Lalu terdengar suara langkah kaki.

Banyak sekali.

Seolah ratusan orang berjalan di koridor.

Sarah mengintip dari lubang pintu.

Koridor kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Tetapi suara langkah itu masih terdengar.

Semakin dekat.

Semakin banyak.

Seperti sesuatu yang tidak terlihat sedang lewat di depan pintunya.

Keesokan harinya, Sarah memutuskan memeriksa arsip lama apartemen melalui internet.

Setelah berjam-jam mencari, ia menemukan berita lama yang nyaris terlupakan.

Apartemen itu ternyata dibangun di atas bekas rumah sakit jiwa yang terbakar dua puluh tahun lalu.

Ratusan pasien meninggal.

Banyak jasad tidak pernah ditemukan.

Namun bukan itu yang mengejutkan.

Ada satu detail lain.

Rumah sakit tersebut hanya memiliki tiga lantai.

Tidak pernah memiliki lantai 19.

Sarah semakin bingung.

Kalau begitu, apa sebenarnya lantai 19?

Malam berikutnya ia mendapat jawaban.

Saat lift berhenti di lantai 19, tiba-tiba seorang anak kecil masuk.

Anak itu mengenakan pakaian pasien rumah sakit.

Wajahnya pucat.

Rambutnya hangus sebagian.

Ia berdiri di samping Sarah.

"Kak."

"Iya?"

"Jangan masuk ke sana."

"Ke mana?"

"Mereka sedang mencari pengganti."

Sarah membeku.

"Siapa?"

Anak itu tersenyum.

"Penghuni lantai 19."

Pintu lift terbuka di lantai 21.

Sarah menoleh sesaat.

Ketika melihat kembali ke dalam lift, anak itu sudah hilang.

Tidak ada jejak sama sekali.

Malam itu Sarah tidak bisa tidur.

Sekitar pukul dua belas malam terdengar ketukan di pintu unitnya.

Tok.

Tok.

Tok.

"Siapa?"

Tidak ada jawaban.

Ketukan kembali terdengar.

Lebih keras.

Sarah mengintip melalui lubang pintu.

Kosong.

Tidak ada siapa pun.

Namun di lantai terdapat secarik kertas.

Dengan tangan gemetar Sarah mengambilnya.

Di kertas itu hanya tertulis satu kalimat.

"Kamar Anda sekarang terdaftar di lantai 19."

Sejak saat itu teror semakin parah.

Nomor unit apartemennya mulai berubah sendiri.

Awalnya 21-08.

Besoknya menjadi 19-08.

Lalu kembali normal.

Lalu berubah lagi.

Tetangga mulai tidak mengenalinya.

"Maaf, Anda penghuni baru ya?"

Padahal mereka sudah beberapa kali bertemu.

Seolah keberadaan Sarah perlahan dihapus.

Puncaknya terjadi pada malam hujan deras.

Lift kembali berhenti di lantai 19.

Kali ini suara dari dalam kegelapan memanggil namanya.

"Sarah..."

"Sarah..."

"Sarah..."

Suara puluhan orang.

Bersamaan.

Sarah tidak tahu kenapa.

Kakinya bergerak sendiri.

Ia keluar dari lift.

Masuk ke dalam kegelapan.

Ruangan itu berubah.

Tidak lagi kosong.

Di sana terdapat lorong-lorong rumah sakit tua.

Lampu berkedip.

Bau hangus memenuhi udara.

Dan di ujung lorong berdiri ratusan sosok tanpa wajah.

Mereka diam.

Menunggu.

Lalu Sarah melihat sesuatu yang membuat tubuhnya lemas.

Di tengah mereka berdiri dirinya sendiri.

Sarah yang lain.

Sama persis.

Tanpa perbedaan sedikit pun.

Sarah kembarannya tersenyum.

"Akhirnya kamu datang."

"Siapa kamu?"

"Aku penghuni lantai 19."

"Bohong."

"Bukan."

Sosok itu tertawa pelan.

"Justru aku Sarah yang asli."

Dunia terasa berputar.

"Apa maksudmu?"

"Yang tinggal di lantai 21 selama ini hanyalah salinan."

"Tidak mungkin!"

"Setiap beberapa tahun, lantai 19 mengambil seseorang. Membuat salinan untuk menggantikannya. Tidak ada yang sadar."

Sarah mundur perlahan.

Namun semua pintu menghilang.

"Aku sudah menunggu dua puluh tahun agar bisa keluar."

"Tidak..."

"Sekarang giliranmu tinggal di sini."

Seluruh sosok tanpa wajah mulai mendekat.

Mereka meraih Sarah.

Menyentuh tangannya.

Menyentuh wajahnya.

Kegelapan menelan segalanya.

Keesokan paginya, seorang wanita keluar dari lift di lantai 21.

Ia terlihat normal.

Wajahnya Sarah.

Suaranya Sarah.

Kenangannya Sarah.

Tidak ada yang berbeda.

Ia pergi bekerja seperti biasa.

Tersenyum kepada tetangga.

Menjalani hidup seperti sebelumnya.

Namun setiap kali lift berhenti di lantai 19, wanita itu selalu tersenyum kecil.

Karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui penghuni lain.

Sarah yang asli masih berada di bawah sana.

Terjebak bersama ratusan penghuni lantai 19.

Menunggu seseorang berikutnya.

Menunggu pengganti baru.

Dan setiap malam, ketika pintu lift terbuka pada ruangan gelap yang tidak seharusnya ada itu, terdengar suara pelan dari dalam kegelapan.

"Masuklah..."

"Kami masih punya banyak kamar kosong..."

"Dan lantai 19 selalu membutuhkan penghuni baru..."

Posting Komentar