Tangisan dari Sumur Tertutup

Table of Contents
Hantu sumur tertutup menampakan diri

Vina memandang keluar jendela mobil sambil menghela napas panjang.

Usianya baru dua puluh tujuh tahun, tetapi pekerjaannya sebagai staf pengawas proyek membuatnya harus sering berpindah-pindah lokasi.

Kali ini perusahaan tempatnya bekerja mendapatkan proyek pembangunan kawasan wisata baru di sebuah kecamatan terpencil di Jawa Timur.

Proyek itu diperkirakan berlangsung selama tujuh bulan.

Semua karyawan yang ditugaskan mendapat tempat tinggal sementara.

Dan rumah yang disediakan untuk Vina ternyata jauh lebih bagus daripada yang ia bayangkan.

"Mbak Vina, sudah sampai."

Sopir perusahaan menghentikan mobil tepat di depan sebuah rumah dua lantai yang berdiri megah di ujung jalan.

Cat putihnya masih terlihat baru.

Pagar besinya tinggi.

Halaman depan dipenuhi tanaman hias.

Di samping rumah terdapat garasi besar.

Sedangkan bagian belakang dipenuhi pohon mangga dan semak-semak yang tampak tidak terawat.

"Bagus sekali rumahnya," kata Vina sambil tersenyum.

Namun sopir itu tidak ikut tersenyum.

Ia justru terlihat ragu-ragu.

"Kalau malam... jangan sering ke belakang rumah, Mbak."

"Kenapa?"

"Saya juga tidak tahu pasti."

"Warga sini bilang kadang ada perempuan menangis dari taman belakang."

Vina tertawa kecil.

"Pasti cuma cerita orang kampung."

Sopir itu tidak menjawab.

Ia segera pergi meninggalkan rumah tersebut.

Tiga wanita lain sudah menunggu di teras.

Mereka adalah teman sekantor Vina.

Siska, perempuan yang cerewet dan selalu membawa camilan.

Nadia, staf keuangan yang sangat penakut.

Dan Rani, pengawas lapangan yang terkenal pemberani.

"Akhirnya datang juga!" kata Siska.

"Kamarmu di atas, sebelah kamarku."

"Rumah ini enak banget."

"Bahkan ada balkon di belakang."

Vina masuk sambil memperhatikan setiap sudut rumah.

Lantai marmer.

Lukisan mahal.

Perabotan lengkap.

Semuanya terlihat seperti rumah orang kaya.

"Pemilik rumahnya siapa?" tanya Vina.

Rani menjawab.

"Katanya pengusaha dari Surabaya."

"Rumah ini kosong hampir dua tahun."

"Kenapa kosong?"

"Nggak tahu."

"Pak RT cuma bilang pemiliknya tidak pernah kembali ke sini."

Malam pertama mereka habiskan dengan memasak dan menonton film komedi.

Suasana terasa hangat.

Mereka tertawa.

Bercanda.

Membicarakan pekerjaan.

Hingga jam menunjukkan pukul sebelas malam.

Tiba-tiba terdengar suara tangisan perempuan.

Pelan.

Sendu.

Seolah berasal dari dekat jendela dapur.

"Hiks..."

"Hiks..."

Nadia menghentikan makannya.

"Kalian dengar?"

Semua terdiam.

Tangisan itu terdengar lagi.

"Ibu..."

"Aku dingin..."

Siska langsung berdiri.

"Ada orang di luar?"

Rani mengambil senter.

"Aku cek."

Mereka membuka pintu belakang.

Angin malam menerpa wajah mereka.

Pohon mangga bergerak perlahan.

Semak-semak di ujung taman bergoyang.

Namun tidak ada siapa-siapa.

Tangisan itu mendadak berhenti.

"Kosong."

"Mungkin anak kecil lewat."

Vina mencoba berpikir logis.

Namun saat pintu hampir ditutup...

Terdengar suara perempuan tertawa.

Sangat keras.

Tepat dari belakang mereka.

"HAHAHAHA..."

Siska menjerit.

Rani memutar senter ke segala arah.

Tidak ada siapa pun.

Hanya semak-semak yang terus bergoyang.

Malam itu tidak ada yang benar-benar bisa tidur.

Vina baru terlelap sekitar pukul dua pagi.

Namun beberapa menit kemudian ia terbangun.

Ada seseorang duduk di tepi ranjangnya.

Seorang wanita berambut panjang.

Membelakangi dirinya.

Rambut hitamnya menyentuh lantai.

Bajunya putih lusuh penuh noda tanah.

Vina membeku.

Tubuhnya tidak bisa bergerak.

Perempuan itu perlahan menoleh.

Wajahnya pucat.

Matanya hitam seluruhnya.

Bibirnya bergerak.

"Buka..."

"Buka aku..."

Perempuan itu menghilang.

Vina langsung bangun sambil berkeringat dingin.

Pagi harinya mereka berangkat ke kantor proyek.

Gedung kantor itu baru selesai direnovasi, bahkan ada cerita aneh tentang Lift Berhenti di Lantai yang Tidak Ada yang sering dibicarakan sebagian pekerja lama.

Lokasinya hanya satu kilometer dari rumah.

Kesibukan membuat Vina sedikit melupakan kejadian semalam.

Sampai sore hari.

Ketika ia sedang mengetik laporan.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis dari toilet wanita.

"Hiks..."

"Hiks..."

Vina mengira ada pegawai lain di dalam.

Ia mendekat.

Pintu toilet paling ujung tertutup.

"Mbak?"

"Ada apa?"

Tidak ada jawaban.

Tangisan semakin keras.

"Aku ingin pulang..."

"Tolong keluarkan aku..."

Dengan ragu Vina membuka pintu toilet itu.

Kosong.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun lantainya penuh lumpur basah.

Dan di cermin... seperti kisah Cermin Aneh yang Menyeramkan, tertulis kalimat menggunakan sidik jari.

"SUMUR."

Vina mundur ketakutan.

Sore itu ia menceritakan semuanya kepada teman-temannya.

Namun ternyata bukan hanya dirinya yang mengalami kejadian aneh.

Nadia terlihat pucat.

"Aku juga diganggu."

"Pas lagi hitung anggaran."

"Komputerku ngetik sendiri."

"Tulisan yang muncul cuma satu."

"BANTU AKU."

Siska ikut bicara.

"Aku lagi fotokopi dokumen."

"Ada perempuan berdiri di belakang."

"Pas aku menoleh..."

"Dia sudah nggak ada."

Rani mencoba tenang.

"Mungkin memang ada sesuatu di rumah itu."

"Tapi kita jangan panik."

"Kita cari tahu."

Malam kedua menjadi lebih buruk.

Pukul dua belas tepat.

Terdengar suara ketukan dari lantai bawah.

Tok.

Tok.

Tok.

Tok.

Ketukan itu berlangsung hampir lima menit.

Seolah ada seseorang memukul lantai dari bawah tanah.

Nadia menangis.

"Aku mau pulang."

"Aku nggak tahan."

Tiba-tiba lampu rumah mati.

Gelap gulita.

Lalu terdengar suara perempuan bernyanyi.

Lagu nina bobo.

Suaranya sangat dekat.

Seolah berada di tengah ruang tamu.

Siska menyalakan senter ponselnya.

Cahaya itu menyorot sesosok perempuan berdiri di depan tangga.

Rambutnya panjang.

Tubuhnya basah.

Kulit wajahnya mengelupas.

Ia tersenyum.

Lalu menghilang.

Saat lampu kembali menyala...

Di lantai terdapat jejak kaki berlumpur.

Jejak itu menuju taman belakang.

Empat wanita itu akhirnya memberanikan diri keluar.

Mereka mengikuti jejak kaki tersebut.

Semak-semak di ujung taman tampak bergerak sendiri.

Tangisan perempuan kembali terdengar.

"Sakit..."

"Aku tidak bisa keluar..."

Rani menyingkirkan ranting-ranting liar.

Di balik semak terdapat lingkaran batu tua.

Mulut sumur.

Namun bagian atasnya ditutup papan kayu tebal.

Di atas papan itu terdapat lapisan semen.

Seolah sengaja ditutup agar tidak pernah dibuka lagi.

Tiba-tiba terdengar suara benturan dari dalam.

Gedub.

Gedub.

Gedub.

Semua mundur ketakutan.

Dan dari celah papan tua itu terdengar suara perempuan berbisik.

"Aku masih hidup..."

"Kenapa kalian meninggalkanku?"

Empat wanita itu berlari masuk ke dalam rumah sambil menutup pintu belakang rapat-rapat.

Napas mereka memburu.

Nadia bahkan hampir pingsan.

"Aku nggak mau tinggal di sini lagi!" teriaknya sambil menangis.

"Besok aku cari kos!"

Rani mencoba menenangkan keadaan.

"Kalau kita pergi sekarang, belum tentu gangguan itu berhenti."

"Lagipula perusahaan sudah membayar rumah ini selama proyek berlangsung."

"Kita cari tahu dulu."

Vina mengangguk pelan.

"Aku merasa sosok itu ingin mengatakan sesuatu."

"Dia tidak pernah menyerang kita."

"Dia cuma menangis."

"Dan selalu menyebut sumur."

Malam itu tidak ada yang berani tidur sendiri.

Mereka berkumpul di ruang tamu.

Sekitar pukul tiga dini hari.

Tiba-tiba Nadia berdiri.

Matanya kosong.

Wajahnya pucat.

Ia berjalan menuju pintu belakang.

"Nadia?"

Tidak ada jawaban.

"Nadia!"

Ia tetap berjalan.

Perlahan membuka pintu.

Kemudian melangkah menuju taman.

Rani segera mengejarnya.

"Pegang dia!"

Vina dan Siska menarik tubuh Nadia.

Namun tenaga Nadia mendadak sangat kuat.

Ia menatap mereka.

Tetapi suara yang keluar bukan suara Nadia.

Suara itu terdengar parau.

"Buka..."

"Aku sesak..."

"Aku tidak bisa bernapas..."

Nadia menunjuk ke arah sumur.

"Di bawah..."

"Masih ada aku..."

Tubuhnya kemudian jatuh pingsan.

Paginya mereka mendatangi rumah Pak RT.

Pria tua itu tampak gelisah saat mendengar cerita mereka.

"Saya sebenarnya tidak ingin membahas rumah itu."

"Sudah lama warga menghindarinya."

"Kenapa?" tanya Vina.

Pak RT menarik napas panjang.

"Dulu rumah itu milik keluarga Harjono."

"Mereka sangat kaya."

"Tapi juga terkenal kejam."

"Mereka mempekerjakan banyak pembantu."

"Salah satunya seorang gadis yatim piatu."

"Namanya Ratih."

"Usianya baru enam belas tahun."

"Ratih dituduh mencuri kalung emas milik majikannya."

"Padahal tidak ada bukti."

"Sejak saat itu tidak ada yang pernah melihat Ratih lagi."

"Keluarga Harjono bilang dia kabur."

"Tapi setiap malam warga mendengar suara perempuan menjerit dari taman belakang."

"Jeritan itu berlangsung selama tiga hari."

"Lalu tiba-tiba hilang."

"Dan sumur tua itu ditutup."

Vina merasakan bulu kuduknya berdiri.

"Apakah tidak ada yang melapor ke polisi?"

"Ada."

"Tapi polisi tidak menemukan apa-apa."

"Keluarga Harjono punya banyak kenalan."

"Kasusnya ditutup."

Siska menelan ludah.

"Berarti Ratih dibunuh?"

Pak RT menggeleng.

"Tidak ada yang tahu."

"Tapi ada cerita lain."

"Tiga puluh tahun sebelumnya, seorang perempuan bernama Lastri juga menghilang."

"Tubuhnya tidak pernah ditemukan."

"Orang bilang dia tenggelam di sungai."

"Namun ibunya pernah bersumpah bahwa Lastri dibunuh."

Malam berikutnya mereka memutuskan berjaga.

Pukul sebelas malam.

Suara tangisan kembali terdengar.

Kali ini bukan hanya satu suara.

Tetapi dua.

Satu menangis sedih.

Yang lain tertawa cekikikan.

"Hihihihi..."

"Jangan pergi..."

"Temani aku..."

Angin bertiup sangat kencang.

Pintu belakang terbuka sendiri.

Lampu taman berkedip-kedip.

Lalu terdengar suara benda jatuh dari kamar kosong di lantai bawah.

Rani memberanikan diri membuka pintu kamar itu.

Ruangan tersebut berdebu.

Sudah lama tidak dipakai.

Namun di tengah lantai terdapat sebuah kotak kayu kecil.

Padahal sebelumnya tidak ada apa-apa.

Vina membukanya.

Di dalam kotak terdapat kalung perak.

Dan secarik surat.

Tulisan tangannya kecil.

"Namaku Ratih."

"Jika seseorang menemukan surat ini..."

"Tolong berikan kalung ini kepada ibuku."

"Namanya Sri Wahyuni."

"Aku tidak mencuri."

"Aku hanya ingin pulang."

Air mata Siska menetes.

"Kasihan sekali..."

Keesokan paginya mereka mencari alamat Sri Wahyuni.

Ternyata wanita itu masih hidup.

Usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun.

Ia tinggal seorang diri dan berjualan jamu keliling.

Saat menerima kalung itu, tubuhnya gemetar.

"Ini..."

"Ini milik anak saya."

"Ratih..."

"Dia tidak pernah kabur."

"Saya selalu percaya."

"Tapi tidak ada yang mau mendengarkan saya."

Wanita tua itu menangis tersedu-sedu.

"Tolong..."

"Bawa saya ke rumah itu."

Malam harinya mereka kembali ke rumah bersama Sri Wahyuni.

Pak RT juga datang.

Beberapa warga ikut membantu.

Mereka membaca doa bersama di dekat sumur tua.

Tepat tengah malam.

Papan penutup sumur bergetar.

Suara benturan terdengar dari dalam.

Gedub.

Gedub.

Gedub.

Lalu terdengar tangisan.

"Ibu..."

"Ibu..."

Kabut putih keluar dari celah papan.

Perlahan sosok seorang gadis muncul.

Usianya sekitar enam belas tahun.

Bajunya kotor penuh tanah.

Tetapi wajahnya cantik.

Matanya dipenuhi air mata.

"Ratih..."

Sri Wahyuni menangis sambil mengulurkan tangan.

"Maafkan Ibu..."

"Ibu tidak bisa menemukanmu."

Ratih tersenyum.

"Aku tidak marah."

"Aku hanya ingin bertemu Ibu."

"Aku tidak mencuri."

"Mereka memukulku."

"Mereka mengikat tanganku."

"Lalu melemparkanku ke sumur."

Semua orang merinding.

Namun tiba-tiba ekspresi Ratih berubah ketakutan.

Ia menoleh ke arah sumur.

"Dia bangun..."

"Dia marah..."

"Jangan biarkan dia keluar..."

Terdengar suara tawa menggelegar.

"HAHAHAHA..."

Papan kayu pecah sendiri.

Bau busuk memenuhi udara.

Tangan hitam muncul dari dalam sumur.

Kemudian seorang perempuan tua merangkak keluar.

Rambutnya panjang kusut.

Kulitnya menghitam.

Matanya merah menyala.

"Aku sendiri..."

"Aku sendirian..."

"Jangan tinggalkan aku..."

Pak RT mundur ketakutan.

"Lastri..."

"Benarkah itu kamu?"

Perempuan itu menatap tajam.

"Mereka membunuhku."

"Aku bekerja di rumah ini."

"Tuan rumah mabuk."

"Dia mencoba memperkosaku."

"Aku melawan."

"Mereka memukulku."

"Lalu membuangku ke dalam sumur."

"Tidak ada yang mencariku."

"Tidak ada yang menangis untukku."

Air mata hitam mengalir dari matanya.

"Aku kesepian..."

"Sangat kesepian..."

Ratih mendekat.

"Kak Lastri..."

"Sekarang ada yang mengingatmu."

"Mereka akan menemukan keluargamu."

"Mereka akan mendoakanmu."

Lastri tertawa lagi.

"Bohong!"

"Semua manusia bohong!"

Tiba-tiba ia melompat ke arah Nadia.

Nadia menjerit.

Namun Ratih berdiri menghadang.

"Jangan sakiti mereka!"

Angin berputar sangat kencang.

Lampu rumah pecah.

Kaca jendela retak.

Daun-daun beterbangan.

Sri Wahyuni menangis.

"Lastri..."

"Nak..."

"Kalau benar tidak ada yang pernah menangis untukmu..."

"Biarkan aku menjadi orang pertama."

Wanita tua itu berlutut.

"Ibu memang bukan ibumu."

"Tapi tidak ada seorang anak pun yang pantas mati sendirian."

"Pulanglah..."

"Istirahatlah..."

Lastri terdiam.

Wajah menyeramkannya perlahan berubah.

Menjadi wajah perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahun.

Wajah yang sangat cantik.

Namun dipenuhi kesedihan.

"Ada..."

"Ada yang mau menangis untukku?"

Vina mengangguk.

"Kami semua akan mendoakanmu."

"Kau tidak sendiri lagi."

Lastri menangis.

Tangisannya tidak lagi menyeramkan.

Melainkan penuh kelegaan.

"Aku lelah..."

"Aku ingin pulang..."

Ratih menggenggam tangannya.

"Ayo."

"Kita pergi bersama."

Cahaya putih perlahan menyelimuti tubuh mereka.

Dua arwah itu tersenyum.

Kemudian menghilang.

Angin berhenti berembus.

Malam kembali sunyi.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada tawa.

Tidak ada jeritan.

Beberapa hari kemudian warga membuka sumur tua tersebut.

Di dasar sumur ditemukan dua kerangka manusia.

Satu kerangka remaja perempuan.

Satu lagi kerangka wanita dewasa.

Penyelidikan polisi akhirnya membuktikan bahwa keluarga Harjono memang pernah melakukan tindak kekerasan terhadap para pembantunya.

Nama Ratih dibersihkan.

Ia bukan pencuri.

Ia hanyalah seorang anak yang merindukan ibunya.

Lastri juga akhirnya dimakamkan secara layak.

Warga desa mengadakan doa bersama.

Sejak saat itu rumah besar tersebut tidak pernah lagi terdengar suara tangisan.

Tidak ada perempuan tertawa di tengah malam.

Tidak ada sosok berambut panjang di lorong rumah.

Tujuh bulan kemudian proyek selesai.

Vina dan ketiga temannya bersiap kembali ke Jakarta.

Sebelum pergi, mereka berdiri di taman belakang.

Sumur tua itu kini telah dibongkar dan ditutup dengan taman bunga kecil.

Di atasnya terdapat batu nisan sederhana.

Bertuliskan dua nama.

Ratih.

Lastri.

Siska tersenyum.

"Semoga mereka tenang sekarang."

Vina mengangguk.

"Iya."

"Kadang yang paling menakutkan bukan hantu."

"Tapi manusia yang membuat seseorang meninggal dengan penuh penderitaan."

Mereka meninggalkan rumah itu.

Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di sana...

Taman belakang terasa damai.

Tidak ada lagi suara perempuan menangis meminta tolong dari dalam sumur tertutup.

Posting Komentar