Teror Hantu di Pura Besakih Bali

Table of Contents
Teror Hantu di Pura Besakih - Cerpen Horor Mania

Kisah Mistis Wartawan di Besakih

Malam itu, langit Bali berwarna gelap pekat, hanya sesekali cahaya bulan menembus celah awan. Angin membawa aroma dupa dan suara gamelan samar dari kejauhan. Bagi sebagian besar orang, Pura Besakih adalah tempat suci, pusat spiritual Bali, tempat ribuan orang datang untuk bersembahyang. Namun bagi seorang pria muda bernama Adi, seorang wartawan dari Jakarta, pura itu hanyalah bahan liputan. Ia ingin menulis artikel tentang tradisi dan mistis di Pura Besakih untuk majalahnya.

Adi masih berusia dua puluh delapan tahun, penuh ambisi, skeptis, dan seringkali terlalu sombong dengan logika. “Hantu itu hanya permainan imajinasi,” begitu selalu ia katakan. Hari itu ia datang sendirian, tanpa pemandu, hanya membawa kamera, buku catatan, dan ponsel. Malam semakin larut ketika ia menaiki tangga menuju pelataran utama pura.

“Aneh juga, sepi sekali di sini,” gumamnya sambil menyalakan rokok. Ia menapaki anak tangga dengan langkah ringan, sambil merekam suasana dengan kameranya. Lampu-lampu redup pura menambah nuansa misterius. Saat itulah kakinya tersandung sebuah batu hitam yang menonjol di tengah anak tangga.

“Sial!” serunya. Dengan kesal, Adi menendang batu itu hingga menggelinding beberapa langkah. Suara dentumannya memantul aneh di keheningan malam.

Tiba-tiba angin kencang berhembus. Suara gamelan yang tadi samar seakan berhenti. Suasana berubah hening, terlalu hening. Adi mendadak merinding. “Cih, kebetulan saja,” pikirnya, mencoba menepis rasa takut. Namun, sejak saat itu, ia merasa seperti ada mata yang mengawasinya dari kegelapan.

Ia terus berjalan. Namun telinganya menangkap suara halus, seperti bisikan perempuan. “Kenapa kau tendang batu itu…?”

Adi berhenti mendadak. “Siapa di sana?” teriaknya lantang. Tak ada jawaban, hanya suara dedaunan bergesekan. Ia meneguk ludahnya, lalu kembali melangkah. Namun semakin jauh ia berjalan, semakin jelas suara-suara itu.

“Adi… jangan sombong…”

Ia membeku. Bagaimana mungkin suara itu menyebut namanya? Dadanya mulai berdegup kencang. “Itu… mungkin imajinasi,” katanya dengan suara bergetar. Namun ia tahu dalam hatinya, ada sesuatu yang tidak wajar.

Ketika ia mencapai pelataran utama pura, ia melihat sosok samar berdiri di dekat pelinggih. Seorang wanita bergaun putih, rambut panjang menutupi wajah, tubuhnya bergerak perlahan, seperti melayang. Adi terkejut hingga kameranya hampir jatuh. “Siapa kau?” teriaknya panik.

Sosok itu tidak menjawab, hanya menoleh pelan. Wajahnya pucat, matanya hitam kosong. Adi mundur beberapa langkah, namun kakinya terasa berat, seperti ada yang menahannya. Sosok itu semakin mendekat. Dari mulutnya keluar suara lirih, “Kenapa kau tendang rumahku…?”

“Apa maksudmu? Itu hanya batu!” balas Adi dengan suara putus asa.

Sosok itu mendekat hingga hanya berjarak beberapa meter. Udara di sekitar menjadi sangat dingin. “Itu bukan batu… itu tempatku bersemayam…”

Adi ingin berlari, tapi tubuhnya kaku. Saat ia mencoba menoleh, di sekelilingnya mulai bermunculan bayangan-bayangan lain. Sosok hitam, tanpa wajah, berdiri di setiap sudut pura. Mereka bergerak perlahan, mengelilinginya.

“Tidak… ini tidak nyata… aku bermimpi…” katanya berulang-ulang. Namun bau dupa bercampur anyir darah yang menusuk hidungnya membuat ia sadar: ini nyata.

Tiba-tiba, suara keras terdengar, seperti gamelan yang dipukul bersamaan. Sosok wanita itu mendekat dan menyentuh bahu Adi. Kulitnya terasa dingin membeku. “Ikut aku…”

“Tidak! Lepaskan aku!” Adi menjerit, namun suaranya seakan teredam. Ia meronta, berusaha melepaskan diri, namun semakin melawan, semakin kuat cengkeraman gaib itu. Pandangannya mulai berkunang, tubuhnya seperti ditarik ke dalam kegelapan.

Tiba-tiba, sebuah cahaya dari senter menyorot ke arahnya. “Dek! Apa yang kau lakukan di sana?!” suara seorang pria tua terdengar. Adi tersentak. Sosok-sosok gaib itu menghilang seketika, hanya tersisa udara dingin menusuk. Seorang pemangku pura berdiri di tangga, membawa senter dan dupa.

Adi berlari ke arahnya. “Pak… tolong saya… ada hantu! Ada wanita putih di sana!”

Pemangku pura memandangnya dengan sorot mata serius. “Kau menendang batu itu, ya?” tanyanya tegas.

Adi terdiam, wajahnya pucat. “I… iya, tapi itu hanya batu biasa…”

Pemangku pura menghela napas berat. “Itu bukan batu biasa. Itu adalah pelinggih kecil, tempat roh penjaga bersemayam. Kau sudah menyinggung mereka.”

Adi terperanjat. “Lalu… apa yang akan terjadi pada saya?”

Pemangku pura menyalakan dupa dan menancapkannya ke tanah. Ia mulai merapalkan mantra dalam bahasa Bali kuno. Adi hanya bisa berdiri, gemetar, melihat asap dupa menari di udara. Sesekali ia mendengar bisikan-bisikan samar, seperti suara wanita tadi, namun semakin lama semakin menghilang.

Setelah beberapa menit, pemangku pura menatapnya. “Malam ini mereka melepaskanmu. Tapi ingat, jangan pernah lagi kau meremehkan tempat suci. Pura Besakih bukan sekadar bangunan. Setiap batu di sini punya jiwa.”

Adi hanya bisa mengangguk, tubuhnya masih gemetar. Ia ingin berkata, namun lidahnya kelu. Dalam hati, ia menyesali perbuatannya.

Namun peristiwa itu tidak selesai malam itu saja. Sejak kejadian di Pura Besakih, hidup Adi berubah. Saat ia kembali ke penginapannya di dekat Gianyar, ia berusaha menenangkan diri. Namun, saat ia menatap cermin di kamar, ia hampir terjatuh. Bayangan di cermin bukan dirinya, melainkan sosok wanita bergaun putih yang tadi menakutinya di pura.

“Tidak… tidak mungkin…” desahnya. Ia mundur, tapi bayangan itu tetap menatap, meski ia sudah menjauh dari cermin. Senyuman samar terbentuk di wajah pucat itu, senyuman yang membuat bulu kuduknya berdiri.

Adi memutuskan untuk menyalakan lampu kamar sepanjang malam. Namun tetap saja, suara bisikan perempuan itu terdengar di telinganya. “Kenapa kau tendang rumahku…” Suara itu terus mengganggunya, bahkan dalam tidur. Ia bermimpi berada kembali di tangga pura, dihantui puluhan sosok hitam yang merayap mendekat.

Pagi harinya, ia kembali menemui pemangku pura. “Pak… kenapa dia masih mengikuti saya? Bukankah Bapak sudah melakukan doa semalam?”

Pemangku itu terdiam sejenak, menatap Adi dalam-dalam. “Kalau roh itu sudah menempel pada tubuhmu, sulit sekali untuk mengusirnya. Doa semalam hanya menenangkan amarahnya, tapi ikatan sudah terbentuk. Ia akan selalu mengingatkanmu tentang kesalahanmu.”

Adi pucat. “Apa… artinya saya akan dihantui selamanya?”

Pemangku pura menggeleng. “Tidak selamanya, tapi sampai kau benar-benar meminta maaf, bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan hatimu. Roh di Pura Besakih tidak suka kesombongan. Mereka akan terus menuntutmu, sampai kau belajar rendah hati.”

Adi menelan ludah. “Bagaimana caranya…?”

Pemangku pura memberikan bunga dan canang sari. “Kembalilah malam ini, lakukan persembahan di tempat kau menendang batu itu. Ucapkan permintaan maafmu dengan sungguh-sungguh. Kalau kau masih sombong, roh itu tidak akan pernah pergi.”

Adi ragu. Bayangan sosok itu membuatnya takut setengah mati. Namun ia juga tahu, tidak ada pilihan lain. Malam itu, dengan jantung berdebar, ia kembali menaiki tangga pura. Tangan gemetar memegang bunga dan canang sari. Angin dingin kembali berhembus. Lampu-lampu redup pura terasa lebih menyeramkan dari sebelumnya.

Ketika ia tiba di tempat batu itu semula berada, ia melihat batu itu sudah kembali pada posisinya. Seolah-olah tidak pernah bergeser. Adi menelan ludah, lalu berlutut. “Saya… saya minta maaf… saya tidak tahu… saya terlalu sombong… tolong lepaskan saya…”

Angin mendadak berhenti. Hening menyelimuti sekitar. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di belakangnya. Perlahan ia menoleh, dan sosok wanita bergaun putih berdiri hanya beberapa meter darinya. Rambut panjang terurai, wajah pucat dengan mata hitam menatapnya tanpa berkedip.

Adi gemetar, namun ia menundukkan kepala. “Saya sungguh menyesal… saya tidak akan mengulanginya lagi…”

Sosok itu bergerak mendekat, tubuhnya seolah melayang. Adi memejamkan mata, menunggu sentuhan dingin itu. Namun yang ia rasakan hanyalah hembusan angin lembut. Ketika ia membuka mata, sosok itu sudah menghilang. Hanya bunga dan canang sari yang kini beraroma harum kuat, seperti menerima doa permohonan maafnya.

Adi meneteskan air mata lega. Ia tahu, ia telah diberi kesempatan kedua. Namun meski sosok itu lenyap, suara bisikan samar masih mengikutinya sepanjang hidup. Bukan untuk menakutinya, melainkan untuk mengingatkannya: jangan pernah lagi meremehkan hal-hal yang tak kasat mata.

Sejak itu, artikel yang ia tulis tentang Pura Besakih berubah menjadi sebuah peringatan keras. Ia tidak lagi menulis dengan nada skeptis. Sebaliknya, ia menulis dengan penuh hormat tentang kesakralan pura, tentang roh penjaga, dan tentang pelajaran berharga yang ia alami. Tulisan itu membuat banyak pembacanya merinding, sekaligus sadar bahwa Bali bukan hanya tentang keindahan, tetapi juga tentang dunia tak terlihat yang harus dihormati.

Namun hingga bertahun-tahun kemudian, setiap kali Adi menatap cermin di malam hari, ia selalu merasakan perasaan tak nyaman. Kadang ia yakin melihat bayangan gaun putih itu berdiri samar di belakangnya. Tidak menyerang, tidak menakut-nakuti, hanya diam. Menatap. Mengingatkan. Dan Adi tahu, selama hidupnya, ia tak akan pernah benar-benar bisa melupakan malam penuh teror di Pura Besakih…

Posting Komentar